
"Jawab pertanyaanku. Apa kau menyukai orang lain? Apa kau menyukai Scott?" tanya Lyn dengan amarah yang sebisa mungkin tidak dia tunjukkan. "Itu'kah alasannya mengapa kau tidak menyukaiku, bukan? dan justru menyuruhku untuk menjauh dari mu?" Susul Lyn, masih ingin mengejar jawaban gadis itu.
Luna yang merasa terhina karena dianggap sebagai wanita yang gampang jatuh cinta kepada pria asing hanya bisa memperburuk keadaan dengan mengangguk dan memberi tatapan tajam kepada suaminya.
"Apa dia lebih baik dari mu?" Susulnya karena pria itu sudah tersulut emosi yang sudah sangat terbaca. Sebenarnya Luna berbohong, berkesimpulan bahwa jika ia memberi kesan sungguh-sungguh maka Lyn akan membebaskannya. Setidaknya membiarkannya sendiri selama mereka tinggal satu atap.
"Kau tidak akan bisa mendapatkannya. Kau istriku, suka atau tidak aku tidak mau dijadikan suami yang memiliki istri tukang selingkuh dan menjadikanku bahan tertawaan banyak orang. Ingat Luna, kau tinggal di mana, ingat posisimu, wanita! Aku adalah seorang panglima perang!" hardik Lyn memuntahkan amarahnya.
Mengapa susah sekali bicara terhadap gadis yang ada di hadapannya ini? Luna adalah tipikal gadis yang sangat keras kepala, susah untuk mengubah pendiriannya. Dia juga gadis yang tidak bisa dikekang apalagi diancam. Satu-satunya wanita yang membuat Lyn gelagapan dan sakit kepala hanya untuk mengambil hatinya.
Luna tahu saat ini tidak ada lagi kelembutan terpancar di wajah pria itu lagi. Dia pasti sedang marah, bahkan sangat marah. "Well, untuk menjadikan istri yang seperti itu, setidaknya kamu harus benar-benar sayang padaku," ucapnya ingin melihat reaksi pria itu.
"Mungkin aku bisa," jawabnya spontan. Selain merasa tertantang atau mungkin dia memang sudah menaruh hati hanya saja belum menyadarinya. Selama ini tidak ada gadis yang bisa luput dari tangannya. Dia tinggal menunjuk wanita mana yang dia inginkan dan itu akan segera terkabul, sangat berbeda dengan Luna dan hal itu membuat Lyn semakin ingin berusaha untuk mendapatkan gadis itu.
"Mungkin kau bisa, tapi aku tidak bisa jangan paksa aku!"
"Apakah sedikitpun itu tidak menarik bagimu?" Tantang Lyn penasaran.
"Katakan saja begitu," jawab Luna santai.
__ADS_1
Lyn menatap sekeliling ruangan, memandangi langit-langit kamar, apalagi yang bisa dia katakan? Dia sudah mati kamus di hadapan gadis itu. "Para wanita selalu menganggapku menarik." Akhirnya Lyn menemukan lidahnya, dia masih berusaha untuk menyelamatkan harga dirinya yang sempat diragukan oleh Luna.
"Mungkin itu masalahmu!" Satu alis Luna terangkat memandang penuh jijik atas kepercayaan diri pria itu. Secara tidak langsung dia mengatakan bahwa selama ini dengan bangganya dia sudah meniduri banyak gadis.
"Maksudmu?" tanya Lyn tidak mengerti.
"Kau terlalu congkak dan aku tidak suka dengan sikapmu. Tidak semua gadis sama. Jangan pikirkan selama ini kau gampang mendapatkan wanita manapun yang kau inginkan sehingga berpikir sama. Intinya hanya satu aku membencimu!"
Kalau tidak memikirkan bahwa saat ini dia sedang merayu Luna untuk jatuh dalam pelukannya, Lyn yang pemarah mungkin akan bangkit lalu menarik tubuh gadis itu. Menghempaskannya ke dinding dan mulai mencekik lehernya namun, itu hanya sebatas dalam pikiran Lyn saja. Sedikitpun dia tidak tertarik untuk melakukannya.
"Kau gadis yang paling menyebalkan yang pernah ku temui!" Akhirnya Lyn mengatakan isi hatinya.
"Dan kau adalah lelaki yang paling brengsek, sok tampan, sok mempesona, dan arogan yang pernah aku temui!" balas Luna meminjam kalimat Lyn.
"Kita bisa mulai dari perangaimu yang sombong, yang tidak menghargai orang bahkan tidak menganggapku penting sebagai pengantinmu, di mulai dari saat kau terlalu mabuk sampai tidak bisa hadir di pernikahanmu sendiri!"
