
Pasangan suami istri itu, keluar dari kamar dan bergegas menuju ruang makan namun, di tengah perjalanannya seseorang menghadang langkah mereka dan berbicara kepada Lyn dengan nada rendah. Mungkin apa yang mereka bicarakan tidak boleh dia ketahui. Luna pun sedikit menjauh dari mereka.
"Pergilah lebih dulu ke ruang makan. Aku akan menyusul," ucap Lyn dengan begitu lembut. Sesaat Luna sempat menangkap sorot mata anak buah Lyn yang merasa malu ketika mendengar pria itu begitu lembut bersikap padanya.
Luna hanya mengangguk, lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
"Aku ingin segelas kopi." Ia berseru dengan suara pelan kepada pelayan yang terdekat dari tempatnya saat dia sudah berhasil menemukan jalan menuju tempat itu dengan menelusuri istana yang sangat luas. Di sana ada beberapa orang yang sedang menikmati sarapan pagi dengan santai
Setidaknya ada lusinan orang yang sedang duduk mengitari meja tapi tidak ada satupun yang dia kenal kecuali Mate dan juga Scott sepandai besi yang menjadi tamengnya setiap Lyn berusaha untuk mendekatinya
Melihat permintaannya tidak langsung dikabulkan oleh pelayan yang juga sama seperti Carlota, menatap sinis ke arahnya, Luna memutuskan untuk berjalan ke arah Mate dan duduk di samping pria itu.
Tentu saja apa yang dilakukan oleh Luna mendapat perhatian dari semua orang yang ada di meja itu. Mereka menatap dengan pandangan tidak percaya, seolah perbuatannya adalah sebuah kesalahan ketika dia menghempaskan bokongnya di kursi itu.
Sesaat Luna bertanya-tanya apakah mungkin kursi yang diduduki itu sudah ada yang punya tapi walaupun begitu apakah tidak bisa ditempati oleh orang lain? Nyatanya tadi kursi itu kosong.
"Bawakan untuk sang ratu kopi!" perintah Mate, setelah semua terdiam agak lama kepada salah satu pelayan yang juga ada di sampingnya.
Pelayan itu ogah-ogahan menerima perintah dari Mate. Dia kesal karena kesenangannya yang sejak tadi menatap wajah tampan terganggu oleh permintaan gadis yang tidak diharapkan di tempat itu.
__ADS_1
Namun, sebelum pesanannya datang amukan amarah kembali terlihat di wajah Lyn yang baru tiba di ruangan itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi dan tanpa berkata apapun dia menarik pergelangan tangan Luna meminta gadis itu untuk bangkit dari duduknya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan! Kau menyakitiku," umpatnya kesal. Selalu saja ada hal-hal yang dilakukan pria itu untuk membuatnya marah.
"Berdiri!" paksa Lyn yang menatap tajam pada wajah Luna.
Suasana tiba-tiba hening, tidak terdengar sedikitpun. Suara bahkan dentingan alat makan pun tidak ada. Mungkin jika sehelai bulu jatuh maka bisa terdengar oleh mereka.
Luna ingin menjawab dan menentang perilaku arogan yang dilakukan oleh Lyn terhadapnya, terlebih di depan orang-orang itu. Namun, Luna tidak ingin menjatuhkan harga dirinya lebih ke bawah lagi kalau dia harus melayani perdebatan itu.
Walaupun dia berani kepada Lyn tapi dia takut jika kelakuannya sampai kelewatan batas hingga memicu pria itu memukulnya, dan kalau sampai hal itu terjadi, banyak orang yang akan menertawakannya dan menikmati pertunjukan itu sembari mengejeknya karena itulah yang mereka inginkan.
Para wanita tidak tahu malu itu menginginkan dirinya diusir oleh Lyn, dari sana jelas terlihat dari sorot mata mereka bahwa mereka tidak senang akan kehadirannya dan mereka tidak sudi menganggapnya sebagai istri Lyn.
"Duduklah!" Perintah Lyn. Luna mengikuti kemauan pria itu, dengan gerakan jarinya Lyn memerintahkan agar pelayan menyediakan makanan untuk mereka.
