Asisten Special

Asisten Special
Pencarian


__ADS_3

Ini hari ke tiga, Hendra bersama kepolisian mencari keberadaan Bastian dan asistennya. Tapi belum membuahkan hasil.


Tak ada jejak mereka di hutan dekat semak semak tempat ditemukan mobil Reyhan. berarti masih ada dua kemungkinan, mereka masih hidup atau sudah mati.


" Ami, papi harap kamu bisa kuat. masih ada harapan untuk kita menemukan Bastian dan Joni. tapi apa pun kemungkinan nanti kamu harus siap menerimanya dengan lapang dada " ucap Hendra pada Ami yang tertunduk.


" untuk sementara pimpinan perusahaan kamu yang pegang. Dua putrimu biar tinggal bersama omanya dan mereka terpaksa harus home shooling, demi keselamatan mereka "


Ami mengangkat kepalanya, ia menatap ayah mertuanya nanar. Diantara pikiran pikiran buruk, ia mencoba menguatkan pikiran positif yang membuatnya tegar untuk menghadapi pertanyaan putri putrinya, dimana ayah mereka.


" Apa saya mampu pi, perusahaan ini begitu besar "


Hendra menepuk bahu Ami dan tersenyum.


" Kamu tau kenapa papi menyetujui pernikahan kalian, tidak memilih anak rekan bisnis papi biar perusahaan tambah kuat ? " tanya Hendra, Ami menggeleng, secara logika orang kaya tentu ia bukanlah kriteria mereka, ia kalah cantik dengan anak anak kolega bisnis ayah Bastian tapi waktu pernikahan mereka terkuak. laki laki yang masih gagah di usia tak muda lagi itu malah menyambutnya dengan ramah.


" Kau melebihi Bastian dalam bertindak dan berfikir, kau lebih percaya diri di banding suamimu " Ami menitikkan air matanya, ada haru menyelinap air matanya mendengar pengakuan ayah mertuanya itu.


Beberapa minggu terakhir, suaminya sering mengeluhkan data data perusahaan mereka yang hilang tiba tiba dan Beberapa proyek mereka tiba tiba diambil alih oleh pesaing bisnis mereka dengan design yang telah susah payah mereka buat.


" Bersiaplah, kita akan ke kantor sekarang " ujar Hendra sambil beranjak dari sofa.


********


" Apa kalian sudah menemukan mereka ? " tanya perempuan yang menutup kepalanya dengan topi pet dan menggunakan masker.


" Maafkan aku bos. Mereka masuk sungai dan arus sangat deras, mungkin terbawa arus sampai ke laut, jangan jangan mereka sudah mati bos "


" Sial ! aku tidak menginginkan mereka mati brengsek sebelum mereka melakukan sesuatu untukku "


Tampak perempuan itu meminta anak buahnya memukul laki laki yang ia tanyai itu.


" Coba telusuri seluruh tepi sungai, jangan jangan mereka bersembunyi di sekitar sungai " perintah perempuan yang bertindak seperti bos itu.

__ADS_1


********


Winda termenung saat menemani kedua cucunya belajar.


" are you okay, grandma ? " tanya Rania. dibanding saudaranya ia yang tampak lebih tenang.


" Oma baik baik saja " jawab Winda berusaha tersenyum. Tapi ia tak bisa menepis kegundahan hatinya sejak tahu Bastian menghilang bersama asistennya. putra semata wayangnya yang sangat ia sayangi.


" Oma lagi mikirin ayah ? kata ayah doakan saja ayah kalau bekerjanya ditempat yang jauh " ucap gadis berusia tujuh tahun itu.


" Ya..sayang, kamu benar. Oma kedalam dulu ya " Winda membelai dan mencium pucuk kepala cucunya.


Winda masuk kedalam kamar dan berbaring diatas kasur sambil memeluk bantal. Ia memandang foto putranya yang terpajang di dinding.


" dimana kamu nak ? " lirihnya.


