
Saat makan siang Ami mendengar suara pelayan menyambut seseorang. ia seperti mengenal suara yang bertanya pada pelayan.
" Nyonya dimana ? "
" ada tuan, sedang makan siang bersama tamunya ? "
Ami mendengar langkah mendekati ruang makan. seketika ia melihat perubahan di wajah Winda, wanita lima puluh tahun itu menyusutkan cerah di wajahnya. Ami berdiri dan menunduk hormat pada laki laki paruh baya yang menghampiri meja makan. ia adalah Hendra ayahnya Bastian.
" apa aku boleh bergabung Sun ? " tanya Hendra yang hanya dijawab dengan anggukan kecil Winda.
" Mari pak " Ami menyerahkan piring pada Hendra sementara Winda menundukkan wajah.
" kamu Ami kan asistennya Bastian ? " tanya Hendra beralih fokus, beberapa saat ia menunggu istrinya melihat ke arahnya. namun nyonya rumah itu malah memilih meninggalkan meja makan. Ami jadi bingung dengan situasi yang ia hadapi.
" ya pak, bapak mau nambah kangkungnya ? "
tawar Ami sambil mendekatkan mangkok sayur ke depan Hendra. laki laki itu mengangguk dan menyendok tumis kangkung yang menjadi alasan ia ada di rumah Bastian.
" nggak ke kantor hari ini ? " tanya Hendra sambil melihat kearah kamar istrinya, tak ada tanda nyonya rumah itu kembali ke meja makan.
" pak Bastian meminta saya mengerjakan tugas saya di sini "
Hendra mengangguk, Ami seakan melihat ada gurat kecewa di wajah Hendra saat Winda meninggalkan meja makan.
beberapa saat hening, Hendra menyudahi makannya. Ami bingung harus pergi atau duduk menemani tuan besar di rumah ini yang seperti ingin mengajaknya bicara.
" Kamu tau mi, saya bisa memenangkan tender tender besar, saya bisa menyelesaikannya dengan mudah tapi satu hal yang tidak bisa saya menangkan saat ini "
" apa pak ? " tanya Ami antusias.
" hati istri pertama saya "
__ADS_1
Ami hanya bisa terpana mendengar curhatan Hendra.
" sudah sepuluh tahun, ia tak pernah mengajak saya bicara. hati saya pilu mi..saya tidak tahu apalagi yang harus saya perbuat agar dia mau bicara sama saya "
Ami mengangguk sambil melihat ke arah kamar dimana Winda masuk tadi.
" Bapak jangan patah semangat, kadang butuh panas yang kuat untuk melelehkan hati wanita yang telah membeku pak "
" saya sudah putus asa Mi, dia sudah menjadi matahari saya yang beku "
Hendra berdiri dan Ami ikut berdiri.
" Saya mau ke kantor dulu, kapan kapan kita bicara lagi, barangkali kamu punya trik cara melelehkan hati wanita "
" saya jadi punya ide nulis buku pak, cara melelehkan hati wanita. best seller itu pasti "
keduanya tertawa dan seketika menoleh pada sebuah suara.
" papi "
" sudah pi, mami mana ? "
" ada di kamar "
Bastian melihat Ami yang sedang memperhatikan foto foto yang terpajang di dinding, setelah mengantar ayahnya keluar. ia mendekati Ami yang sedang berdiri di depan fotonya.
" Ck..ck..ck, anda makhluk Tuhan paling sempurna pak, saya terkadang suka terhanyut dengan gombalan bapak. sayang anda terlalu tinggi untuk saya raih...mission imposible. berada di dekat bapak saja saya sudah senang, tapi sayang hanya untuk tiga tahun habis itu resign...menikah sama pangeran..."
" Ekhm..! "
" e kodok kodok " ucap Ami latah, ia terkejut karena bahunya di tepuk dengan keras.
__ADS_1
" ngapain kamu liatin foto saya, bukannya saya bisa kamu lihat setiap hari "
Ami menarik nafas, keki juga jika ingat kelakuan bosnya setiap hari.
" Yang ini beda pak, yang ini mingkem nggak nyebarin gombalan beracun kaya bapak " ujar Ami sewot.
" Ini Bas semua bahannya sudah gue bawa " tiba tiba Deni muncul ditengah mereka.
" Maaf mi, hari ini kita minta waktu kamu untuk lembur hari ini, jangan kuatir nanti akan ads bonus tambahan dalam gaji kamu " jelas Deni saat ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Ami.
Deni adalah manajemen operasional di kantor Bastian. selain itu ia juga sohib Bastian sejak SMP.
" kita kerja disini ? nanti saya tidur dimana ?"
Bastian mengambil map ditangan Ami.
" Di kamar saya " jawab Bastian santai.
" Saya tidur berdua sama bapak ? "
Bastian menghentikan gerakan tangan membuka map dan menatap Ami gerah.
" Bukannya kita suami istri Ami, ya tidur berdualah " Ami terdiam, merasa tersindir dengan kalimat itu, bayangan Bastian mengejarnya untuk meminta diary yang dia hilangkan kembali berputar di kepala. saat ia minta ibu ibu hamil untuk menghentikan Bastian mengejarnya dengan mengatakan Bastian adalah suaminya yang tak ingin ditemuinya.
" Maaf pak, kalau dulu saya ngarang, habis sudah saya bilang diary itu hilang tapi bapak tetap ngotot minta dibalikin "
" Ya ga pa pa sayaaang "
" kampret..mulai lagi penyakitnya " Ami menepuk keningnya, Deni hanya terkekeh.
" lama lama kalian bisa jadian lo Bas, rayuanmu bisa jadi doa " ucap Deni sambil memperhatikan Ami yang memasang muka masam.
__ADS_1
" Jangan pak Deni, saya takut..bu Winda galak " seru Ami pas di depan Winda yang menghampiri mereka.
" Siapa yang galak !! "