Asisten Special

Asisten Special
Patah hati Ami


__ADS_3

Ami berjalan sendiri menyusuri trotoar, bingung harus pulang kemana. Semalam ia sudah sepakat akan tinggal di apartemen Bastian. Tapi setelah melihat kejadian tadi, ia enggan menemui suaminya itu. Rumah kontrakannya sudah dikosongkan Jojo dan semua barang barangnya sudah dipindahkan ke KPR yang baru ia beli.Tapi Jojo sedang pulang kampung. kunci rumah itu ada sama Jojo.


Apa yang dilihatnya tadi sungguh membuat hatinya sakit.


Kenapa ? Sejak kapan ? ia memiliki rasa itu pada Bastian. Ami memandang jalanan dengan getir.


Hujan mulai turun, Ami berteduh di sebuah halte. Lama ia termenung, kemana tempat yang harus ia tuju ? Ami mengamati ponselnya. Begini ya sakitnya seorang istri tak dihubungi suami. Ami menggigit bibirnya.


Ami memutuskan membelah hujan yang turun dengan lebat. Ami meremas dadanya yang tiba tiba kembali berdenyut ketika ingat betapa khawatirnya Bastian saat Amira pingsan.


Saat sedang menikmati titik titik air yang ada di wajahnya, ia terkejut saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ia ingin tersenyum karna ia pikir itu Bastian yang khawatir padanya.


" Senang main hujan hujanan ?" ujar seseorang yang tersenyum di depannya. ia memegang payung besar


" Mas Bagas "


laki laki itu melebarkan senyumnya. ia mengulurkan payung dan dengan ragu, ia masuk kedalam payung Bagas yang tak terlalu besar.


Ketika mereka ingin menyebrang Bagas memegangi pundaknya takut ia jauh dari bawah naungan payung. ada rasa bersalah hinggap di hati Ami ketika tangan Bagas menyentuh pundaknya, tak baik seorang wanita bersuami jalan dengan laki laki lain. tapi saat ingat bagaimana wajah Bastian membangunkan Amira Hatinya kembali sakit.


" Kamu mau kemana ? " tanya Bagas ketika mereka sampai di depan sebuah kafe. Ami tercenung sejenak. ia tak mungkin bilang kalau sekarang tinggal dengan Bastian dan saat ini ia tak punya rumah untuk dituju.


" Aku mau menikmati hujan dulu sebelum pulang " bohong Ami. ia mengulurkan tangan merasakan titik titik air ditelapak tangannya.


" Eh..kak Bagas, sama siapa ? pacarnya " sapa seseorang yang baru keluar dari kafe. Bagas ingin menjawab tapi di dahului Ami.


" Saya teman kantornya "


" Oo..masuk mas, di dalam ada ibu " ucap perempuan berhijab itu.


" Masuk Mi.." ajak Bagas tapi Ami melihat sekujur tubuhnya yang basah kuyup. beruntung tas ransel kecilnya diberi pengaman anti air.


" Nanti pegawainya marahin aku karna basah kuyup "


" Nggak ini kafe milik keluargaku " ucap Bagas sambil menarik tangan Ami masuk kedalam kafe. Bastian perempuan berhijab tadi yang ternyata adik Bagas membawakan Ami baju ganti.


" Wah..mas Bagas sudah move on " ucap seorang pegawai kafe. Seorang ibu disebuah sudut tersenyum manis menyambut mereka. Bagas mengajak Ami mendekati ibu itu. Ami menyalaminya dan menikmati tatapan teduh wanita itu sungguh membuat hatinya hangat. coba saja Winda seperti ini pikir Ami.


" Namanya siapa nak ? " tanya ibu itu lembut, Ami tersentuh.

__ADS_1


" Amina bu panggil saja Ami "


" Oo..silahkan duduk Ami, namanya mirip nama pacar teman kamu Gas..siapa namanya ? "


" Bastian ma "


deg ! Jantung Ami berdebar kencang, kenapa ketika seseorang menyebut nama Bastian dan Amira, dadanya seakan bergoncang. ibu Bastian pamit pulang dan sebelum beranjak ibu Bagas mengelus kepala Ami. Ah..coba saja mami Bastian seperti ini, Ami berandai tapi segera ia enyahkan bayangan atasannya itu karna perutnya sudah lapar. Hpnya sebentar lagi mati, tapi panggilan yang diharapkannya tak kunjung datang. Off ! bersama hatinya yang mulai beku.


Deni menghubungi Bagas melalui vidiocall mengabarkan kalau Amira masuk rumah sakit dan sekarang sedang ditemani Bastian menunggu keluarga Amira datang, karna Bagas tidak tahu Amina adalah istrinya dan Deni tidak tahu kalau Ami didekat Bagas jadilah mereka leluasa membicarakan Bastian dan Amira. Bagas sengaja meloadspeaker panggilan agar leluasa bicara sambil makan.


" tu anak lagaknya aja sok sok move on padahal masih cinta " ujar Bagas sambil tertawa, Ami yang mendengarnya rasanya ingin menangis.


