Angel Of Death

Angel Of Death
Rafael Jamsen


__ADS_3

Di tengah perjalanan pulang Siliya mendengar suara keributan disebuah gang kecil. Karena penasaran Siliya berjalan mendekati gang tersebut. Betapa terkejutnya Siliya melihat seorang laki-laki sebayanya tengah dipukuli 5 orang preman.


"Tttt... to long tolong, " teriak Siliya gugup.


Orang-orang yang mendengar teriakan Siliya berdatangan hingga membuat para preman itu lari tunggang langgang.


Sedangkan Siliya menghampiri laki-laki yang terkapar di tanah.


"Pak, buk tolong angkat orang ini ke mobil saya biar saya bawa ke rumah sakit. " Pinta Siliya, setelah di mobil Siliya meminta sopirnya menuju rumah sakit.


Sampai di rumah sakit Siliya menunggu di luar ruangan pasien sembari menggigit kuku nya.


Pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok wanita cantik dibalut seragam putihnya.


"Kamu keluarga pasien? " tanya dokter kepada Siliya.


"Bukan dok, tadi saya menemukannya pingsan habis dipukuli preman. Memangnya ada luka serius dok? "


"Tidak ada luka yang serius hanya saja keadaan pasien masih lemah jadi harus dirawat inap untuk malam ini. "


"Iya dok nanti biar saya urus administrasinya. "


"Ya sudah saya mesti menangani pasien lain permisi. "


"Silahkan dok. "


***


"Gimana keadaan lu? " tanya Siliya kepada laki-laki tersebut.


"Aku Rafael, " ujarnya.


"Ditanya apa malah jawab apa, " gerutu Siliya.


"Aku baik kok makasih udah nolongin aku, " ucap Rafa tersenyum.


"Oh syukur deh, nama gue Siliya. Bay the way lu ada masalah apa sama tuh preman? " tanya Siliya kepo.


"Aku di rampok padahal aku baru dateng ke sini dan sekarang aku gak tau mesti kemana uang dan barang-barangku udah dirampas sama mereka. " Ujar Rafa sedih.


"Sian banget sih lu, emang lu kagak punya saudara atau kenalan gitu disini? " tanya Siliya Yang dijawab gelengan kepala oleh Rafa.


"Miris juga ya hidup lu. Emmm gini deh gue kan orangnya baik nih untuk sementara waktu lu boleh deh tinggal di rumah gue kagak usah bayar gue ikhlas. Gimana mau nggak lu? "

__ADS_1


"Mau mau banget makasih yha, " ujar Rafa antusias.


"Lu emangnya dari mana? dan ngapain kesini? "


"Aku dari Jerman aku kesini karena dijodohin sama bokap jadi aku kabur. "


"Gila emang ini zaman apa masih dijodohin. Eh lu dari Jerman kok bisa bahasa Indonesia? "


"Ibuku asli Indonesia ayahku asli Jerman. Sejak kecil sampai SMP aku tinggal di Indonesia bareng nenek semenjak nenek meninggal aku pindah ke Jerman dan baru kesini sekarang. "


Siliya hanya manggut-manggut dan mengabari orang rumah jika malam ini dia menginap di rumah sakit.


"Gue ganti baju dulu lu makan gih jangan kelamaan ngrepotin. "


"Iya makasih."


***


Rafa Pov


Waktu menunjukkan pukul 23.45 WIB. Siliya sudah bergelut dengan alam bawah sadarnya di sofa. Sedangkan Rafa memandang lurus ke arah Siliya.


"Apa bener dia orang yang mesti aku bunuh? " tanya rafa pada dirinya sendiri.


"Aku nggak yakin aku bisa ngelakuin ini sama orang sebaik Siliya. " Rafa memijit kepalanya pusing.


Flashback


"Misi kamu kali ini adalah membunuh putri dari Thomas Stef dan Rani Alira. " Suruh pria paruh baya tersebut.


Thomas Stef (ayah Siliya) merupakan Bos Mafia terbesar di dunia yang memiliki kekuasaan sangat berpengaruh di dunia bawah. Sedangkan Rani Alira (bunda Siliya) seorang agen rahasia yang pada saat itu mendapat tugas membunuh Thomas Stef.


