
mendadak, tubuh Micelle lemas seketika. gadis itu langsung jatuh terduduk di di bangkunya.
Micelle menangis sejadi jadinya. untung saja, tuang kelas itu, sedang dalam keadaan sepi.
"kenapa kalian tega sama gue, gue salah apa sama kalian, " ucap Micelle menatap nanar kedua orang di depanya itu.
"Cell, gue minta maaf, " ucap Nasya yang ingin mendekat dan ingin menyentuh gadis itu.
namun, dengan cepat, Micelle segera menepis tangan sahabatnya itu. lwlu menatap tajam kearah Nasya.
"loe keterlaluan Nas!! " bentak Micelle penuh emosi. membuat Nasya sedikit mundur, karwna bentakan Micelle.
"kenapa loe nggak bilang, kwlau loe udah jadian sama kak David,? ha,? " tanya Micelle seraya menatap penuh kebencian pada Nasya.
"gue udah kayak orang gila suka sama pacar orang, dan lebih gilanya, loe sebagai sahabat gue, membiarkan gue yang seperti orang gila, " ucap Micelle berapi api.
"Cell, gue minta maaf, gue... " ucsp Nasya terhenti saat mendengar ucapan Micelle.
"gue nggak butuh permintaan maaf dari loe, " ucap Micelle beranjak pergi. " mulai sekarang, loe bukan sahabat gue lagi, " lanjutnya s4raya melangkah pergi.
Nasya hendak mengejar Micelle. tapi, langkahanya, di tahan oleh David.
"sudah, jangan di kejar, biarkan dia pergi, dia butuh waktu sendiri, " ucapnya seraya memeluk kekasihnya itu.
"aku jahat ya,? " tanya Nasya seraya menangis dalam pelukan kekasihnya.
"nggak sayang, kamu nggak jahat, kamu sudah benar, justru kalo kamu nggak ngomong sekarang, dia malah semakin salah faham, " ucap David menenangkan sang kekasih.
Nasya menangis sesenggukan di dekapan sang kekasih. dia meluapkan swmua rasa sakit di hatinya.
setelah gadis itu tenang, David membawa gadis itu untuk duduk.
David keluar dari kelas. membuat Nasya nenoleh kearah luar ruangan.
tak lama, David masuk dengan membawa sebotol minuman di tangannya.
"nih kamu minum dulu biar tenang, " ucap David seraya menyerahkan minuman itu.
"nih minum dulu, " ucaonya seraya menyodorkan botol minuman pada kekasihnya itu.
"makasih, " ucap Nasya menerima dan langsung meneguk hingga tersisa setengah.
setelah selesai minum, fikiran Nasya kembali kejadian barusan.
ia memikirkan nasib persahabatan dengan Micelle.
"nggak usah khawatir, semua akan baik baik saja, " ucap David menenangkan kekasihnya.
Nasya hanya mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya di dada sang kekasih. David memeluk dan sesekali, mengecup puncak kepalanya.
__ADS_1
"tenang, ada aku di sini, " ucapnya mengelus bahu sang kekasih.
Nasya hanya mengangguk dan mendongak menatap sang kekasih seraya tersenyum.
David sangat bersyukur, karena kekasihnya, sudah bisa tersenyum.
"aku jsnji, akan membuat kamu bahagia," ucap David mengecup kening sang kekasih.
🌸🌸🌸
sementara itu, di taman belakang seorang gadis sedang menangis sesenggukan seorang diri.
"aaakh kalian jahat!! " teriak nya serays memukul pepohonan yang ada di sana. "kenapa loe bego banget sih Cell, bisa bisanya, loe kegeeran sama perlakuan David, " ucapnya seraya tertawa sendiri.
menertawakan dirinya sendiri yang sangat bodoh. " gue benci kalian!! " ucap Micelle menatap tajam. tatapanya, bagaikan anak manah yang menghunus jantung.
menakutkan dan sangat mematikan. tak lama, Rayana datang menghampirinya dan langsung duduk di samping Micelle.
"Cell, loe kenapa,? ' tanya Rayana panik. karena ia mendapatkan informasi dari siswa lain, jika Micelle sedang bertengkar dengan Nasya di ruang kelas.
"mereka jahat Ray, " ucap Micelle lirih seraya memeluk Rayana.
membuat Rayana semakin kebingungan. karena medadak, sahabatnya itu menangis pilu.
