Asisten Special

Asisten Special
Menanti buah hati


__ADS_3

Angin sepoi sepoi bertiup menggoyangkan tangkai perdu yang sedang di tata Ami di halaman belakang rumah. Di bantu seorang Art paruh baya, ia menyirami tanaman hias dan sayur sayuran yang di tanam Ami.


" Tolong, bawa pupuknya kesini bi " pinta Ami menunjuk karung berisi pupuk dan kembali menekuni pucuk pucuk perdu yang akan dia potong.


" baik bu " jawab bi mirna. Ami terkejut ketika yang membawakan pupuk bukan bi Mirna melainkan suaminya.


" Kok, sudah pulang kak ? " tanya Ami sambil membuka sarung tangan plastik yang dikenakannya dan meraih tangan Bastian dan menciumnya.


" Hari ini ga terlalu sibuk, aku ingin bisa bersantai di rumah. Sudah beberapa hari ini aku ga makan malam sama kamu. kangen masakan kamu " ujar Bastian sambil berjalan ke dalam rumah.


" Mau di masakin apa hari ini ? Kakak mau tumis kangkung ? tadi aku baru petik sayur yang aku tanam "


" boleh "


Ami mengambil apron yang tergantung dan ketika hendak memasang, suaminya mengambil alih.


" sini, biar aku pasang "


Mereka saling tersenyum. Bastian menggulung kemeja hingga siku dan ikut minta di pasangkan apron. Ketika Ami selesai memasang apron, tangan panjang dan kekar Bastian menahan tubuh Ami dalam posisi memeluk tubuhnya dari belakang.


" Kak ! " tegur Ami dan berusaha membebaskan diri.


" transfer energi dulu " ucap Bastian sambil memutar kepala, mencium ubun ubun istrinya. Ami merasakan hatinya menghangat, sudah satu minggu ini, suaminya sibuk dan sering pulang ketika ia sudah tidur dan berangkat saat ia belum terjaga. Maklum sebagai direktur utama, tentu banyak pekerjaan yang harus di kerjakannya.


Saat bekerja, Ami juga merasakan atsmosfif itu. Fisik dan otak akan terkuras mengerjakan proyek proyek yang kejar deadline. Meski karirnya sudah bagus di kantor, Ami memilih mengundurkan diri karena mungkin kesibukan membuatnya susah hamil. Selain Bastian menginginkan kehadiran anak di rahimnya, ia juga memang ingin menjadi seorang ibu. bagi Ami, Karir tertinggi seorang perempuan adalah menjadi ibu.


Suami istri itu memasak sambil bercanda di dapur. kebiasaan yang sudah jarang terjadi setelah Bastian menjadi direktur utama. Selesai memasak, mereka membersihkan diri bersama. Momen ini di manfaatkan Bastian memanjakan Ami dengan sentuhannya.

__ADS_1


bibir itu kembali saling berpagut di bawah shower, sama sama melepaskan rindu yang membuncah.


" Kak, jangan pernah berubah ya. aku tak henti bersyukur punya suami sebaik dan sehebat kakak " ucap Ami sambil mengusap pipi suaminya. Bastian tersenyum sambil meraih jemari Ami dan menciumnya.


" Aku bukan apa apa tanpamu mi, kalau saat itu aku ga ketemu kamu di taman, mungkin aku sudah jadi patung disana, aku merasa jalanku sudah buntu " giliran Ami yang tersenyum.


" Ya..patung pria tampan "


Saat makan malam, mereka di kejutkan oleh kehadiran Hendra. Sejak jabatannya digantikan anaknya. Hendra lebih sering menghabiskan waktunya di villa. kedua istrinya itu tetap merasa tidak adil walau sebaik mungkin ia membagi waktu untuk mereka. Wanita tetap menginginkan pihaknya yang selalu diinginkan tanpa direbut wanita lain meski sebanyak apapun harta yang mereka terima. hati pria yang di cintai adalah harta yang paling berharga.


" Silahkan pi " ucap Ami setelah menyendokkan nasi ke piring Hendra.


