Angel Of Death

Angel Of Death
Rival


__ADS_3

"Katamu kau akan datang cepat, tapi mana?" ucap Resto menyambut kedatangan Shine dengan wajah merenggut. Shine baru ingat kalau dia janji akan datang lebih pagi untuk membantunya mengurus pasien VIP itu, tapi karena mengurus Deathlyn, dia jadi lupa akan janjinya.


"Aku minta maaf, aku... ada sedikit keperluan, sorry, Res, please jangan marah," ucapnya menyatukan telapak tangan di dada.


Resto akan menjawab lagi, tapi batal kala melihat wajah super tampan yang ada di belakang Shine.


"Oh, my God, siapa dia?" bisik Resto menarik tangan Shine hingga mendekat padanya.


Shine memutar lehernya melihat ke belakang, baru sadar kalau Deathlyn masih mengikutinya. "Astaga, aku lupa!" batinnya.


"Dia... Dia..." Shine bingung harus menjelaskan apa.


"Pacarmu?" tembak Resto penasaran, bola matanya membulat, dia tidak tahu kalau sahabatnya itu sedang dekat dengan seorang pria.


"Bukan! Bukan begitu, Res... Dia sepupuku, iya, dia sepupuku," jawabnya tersenyum kecut. Mengutuk kebodohannya mengapa sampai lupa akan keberadaan Deathlyn. Lagi pula, ngapain pria itu mengikutinya. "Sebentar, Res," ucapnya menarik tangan Deathlyn menjauh dari sana. Shine membawa pria itu ke luar area rumah sakit melalui pintu sayap sebelah kiri.


"Kenapa kau belum pergi juga? Mengapa kau mengikuti ku? segera pergi dari sini!" hardik Shine menatap tajam pada Deathlyn. Bagaimana kalau sampai ada yang tahu kalau pria yang bersamanya itu adalah malaikat kematian?


Dia tidak sehebat itu hingga teman bermainnya adalah seolah makhluk gaib, dari ras malaikat pula!


"Aku ingin jubah itu!"


Ck! Rasanya ingin sekali menghajar pria itu, selalu saja menagih jubah itu, padahal'kan dia sudah bilang kalau belum bisa mengembalikan, bagaimana sih?!


"Kau tahu betul kalau yang kau minta itu tidak ada padaku!"

__ADS_1


"Tapi kau bisa meminta ibumu melepaskannya!"


"Dan sayangnya, aku tidak ingin!" Shine berlalu, dia tidak ingin ada yang melihat mereka apalagi sampai mendengar pembicaraan mereka.


Deathlyn menendang tembok rumah sakit dengan kakinya karena kesal hingga bagian tembok yang dia tendang itu hancur. Beruntung tidak ada yang melihat. Dia harus bisa mengendalikan kekuatannya kalau sedang marah.


Bisa saja dia mengancam Shine atau sekaligus membawa Lara ikut bersamanya ke dunia mereka, tapi tidak dia lakukan. Hal itu sama saja aku membuat raja malaikat tahu kalau ayahnya melindungi Lara selama ini dengan meminjamkan pusaka keluarga mereka dan hal itu akan membuat hukuman ayahnya semakin berat.


Yang bisa Deathlyn lakukan saat ini adalah mengambil hati Shine, agar terketuk dan mau mengembalikan barang milik mereka. Mungkin dengan cara membantu gadis itu mengatasi kesulitannya akan membuatnya luluh.


"Aku melihat ada seorang pria yang sangat tampan di lobi rumah sakit, dan katanya dia datang bersamamu, apa itu benar?" tanya Amelia mendekat padanya. Shine baru saja membantu Resto mengganti jarum infus nyonya kaya itu.


Shine mengernyitkan kening, lalu menghela napas. Mengapa pria itu membuat gaduh isi rumah sakit ini. Dia yakin Deathlyn tidak akan berhenti mengikuti dan membuatnya susah.


Sebisa mungkin Shine menghalau pikirannya yang ingin melihat dimana pria itu saat ini dan apa yang dia lakukan.


"Maaf," ucapnya ketika menubruk seseorang. Lamunan panjangnya menyita kewaspadaan hingga tidak melihat orang di depannya. Saat dia mengangkat wajah, dan saling bersitatap dengan orang yang dia tabrak, seketika tubuh Shine membeku.


