Angel Of Death

Angel Of Death
Suami


__ADS_3

Baik Luna ataupun pria yang mencengkeram nya seketika terkejut tapi belum berani menoleh ke arah suara pria yang baru saja menghardik mereka.


Bahkan pegangan tangan pria itu terlepas kala mendengar suara tajam yang memerintah itu.


Sesungguhnya Luna tidak berani untuk menoleh walaupun rasa penasarannya sangat menggelegar dalam dada. Menimbang rasa ingin tahunya, dia memutuskan untuk mengintip sedikit saja agar lebih aman, mungkin dapat meminimalisasi dampak yang akan ditimbulkan, tapi dengan segera mendapati bahwa ia salah besar, melihat pria itu sama saja dengan menimbulkan dampak yang luar biasa pada dirinya.


Luna tanpa sadar terperangkap di antara mata biru langit yang begitu memukau. Pria itu jelas lebih tampan dari pria manapun yang dia temui di negeri itu dan dia benci akan hal itu. Benarkah itu suaminya? Sekali lagi Luna mengumpat dalam hati. "Aku benci, sangat benci dengan pria tampan karena ketampanan mereka hanya akan bisa mematahkan hati wanita!" umpatnya kesal.


Dia ingat lagi pada pengkhianat yang dilakukan Albert yang dia ketahui setelah mereka berpisah, bahwa tak hanya dirinya yang menjadi kekasih pria itu.


Pria itu berjalan bak model yang sering Luna lihat di acara fashion show ataupun di televisi, semakin mendekat ke arah mereka yang membuat debar jantung Luna pun semakin tidak beraturan. Lelaki yang sangat besar dan tentu saja sangat tampan itu kini sudah berdiri di hadapan Luna.


Mungkin pada awalnya, pemikiran pria itu ketika mereka bertemu untuk pertama kali akan membuat Luna terperangah dan terpesona oleh ketampanan serta tubuhnya yang atletis namun, kenyataannya berbeda. Luna cemberut, mendengus sekaligus mengerucutkan bibirnya bentuk protes dan juga rasa tidak sukanya kepada pria itu.


"Jangan melotot padaku! Kau bahkan tidak muncul pada acara pernikahan kita tapi sudah berani mengakuiku sebagai istrimu!" umpat Luna sedikit emosi.


Tanpa menunggu jawaban dari pria itu yang memang tidak diinginkan Luna sama sekali, dia memacu langkahnya membuat pria yang memanggilnya sebagai istri serta pria pandai besi yang juga tadi sempat mencengkram tangannya terheran melihat sikap berani Luna.


Namun, bukankah seharusnya sudah seperti itu kalau dia menjadi Aluna? Memangnya harus bagaimana sikap seorang gadis yang perasaan tidak dihargai sama sekali? Betapa buruknya dinikahi seperti barang dan diperlakukan buruk oleh keluarga mempelai pria.

__ADS_1


Tanpa menoleh pun Luna tahu bahwa saat ini Lyn sudah mengikuti langkahnya dari belakang. Dia berhenti ketika di hadapannya ada sebuah pohon besar membalikkan tubuhnya dan bersandar di batang pohon itu sambil berkaca pinggang berteriak kepada Lyn, suatu hal yang tidak mungkin berani dilakukan oleh gadis mana pun di negri itu.


"Kau tau deritaku? Aku bahkan menghabiskan dua hari dalam kehujanan dan juga dingin untuk sampai ke tempat ini dan ketika tiba di sini aku dicampakkan dan tidak dihargai oleh siapapun. Mate yang aku percaya di awal juga ikut mencampakkanku begitu sampai di tempat ini dan kau... Kau bahkan tidak peduli bagaimana tampang istrimu! Tidak ada yang menunjukkan kamarku, tak ada yang menawarkan makanan ataupun minum," umpat Luna menghentikan ocehannya.


Sejenak menghentakkan kaki ke tanah seolah itu bisa mengurangi rasa kesalnya. "Lalu, karena aku tak bisa menemukan tempat untukku tidur dan takut tidak dianggap oleh orang lain, aku bergentayangan sampai pada akhirnya kau bersedia muncul dan sekarang kau berani untuk melotot padaku biar aku jelaskan...!"


