
Tidak ingin lebih lama terpenjara bersama pria itu di dalam ruang penyimpanan makanan. Secepat kilat Luna menarik tangan Lyn dan melesatkan satu ciuman di pipi pria itu, seperti yang dipersyaratkan.
"Aku sudah membayar untuk kopiku, sebaiknya aku mendapatkan pengolahan yang baik sehingga besok bisa menikmatinya dengan senyum di bibirku," ucap Luna yang merasa sudah berhasil memenangkan pertandingan itu.
Mata Lyn yang berwarna gelap, berkilau memancarkan sensualitas yang memuncak. "Sayang, sepertinya banyak yang harus ku ajarkan padamu tentang bagaimana caranya berciuman," tukas Lyn yang merasa tidak puas dengan bayaran istrinya.
"Jangan bodoh, tentu saja aku tahu bagaimana caranya berciuman!" protes Luna tidak terima dianggap sebelah mata.
"Begitu? Mungkin kau harus mempraktekkannya dengan benar sebab jika itu tadi adalah definisi ciuman bagimu, sepertinya aku harus mengajarkan sesuatu yang lebih lagi, aku tidak mau rugi," jawab Lyn tersenyum menggoda pada Luna. Bibirnya jelas mengisyaratkan rasa geli karena sudah membatalkan kemenangan Luna yang sempat dipikir gadis itu sudah berhasil diraihnya.
Luna memejamkan mata dengan niat mengalihkan perhatian dari bibir Lyn yang sempurna dan saat kelopak matanya tertutup, seketika Luna menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar.
Lyn segera mendekati wajah Luna dan mendaratkan satu ciuman di bibir gadis itu. Terkejut dengan aksi Lyn, Luna mendorongnya Lyn, tapi tetap saja sedikitpun tubuh raksasa itu tidak bergerak dari hadapannya, tubuh pria itu sangat kuat. Mata Luna membelalak secepat kilat, menunjukkan amarahnya.
"Aku memejamkan mata bukan ingin memintamu untuk menciumku!" Luna berseru, tapi semua protesnya itu melemah saat Luna menatap mata Lyn.
Tatapan matanya membuat Luna seolah hilang akal. Seakan tak berdaya menolak kenikmatan yang sudah pria itu tawarkan kepadanya tapi Luna, tahu ia tidak boleh menyerah. Sekali lagi gadis itu mencoba untuk membebaskan diri dari cengkraman Lyn tapi sia-sia, pria itu masih melingkupi wajah Luna dengan tangannya.
"Lyn, aku pikir sebaiknya kita...,"
"Ya, Sayang, jangan berpikir terlalu banyak," jawab Lyn memotong omongan Luna, pandangan matanya mengejek. "Nikmati saja, ciuman ini," ucapnya lalu seketika membungkam bibir mungil gadis itu.
Dia mencium Luna dengan cepat, mengambil keuntungan dari bibir Luna yang sedang setengah terbuka untuk melancarkan protes. Gadis itu mendorong dada Lyn, tapi tentu saja usahanya sia-sia karena tubuh Lyn yang sangat besar, tentu saja sulit untuk didorong.
Lyn membenamkan tangannya ke dalam rambut Luna yang tebal keemasan, memiringkan kepalanya agar bisa mencium lebih dalam lagi. Lidahnya menelusuri ruang mulut gadis itu dan mencercap rasa manis yang memabukkan.
__ADS_1
Bibir Lyn mendesak pelukannya yang kuat, seolah mendominasi tubuh gadis itu dan saat dia merapatkan badannya ke tubuh Luna, betapa gadis itu terpekik kaget menyadari senjata pria itu terasa begitu besar, menyentuh tubuhnya dan menantangnya. Dari ciuman itu Luna menyadari ketegangan serta panas yang terjadi diantara mereka.
Rasa panas yang berbeda yang seketika mampu membakar hati dan meleburkan dua hati menjadi satu.
Rasa panas itu kian menjalar ke sekujur tubuhnya dengan debar jantung tidak teratur, sampai membuatnya merintih bingung dan takut.
Luna menyadari bahwa tubuhnya menikmati sentuhan pria itu. Terlalu beresiko membiarkan, karena akan menjadi kenikmatan yang membuat ketagihan nantinya.
Ibu jari Lyn menyapu ujung bibir Luna, memaksanya untuk menyerah pada apa yang ditawarkan pria itu padanya sambil merasakan napsu dan rasa ingin tahunya yang menggelora hingga ingin membuat Luna menyerah.