Mata pria itu sungguh mengerikan, begitupun dengan tampangnya. Mungkin dia memang mengenakan stelan jas tapi, tapi Shine bisa tahu kalau pria itu bukanlah manusia seperti dirinya.


Fokus pria itu tertuju pada liontin yang menggantung di lehernya. Semakin yakin akan apa yang dia lihat, pria itu semakin mengikis jarak diantara mereka.


"K-kau mau apa?" tanya Shine. Diperhatikannya koridor itu sepi, tidak ada satu orang pun yang lewat karena dia memang baru saja kembali dari ruang laboratorium.


"Aku tertarik dengan benda yang menggantung di lehermu itu, boleh'kah aku melihatnya?" tanya pria itu dengan tatapan mengerikan, buas dan sangat menakutkan. Seolah seketika ruangan itu berubah menjadi dingin seperti kutub es, dingin dan sangat mencekam, seperti semua kebahagiaan raib hanya dengan tatapan pria itu.

__ADS_1


Shine ingat akan perkataan Darker dulu, dia juga tertarik akan kalung itu dan sempat mengatakan kalau dia harus menyembunyikan liontin itu karena akan menarik minat oleh makhluk lainnya.


Seketika Shine memucat. Kini dia yakin kalau pria itu benar bukan manusia biasa dan kini nyawanya sedang terancam.


"Bolehkan aku melihatnya?" Kembali pria itu berbicara padanya, menatap dengan penuh minat, tidak berkedip, bak liontin itu adalah sesuatu yang sangat berharga sekali bagi pria itu, seolah menemukan harta karun yang selama ini dia cari.


"Maaf, aku tidak bisa memberikannya," ucap Shine berusaha untuk kabur, tapi sial, kakinya seolah tertanam, menyatu dengan lantai. Sarafnya sudah diperintahkan untuk bergerak, melangkah, tapi tetap saja dia tidak bisa. Pria itu terus bergerak semakin mengikis jarak. Tangannya terulur ingin mencengkram lehernya.


Tepat saat dimana ketakutan merajai dirinya, Shine spontan memanggil satu nama di dalam hatinya.


"Deathlyn, tolong aku... Deathlyn...."


Berkali-kali nama itu dia ucapkan. Shine sendiri tidak tahu mengapa dia memanggil nama itu, padahal dia tahu kalau mereka sama saja, ingin mengincar liontin itu.


Ujung jari pria tak dikenal itu sudah hampir menyentuh liontin itu ketika tampak kilatan merah yang menyambar tangannya hingga terpental ke tembok. Dia bangkit dan melihat ke arah pemberi serangan itu.


"Wowowo... ternyata kau di sini juga? Bagaimana, kau sudah mendapatkan apa yang kau cari? Tapi melihatmu masih di dunia ini, aku tebak kau pasti tidak berhasil menemukan wanita itu!" ucapnya menyeringai.


Tampaknya pria itu tidak ingin Deathlyn mengetahui perihal dirinya yang sudah menemukan liontin yang mereka cari itu hingga segera mengalihkan percakapan, bahkan dia menghadang Deathlyn yang ingin maju ke arah Shine.


"Sudah ku temukan ataupun tidak, bukan urusanmu! Apa yang kau lakukan di sini?" hardik Deathlyn memberi kode pada Shine untuk lari dari sana. Aneh, kini kakinya bisa diangkat, dan secepatnya kilat Shine berlari.


Pria tak dikenal itu ingin mengejar, tapi segera Deathlyn menghalanginya. "Apa yang membuatmu datang ke tempat ini, Thom?" tanya Deathlyn tajam, mengawasi gerakan pria itu. Dia tahu kalau banyak para malaikat yang disuruh untuk turun ke bumi untuk mencari roh yang sudah waktunya meninggalkan tempat ini. Namun, ada juga yang diutus untuk mencari liontin yang ada di leher Shine.


"Sama sepertimu, mencari roh untuk dibawa pulang, sekaligus sesuatu yang selama bertahun-tahun ini dicari, dan tampaknya akan segera aku temukan!" ucapnya menyeringai penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2