Angel Of Death

Angel Of Death
Jangan Berharap


__ADS_3

"Ayolah apakah kita akan berdiam diri hingga besok pagi, tanpa melakukan apapun yang membuat kita gembira?" ucap Lyn yang mencoba membujuk Emerald yang sedang merajuk.


Penjelasan Lyn baginya sangat abu-abu, hingga membuat wanita itu merasa kesal dan mencoba menarik perhatian Lyn dengan merajuk menjauh dari pria itu.


"Kau belum menjawab ku. Apakah aku tidak pernah ada di dalam hatimu setelah sekian lama kita bersama? susul Emerald yang masih menyimpan sedikit rasa takut kalau sampai pria itu memutuskan untuk meninggalkannya malam itu. Aktingnya hanya untuk memancing Lyn untuk mengatakan perasaan kepadanya.


"Kita sudah pernah membicarakan hal ini dan kau tahu betul apa jawabannya!"


"Tapi aku ingin kau mempertimbangkannya lagi. Usiamu sudah lebih dari cukup untuk menikah dan aku adalah Putri bangsawan, pasangan yang sempurna untuk melengkapi dirimu. Mengapa kita tidak menikah saja?" Akhirnya Emerald memberanikan diri.


Kali ini Lyn benar-benar kesal. Dia paling benci jika membahas tentang pernikahan tidak satupun yang bisa memaksanya baik itu kedua orang tuanya, apalagi ini hanya gadis teman tidurnya.


"Sudahi perdebatan ini! Kau tahu sendiri aku tidak akan mungkin melakukan hal itu pernikahan hanya untuk orang-orang bodoh yang dimaksud cinta," umpat Lyn tidak memberikan waktu bagi Emerald untuk menyatakan keinginannya lebih jauh.


"Aku hanya takut kau meninggalkanku. Aku tahu, adikku lebih segalanya dariku!"


Emerald terlihat lebih emosional. Kali ini dia tidak akan melepaskan kesempatannya, dia tahu setelah berakhirnya hari ini, tidak akan ada kesempatan lagi untuk bisa berdekatan dan bersentuhan dengan pria yang paling diminati di negeri ini.


"Kau tak perlu membanding-bandingkan dirimu, Sayangku. Kau tahu itu perbuatan gadis dungu!"

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku tidak memperbandingkan diriku jika kau bisa melakukan hal itu dengan ratusan bahkan ribuan wanita lainnya, tidak terkecuali dengan adikku sendiri?" seru Emerald semakin tidak bisa menahan emosinya. Ketakutan kehilangan Lyn membuatnya berubah jadi sosok gadis penuntut. Sekarang sepasang alis yang rapi membentuk lengkungan di atas matanya yang berkilau.


Tawa Lyn pecah, menatap lucu ke arah gadis itu. Dia seolah berakting menjadi korban atas dirinya yang suka berganti pasangan. "Lantas, berapa orang pria yang sudah kau bandingkan denganku, hingga muncul obsesi besar mu?" sambar Lyn.


Gadis itu kira dia bisa memperdaya Lyn, hingga terjebak dan pada akhirnya harus bertanggung jawab padanya.


Setelahnya, Emerald tidak henti-hentinya memaki dan menyumpahi beberapa wanita yang dia ketahui pernah tidur bersama Lyn. Pria itu yang merasa terganggu berbalik menatap keluar jendela, terdengar sebuah suara lolongan serigala dari kejauhan, mengoyak malam.


Dia sadar kebisuan Lyn sebenarnya adalah ucapan selamat tinggal kepadanya. Dia terlalu jauh melangkah membuat amarah pria itu sudah tidak terbendung.


Akhirnya akal sehat Emerald kembali seakan tersengat rasa malu dan dicampakkan oleh pria kekar itu ia memilih berbaring dengan tubuh gemetar di atas ranjang link ranjang yang ia tahu takkan pernah ditidurinya lagi.


Namun, pria itu tetap menjauh bahkan sama sekali tidak ingin kembali lagi ke sisinya ranjang itu. Kini tempat itu hanya menjadi miliknya, terasa dingin dan juga menyakitkan.


Dia sudah terlanjur suka dan terobsesi pada Lyn hingga memutuskan jika tidak dirinya yang memiliki pria itu maka tidak juga dengan wanita lain!


