Angel Of Death

Angel Of Death
Selamanya Cinta


__ADS_3

Mendengar deru mobil di halaman depan, buru-buru Luna menutup ponselnya setelah mengecek sekaligus menghapus pesan terakhir dari Ben, yang menyampaikan dia sudah ada di showroom, menimbang akan membeli sebuah mobil. Ben menjadi gagap, melihat banyaknya uang dalam tabungan Lun hingga memutuskan untuk membeli mobil saja untuk mereka.


“Kau sudah pulang?” Langkah mereka bertemu di tengah ruang tamu. Luna sudah memakai gaun malam yang indah serta riasan yang mulai mahir dia gunakan.


“Kau pasti merindukanku, ya?” Kai melempar senyum dan mengerling pada istrinya yang bersikap malu-malu.


Bagi Kai, melihat sikap polos dan malu-malu Luna membuatnya gemas hingga tidak tahan dan menarik tubuh gadis itu mendekat. Luna sudah menutup mata setelah melihat sinar mata Kai. Dia paham apa yang akan pria itu lakukan. Pria itu menyatukan bibir mereka, memagut bibir mungil Luna. Tubuhnya bergetar hebat dengan dada bergemuruh. Selalu seperti itu, setiap Kai menciumnya, lututnya pasti terkulai lemas.


Ciuman Kai memang candu bagi Luna. Gadis itu akan merasa spesial dan disayangi setiap pria itu mengecupnya. Lun harus menolak dada Kai, menghentikan aksi erotis mereka, ketika matanya menangkap sosok Jean mendekat.


“Apa rumah ini sudah tidak memiliki kamar yang bisa kalian gunakan?” goda wanita itu pura-pura mendengus kesal. Dia begitu bahagia melihat keduanya saling mencintai dan selalu tampak tengah mabuk asmara.


Kai hanya mengedipkan mata sebagai balasan atas ocehan Jean. Sementara sang istri yang malu karena kepergok sama Jean hanya menunduk membenamkan wajahnya ke dada Kai.


Tanpa berkata apa pun lagi, Kai sudah menarik tangan Luna menuju tangga. Baru dianak tangga pertama, Kai sudah menggendong Luna. Terkejut dengan aksi suaminya, Luna hanya bisa tersipu malu, mengeratkan lengannya di leher Kai.


***


“Kau belum tidur, Cantik?” sapa Kai kala membuka pintu kamar dan mendapati istrinya duduk di ranjang menatap layar televisi dengan rasa bosan.


“Aku menunggumu,” ucapnya manja. Dia merasa malu karena berubah menjadi pribadi cengeng dan manja. Semua ini adalah saran dari Ben, dia harus bersikap lembut agar Kai percaya kalau Luna sudah mencintainya juga.


Luna tidak risi atau jijik pada Kai, atau pun pada sentuhan pria itu. Bahkan kalau Luna boleh jujur, dia menyukai ciuman dan belaian sayang Kai di tubuhnya. Cara pria itu memanjakannya, selalu membuatnya menjadi wanita yang pantas untuk dicintai.


Namun, Luna tahu kalau semua itu terjadi, karena Kai menganggapnya sebagai Nana Wijaya, jodohnya sejak kecil. Seandainya pria itu tahu siapa Luna, bagaimana dirinya yang sebenarnya, jangan 'kan untuk jadi istri yang dicintai, untuk dijadikan pelayan pun dia tidak pantas.

__ADS_1


Gadis miskin dan tidak terpelajar seperti dia cukup tahu diri di mana tempatnya.


Senyum pria itu selalu mampu menggetarkan hati Luna. Perlahan, masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya, Kai mendekat. Namun, belum sampai di samping Luna, dia berputar kembali, menuju nakas dan membuka tas kerjanya.


“Apa ini?” tanya Luna melihat benda persegi empat itu dihadapkan tepat di depan wajahnya.


“Buka 'lah!"


Ah, dia tersenyum lagi. Tidak bisakah kau jangan terlalu sering tersenyum padaku? Jantungku bisa berhenti berdetak kalau begini!


Bola mata Luna membulat dengan sempurna. Satu set perhiasan terpampang di hadapannya. “Ini...?”


“Kau suka?” Tangan Kai membelai lembut pipi gadis itu yang masih melongo melihat perhiasan yang sudah sejak bulan lalu dipesannya untuk Luna.