"Apa yang ada dalam pikiranmu? Tidak bisakah kau bersikap selayaknya menjaga harga diriku di depan anak buahku dan juga para pelayan?" ucap Lyn dengan suara yang pelan, mencondongkan tubuhnya ke arah Luna. Namun, gadis itu tetap bisa merasakan amarah yang terkandung di dalam nada suara Lyn.
"Memangnya apa salahku?" tanya Luna tidak terima dipersalahkan oleh pria itu. Sedikitpun dia tidak mengerti apa maksud Lyn. Tadi pria itu masih tertawa ketika meminta Luna untuk memilihkan pakaian bagi dirinya.
__ADS_1
"Kau tanya apa salahmu? Haruskah aku berteriak di tempat ini agar semua orang tahu bahwa hubungan kita tidak baik-baik saja? Tidak bisakah kau sedikit saja menurunkan egomu dan menyimpan rasa tidak suka mu padaku di depan mereka, dengan kau memilih duduk disamping Mate? Artinya kau tidak menghargai ku, merendahkan posisimu di rumah ini. Dengan memilih duduk bersama pria lain, sama saja kau injak-injak harga diri ku," terang Lyn masih bersisik.
"Kau berlebihan. Aku tidak pernah memikirkan hal sejauh itu ketika mengambil tempat di samping Mate. Diantara mereka hanya Mate yang kukenal dan lagi pula yang terpenting bagiku adalah mengisi perutku yang sudah kelaparan!" serunya dengan suara tertahan. Luna memutar bola matanya, heran dengan pemikiran pria itu.
Bola mata Luna kini membulat menatap ke arah Lyn, tidak percaya bahwa pria itu bisa memikirkan hal receh seperti itu. Luna kembali mengedarkan pandangan ke arah meja panjang tempat dirinya tadi duduk. Beberapa pasang mata masing-masing melihat ke arah mereka, mencoba ingin tahu apa yang mereka bicarakan lalu tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Scot. Barulah dia sadar, bahwa Lyn marah karena dia duduk tepat di sisi kanan Scot, pria dilarangnya untuk disukai Luna.
Walau masih dongkol tapi Luna sudah memilih untuk menutup mulutnya. Lyn benar, dia tidak ingin menjadi bahan gunjingan, lagi pula dia sudah berjanji kepada Vanessa, jangan sampai peristiwa ini sampai ke telinga mertuanya itu.
Lima orang pelayan sudah menghidangkan banyak makanan untuk mereka dan tanpa malu Luna yang memang sudah sangat lapar mengambil piring dan mengisi dengan berbagai jenis makanan yang menarik minatnya.
"Kalian boleh pergi!" perintah Lyn ketika para pelayan masih berada di sekitar mereka. Tradisi keluarga itu memang mengatur seperti itu, beberapa pelayan harus berdiri tidak jauh dari meja makan ketika tuan rumah ataupun anggotanya sedang makan.
Amarah Lyn menyusut, justru kini seulas senyum terbit di bibirnya ketika melihat Luna yang makan dengan lahap.
"Apakah kau sangat kelaparan? Pelan-pelan saja jangan sampai kau tersedak," ucap Lyn yang akhirnya melembut.
Kalau sudah begitu jantung Luna akan berdebar. Dia begitu menyukai suara untuk lembut milik Lyn ketika berbicara padanya, seolah menunjukkan bahwa pria itu memang benar-benar menyukainya dengan memperlakukannya dengan begitu lembut.
"Kau tidak makan? Jangan melihat ku terus," hardik Luna sedikit merasa malu. Cara makannya memang jauh dari anggun ala ratu ataupun golongan bangsawan.
__ADS_1
Dia bahkan sesekali menjilati ujung jarinya ketika terkena selai strawberry yang terasa nikmat dan segar.
"Perutku bisa menunda rasa lapar dan sudah kenyang ketika melihat mu makan dengan lahap. Mulai besok aku akan selalu menemanimu saat makan," ucap pria itu masih dengan tatapan intens melelehkan hati Luna.