Sesaat kemudian Emerald sudah berlari ke arahnya dengan belati perak terhunus yang ia ambil dari meja di samping ranjang. Pisau yang tadi sempat digunakan untuk mengupas apel. Emerald mungkin bisa meninggalkan hubungan itu tanpa bersumpah akan melakukan pembalasan jika saja Lyn memperlihatkan sedikit rasa terperanjat atas amarahnya, tapi justru pria itu mengejeknya, dengan memperlihatkan wajah yang tampan beserta tawa yang berhasil membakar hati Emerald.


Kembali Emerald mencoba melakukan serangan namun, dengan santai, Lyn, menahan tangan gadis itu, mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat sehingga pisau itu jatuh ke lantai lalu segera Lyn menendang hingga terpelanting jauh dari jangkauan gadis itu lagi.

__ADS_1


Tawa Lyn masih menggema di ruangan itu, sejurus dengan kutukan yang diucapkan Emerald dengan bibirnya yang mungil dan menggemaskan. Saat Lyn membungkamnya dengan ciuman, hingga membuat gadis itu gelagapan, mencoba untuk menolak apa yang ditawarkan pria itu lagi karena dia tahu saat menerima sentuhan pria itu maka dirinya tidak punya harga diri lagi.


Bibirnya boleh menolak, gerakan tangannya juga mencoba meronta namun, tubuhnya sendiri telah berkhianat, melupakan rasa sakit hati atas penghinaan Lyn kepadanya tadi, hingga kini menyandarkan tubuhnya semakin erat dan dekat, meleleh bak permen coklat tanpa daya dalam sentuhan dan pelukan Lyn.


Seharusnya tidak ada pria setampan, seperkasa dan juga semenarik ini! Lyn adalah paket komplit yang siapapun wanita yang melihatnya tidak bisa menolak apapun yang diminta oleh pria itu. Dia pemberani tanpa ada rasa takut sedikitpun dari semua kelebihan yang dia miliki hanya satu kebodohannya karena tidak mempercayai cinta dan tidak menikah karena menganggap hanya akan mendatangkan masalah dalam kehidupan.


Lyn melepaskan ciuman mereka lalu menatap Emerald sebelum membelai pipi gadis itu dan berlalu dari sana. Emerald hanya bisa menatap lurus ke arah punggung Lyn yang semakin menjauh dari dirinya. Mungkin anggapan pria itu bahwa dia sudah selesai dengan Emerald, tapi itu tidak semudah yang dipikirkan Lyn, sampai kapan pun Emerald tidak akan berpisah darinya. Tidak akan mudah!


Bukan salahmu Lyn." Mate berusaha untuk menghibur sahabatnya itu, keduanya duduk di teras sambil menyeruput anggur dan menikmati kudapan yang diantarkan oleh ibunya Lyn kepadanya sesaat tadi.


"Yang tidak masuk akal dari semuanya dia ingin membunuhku, padahal aku sudah menawarkan kenikmatan yang bisa didapat dari pria tampan termasuk suaminya."


Mate hanya menanggapi perkataan sahabatnya itu dengan mengangkat sebelah alisnya memang yang sudah pasti tidak mengerti.


"Pertanyaan bodoh! Tentu saja kami berdua melakukan hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh dua orang yang sudah dewasa! Aku menawarkan kenikmatan dan dia pun menyambut lalu, salahnya di mana?


"Bagaimana kalau dia hamil? atau dia akan menjeratmu dengan fakta seperti itu karena kau sudah menolak untuk menikah dengannya," Saran serba salah.


"Itu tidak mungkin! Aku tentu tahu saat mana harus ditarik dan dilepaskan. Aku tidak bodoh," jawabnya tertawa sarkas.

__ADS_1


"Kau tidak menyadari bahwa wanita memiliki 1001 cara untuk menjeratmu. Mereka ibarat teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Lihat saja sebentar lagi akan ada berita menggemparkan di negeri ini bahwa ia akan mengandung anakmu dan kau tidak punya pilihan lain selain bertanggung!" tukasnya seorang.


"Mate, asal kau tahu, aku adalah pawang dari para wanita yang mencoba untuk mengelabui para pria. Aku pastikan tidak akan bisa dan tidak akan ada seorang gadis muda yang bisa menjerat aku!"


__ADS_2