Tidak mampu berkata-kata lagi, Luna hanya mengangguk. Tidak perlu ditanyakan lagi, siapa yang tidak suka dengan perhiasan seindah dan pastinya mahal seperti ini?


“Bukan. Itu milik Tukiyem,” ucap Kai tersenyum geli. Namun, Luna justru menggapai serius hingga menutup kembali kotak itu.


“Kenapa ditutup?”


“Hah? Aku sudah melihatnya. Kalau kau tanya pendapatku, ini bagus, Bi Tukiyem pasti suka.”


Saat itu lah tawa Kai meledak. Pria itu tertawa hingga bahunya terguncang. Luna hanya memperhatikan dengan pandangan tidak mengerti.


“Dasar gadis bodoh! Ini milikmu. Kenapa aku harus menghadiahi Tukiyem perhiasan ini?” Kai menghentikan tawanya, melihat raut wajah cemberut Luna, dia tidak sampai hati untuk terus menertawakannya kepolosan istrinya itu.

__ADS_1


“Gak lucu. Suka banget deh mengerjai aku,” ucapnya cemberut.


“Habis kau menggemaskan,” menarik bibir Luna untuk dikecupnya.


Baru saja Kai melepas ciumannya, tapi Luna tergerak untuk menangkup kembali wajah pria itu, dan mendaratkan bibirnya lagi. Dia ingin mengucapkan terima kasih karena menghujani dengan banyak hadiah. Ciuman itu semakin lama semakin dalam. Mengh*sap, menjilat serta menjelajahi dalam mulut Kai.


Napas Luna terengah-engah. Ini adalah durasi terlama sejak Luna mulai berciuman dengan Kai.


“Kau masih saja kehabisan napas setiap kita berciuman,” ucap Kai menyatukan kedua ujung hidung mereka. Gadis polosnya selalu membuat gemas. Luna hanya menunduk malu atas kekurangannya yang begitu amatir soal memuaskan pasangannya. Kalau pria lain mungkin suka dengan gadis yang berpengalaman, bisa mengendalikan permainan, memberikan layanan memuaskan bagi pasangannya, Kai justru menikmati semua proses yang dilaluinya bersama Luna.


Ibarat kertas, Luna adalah kertas yang kosong, buta dalam soal ranjang. Tapi dalam diri gadis itu memiliki rasa penasaran dan juga gairah yang besar, dan Kai akan sabar menantikannya.


“Aku harus menyimpan ini di mana? Begitu pun hadiah lainnya yang kau berikan?” tanya Luna menunjukkan kotak yang sejak tadi ada di pangkuannya.


“Kenapa kau tidak menyimpannya di brankas kita?” Kai tersenyum, dan menarik tangan Luna turun dari ranjang, membawa gadis itu ke dalam ruang walk in closet yang ada di sebelah ruang tidur mereka. Luna tahu ruangan itu, karena di sana 'lah pakaiannya dan juga milik Kai disimpan dengan segala perlengkapan lainnya, tapi tidak menyangka kalau brankas di sana juga.


Kai menekan beberapa digit angka, lalu seketika pintu brangkas terbuka.


Luna hampir saja pingsan melihat isi brangkas besi itu. Susah payah dia mengalihkan perhatiannya, agar Kai tidak menganggapnya sebagai wanita mata duitan. Debaran jantungnya terdengar begitu kencang, dia tidak menyangka isinya sebanyak dan juga se-fantastis itu.


“Silakan.”


Tangan gemetar Luna memasukkan kotak perhiasan dan semua barang berharga miliknya ke dalam lalu Kai menutup kembali.


Wajah Luna sempat kecewa karena tidak berhasil melihat dengan jelas kodenya, kini bahkan untuk mengambil yang sudah menjadi miliknya akan susah. Helaan napasnya menggambarkan rasa kesalnya atas kebodohannya.

__ADS_1


“Ingatlah tanggal kita pertama bertemu, kapan pun kau ingin membukanya, maka kau bisa melakukan sendiri."


Luna hanya mengangguk. Rasa bersalahnya berlipat ganda. Dia pikir, Kai tidak akan memberitahukan kodenya, ternyata Kai mempercayainya seperti bayangannya sendiri, tapi gadis itu? justru akan mengkhianati hingga Kai tidak akan ingat bagaimana cara memaafkan!


__ADS_2