
Seisi kapel mendadak mendadak sunyi. Luna yakin kalau sebentar lagi calon suaminya itu akan tiba. Semua orang kini tengah menunggu kehadiran pria itu namun, tidak bisa dibantah pendengaran Luna bisa menangkap bisikan-bisikan yang mengatakan bahwa Aluna gila bergema bisa antero kapel dan entah mengapa hal itu membuatnya merasa lega.
Bahkan beberapa orang menganggap dirinya hilang ingatan. Hal itu bisa digunakannya sebagai senjata ketika menjalani kehidupannya selama di negeri ini. Dia tidak mengerti dengan apapun yang berhubungan dengan Aluna Star.
Laluna sangat khawatir, dia tidak bisa mengingat semua rincian yang sudah diterangkan oleh Wolf, takut melakukan kesalahan bahkan bibirnya keceplosan mengatakan sesuatu kepada seseorang yang bisa saja keluarga suaminya nanti, hingga menyadari bahwa dirinya bukanlah Aluna Star yang asli dan hal itu tentu saja akan membuat Wolf marah. Dia jadi teringat kepada pelayannya, Matilda.
Wolf pernah berkata akan menyiksa gadis itu kalau sampai Luna membongkar rahasia mereka. Mungkin dengan berpura-pura gila dirinya akan terselamatkan.
"Ya, sebaiknya aku menjalani akting sebagai gadis gila saja. Setidaknya itu tidak terlalu sulit bagiku yang memang pernah belajar akting di sekolah teater," batin Luna.
***
Pada akhirnya pernikahan itu dilangsungkan tanpa kehadiran Lyn Lion, calon suaminya atau kini bisa disebut sebagai suami karena dia sudah diberkati dengan plakat milik suaminya itu sebagai pengganti dirinya.
Raja sangat marah, mau tidak mau dia memutuskan untuk mengatakan sah pada pernikahan itu dan segera bubar tanpa menghadiri jamuan yang sudah dia siapkan setelah pemberkatan pernikahan mereka.
Bersama kedua orang tua serta rombongan keluarga, membawa Luna beserta mereka jauh dari tempat wolf membawanya tinggal.
Dalam perjalanan Luna tampak murung dan begitu lelah. Bagaimana tidak, perjalanan itu harus ditempuh selama dua hari lamanya. Anehnya walaupun mereka memiliki kekuatan gaib tidak diperbolehkan menggunakan kekuatan hanya untuk hal sepele seperti berjalan, terlebih bagi mereka yang masih muda.
Sementara kedua orang tua Lyn, dengan ilmu menghilang, mungkin sudah sampai di rumahnya.
__ADS_1
Luna sedikit kecewa mengapa dia tidak membawa Matilda bersamanya ke kediaman keluarga Lyn. Padahal dia belum tahu bagaimana tempat tinggalnya di sana nanti dan bagaimana orang-orang akan bersikap terhadapnya. Namun, jika Matilda ikut dengannya, setidaknya wanita itu bisa menemaninya mengobrol. Hanya Matilda satu-satunya makhluk yang ada di negeri kayangan ini yang tulus bersikap kepadanya.
Tidak hanya dirinya, kuda yang menarik keretanya pun tampak sudah kelelahan. Luna sudah membayangkan bagaimana nikmatnya ketika dia nanti berbaring di ranjang yang lembut, tidur berhari-hari dan saat ia bangun, itupun kalau masih berada di tempat itu, mencari sebotol minuman yang bisa menghangatkan tubuhnya lalu akan menghabiskan sebanyak mungkin sampai dia tidak sadarkan diri.
Namun, kenyataannya jauh dari harapan. Bayangan mengenai ranjang yang lembut seperti yang pernah dia tempati di istana raja tidak dia temukan di istana itu. Minuman pun tidak, semua tampak asing baginya, tidak ada suami ataupun orang yang peduli padanya, semuanya tampak mengacuhkannya, bahkan beberapa wanita yang berpapasan dengannya menatap sinis ke arahnya.
Jelas Luna pasti akan sangat sulit merasa betah tinggal di sana.
Luna ingin menanyakan sesuatu kepada Mate, tapi setelah berada di dalam kastil itu pria itu segera menjauhkan diri darinya.
