Asisten Special

Asisten Special
Jebakan Rendra


__ADS_3

Laki laki berjas casual itu memasuki ruangan Bastian tanpa mengetuk pintu, Ami terkejut dan seketika berdiri.


" Maaf pak, pak Bastiannya sedang ada meeting, sebentar lagi selesai " ucap Ami berusaha sopan, padahal hatinya dongkol karnal laki laki itu bersikap angkuh memasuki ruangan orang lain tanpa permisi. meski ini adalah ruangan adik sendiri. ia pernah melihat sekali laki laki yang punya garis muka yang sama dengan Bastian itu.


" Sudah berapa lama kamu jadi asisten Bastian ? " tanya Rendra dengan sorot mata mengintimidasi.


" baru lima bulan pak "


" Pernah dirayunya ? "


Ami ternganga mendengar pertanyaan kurang sopan itu. Kalau jawabannya jelas iya seratus persen pernah. Jika tidak terlalu banyak kerjaan maka bosnya itu sibuk menggombalinya, membuat hatinya panas dingin.


" Pak Bastian sangat profesional, tidak ada waktu untuk hal remeh itu "


" Hmm..."


Rendra memindai Ami dari atas sampai bawah. menyeringai sesaat lalu melangkah mendekati meja Ami.


" Kamu tidak pernah terpikir untuk merayunya ?, jika dia kamu dapatkan kamu akan hidup enak " Rendra meraih pena yang sedang dipegang Ami.


Ami mulai tidak nyaman dengan pertanyaan pertanyaan Rendra.


" Maaf pak, saya harus bekerja " ucap Ami sambil kembali menekuri layar komputer.


Rendra berusaha meraih dagu Ami namun tangan Ami lebih cepat meraih tangannya.


" Bapak jangan macam macam sama saya, saya bisa buat jari bapak patah jika bapak berani menyentuh saya " sarkas Ami dengan sorot tajam pada bola mata Rendra.


" brengsek ! lepaskan tangan saya " teriak Rendra merasakan tulang jarinya di tekan Ami.


sebuah deheman membuat Ami melepaskan tangan Rendra.


" Mau apa ke sini ? " tanya Bastian sambil melempar map ke atas meja.


" Tidak apa apa, cuma ingin berkenalan dengan asistenmu yang menarik " jawab Rendra santai, ia melihat Ami sekilas. Ami balik menatap tajam saudara tiri bosnya itu.


" Jangan macam macam dengannya " bentak Bastian. Rendra hanya terkekeh dengan santai duduk di sofa.


" Oke.., biar aku tebak, kamu pasti sudah macam macam dengannya. Jangan muna ! " sentak Rendra sengaja memancing kemarahan Bastian dan pancingannya berhasil, Bastian terlihat marah.


" Kalau aku macam macam sama dia, bukan urusan kamu ! sekarang pergi dari sini " Bastian meraih krah kemeja Rendra. mereka saling menatap tajam.


" Pak.." panggil Ami, ia ngeri juga melihat pertengkaran dua saudara itu. Bastian menoleh.

__ADS_1


" Ada telpon dari ibu " Ami menunjukan hpnya.


Rendra pun beranjak pergi dari ruangan Bastian, ia melihat Bastian sedang menjawab telpon, sebuah rencana itu muncul dalam pikiran Rendra. kedua tangannya mengepal.


" Kenapa bapak bilang kita sudah macam macam " sungut Ami sambil duduk lemas di kursi.


" Kenapa ? ada masalah ? terserah dia berpikiran apa tentang saya dan kamu. yang jelas kita tidak berbuat salah "


Ami memijit keningnya, bukan pekerjaan yang membuatnya pusing, tapi situasi yang ia hadapi sungguh gawat. Seandainya semua karyawan tahu kalau ia sudah dinikahi Bastian, spekulasi aneh aneh akan muncul.


Salah satunya, ia yang menggoda Bastian terlebih dahulu. ia sudah membuat jebakan untuk Bastian dan paling parah, ia bakal dibilang main dukun. Apapun itu kesimpulannya ia adalah orang yang paling bersalah hingga terjadi pernikahan itu.


" Kamu pusing dek ? " tanya Bastian yang dijawab Ami dengan anggukan.


" Hamil ? "


Ami mengangkat wajahnya, ia menatap Bastian sendu.


" kan saya sudah bilang saya lagi mens, belum reski kita barangkali pak "


Wit, kok jadi terbawa pikiran Bastian, saat Bastian menyudahi hasratnya. Ami ingat suara lirih itu meminta.


" Saya ingin kamu cepat cepat hamil mi "


Ami tak ingin berdebat apapun, sekali ia protes maka laki laki itu akan memeluknya dan membungkam bibirnya dengan ciuman. Sialnya ia malah membalasnya, Ami tak ingin semakin dalam merasakan itu, entah apalah nama itu yang sering membuatnya senyum senyum sendiri.


