
Lyn kembali memandang ke arah jendela yang menembus lapisan langit tertinggi dari tempat mereka. Kegiatan yang selalu menyenangkan untuk dilakukan olehnya.
Dia juga tidak mengerti mengapa dia sangat tertarik untuk memandang ke atas sana. Seolah hatinya tertawan dan seolah ada yang memanggil untuk terus menatap ke arah sana, kalau sudah melakukan hal itu sudut terdalam di hati yang terasa begitu tenang dan merindukan, malah dia tidak tahu apa yang dia rindukan.
Emerald ikut melihat ke arah tatapan pria itu yang saat ini terkunci dengan kesendiriannya. Tadi malam, pria itu juga melihat ke arah sana ketika sedang menidurinya, memuaskan hasrat liarnya yang tersimpan di dalam diri seorang wanita berkelas dan putri dari keluarga terpandang yang memiliki gairah yang sangat besar dan ingin dipuaskan oleh kejantanan nan perkasa yang hanya dimiliki seorang Lyn.
Dia berhasil merintih di bawah pria perkasa itu, dalam rasa nikmat yang dia rengkuh, tapi sialnya, pria itu justru tidak melihat ke arahnya! Hanya tertuju ke arah langit yang membentang luas di atas mereka seolah ingin menjelaskan bahwa sedikitpun Lyn tidak pernah menganggapnya ada di bawah dirinya saat itu.
Sempat terpikirkan oleh Emerald, apakah Lyn sedang menghitung bintang di atas langit tapi apakah ada seorang pria yang tengah bercinta dengan seorang wanita, tapi perhatiannya justru tertuju dan terkunci oleh bintang yang ada di langit? Sama sekali tidak masuk akal!
"Lyn," sapanya mendekati pria itu, duduk di sampingnya dengan menyandarkan kepala di pundak Lyn. Rambut panjang keemasan itu tergerai indah menutupi pindah Lyn.
"Hmmm?"
"Apa yang sedang kau pikirkan? Bukan'kah lebih baik kita kembali ke ranjang?" Godanya tidak ingin membuang waktu. Dia tidak punya banyak waktu kesempatan untuk bersamanya segera habis. Jadi, dia ingin memanfaatkan kebersamaan mereka dan berharap dengan pertemuan ini semoga emera bisa segera hamil sehingga punya alasan untuk mengikat Lyn selamanya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tidur malam ini, Cantik aku tidak mengantuk. Kau tahu sendiri sebagaimana pun aku mencoba untuk memejamkan mata, membujuk agar bisa tertidur tapi tidak akan berhasil. Bertahun-tahun aku tidak pernah tidur," ucapnya menunduk sedih.
Dia mengambil setangkai bunga lili yang cantik, yang tadi malam sudah dia sapukan pada punggung telanjang Emerald yang begitu mulus.
"Jadi apa kau ingin kita mengulang kembali apa yang sudah kita lakukan sepanjang malam?" tanya Emerald tanpa ada rasa malu sedikitpun. Namun, sejujurnya dia tidak berharap bahwa pria itu ingin melakukannya lagi padanya dalam waktu dekat ini. Dia butuh istirahat.
Lyn begitu powerful, dia mengontrol dan mengunci tubuh Emerald tanpa bisa melakukan perlawanan. Tentu saja gadis itu tersentak atas pernyataan pria itu, walaupun tanpa dikatakan dia tahu bahwa sedikitpun tidak ada rasa lelah di wajah Lyn. Tubuhnya masih kekar dan staminanya masih kuat, seolah apa yang mereka lakukan sepanjang malam dan tanpa berhenti itu tidak menguras tenaga dan juga rasa lelah.
Emerald sedikit bergidik, bermain dalam pikirannya. Bertanya-tanya wanita macam apa atau seberapa banyak wanita yang bisa membuat seorang Lyn Lion merasa puas dan berhenti untuk memikirkan permainan di atas ranjang.
