Angel Of Death

Angel Of Death
Permohonan


__ADS_3

Atas permintaan Luna, pernikahan itu dilangsungkan dengan sangat sederhana. Rencana Jean yang ingin mengadakan pesta pernikahan itu secara besar-besaran, akhirnya harus pupus. Namun, tidak masalah selama cucunya jadi menikah.


“Selamat, My dear. Kalian sudah sah menjadi suami istri. Selamat datang di keluarga Tortura,” ucap Jean mengecup pipi Luna.


Hampir saja acara itu tidak bisa dilaksanakan. Satu hal yang tidak disadari Luna, untuk menikah, maka dia perlu surat keterangan tentang kelengkapan dirinya. Luna tentu saja panik, bagaimana tidak, seumur hidup dia tidak punya kartu tanda pengenal. Bahkan kapan dia lahir pun dia tidak tahu tanggal berapa.


Saat di panti, Luna tidak pernah merayakan ulang tahun, yang dia tahu sejak kecil ibu panti memanggilnya dengan nama Rosalin. Hanya itu!


Kegelisahan menggerogoti hatinya. Dengan sisa keberanian yang ada dalam dirinya, Luna menemui Kaisar. Dia memang sengaja memilih pria itu, karena kalau pada Jean, maka akan banyak pertanyaan. Lebih parah lagi, bisa saja Jean malah menyuruh orang untuk kembali ke kampung halaman Nana, memeriksa catatan kependudukan.


“Kai, boleh aku masuk?” tanya Luna menyembulkan kepalanya dari balik pintu yang sudah dia dorong.


“Kemarilah, Lun. Ada apa?” sigap Kai bangkit dari duduknya, menyambut kedatangan Luna. Gadis itu sempat terlonjak kaget saat tangan kekar itu membelai pipi kanannya, refleks Luna menarik diri, menjauhkan wajahnya.


Tidak tersinggung, Kai hanya tersenyum pada Luna. Pria itu menebak wanita itu belum terbiasa dengan sentuhannya.


“Apa yang mengganggumu? Kenapa keningmu berkerut?” tanya Kai, dia sangat tidak suka kalau ada yang membebani gadis itu. Luna cenderung pendiam, hingga Kai susah menebak isi hatinya.


“Aku lupa mengatakan padamu, kalau dompetku hilang, jatuh entah di mana saat aku datang kemari,” ucapnya menatap lembut mata Kai. Dia berharap kalau pria itu akan percaya. Semua itu sesuai dengan saran Ben, saat tadi Luna melaporkan hal ini. Pria itu meminta Luna bersikap lebih lembut pada Kai, hingga apa pun perkataan Luna akan didengarkan.


“Kau rayu dia, minta penundaan pernikahan dua hari ke depan. Aku akan mengusahakan kartu tanda penduduk mu secepatnya."


Setelah mengatakan hal itu, Ben menutup telepon, dan Luna segera menemui Kai agar mau membujuk Jean agar menunda pernikahan mereka.


“Kenapa baru sekarang kau mengatakannya?” suara Kai masih datar, tidak ada kemarahan yang ditemukan Luna di sana.

__ADS_1


“Iya, aku minta maaf. Aku lupa."


“Sudahlah, jangan pikirkan hal itu. Aku akan bicara dengan Oma nanti. Tersenyum'lah," ucapnya.


Bola mata Luna berbinar. Benar kata Ben, apa pun yang dia katakan pasti akan dituruti Kai. “Terima kasih,” bisiknya tersipu.


“Kau cantik sekali kalau tersenyum,” gumam Kai mengelus pipi lembut Luna untuk kali kedua.


“Satu lagi, aku mohon, kita adakan acara pernikahan ini sederhana saja ya. Aku mohon, aku belum siap harus dikenalkan pada publik. Kau tahu sendiri, kalau aku dari kota kecil. Aku banyak membaca artikel tentangmu, kau pengusahaan sukses, pasti akan banyak sorot mata yang tertuju padamu," ucapnya ragu-ragu, menautkan jemarinya pada jemari pria itu. Hanya dengan sentuhan kecil itu saja, sudah bisa membakar tubuh Kai, melebur dalam bara cinta dan keinginan untuk memiliki gadis itu.


Menilai alasan Luna masuk akal, Kai mengangguk setuju. “Apa pun itu, asal kau bahagia,” bisik Kai menarik tangan Luna hingga tubuh gadis itu melekat di dada bidang Kai.


