
* Happy Reading *
Winda kembali datang ke kantor. Kali ini ia datang bersama Nana. Ami yang telah menyelesaikan tugasnya di ruang IT, harus kembali ke ruang Bastian untuk kembali menjadi asisten Bastian.
Ia bertemu Winda di depan ruangan Bastian. Tadi Ami di kirimi pesan oleh Bastian kalau atasannya itu akan meeting selama dua jam.
" Silahkan masuk bu " ujar Ami sopan mempersilahkan Winda dan Nana masuk keruangan Bastian. apoteker cantik itu mengelilingi ruangan yang tertata apik itu.
" Bas itu orangnya sangat rapi, ia suka seni lukis " ucap Winda saat Nana memperhatikan sebuah sketsa hitam putih yang terpajang di dinding. sebuah siluet seorang perempuan bermain gelembung gelembung udara bersama beberapa orang anak kecil.
Ami memang sering melihat sketsa itu, tapi tak pernah memberi perhatian khusus. saat Nana memperhatikan ia jadi ikut melihat dari kejauhan sketsa yang terpajang di depannya.
Kok rasanya familiar ya ? tanya Ami dalam hati. tapi ia menggelengkan kepala, mengingkari kalau cewek dalam sketsa itu adalah dirinya. Dulu ia pernah bermain gelembung sabun bersama beberapa anak kecil di taman saat pertama kali bertemu Bastian.
Amira mengetuk pintu dan Ami membukakan pintu. ketika pintu terbuka Winda menunjukan muka masamnya. Dari dulu Winda tak suka Amira, tapi ia tak mau mencampuri urusan asmara anaknya.
Winda punya alasan kuat untuk membenci Amira. salah satu penyebab Hendra menikah lagi, itu gara gara Della, ibu Amira yang dulu bekerja sebagai asisten ibu Hendra menyarankan ibu Hendra menikah lagi agar punya keturunan.
Pilihan mereka jatuh pada Dina, yang saat itu baru pulang dari luar Negri. Dina adalah sepupu Della. awalnya Hendra menolak permintaan ibunya, tapi karna kesehatan ibu Hendra semakin memburuk, ia terpaksa menerima permintaan ibunya dengan satu syarat ia tak akan menceraikan Winda.
Selang beberapa bulan mereka menikah, Dina hamil. tentu ini jadi kebahagian paling besar di keluarga besar Hendra yang merupakan pemilik beberapa perusahaan properti. Winda merasa disingkirkan dan berniat untuk menggugat cerai Hendra namun Hendra berusaha mempertahankan Winda.
Siapa sangka malam terakhir yang diucapkan Winda saat Hendra minta dilayani, adalah malam dimana benih itu tumbuh dirahim Winda dan lahirlah buah hati mereka yang diberi nama Bastian Bayu Perdana.
Bayi imutnya yang begitu terkejut ketika melihat empat orang wanita yang akhir akhir ini membuat isi kepalanya campur aduk.
" Mami " ucap Bastian sambil menghampiri Amina yang sedang membahas sesuatu dengan Amira.
" Akhirnya kamu datang Bas, mami sama Nana sudah lama menunggu "
" Mas.." panggil Nana lembut, Ami melihat senyum smirk di bibir Amira. sebenarnya hatinya juga kesal mendengar itu. ia berhak marah pada wanita yang merayu suaminya. tapi disini ia tak punya kekuatan apa apa dan ia pun tak ingin mengacaukan suasana.
Bastian hanya mengangguk dan menunjukan wajah dingin.
__ADS_1
" Bastian, bersikap baiklah pada Nana karna sebentar lagi mau tidak mau Nana akan jadi istrimu ! " bentak Winda. Amira dan Ami yang sedang memeriksa berkas terkejut tapi takut menoleh.
Bastian memberikan kode agar Ami dan Amira agar keluar dari ruangannya.
" huft...galak bener sih camerku Mi, kebayang kaya di sinetron hidup aku mi, kalau jadi menikah dengan Bastian secara dia udah benci sama keluargaku " ungkap Amira saat mereka berada di ruangan Deni.
Deni menatap Ami yang terlihat sedang mengatur nafasnya. Ia yang sudah tahu jika Bastian telah menikah dengan Ami, ia bisa menebak bagaimana perasaan wanita itu.
" Minum dulu, kenapa sih kacau gitu " ujar Deni sambil meletakkan dua botol air mineral kedepan Amira. Wanita itu menyambarnya dan meminumnya terburu hingga air meleber ke pipi Amira. Deni yang berada disamping Amira meraih tisu dan melap bibir mantan Bastian itu. jam seakan memperlambat detiknya terutama saat Bastian masuk. Ia memperhatikan sebentar lalu beralih fokus pada istrinya yang sedang melihat lihat gambar rancangan rumah.