Kadang dia berpikir, mengapa Lyn tidak menikahinya saja agar setiap saat mereka bisa merengkuh kenikmatan itu? Namun, pastinya pria itu tidak akan mau. Bahkan Emerald berpikir bahwa dirinya tidak cukup pantas untuk pria itu. Selalu dihantui oleh bayangan bawah adiknya, Ruby yang lebih berhasil memuaskan pria itu. Mereka dulu sempat bertahan selama dua tahun bersama.
Sudah menjadi prinsip dari Lyn bahwa dia tidak akan memakai wanita yang sudah bekas pria lain. Jadi, dia memutuskan hubungannya dengan Ruby dan menerima tawaran Emerald untuk menggantikan peran Ruby menghangatkan ranjang pria itu.
"Lyn apa yang kau pikirkan? Aku ingin sekali ikut larut dalam pemikiranmu. Terkadang aku cemburu dengan isi yang ada di sini," ucapnya dengan lembut menyentuh kening Lyn dengan jemarinya yang lembut.
__ADS_1
Lyn hanya tersenyum menanggapi pertanyaan gadis itu, lalu menyentuh lembut punggung tangan Emerald sebelum membebaskan dirinya dari pelukan wanita itu.
"Apa adikku lebih cantik dariku? Apa kau masih menginginkannya berada di atas ranjangmu?" tanya Emeral tiba-tiba dia merasa tersinggung karena Lyn sama sekali tidak menganggapnya sama sekali. Hinanya dia menawarkan dirinya untuk pria itu.
Bagaimanapun caranya mengemas diri, tetap saja Lyn tidak menerimanya.
Kalimat itu begitu saja meluncur dari mulutnya tanpa bisa dia cegah dan terakhir berujung dengan penyesalan. Dia harusnya bisa lebih menimbang mana yang harus dia katakan dan tidak, dihadapan pria itu. Walaupun dia terkesan murahan tapi jangan sampai dia sendiri yang membuka aibnya di depan Lyn.
Ucapan gadis itu mengalihkan pandangan Lyn yang semula fokus pada untaian bintang-bintang yang indah di langit malam itu berpindah kepada wajah bulat yang tadi sudah memberikan kepuasan padanya di atas ranjang.
"Kenapa kau harus berkata seperti itu?" ucapnya dengan tatapan tajam ke arah Emerald. Dia tebak, gadis itu begitu khawatir, bahwa posisinya akan digantikan oleh orang lain dan memikirkan hal itu Lyn hanya bisa tersenyum.
"Jawab saja, apakah adikku lebih memuaskan daripada diriku?" tanya Emerald yang tidak akan melepaskan diri sebelum pria itu mengatakan yang sebenarnya. Sangat tidak menyenangkan jika diri dibandingkan dengan adik sendiri. Ana adik Emerald memang jauh lebih cantik dari gadis itu tapi tetap saja tidak mampu untuk mengunci hati Lyn dan membiarkan pria itu tetap tinggal di sisinya.
Memiliki kehidupan yang bebas, dia tidak pernah terikat dengan wanita manapun. Entah apa yang dicari pria itu dibalik sikap dinginnya. Dia membutuhkan wanita dan haus sentuhan serta kehangatan di atas ranjangnya tapi tidak satupun dari wanita itu yang dijadikannya pelabuhan untuk selamanya.
__ADS_1
Ada yang bilang Lyn adalah titisan atau reinkarnasi dari panglima sekaligus pahlawan terbesar yang pernah ada dalam sejarah negeri malaikat ini. Entah benar atau tidak tapi orang-orang yang dulu hidup di masa panglima itu menyatakan bahwa semua yang ada pada tubuh Lyn seperti duplikat dari sang panglima besar.
Baik fisik ataupun karakternya, yang membedakan keduanya hanyalah kalau Deathlyn dulu tidak pernah mau berhubungan dengan wanita manapun berbeda dengan Lyn, yang seolah mencari seseorang di dalam diri banyak wanita, tapi tidak menemukannya yang menyebabkan dirinya berganti dari satu wanita ke wanita lain.