Lyn ragu kalau Mate akan mau bilang begitu. Mate setia, tidak mungkin mengatakan hal seperti itu. Jadi Lyn tidak punya alasan untuk meragukan kesetiaan sahabatnya itu.
"Begitukah? Drama solidaritas antar pria?" ejek Luna memutar bola matanya.
__ADS_1
"Sebenarnya dia hanya mengatakan bahwa kau sedang mengurus pemberontak, tapi aku tebak pemberontak itu adalah sakit di perutmu. Pelayan wanita yang mengantar ku ke sini, memberitahuku dengan senang hati dan terus saja menyerocos tentang kau dan 3 drum kecil berisi anggur dan 5 orang wanita menemanimu suatu Minggu sebelum pernikahan kita dan akhirnya kau teler tidak sadarkan diri!" terang Luna yang benar-benar berhasil menampar ego yang dipertahankan Lyn selama ini.
Dia tidak bisa menampik hal itu karena kenyataannya memang seperti itu. Dia sangat frustasi mendekati hari dimana pernikahannya akan dilangsungkan. Membayangkan gadis yang dinikahi adalah gadis gila seperti yang diwartakan banyak orang, tidak sampai di situ dia juga memikirkan perasaan orang tuanya nanti kalau sampai membatalkan pernikahan itu.
Seolah seperti makan buah simalakama, Lyn menjadi frustasi dan memilih untuk tidak hadir di pernikahan itu. Namun, diwakilkan oleh sahabatnya yang membawa benda pusakanya sebagai pengganti kehadirannya.
Itu trik jitu menurut Lyn, terbebas dari amukan amarah Mark ataupun niat raja untuk memenggalnya karena menganggap menghindari pernikahan karena kenyataannya dia hadir walaupun bukan berupa bentuk dirinya dan keuntungan kedua dari ketidak hadirannya, dia tidak perlu melihat bagaimana rupa istrinya.
Setelah bertemu dengan Luna akhirnya satu hal yang disadari Lyn, dia sangat menyesal tidak hadir di hari pernikahan mereka. Kalau'lah sejak awal dia tahu bahwa wanita yang ingin dinikahkan dengannya, yang dikatakan orang gila dan frustasi serta memiliki penyakit langka adalah wanita secantik Luna, dengan cepat dia akan menyerbu kastil itu dan berdiri di samping wanita itu sangat mengucapkan sumpah setia mereka.
Namun, sebagai seorang istri sahnya, perkataan Luna sudah melebihi batas. Dia adalah raja di istananya sendiri dan Luna wajib mengikuti aturan dan juga perkataannya. Dia mengangkat tangannya, dan mulai menghitung dengan jari, menyiapkan amunisi dengan kalimat-kalimat yang tidak terbantahkan oleh Luna nantinya.
"Dengarkan aku! Pertama, kau adalah istriku. Artinya, kau harus mengikuti perintah. Jika aku memerintahkan untuk pergi ke ranjang, maka itulah yang terjadi. Kedua...,"
Lyn diam sesaat, menjeda kalimatnya. Tangan yang satu lagi terangkat ke atas. Luna mengira memungkinkan pria itu ingin dipukulnya, tapi tentu saja itu tidak benar. Pria itu justru menangkap dagu Luna, lalu kedua tangannya memegang wajah cantik gadis itu, dengan tatapan tajamnya.
"Kau harus menjauh dari semua pria, terlebih dari Scot. Dan ketiga, kau akan memberikan kesan bahagia di pernikahanmu denganku, secara publik maupun pribadi. Keempat, kelima dan keenam....," Kembali Luna diam, masih menatap mata gadis itu lalu berpikir untuk turun ke bawah sedikit, melihat bibir ranum menggoda milik Luna.
"Kau harus benar-benar harus menjaga dirimu, tidak memberikan kesan murahan di depan para lelaki karena aku sangat jijik melihat milikku mencoba untuk memberikan kesan dan niat kepada lelaki manapun. Dan yang terakhir...,"
__ADS_1
Lyn menarik Luna dari tempat tidur dan membuatnya berdiri dengan satu gerakan cepat.
"Kau akan menjelaskan seperti apa persisnya menurutmu bagian yang tidak menarik dari diriku, itupun setelah aku bercinta dengan mu, dan yang paling terakhir hasilnya kita akan mempunyai anak yang banyak. Mungkin puluhan, mungkin aku akan membuatmu gemuk karena akan hamil setiap tahunnya!" terang Lyn dengan suara tegas.