Setelah rembukan panjang, dan tentu saja penuh drama, akhirnya Jean mengalah. Pernikahan ditunda hingga dua hari mendatang.


Besok harinya, Luna menyelinap keluar setelah mendapatkan kabar dari Ben, bahwa tanda pengenalnya sudah selesai. Pria itu hanya butuh satu hari untuk mendapatkan kartu tanda pengenal palsu.


Selama ini, Ben'lah yang menetapkan tanggal lahirnya, yaitu tanggal di mana dia dibawa ke panti asuhan.


“Mulai sekarang, kau lahir tanggal 15 Juli,” ucap Ben di tahu ke-2 Luna berada di panti. Sejak saat itu, Luna merayakan ulang tahunnya bersama Ben setiap tanggal itu.


Mungkin itu juga alasan Ben tidak mengingat ulang tahunnya yang ke 17, karena tanggal itu palsu, hanya karangan anak kecil bernama Ben. Namun, Luna sangat menghargainya. Dia sangat menyukai tanggal itu.


“Pergi sana, sebelum ada orang yang melihatmu berbicara dengan ku!” Hardik Ben memudarkan lamunan Luna.


“Terima kasih, Ben,” ucapnya tersenyum sembari mengangkat kartu itu, lalu pergi menjauh.

__ADS_1


***


Luna sudah menunggu di kamarnya, bukan, kini menjadi kamar mereka. Luna sudah pindah ke kamar Kai, kamar yang paling besar nomor dua setelah kamar Jean.


Oleh wanita tua itu, kamar itu sudah dihias menjadi kamar pengantin. Ornamen dan pemilihan warna serta perabotnya juga sudah diganti dengan warna netral, tidak lagi penampakan warna hitam putih seperti selama ini.


“Kenapa harus pakai ini, Oma? Aku pakai bajuku yang biasanya saja, ya?” tolak Luna kala Jean dan salah satu asisten rumah tangga masuk ke kamarnya. Membantu mengganti kebaya Luna yang mengungkung tubuhnya sejak pagi tadi.


Saat Kai masih bersama para kerabat dekat, Luna sudah diboyong ke kamar pengantin oleh Jean.


“Kau memang harus memakainya. Ini baju dinas seorang istri untuk suaminya. Kai sangat mencintaimu, Oma bisa lihat itu dari matanya."


“Jadi, nyonya muda harus agresif melayani tuan besar,” sambar Tukiyem, si asisten centil yang juga sudah dekat dengan Luna.


“Tapi, Oma, ini terlalu menerawang,” Luna masih berusaha menolak.


“Tidak bisa! Lun, dengarkan, Oma. Kau sekarang adalah istri Kaisar, sudah selayaknya kau memberikan hak suamimu. Jangan takut sayang, biarkan semua mengalir apa adanya," ucap Jean mengelus lengan gadis itu.


Luna tidak bisa menolak lagi. Akhirnya dia memakai gaun itu. Tukiyem dan Jean tentu saja memuji, mengatakan tubuhnya begitu indah berbalut gaun malam kurang bahan itu. Sebelum pergi, Tukiyem bahkan mengoleskan lipstik dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.


Hati berdebar, tubuhnya bergetar hebat saat langkah kaki mulai mendekat ke pintu kamar. Dia tahu, cepat atau lambat hal ini akan terjadi, tapi jujur dia tidak siap. Kembali teringat ucapan Ben kemarin.


“Jangankan hanya kepera*wananmu, anggota tubuh juga jika dimintanya harus kau berikan. Dengan uangnya, kau bisa operasi. Kita akan mendapatkan banyak uang, Lun. Itu perlu pengorbanan. Lakukan yang perlu kau lakukan. Jika berat, maka bayangkan saja kalau saat itu aku yang sedang menyentuhmu."


Luna menelan saliva, jijik mengingat ucapan Ben yang sangat tidak berperasaan itu.

__ADS_1


“Kau masih akan menerima walau aku sudah disentuh olehnya?”


“Tentu saja, Lun. Aku tidak mempermasalahkan hal seperti itu. Bagiku, dalam hatimu hanya ada aku, itu sudah cukup,” ucap Ben melalui sambungan telepon tadi pagi sebelum acara pengucapan sumpah berlangsung.


__ADS_2