" Makasih nak "


" Papi mau lauk apa, maaf Ami hanya masak seadanya. kak Bastian minta dibuatkan tumis kangkung, telur mata sapi sama sambal terasi " tutur Ami merasa malu melihat hidangan di meja makan menunya sangat sederhana. Tidak mencerminkan meja makan orang kaya.


Sementara saat bersama Winda, meski istrinya itu yang masak. perempuan yang telah ia sakiti karena pernikahan kedua itu lebih banyak diam saat mereka makan bersama.


Ami terharu melihat ayah dan anak makan dengan lahap dengan lauk sederhana yang ia masak. Meja makan jadi riuh saat Bastian menceritakan asisten berkepala plontos yang di tunjuk papi untuknya, banyak kejadian lucu yang ia alami bersama Joni.


" Bas.., papi ingin kasih nasehat sama kamu, awal awal saat kita merasa menjadi yang terhebat menduduki puncak tertinggi, semua akan mudah kita genggam tapi semakin kita berada di ketinggian maka angin semakin kencang berhembus, satu yang menjadi cobaan pria pada posisi diatas angin adalah wanita "


Bastian melirik istrinya yang juga terpaku mendengar ucapan Hendra.


" Jangan pernah tinggalkan wanita yang menemani perjalananmu dari awal demi wanita yang lebih indah di matamu, di saat itu terjadi kau akan menyesal selamanya. Jika wanita itu memilih pergi, ia akan sulit untuk kembali "


" Bersabarlah menunggu buah hati kalian, jangan mengambil keputusan gegabah. apalagi mengambil keputusan saat kit sedang marah " tambah Hendra penuh penekanan.

__ADS_1


Ami ingin menitikkan air mata mendengar ucapan mertuanya. Ia merasa di istimewakan dari tutur kata itu. Tanpa sadar, ia lah yang menemani awal perjalanan karir Bastian, saat laki laki itu sudah putus asa dengan pekerjaan dan cintanya.


Ia tak menyangka Bastian merekam semua percakapan mereka selama pertemuan lima belas hari menjadi suami pura pura Ami. Saat ia merasa down karena tekanan pekerjaan, suara bawel itu akan ia putarkan kembali sebelum tidur dan suara itu berhasil masuk ke dalam sistem otaknya menjadi support sistem yang baik selama ia memimpin perusahaan kecil.


Hendra pamit pulang dan ia berencana pulang ke rumah Winda. Saat melihat kemesraan Bastian dan istrinya, Hendra jadi teringat awal awal pernikahannya dengan istri pertamanya itu. Dialah wanita yang menemaninya memulai karirnya dari nol. Ayahnya pemilik perusahaan memintanya memimpin perusahaan kecil sebelum berada di induk perusahaan.


Kehadiran Dina membuat hati wanitanya hancur dan mataharinya membeku sampai saat ini.


Sebelum memulai peraduan mereka, Ami berdoa dengan khusyuk agar ia dikaruniai seorang anak setelah mereka bercampur nanti, kehadiran seorang cucu mungkin bisa membuat Winda merubah sikapnya pada Ami.


********


" Mas.., tidur di sini saja " rengek Amira saat Deni membaringkan di tempat tidur. trauma saat lift macet masih dirasakan Amira. kejadian masa kecil yang tak bisa ia lupakan.


" Kenapa mas, apa aku bau..." protes Amira ketika Deni beranjak dari tempat tidur. Deni menghela nafas. langkahnya terhenti, setiap detik ia melakukan berbagai cara untuk tak menyinggung Amira dengan hasratnya sebagai laki laki normal. Ia ingin menyentuh kulit putih mulus itu.


" Tu...kan. karna aku bau mas ga mau dekat dekat "


" Ga Amira, kamu itu wangi dan selalu wangi meski belum mandi sekalipun " sanggah Deni sambil kembali ke tempat tidur, ia menaikkan selimut.


" Tidurlah, katanya besok ada acara pembukaan kantor kamu "


" Mas.." panggil Amira lagi ketika Deni berdiri dan balik badan.


" Ya..." jawab Deni tanpa menoleh pada Amira.


" Aku ingin hamil " ucap Amira membuat Deni kontan berbalik. Amira mengangguk ketika mata Deni bertanya. Apakah lampu hijau itu sudah nyala ?

__ADS_1


__ADS_2