" Kayanya iya, lu liat tu. tangannya ga bisa lepas dari tangan Amira, gue juga ngerasa Bastian hanya gengsi minta balik, katanya sih mau lepasin sakit hati "


Dua sahabat itu saling tertawa, lama lama candaan Bagas dan Deni seperti menyiram cuka di hatinya, seandainya ia tahu kenyataan kalau ia tak ada dihati Bastian, tak akan sudi ia menyerahkan hal yang paling berharga dalam hidupnya.


Seenaknya saja, merenggut keperawanannya setelah itu ia dicampakkan. Ami mengepalkan tangan, tanpa sadar ia tertunduk dan terisak.


" Ami..kamu kenapa ? "


Deni yang sedang tertawa terkejut dan menghentikan tawanya seketika.


" Amina, asisten bos lu " jawab Bagas sambil mengarahkan hp pada Ami yang sedang menunduk.


" Kayanya dia ada masalah, nanti gue hubungi lagi " kata Bagas sebelum mematikan Hp.


Mampus !


Deni menggusar rambutnya kasar. Olok olokan mereka tentang Bastian dan Amira tadi pasti ditanggapi serius oleh Ami.


Meski pernikahan itu terpaksa, Deni bisa melihat Ami punya rasa untuk Bastian dan si tampan itu sepertinya juga mulai beralih hati. sekian lama atasan sekaligus sahabatnya itu jarang tersenyum, akhir akhir ini terlihat bahagia apalagi saat menceritakan hal lucu yang dilakukan asistennya.


*******


Ami terburu masuk lift, sebentar lagi ia akan terlambat. beruntung ia melihat Bastian juga ada dalam lift.


" Pagi pak " sapa Ami seperti karyawan lain. Bastian menatap Ami penuh makna, dua puluh delapan jam ia mencoba menghubungi istrinya itu. Tapi panggilannya tak kunjung tersambung.


Ia tak sabar menunggu mereka sampai di ruangan, wanita itu seperti sengaja memperlambat jalan saat keluar lift membiarkan Bastian jalan terlebih dahulu.

__ADS_1


" Ayo mi..kita harus bicara " ujar Bastian sambil menoleh kebelakang. Ia melihat Bagas menghampiri Ami. hatinya mengeram melihat senyum Ami pada Bagas.


" Bas, nanti sehabis makan siang Ami akan bekerja di ruanganku, ada beberapa storyboard yang harus diperbaiki " ucap Bagas saat sampai di depan Bastian.


" Penting ? " tanggap Bastian dengan tatapan tak senang. Ia melihat Ami mendahuluinya setelah mengangguk pada Bagas.


" Ya..begitulah karna sebentar lagi hasilnya akan ditampilkan dalam meeting dengan pak Hendra, lu keberatan ? "


Bagas menangkap gelagat tak suka Bastian, ia menepuk bahu sahabatnya itu.


" Jangan bilang lu juga suka sama Ami, kita sudah sepakat tentang ini Bas " tegas Bagas yang membalas tatapan tajam Bastian.


" Bukan urusan lu, gue mau suka sama siapa " Bastian menepis tangan Bagas di pundaknya.


Bastian melebarkan langkahnya menuju ruang kerja. Di dalam ia melihat Ami sudah berkutat dengan komputer, ia menoleh sebentar pada Bastian. Menarik nafas sangat dalam lalu mengusap wajahnya. Mencoba mengungkai senyum.


" Ini Jadwal bapak hari ini, tolong di cek lagi pak mungkin ada yang diperbaiki "


Bastian menarik nafas kasar, rasa jengkel dan rasa bersalah campur aduk di hati dan pikirannya. Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus mencari info dimana Ami berada melalui teman teman Ami yang diketahui Jojo. Bagaimana wanita itu bisa bersikap sebegitu tenang ditengah hatinya yang kalut


" Singkirkan semuanya ! waktu saya sekarang adalah bicara dengan istri saya " bentak Bastian, ia tak tahan menahan rasa jengkel karna melihat istrinya tersenyum pada laki-laki lain.


Ami tertunduk. ia menggigit bibirnya, sebenarnya ia juga ingin marah, kenapa seharian ia diabaikan malah lebih khawatir dengan wanita lain. suami macam apa itu.


" Maaf " cicit Bastian saat menyadari ia sudah membentak Ami.


" Pak, sebaiknya masalah pribadi jangan di campur adukkan dengan pekerjaan, bapak mau saya buatkan kopi " ucap Ami sesantun mungkin.


Bastian tercenung melihat mata yang berkaca kaca itu. ia mengangguk pelan.


Ami beranjak dari kursi dan melangkah ke pintu. ketika ia meraih gagang pintu Bastian memanggilnya.


" Kali ini buatkan yang manis, karna kemarin hidup saya pahit tanpa kamu "


Ami merengut, masih sempatnya merayu setelah kemarin sibuk dengan wanita lain. Ami membanting pintu


Brak!!!


wanita yang cemburu memang sadis ! Bastian terperangah

__ADS_1


__ADS_2