Angel Of Death

Angel Of Death
Perjanjian


__ADS_3

Bagaimanapun Lin membujuk kakek tua itu tetap saja pria itu tidak mau ikut bersama Line ke Goldmark. Hingga sampai Lin berlutut di hadapan pria itu dan membuat tabib ajaib itu tidak tega dan akhirnya menyetujui untuk ikut melihat keadaan Luna.


Anehnya jarak yang dia tempuh selama dua hari hanya memakan waktu per sekian detik dengan ilmu teleportasi tabib ajaib itu.


"Ibu, Bagaimana keadaan Luna?" Tanya Lyn ketika sudah tiba di rumah yang kini pada jas menuju kamar mereka tempat Luna berbaring lemah.


"Kata tabib dia sudah tidak punya harapan yang pasti sudah terdengar begitu lemah begitupun dengan detak jantungnya," ucap Vanessa menangis sesunggukkan.


Lain hampir saja pingsan mendengar perkataan ibunya tidak mungkin dia akan kehilangan Luna. Tidak, dia pasti tidak akan sanggup.


Tanpa permisi Tabib ajaib itu pun masuk ke dalam kamar. Semua tapi yang ada di dalam kamar itu begitu terkejut akan kehadiran sang maha guru, lalu memberi salam hormat.


"Dia memang tidak bisa bertahan hidup kau harus mengikhlaskannya bahkan rohnya pun sudah tidak ada lagi di sini," ucap tabib itu hanya dengan menggunakan dua jarinya mana kan ke leher Luna tanpa melakukan pengobatan lainnya.


"Itu tidak mungkin aku mohon tolonglah dia aku pun akan aku lakukan perasaan bisa membuatmu hidup kembali tolonglah Dia adalah wanita yang paling aku cinta tapi tidak mungkin berpisah kehilangannya," ratap Lyn putus asa.


Semua orang yang melihat isap tangisnya itu begitu tersentuh dan merasa sangat kasihan melihat Line yang selama ini gagah perkasa tidak pernah merasa seputus asa ini bahkan mungkin seumur hidupnya baru kali ini Dia meneteskan air mata untuk orang lain.


"Dia bisa diselamatkan dengan satu syarat," ucap Tabib maha guru.


Lyn bergegas mendekat, dia akan mengambil setiap kesempatan yang ada untuk menyelamatkan Luna apapun balasannya dia akan bertarung bahkan nyawanya sekali akan dia berikan alasan bisa membuat garis itu kembali hidup.


"Apa syaratnya guru aku akan melakukan apapun yang anda perintahkan," jawab yang penuh harap.


"Apa kau siap kalau dia bisa hidup tapi kau tidak bisa memilikinya lagi."


Lyn mengernitkan dahinya tidak mengerti apa maksud perkataan lelaki tua itu kalau memang Luna bisa hidupkan kembali mengapa dia tidak bisa bersama dengan garis itu?

__ADS_1


"Maksud Anda apa?"


"Aku bisa membuatnya kembali hidup tapi dia harus kembali ke dunia asalnya dunia manusia," ucap Sang Tabib.


Seketika semua orang di ruangan itu yang mendengar terperanjat, mulut mereka menganga mendengar kenyataan yang disebutkan oleh tabib itu.


Begitupun dengan Vanessa yang tidak menyangka bahwa menantunya itu bukanlah makhluk yang berasal dari negeri mereka. Lantas dari mana asalnya Luna? Benarkah perkataannya yang mengatakan bahwa dia bukanlah Aluna Star?


Lyn pernah mendengar hal itu langsung dari mulut Luna dan kini setelah diberitahukan oleh tabib hebat itu, dia semakin percaya bahwa gadis itu tidaklah mengada-ada. Tapi Lyn tidak peduli. Baik dia berasal dari negeri ini ataupun dari negeri lain. Dia mencintai Luna, itu sudah pasti. Dia mencintai gadis yang kini ada di hadapannya berbaring dengan lemah.


"Lyn, kau tahu akan hal ini? Kau tahu bahwa dia bukanlah Aluna Star, gadis yang memang dijodohkan denganmu?" tanya Borneo yang ikut ambil posisi di depan Lyn.