"kenapa,? coba loe cerita, " ucap Rayana .
Dengan sesenggukan, Micelle menceritakan semuanya pada sahabatnya itu.
ia merasa kasihan pada Micelle yang harus di bohongi oleh Nasya dan David. ia juga merasa geram pada kedua orang itu. kenapa harus membohongi orang orang, terlebih itu adalah sahabatnya sendiri.
Rayana beranjak dari tempatnya duduk, dan melangkah pergi. dirinya akan meminta penjelasan dari Nasya dan David.
"mau kemana,? " tanya Nicelle mendongak. menatap sahabatnya itu, dengan mata sembabnya.
"mau ke kelas bentar," ucap Rayana melangkahkan kakinya menuju kelas Nasya.
sepeninggalan Rayana, Micelle kembali merenung memikirkan tentang hal yang terjafi di kehidupannya. yang bak roler coster.
baru saja ia tersenyum bahagia pagi tadi, sekarang sudah meneteskan aie mata karena duka.
kenapa semesta seperti melarang dirinya untuk bahagia, baru saja ia merasakan kebahagiaan,setelah ua sakit hati. kini, harus merasakan pedihnya pengkhianatan.
"apa gue nggak pantas bahagia,? ' tanya Micelle seraya tersenyum hambar.
"loe salah, semua orang berhak bahagia, " ucap seseorang duduk di sampingnya.
membuat Micelle menoleh kesamping dan mendapati Monik berada di setelahnya.
"apa maksud loe,? " tanya Micelle menatap datar kearah Monika.
__ADS_1
"loe itu berhak bahagia, karena loe itu cantik, bahkan, lebih cantik dari si Nasya," ucapnya memperkeruh keadaan.
"maksudnya,? " tanya Micelle yang masih tak mengerti.
"loe harus merebut apa yang seharusnya menjafi milik loe, " ucap Monika memberi semangat. seraya tersenyum misterius.
entah karena sakit hati, atau apa, Micelle mulai terpengaruh dan tersenyum senang.
lalu, melangkah entah kemana.
"haha berhasil juga gue memengaruhi,"ucap Monika tertawa puas.
🌸🌸🌸
sementara itu, di sebuah ruang kelas, tampak seorang gadis tengah berbincang bincang, dengan gadis lainnya.
siapa lagi jika bukan Nasya dan Audry. tadi, setelah mendapatkan kabar, bahwa Nasya swdang bertengkar dengan Micelle, Audry segera menghampiri Nasya.
dan mendapati gadis cantik itu, tengah menangis di pelukan kekwsihnya.
"Nas, loe nggak papa,? " tanya Audry menghampiri Nasya.
Nasya melepaskan pelukanya, dan langsung berhamburan kr pelukan sahabatnya itu.
"hiks hiks gue takut Dry, gue takut semua persahabatan yang udah kita bangun bertahun tahun, akan hancur begitu saja, " ucap Nasya di sela sela tangisnya.
Audry habya bisa terdiam seraya terus mengekus pundak sang sahabat. seraya menengkan..
sementara itu , David sudah keluar dari dalam kelas, dari semenjak, sahabat kekasihnya itu, datang. David ingin memberikan ruang gerwk pada kekasihnya itu.
apalagi, masalah ini, juga timbul karena dirinya. andai saja, dirinya mengecek dulu itu nomor kekasihnya atau bukan, pasti masalahnya tidak akan serumit ini.
sementara itu, di dalam kelas, tampak Nasya sedang berbincang bincang dengwn sesekali, Nasya menghapus air matanya.
Audry menghela nafas panjang, saat Nasya sudah selesau bercerita.
"terus apa sekarang rencana loe,? " tanya Audry. dia sudah memiliki feeling sebenarnya. kalau masalah ini, pasti akan meledak pada waktunya.
dan benar saja kan, sekarang ini, waktu yang pas untuk meledaknya masalah ini.
brak
Nasya dan Audry yang sedang bercerita pun, merasa terkejut saar Rayana menggebrak meja.
"astaga Ray, kaget gue woi, " ucap Audry seraya mengelus dadanya.
Rayana tak menjawab semua perkataan Audry. matanya fokus menatap Nasya dengqn tatapan sulit diartikan.
"kenapa loe, bohongin kita semua,? " tanya Rayana.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....