Kemampuan bela diri Rani tidak diragukan lagi, dialah agen rahasia perempuan yang paling hebat.


Keadaan membuat mereka berdua pindah haluan dengan munculnya benih cinta dihati mereka. Sadar akan ada banyak orang yang menentang bersatunya mereka berdua membuat tekad keduanya untuk meninggalkan pekerjaannya dan pindah ke Indonesia untuk membangun rumah tangga.


Ada kalanya seorang indigo mengatakan bahwa anak dari Thomas dan Rani akan memiliki tanda lahir berupa bintang berwarna hitam sebanyak 3. Maka kelak dialah yang akan menguasai dunia mafia menggantikan ayahnya. Dan kemungkinan semua orang akan bertekuk lutut kepadanya.


Hal ini membuat Thomas dan Rani khawatir karena pastinya Bos Mafia yang menggantikan Thomas untuk sementara pasti akan membunuh anak Thomas agar kedudukannya sebagai penguasa dunia bawah tidak tergeser.


Thomas dan Rani memutuskan untuk menjauhkan kedua anak kembarnya berharap agar musuh tidak ada yang mengetahui keberadaan kakak Siliya.


Satu hal yang Thomas dan Rani tidak tahu bahwa sebenarnya yang menjadi incaran musuh adalah anak yang memiliki tanda lahir berupa 3 bintang hitam yaitu Siliya.

__ADS_1


"Bukankah Rani Alira adalah agen rahasia yang jatuh cinta kepada Bos Mafia? "


"Ya kau benar dan karena penghianatannya itu dia dan Thomas menjadi buruan para musuh. "


"Lalu kenapa aku harus membunuh putrinya kenapa bukan membunuh mereka berdua? "


"Apa kau bodoh biarkan Mafia lain yang membunuh Thomas dan Rani dan kau bunuhlah putrinya. "


"Sedangkan putrinya? " tanya pemuda tersebut yang masih belum paham.


"Kemungkinan dia memiliki tanda lahir 3 bintang hitam dan itu bisa menjadi bumerang bagiku sebagai Bos Mafia. Jadi kuharap kau mengerti. "


"Baik ayah akan kulakukan. "


"Itu baru putra Ronald Jamsen. "


Flashback End


Kebetulan besoknya hari Minggu jadi Siliya tidak perlu bolak-balik pulang. Renacanaya dia akan membawa Rafa pulang kerumahnya satu jam lagi.


"Lu beneran udah sehat kan? " tanya Siliya memastikan.


"Udah kok suer deh," ucap Rafa sembari mengangkat tangannya seperti anak kecil.


"Jiahhh sok imut lu jijik gue, " kata Siliya pura-pura muntah yang dibalas tawa keras Rafa.


"Lia makasih banyak ya kamu udah baik sama aku. "


"Santai aja kalik nggaj perlu makasih mulu eneg gue dengernya. "


"Terus apa dong? "


"Lu makan yang banyak sama minum obat biar cepet sembuh ntar kalau lu sembuh gue juga seneng. " Kata Siliya tersenyum manis membuat hati Rafa mau copot.


"Kenapa Lia manis banget yha? " tanya Rafa dalam hati.


"Ye malah bengong udah buru makan bentar lagi pulang nih. " Ucap Siliya membuyarkan lamunan Rafa.


"Iya deh siap, " seru Rafa sambil terburu- buru makan hingga tersedak.


"Bocah banget sih lu makan aja sampe keselek nih minum, " suruh Lia memberikan minuman sembari menepuk punggung Rafa.


Mendapat perhatian seperti itu dari Siliya membuat suhu badan Rafa panas dan wajahnya memerah karena malu.

__ADS_1


"Eh wajah lu kenapa kok merah sih sakit banget emang keseleknya? apa perlu gue panggilin dokter? " tawar Siliya menyentuh pipi Rafa.


"Eng enggak papa kok, " seloroh Rafa menghempas tangan Siliya dan memalingkan mukanya.


__ADS_2