Sesuai nasihat suaminya, ia tak boleh menunjukan kesedihan di depan cucu cucunya.


Sementara si kembar sedang bermain di ruang kerja ayahnya. Rana memperhatikan saudara kembarnya membaca sebuah buku tulis


" apa ini ? " tanya Rana lagi. ia melihat adiknya melihat gambar semak semak dan hutan.


" gambar ayah " jawab Rania santai.


" aku heran padamu, kenapa kau tak kuatir sedikitpun tentang ayah. kau benar benar putri tak berguna " hardik Rana. ia menatap saudaranya tajam.


Rana ingin bicara tapi urung, ia kemudian duduk di sofa lalu memandang ke luar jendela. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Rana merasa kesal dengan saudara kembarnya memilih pergi ke kamar dan menangis disana.


" Ayah... aku rindu padamu " isaknya.


*********


Ami mulai memimpin rapat seluruh pimpinan divisi. Ia memandang lekat satu persatu dari mereka.

__ADS_1


" Mulai saat ini, saya yang akan memimpin kalian. kita akan bekerja seperti biasa, saya harap kalian bisa menemukan seseorang yang telah berkhianat dengan perusahaan ini " ucap Ami dengan penuh penekanan.


tak ada yang berani mengangkat kepala. Ami menghela nafas dan menyuruh mereka kembali ke ruangan masing masing.


" Saya yakin bukan mereka pelakunya mi " Deni yang dari tadi berada diruangan Bastian angkat bicara. Ia melihat istri bosnya itu duduk dengan menelungkupkan kepala dan terdengar isakan kecil.


" Mi...aku tahu perasaanmu, tapi saat ini kamu harus kuat. Pencarian belum di hentikan, kita berdoa saja semoga Bastian dan Joni baik baik saja " Deni berusaha menyabarkan Amin.


" Jika di culik, sudah tiga hari ini tidak ada sambungan telpon dari orang yang minta tebusan " ucap Ami sambil mengangkat kepalanya. matanya berembun.


Deni tertegun. ia tak punya jawaban apapun untuk itu.


pintu di ketuk dari luar, Deni membukakan pintu.


" ibu...aku rindu padamu " Rania yang menyembul dari pintu langsung berlari mengejar ibunya. Winda menatap menantunya dengan perasaan bersalah. Ia tadi sudah susah payah membujuk Rania agar tetap dirumah saja. namun gadis kecil itu berteriak ingin bertemu ibunya.


Ami memeluk putrinya.


" maafkan mami, tadi dia memaksa ingin bertemu kamu. mereka bertengkar tadi saat sedang bermain bersama " cerita Winda. Ami menyenyumi mertuanya.


" duduk dulu mi " ucap Ami sambil berusaha menggendong putrinya hingga sofa.


" Rana jahat. dia menuduhku tidak sayang ayah " curhat Rania, ia merengut.


" Sayang, ayah pasti sedih melihat kalian bertengkar. baiklah ibu antar pulang ya, kasian Rana "


" Aku mau disini " bantah Rania. ia memendarkan pandangan sekeliling dan memperhatikan Deni yang sedang memeriksa berkas berkas yang ada di meja. Rania menarik tangan Deni dan menyuruhnya menunduk.


" aku tahu dimana ayah sekarang, sebelum pergi ayah berpesan setelah ia dinyatakan hilang, aku harus menemui om. kata ayah, rahasiakan dulu dari ibu " bisik Rania ditelinga Deni. sahabat Bastian itu terpana.


" apa yang kamu bisikkan sama Om deni Rania ? "


" Bukan apa apa mi, Rania hanya ingin bermain dengan Gio " jawab Deni cepat agar ia bisa membawa anak atasannya itu pulang.

__ADS_1


setelah mendapat persetujuan Ami, Deni membawa Rania ke rumahnya.


" apa yang kau ketahui nak ? " tanya Deni tak sabaran. Rania memberikan note sebuah nomor yang harus ia hubungi.


__ADS_2