"Diamlah!"


Bola mata Luna membulat kala mendengar bentakan pria itu tapi Luna bukanlah gadis yang bisa diintimidasi ataupun digertak. Dia tetap ingin mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dan menumpahkan semua kesalahan itu kepada pria yang kini ada di hadapannya.


"Satu hal yang perlu kau ingat, aku bukanlah perempuan yang bisa kau perlakukan dengan sesuka hatimu, bukan seperti wanita yang pernah kau tiduri ataupun kau ajak keranjangmu! Aku tahu jika aku tidak diinginkan, dan oleh karena itu, lebih baik kau mengatakannya dan membiarkan ku pergi dari sini!"


"Sudahlah, kau tidak perlu ikut campur Kau juga pria brengsek yang sudah membuat lenganku kesakitan. Aku tidak perlu pendapatmu!" umpat Luna, entah mengapa kini tidak merasa takut pada pria itu, mungkin karena saat ini diantara mereka sudah berdiri suaminya, yang sedikit ajaib, dia percaya akan membelanya.


"Aku bilang diam!" Kali ini Lyn menengahi pertengkaran keduanya.


"Aku bahkan tidak menerima kado pernikahan darimu!" Lanjut Luna seolah tidak peduli dengan amarah ataupun rasa tidak suka yang ditujukan oleh suaminya padanya.


"Aku bilang diam!" Lyn mengulang kalimatnya. Dia tidak percaya bahwa gadis yang dinikahkan padanya ternyata lebih keras dari batu.

__ADS_1


"Aku tidak suka diperintah!" Bentak Luna dengan suara yang tidak kalah besar dengan Lyn.


Emosi pria itu tersulut, dia merasa direndahkan terlebih di depan orang-orangnya. Dengan sekali gerakan Lyn sudah menyandarkan dan memepet tubuh Luna ke batang pohon yang sangat besar. Gadis itu masih bisa mendengar geraman dari Lyn, napasnya hangat di telinga Luna.


"Jangan bergerak!" bisiknya tapi masih seperti sebuah perintah.


"Sedangan apa kau? Lepaskan aku!" balas Luna ikut berbisik, seolah cara pria itu berkomunikasi dengannya memang dengan cara berbisik. Jarak mereka yang begitu dekat membuat jantung Luna semakin cepat berdetak. Dia merasa tidak nyaman dan kaku atas kungkungan pria itu dan mencoba untuk menggeliatkan tubuhnya.


"Aku sudah bilang diam, dan jangan bergerak!"


Namun, gadis itu tidak mau menurut. Dia meronta sekuat tenaga, salah satu caranya menunjukkan kebenciannya pada pria itu. Bukan apa, kalau mereka berada dalam posisi seperti ini lebih lama lagi, niscaya Lyn akan mendengarkan debar jantung Luna dan gadis itu tidak ingin diolok-olok karena merasa gugup berada di dekat pria itu.


"Menarik, ternyata kau kucing liar yang tidak bisa diam, ya? Tapi aku pastikan, kau di tangan yang tepat. Jangankan kucing liar seperti mu, singa betina saja bertekuk lutut bahkan mengerang nikmat ketika sudah berada di bawah tubuh ku!" ucapnya menyeringai penuh percaya diri.


kalimat itu terkesan menjijikkan di telinga Luna. Dia berontak dengan kasar. "Lepaskan aku b*ajingan!" bentaknya namun, sia-sia, karena tampaknya, Lyn tidak yakin melepaskan Luna saat ini. Pria itu hanya mengendorkan pelukannya untuk memutar Luna hingga gadis itu bisa menghirup napas dengan leluasa.


Namun, hal itu tidak serta-merta memberikan kelonggaran bagi tubuh Luna yang sejak tadi kejang. Posisi ini justru membuat pria itu bisa lebih leluasa menatap tajam ke arah dada nya. Ada aliran darah seperti menyetrum kala pria itu menangkup dagu Luna, lalu tangannya mulai menyelusuri leher jenjang milik gadis itu.


Tidak ingin kontak itu semakin dekat, Luna menempelkan telapak tangannya di dada Lyn, yang kini justru semakin membakar tubuh gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2