Semua gambaran yang dia lihat, jelas menunjukkan bahwa dia bukanlah istri yang diinginkan. Dengan sikap tidak peduli dan tidak ada penyambutan, serta tidak ada tanda-tanda keberadaan suami yang menginginkannya. Sempurna sudah, dia memang hanya sebagai pajangan yang diarak keluar dari istana raja setelah pernikahan.
Lebih baik dia mencari ranjang dan juga botol minuman atau setidaknya pergi berjalan-jalan agar dia bisa menemukan satu tempat persembunyian kalau-kalau keadaannya terdesak.
Dan pilihan terakhir'lah yang dilakukan oleh Luna. Dia berjalan menyusuri taman yang begitu indah dan sangat luas lalu tanpa sengaja ia berjalan melewati pepohonan yang rindang dan terlihat di sana seorang pria sedang sibuk membuat sebilah pedang dengan tetesan keringat yang menghiasi wajahnya.
Ada magnet yang menggerakkan Luna untuk mendekat sampai pada akhirnya Luna mengangkat tetapannya dari dada pria itu dan kini terpaku pada mata lelaki yang tidak pandai tersenyum itu.
Tenggorokannya terasa tercekat. Dia berusaha untuk menarik napas hanya karena tatapan itu seluruh indranya berhenti seketika dan tubuhnya kaku.
Dia coba menebak siapa pria yang sangat tampan yang kini sudah mulai berjalan ke arahnya. Apa mungkin itu suaminya? Gambaran yang diberikan oleh pelayan yang dia dengar begitupun dengan yang dikatakan Mate, tidak menutup kemungkinan bahwa pria itu adalah suaminya.
__ADS_1
Setelah mendekat tanpa mengatakan apapun pria itu mengangkat dagu Luna memaksa kepalanya terdorong ke belakang sehingga mata Luna menatap matanya yang berwarna tembaga.
"Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk Anda, Tuan Putri? Mungkin ada sesuatu yang ingin ditempa atau mungkin hamba bisa membuatkan mainan yang Anda inginkan?" tanya pria itu masih tidak melepaskan pegangannya di dagu lancip milik Luna.
Mata Luna menyapu wajah lelaki itu dengan panik. Lidahnya masih belum ditemukan sehingga tidak berkata apapun membalas pertanyaan pria itu.
"Apa yang Anda inginkan dari hamba?" Kembali pria itu bertanya. Tatapannya semakin tajam dan wajahnya semakin mendekat ke arah Luna hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napas yang beraroma min menyeruak penciuman Luna.
"Tidak ada Aku hanya tersesat hingga sampai ke sini," jawab Luna berusaha untuk menekankan nadanya agar tidak terlihat begitu gugup.
Pria itu tersenyum dan sumpah demi apapun tubuh Luna seakan terbakar melihat ketampanan pria itu karena tersenyum. "Ayo!" Serunya menggandeng tangan Luna dan mulai melangkah cepat.
"Kau membawaku ke mana?" tanya Luna yang kita berusaha melepaskan dirinya dari pegangan pria itu. Namun, sia-sia saja karena tenaganya memang tidak mungkin bisa mengalahkan sepersepuluh dari kekuatan pria itu.
"Kau harus ikut denganku!" Paksanya lagi, kembali menyeret langkah Luna bersamanya. Gadis itu semakin ketakutan walaupun tadi sempat memuji pria itu yang begitu tampan, tapi entah mengapa perasaannya mengatakan akan ada bahaya yang datang kepadanya kalau sampai dia ikut bersama pria itu.
"Aku minta lepaskan aku Kau tidak tahu siapa aku?!" Bentak Luna yang berusaha untuk memberanikan diri. Setidaknya, walaupun dia bukan menantu yang diinginkan tapi dia sudah menjadi istri dari pemilik tanah ini, maka selayaknya dia dihormati serta dihargai oleh siapapun termasuk pria yang kini ada di ada banyak ini.
Namun, pria itu tampak yang tidak mengindahkan ucapan Luna, terus menarik bahkan kini semakin kasar mencengkeram pergelangan tangan gadis itu yang membuatnya mengadu.
"Lepaskan istriku!" Sebuah suara berat terdengar memerintah dari belakang mereka.
__ADS_1