"Aku tahu Ayah, Ibu. Dia pernah mengatakannya tapi tidak sedikitpun aku pernah mempercayai perkataannya. Lagi pula aku tidak peduli dia berasal dari mana yang ku tahu dia adalah gadis yang sangat aku cintai," jawab Lyn tanpa semangat.


"Guru, apa tidak ada jalan lain tidak bisakah kami bersatu?" tanya Lyn dengan sesak di dadanya.


Lama Lyn berpikir, apa gunanya dia mempertahankan egonya, Luna tidak akan bisa hidup di sini, dia juga tidak akan bisa memilikinya lagi.


Namun, dengan membiarkan Luna hidup di dunianya, setidaknya hatinya bisa tenang mengingat bahwa gadis yang paling dicintai masih ada di belahan dunia lain dan mungkin saja dia bisa melihatnya nanti.


"Baiklah guru lakukan apa yang terbaik untukmu kalau dia harus kembali ke negerinya kenapa aku sudah ikhlas," ucap Lyn menggenggam tangan Luna dengan erat.


Tabib ajaib itu segera melakukan meditasi. Dia butuh konsentrasi yang tinggi bahkan keringat di keningnya sudah bercucuran yang artinya perlu tenaga dalam yang tinggi untuk menyelamatkan gadis itu.


Lyn mengalihkan pandangannya dari tabib itu kepada wajah Luna ketika tangan gadis itu yang saat ini dia genggam bergerak.


"Sayang, bangun'lah," ucapnya setengah berbisik.

__ADS_1


Bola mata lunak terbuka mencoba melihat orang yang ada di hadapannya. "Lyn," gumamnya lemah.


"Iya, Sayang. Ini aku..." Jawab Lyn yang juga dengan berbisik.


Melihat kesedihan itu semua orang yang berada di dalam ruangan itu juga tampak menangis terisak tidak tahan melihat perpisahan yang akan mereka jalani nanti.


"Ucapkan selamat tinggal pada gadis itu, dia harus segera pergi dari sini kalau tidak aku tidak bisa menahannya lagi justru dia akan terlempar terbawa ke lapisan neraka," terang sang Tabib.


Lyn sungguh tidak berdaya dia tidak mungkin sanggup berpisah ini terlalu cepat Bukankah dia perlu menyiapkan hatinya menyiapkan perasaannya dan memuaskan pandangannya untuk melihat wajah Luna karena setelahnya mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi.


"Cepatlah, sebelum pintunya tertutup lagi!" Perintah sang Tabib.


"Sayang, aku sangat mencintaimu selamanya dan sampai kapanpun, dimanapun kau berada, aku akan mengingatmu. Kau adalah satu-satunya cinta yang ada dalam hatiku, tidak akan pernah tergantikan. Aku mohon hiduplah dengan bahagia walaupun tanpa adanya diriku di sisimu," ucap Lyn yang meneteskan air matanya dan tepat jatuh di pipi Luna.


Setelahnya dia mencium kening dan seluruh bagian wajah gadis itu dan terakhir mencium bibirnya, tepat setelah ciuman itu tubuh gadis itu menghilang begitu saja tepat di hadapan semua orang.


Yang tertinggal di tangan Lyn hanya selimut yang tadi menutupi tubuh Luna. Tangis Lyn pecah bersama dengan tangis semua orang yang ada di ruangan itu. Semua sudah berakhir Luna sudah tidak ada.


Tidak ada yang perlu dipertanyakan karena di negri mereka sudah biasa makhluk lain masuk ke dalam dunia mereka dan mungkin salah satunya adalah Luna.


Borneo yakin bahwa Luna sengaja diambil dari dunia lain dunia manusia untuk menggantikan romastar yang dikabarkan sudah meninggal.


Awalnya dia tidak percaya dan tetap meyakini bahwa Luna sang menantunya adalah alam nastar tapi setelah melihat kejadian ini Borneo kini yakin bahwa ini adalah rencana Raja Mark dan juga Wolf yang memang ingin mencelakai keluarga mereka.


Borneo maju selangkah setelah melepas pelukan Vanessa, dia menepung pundak putranya, memberikan semangat dan penghiburan yang dia tidak saat ini, bukan lah yang diinginkan putranya itu.


Luna hanya sementara di negeri mereka. Namun, sudah begitu banyak memberikan kebaikan kepada putranya, membuat Lyn hidup kembali dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2