" Kapan selesainya ? " tanya Bastian sambil duduk bersandar di sofa. Ami yang masih berfikir semua akibat dari pernikahan mendadaknya, tidak konek dengan pertanyaan bosnya.


" Sudah pak, ini tinggal kalimat penutup saja "


" Jadi nanti malam bisa ? "


" bisa apa pak ? "


" macam macam " ujar Bastian sambil mengetuk meja dengan jemarinya. Senyum terkulum dibibirnya.


Mode on complete.


" Pak..aduuuh..bapak ngerti nggak situasi yang saya hadapi. Kita nggak mungkin melanjutkan pernikahan ini. keluarga bapak bisa marah, bapak bisa di coret dari kartu keluarga "


Bastian terkekeh, ia berdiri mendekati Ami yang tengah merapikan meja Bastian.


" Kamu selalu bisa buat saya gregetan Amina Rahayu " ucap Bastian sambil mencubit pipi squishy Ami.

__ADS_1


" Saya memang sudah dicoret dalam kartu keluarga Ami sejak punya ini " ujar Bastian sambil menunjukan dua buah buku kecil warna hijau tua dan merah marun.


" Bapak sudah mendaftarkannya ? "


Winda seketika masuk membuat Ami terperanjat, cepat cepat Ami meraih buku nikah itu dan menyimpannya di laci meja Bastian.


" Siang bu " sapa Ami sopan, ia ingin keluar tapi kakinya tertahan karena omongan Winda.


" Mami ketinggalan eye shadow mami, rasanya mami simpan di laci meja kamu "


Ami melihat Winda melangkah ke meja Bastian. buru buru, ia melesat bak flash ke depan meja.


" Biar saya ambilkan bu " ucap Ami sambil membuka laci hati hati.


" Biasanya saya ketemu kadal di sini " ujar Ami membuat Winda bergerak mundur.


" Kadal ? " tanya Winda heran, ia melihat sekeliling, sangat rapi dan bersih. bagaimana mungkin ada binatang aneh aneh bisa masuk. kecoapun malu kalau menginjakkan kaki di ruangan Bastian bersih dan wangi.


" Ya..kadal suka ngerayu, takutnya mami digigit nanti kalau digigit dilepasnya pas ada petir gueede " cerocos Ami, tapi cukup ampuh membuat Winda mengangguk tapi bingung.


Bastian hanya geleng geleng di sofa. Ia tak sabar untuk menggigit bibir bawel itu. jelas kadal yang dimaksud dirinya.


" Ini dia Mi " ucap Winda setelah menemukan benda yang dimaksud ibu mertuanya. sayang, ia belum diakui sebagai menantu.


Ami menghela nafas lega dan ingin segera keluar dari ruangan Bastian tapi insiden tak terduga itu terjadi. Ami malah menjatuhkan buku nikah yang tak sengaja ia ambil maksudnya menyembunyikan di tempat lain.


Plak !


buku nikah itu jatuh tepat di kaki Winda. Ami terbelalak ketika Winda memungutnya.


" Buku nikah siapa ini ? " tanya Winda sambil memungut buku berwarna merah marun itu. Ami menutup mukanya ketika Winda hendak membukanya.


" Bas, cepat kebawah Amira pingsan " ujar Deni yang datang tiba tiba. Muka Bastian berubah cemas, Winda yang tadi ingin membuka buku nikah yang dijatuhkan Ami mengurungkan niatnya, tangannya mengembalikan bukan itu ketangan Ami. Ia mengikuti Bastian menuju tempat yang dimaksud Deni.


setelah memasukkan dua buku nikah itu ke dalam tasnya. ia mengikuti beberapa orang yang terburu buru ke lantai ruangan Amira.


Bastian yang terlebih dahulu sampai, ia menjerit memanggil nama Amira yang sedang dipegangi beberapa karyawan.


" Amira..bangun ! " teriak Bastian sambil menepuk nepuk pipi mantannya itu. Ia mengambil alih tubuh Amira dari pangkuan seorang karyawati.


Ami tertegun, dadanya tiba tiba berdenyut perih. Semua tulisan tulisan yang berisi rasa rindu Bastian pada wanita itu mengurai dalam benak Ami. seketika hatinya hancur, ia mengutuk hatinya yang sudah berani jatuh cinta.


" Panggil Ambulance cepat ! " teriakan Bastian menggema di ruangan Amira, tak ada satupun yang punya nomor rumah sakit.

__ADS_1


" Aku punya " ucap Ami dengan bibir bergetar. tangannya tak bisa mengontrol rasa perih dihatinya. tangan itu ikut gemetar. Ami menyerahkan ponselnya pada Deni dan ia berlari ke luar ruangan.


"


__ADS_2