Amira reflek menjarakkan duduknya dengan Deni. Ia takut Bastian salah sangka dengan sikap Deni padanya.
" Mi..ikut saya ke apartemen " titah Bastian setelah duduk di samping istrinya itu.
" Apartemen ? " tanya Amira sambil memandang Bastian lekat. ia mulai menaruh curiga pada mantan dan asisten sang mantan.
Deni memberi kode mata agar Bastian meralat perkataannya.
" Nggak aku nggak salah omong, emang apartemen kok, ada berkas yang harus kita ambil disana. setelah itu kita temui klien "
Amira menarik nafas. ia mencoba berfikir positif. Bastian masih menjaga hati untuknya dan Bastian tak mungkin tergoda dengan Amina yang terlihat biasa, meski sebenarnya wanita itu punya pesona tersembunyi dibalik kesederhanaannya.
Hanya Deni yang berusaha mengulum senyum.
" Tunggu disini " ujar Bastian sambil berdiri dan melangkah lebar keluar pintu. Amira mengikutinya, setelah berada diluar ia mulai buka pintu.
" Kamu jangan macam macam ya babe, sama Amina, ia gadis polos yang ga tau dunia kalian eksekutif penebar pesona "
Bastian berhenti dan memandang lekat Amira, ia tersenyum smirk.
" Seandainya aku memang jatuh cinta padanya, bagaimana ? "
Amira memandang Bastian dengan perasaan kecewa, seorang Amina, karyawan biasa yang dari segi penampilan kalah telak darinya tapi kenapa ia merasa insecure. Apa mungkin Bastian menaruh hati pada wanita biasa itu.
__ADS_1
" Ya nggak apa apa, berarti aku harus memberikan hati untuk laki laki yang mencintaiku dengan tulus " Amira berharap perkataannya membuat Bastian cemburu. Tapi mata itu sangat pandai menyimpan rasa.
" Semua design kamu dan pilihan material kamu sudah aku aproved, mulai besok kamu boleh ambil job yang lain " ujar Bastian sebelum masuk ruangannya. Amira tertegun di pintu karna ia tak dibolehkan masuk.
Bastian kembali menjemput Ami diruangan Deni.
" Ayo mi.." ajak Bastian, Ami menerima tas yang diberikan Bastian.
" gue pergi dulu, nanti malam jangan lupa lu ikut makan malam di apartemen gue "
" sip, tapi bukan lo yang masak dan bukan online food "
" iya..iya bukan gue yang masak tapi bini gue " ujar Bastian sebelum menutup pintu. Ami terperangah, jadi Pak Deni sudah diberitahu Bastian soal pernikahan mereka.
Ami tak banyak bicara saat mengikuti Bastian, Bastian juga tidak bohong kalau ia memang mengambil berkas di apartemen. Tidak ada gelagat aneh yang membuat Ami ketar ketir, Apartemen itu cukup luas dan sangat rapi. ia hanya duduk diruang tamu.
setelah mendapatkan berkasnya Bastian mengajaknya kembali turun. Tak ada aneh, masih normal normal saja.
Selesai menemui klien, Bastian mengajaknya ke supermarket, katanya minta ditemani belanja bulanan.
" soal bahan makanan, itu terserah kamu, karna perempuan lebih tahu apa yang dimasak " kata Bastian saat mereka berada di rak sayur sayuran. Ami mengangguk, sepertinya belum konek dengan tujuan Bastian mengatakan itu.
" Pak, hari sudah jam lima, saya boleh pulang ? " tanya Ami saat membantu Bastian meletakan barang belanjaan ke bagasi mobil. Bastian berhenti sejenak menyusun kantong belanjaan namun seperti tak peduli Ami bicara apa, ia kembali menerima belanjaan yang diberikan Ami.
" Pak ! " tegur Ami tapi Bastian tak mengacuhkan.
" Ya saya dengar dan saya tahu jam kerja kamu sudah habis. Tapi bisa bantu saya sebentar, coba kamu cek dalam mobil apa kunci mobil sudah terpasang atau tertinggal di supermarket " Bastian memeriksa sakunya bersikap seolah kehilangan sesuatu.
Ami melakukan perintah Bastian, masuk kedalam mobil.
Click ! pintu dikunci. Ami terperangah.
" Jam kerja kamu sebagai karyawan saya memang sudah habis tapi jam kerja kamu sebagai istri saya baru dimulai " ucap Bastian sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1