Ciuman yang diberikan Lyn membuatnya gemetar. Sebuah ciuman yang pasti dapat meruntuhkan semua pertahanannya bahkan akalnya pun terbendung oleh semua perasaan yang dirasakan saat ini.
Luna mengutuk kebodohan serta kelemahan tubuhnya yang tidak bisa bertahan. Tidak mampu menolak semua sentuhan pria itu. Dia hanya menangis memikirkan bahwa setelah dia jatuh terjerat pada pesona pria itu, maka dengan entengnya Lyn pasti akan meninggalkannya dan dia kembali hancur seperti dulu, ketika Albert mematahkan hatinya. Luna merasa begitu menyedihkan sebagai wanita karena selalu menjadi korban dari lelaki tampan.
Buru-buru Luna menarik tubuhnya sendiri bertekad untuk tidak menjadi salah satu korban pria mata keranjang ini.
"Lepaskan! Kau bilang hanya satu ciuman, bukan begini perjanjiannya!"
Lyn membeku, ia menarik kepalanya ke belakang tangan Lyn yang kokoh, masih menggenggam payudara Luna dan pandangan matanya menatap dengan tajam hampir terlihat marah.
Apa yang Lyn cari dari Luna? Semua tahu bahwa pria itu tidak mendapatkannya dan apa yang baru mereka lakukan jauh dari kata puas.
Setelahnya, Lyn menatap mata Luna yang terbuka lebar lalu membalikkan bahunya yang lebar dan mengambil segenggam biji kopi.
Luna mengusap bibirnya dengan jengkel, seolah ia bisa menghapuskan kenikmatan dari sentuhan yang baru saja ia rasakan. Lihat, betapa munafiknya dia, berpura-pura tidak menikmati, bahkan pikirannya saat ini sudah menginginkan pria itu kembali.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan keluar dari gudang penyimpanan dan menyusuri koridor membisu dan tak ingin saling memandang.
Amarah Lyn kali ini tidak bisa ditawar dan ada sedikit rasa penyesalan di hati Luna telah menyebabkan kemarahan pada pria itu. Lyn sudah membungkus beberapa biji kopi yang baru diambil tadi dengan kain dan memasukkannya ke dalam kantong.
Berniat untuk menyerahkan biji itu kepada pelayan agar segera diolah dan siap dihidangkan untuk Luna. Namun, sebelum memasuki aula utama tempat mereka tadi menikmati sarapan, Lyn menghentikan langkahnya dan seolah tersambung dengan tari kekang, gadis itu pun mendadak menghentikan langkahnya juga.
"Katakan kalau kau merasakannya." Suara Lyn yang rendah bernada memerintah. Namun, mereka tetap tidak saling memandang, berbicara tanpa melihat seperti ini dalam keadaan hati yang berkecamuk adalah cara jitu bagi keduanya.
Luna mempertimbangkan jawabannya. Apa yang akan dia katakan sembari menatap tubuh bidang yang ada di hadapannya itu.
"Merasakan apa?" Suara Luna hampir terdengar bergetar. Sebuah ciuman bak impian dari seorang lelaki tampan dan bagi teman pesona?
Dengan kasar Lyn menarik tubuh Luna. Setelah berbalik mendekati tubuh gadis itu, Lyn tidak mempedulikan Luna yang menjauhkan wajahnya. Lyn menurunkan kepalanya dan menghujani bagian atas lekuk payudara Luna dengan ciuman menyusuri bagian leher gaunnya, tepat di tengah koridor yang mungkin saja dilalui oleh para pelayan yang suka bergosip.
"Hentikan!" Bentak Luna.
Setelah mengangkat kepalanya, wajah Lyn terlihat gelap dan giginya menggeretak.
"Katakan, kalau kau memang merasakannya!"
Untuk sesaat suasana kikuk menggantung. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Ini adalah daerah kekuasaan Lyn dan dia berhak melakukan apa saja kepada Luna secara dirinya adalah istri Lyn, panglima perkasa.
"Aku harus mencari alibi untuk mematahkan pendapat pria itu," batin Luna berpikir keras. Dia tidak bisa larut dalam perasaan Lyn yang akan merugikan dirinya sendiri nantinya.
"Aku tidak merasakan apapun dan ketika kau menciumku mungkin aku sudah membayangkan kalau itu adalah Scott," jawabnya mengutuk kebodohannya memilih jawaban.
__ADS_1