
" Bagus semuanya " puji Bastian saat persiapan peluncuran pemasaran perumahan mereka di mulai.
hampir empat bulan Bastian dan timnya bekerja siang malam untuk meluncurkan perumahan mereka.
Hari ini akan diadakan pameran perumahan di sebuah expo ibukota. setelah kejadian di pantai hubungan Ami dan Bagas menjadi dingin. Ami berusaha menghindari Bagas yang berusaha mengajaknya jalan.
" Ami, tunggu ! " teriak Bagas saat mereka bertemu di September Expo itu. perusahaan Bagas juga ikut serta dalam pameran.
Bagas berusaha menjejeri langkah Ami. Tapi gadis itu semakin mempercepat langkahnya.
" mbak Nana ! " seru Ami, sebuah trik agar ia lolos dari Bagas ternyata berhasil. laki laki itu berbalik melihat arah yang dilihat Ami.
Ami terkejut saat ada yang menarik tangannya dan membekap mulutnya. kedua pasang mata mereka beradu saat Ami mencoba melihat siapa yang menarik tangannya.
Ami merasakan dadanya menempel disebuah dada bidang yang kekar.
" Jangan berisik kalau kamu tidak ingin ketauan " bisik Bastian, mereka bersembunyi di balik banner banner logo perusahaan.
Ami merasakan jantungnya berdegup hebat saat Bastian mendekapnya.
" Kamu cinta sama Bagas ? " tanya Bastian saat mereka berada di sebuah food court.
Ami tidak menjawab, namun matanya terlihat sendu.
" Sudahlah pak, mungkin sudah nasib saya selalu di php pria yang mulai dekat dengan saya " ujar Ami pilu. ia berusaha tersenyum.
__ADS_1
" Kalau ingin nangis, nangis saja " Bastian menyodorkan tisu. setelah Bastian mengucapkan itu, Ami memang terisak. ia tak bisa menahan pilunya menjadi tangisan. Ternyata Bagas masih mencintai Nana, begitupun Nana.
Ia hanya jadi pelipur lara Bagas untuk sesaat saja. Ami menangis sambil menelungkupkan kepala. Bastian meletakkan jari telunjuknya di bibir saat Deni dan Amira datang.
" saya berharap suatu saat ada laki laki baik, yang datang dan bersedia untuk menikah dengan saya tanpa menjalani hubungan tanpa kepastian " ujar Ami di balik isaknya.
Amira memandang tangan Bastian yang mengusap rambut Ami. Deni ikut melihat tatapan tak senang Amira dengan sikap Bastian pada Ami.
Deni mengajak Amira menjauh.
" Ami sudah dianggap adik oleh Bastian, tante Winda juga menganggapnya sebagai anak " jelas Deni setelah jauh dari Bastian dan Ami.
Amira, wanita yang pernah menjadi ratu di hati Bastian mengernyitkan kening, jujur ia cemburu dengan sikap Bastian pada Ami.
" Apa dia terlihat marah ? " tanya Deni balik.
" Sikapnya biasa saja pada saya, saya merasa saya bukan wanita istimewa lagi di hati Bastian " ungkap Amira terdengar kecewa.
" Sampai saat ini Bastian belum mempunyai wanita yang dekat dengannya, satu satunya wanita yang sering diajak bicara sama Bastian ya asistennya itu dan dia tidak sebanding denganmu Ra.." Deni mencoba menghibur.
Semua sahabat Bastian tahu kalau Amira adalah wanita yang di kagumi Bastian sejak dulu. Bastian begitu kecewa ketika Amira memilih melanjutkan studinya di luar negri. Sayang Amira tak memberi jawaban apa apa atas permintaan Bastian.
Sampai dia rela melepaskan jabatan di perusahaan papanya demi menyusul Amira di Amerika. Bastian bekerja disebuah majalah properti disana.
Amira tetap menganggap hubungan mereka hanya sebatas teman biasa.
__ADS_1
" Den, kita dalam masalah " ujar Bastian panik.
" kenapa ? semuanya sudah dipersiapkan dengan baik " tanggap Deni menyusul Bastian yang berjalan kearah base camp mereka.
" Laptop Burhan diretas, semua filenya hilang. kita tidak bisa presentasi proyek kita. salinan datanya ada diapartemenku, untuk kesana kita butuh waktu duapuluh menit, belum lagi macet di jalan " ucap Bastian gusar.
" waktu tinggal lima menit lagi " seorang karyawan marketing memberi tahu.
Musik hiburan mulai berhenti, MC mulai memanggil satu persatu perusahaan untuk menampilkan presentasi perumahan yang akan mereka jual.
Bastian mengusap wajahnya kasar, empat bulan ini terasa sia sia jika mereka tidak presentasi pada expo terbesar itu.
Riuh tepuk tangan mulai menggema ketika sebuah perusahaan menyudahi slide promosi mereka.
" Pak, ikut saya " Ami menarik tangan Bastian keluar Base camp. Amira melihat itu dengan kernyitan di kening. Bagaimana mereka bisa seakrab itu.
Lima belas menit Bastian dan Ami berada di sebuah ruangan kosong yang disediakan panitia.
" kamu yakin kamu hafal mi ? "
" Ya..pak, karna hampir setiap hari saya membacanya "
" Berarti diary itu tidak hilang ? "
Ami menutup mulutnya, kebohongannya selama dua tahun terbongkar.
__ADS_1