
Deni seketika berhenti tertawa saat ada yang masuk ke ruang meeting.
" Oo..jadi begini kerja kalian di kantor, hanya Ha ha hi hi. Pantas papi nggak mau ngasih proyek penting sama kamu Bas " ujar laki laki yang punya garis muka hampir mirip dengan Bastian. tiba tiba suasana menjadi tegang. Ami memperhatikan gaya sombong laki laki yang mendekati meja meeting.
Bastian tak menanggapi, ia pasang wajah datar, tapi Ami bisa melihat tangan atasannya mengepal di bawah meja.
Tak lama seorang laki laki paruh baya masuk, tiga laki laki di samping Ami menunduk hormat. Ami mencoba memahami situasi. laki laki paruh baya yang masih terlihat gagah itu mendekati ujung meja paling depan. Deni membukakan kursi. beberapa saat hening. Bastian tampak menelpon bagian OB untuk menyediakan minuman.
" Bagaimana Bas, kamu sudah bisa memimpin perusahaan ini. sebenarnya papi masih ragu menyerahkan anak perusahaan ini karna papi belum lihat perkembangan pada anak perusahaan yang kamu pimpin sebelumnya "
Ooo..itu rupanya papinya Bastian. laki laki yang tadi bikin Bas kesal pasti saudaranya, dia juga manggil papi juga tadi.
Ami melihat garis kecewa di wajah atasannya, tapi wajah itu dibuat setenang mungkin.
" Bastian yakin pi Bastian bisa memajukan perusahaan ini "
" Bagus, itu yang papi mau. ini papi mau menyerahkan file proyek yang akan kamu kerjakan dan Rendra akan menjelaskan detailnya karna dia yang sebelumnya memimpin perusahaan ini. ditangannya perusahaan ini mendapatkan dua penghargaan "
Laki laki yang di panggil Rendra itu maju untuk presentasi. Deni menjadi operator IT. Perusahaan yang bergerak dibilang properti cukup terkenal, Ami merasa ada kebanggaan saat menyadari ia menjadi bagian perusahaan yang sudah lama ia impikan itu. HWD grup.
Rendra menyudahi presentasinya, Ami menyimak semua penjelasan Rendra dengan baik. ia mencatat hal hal yang ia rasa penting.
" Bagaimana Bas ? kamu sanggup mengerjakannya ? " pertanyaan yang terdengar meremehkan dari Rendra.
" Saya yakin saya bisa pi, terima kasih sudah mempercayakan saya "
__ADS_1
Bastian tak membalas tatapan Rendra, ia fokus pada papinya.
" Baik, satu bulan lagi akan ada pertemuan dengan pihak investor jika kamu bisa mengerjakan proyek ini dengan baik. papi akan ikutkan kamu dalam pertemuan itu "
" Ya pi, Bas usahakan yang terbaik untuk perusahaan ini "
laki laki paruh baya itu berdiri diikuti oleh yang lain, matanya berhenti sebentar pada Ami. Ami menunduk hormat.
" Apa kamu asisten Bas yang baru ? '
" ya pak "
Papinya Bastian seperti memindai Ami. Ami jadi gugup, nggak istri nggak suami bikin jantung Ami deg degan.
" iya pak, saya nggak mau jatuh cinta sama anak bapak, dia nggak romantis " Hendra terkekeh dengan ucapan polos Ami.
Ami melihat tatapan tajam atasannya.
" tu kan pak, belum apa apa dia sudah marah "
" Jangan gitu Bas, perlakukan asisten dengan baik, jangan marah marah sama...siapa nama kamu ? "
" Ami pak " jawab Ami cepat.
" sama Ami, nanti kamu jatuh cinta lo sama dia "
__ADS_1
" iya pi..Bas kan paling demen sama yang cupu cupu " sambar Rendra seketika Ami menatapnya tajam. ia tidak suka dibilang cupu, emang penampilannya biasa saja. itu karna dia nggak punya duit untuk beli baju mahal atau pergi ke salon.
" Jangan menghina asisten saya ! " sentak Bas. terlihat rahangnya mengeras.
" sudah sudah, jangan bertengkar " Hendra menghentikan Rendra yang ingin bicara.
Deni terlihat menenangkan Bastian, ia menepuk bahu Bas.
" jangan diladeni Bas " bisik Deni.
Ami bergerak ke depan ruangan membuka pintu. ketika Rendra melintasinya, tidak lupa ia beri tatapan paling tajam.
" Oke ..sayang, mari kita mulai bekerja " ujar Bastian setelah pintu tertutup. Deni memandang Bastian aneh.
" lu ngomong sama gue ? jangan jangan Bas gue masih lurus bentar lagi gue mau nikah " ucap Deni gemetaran, Ami tersenyum melihat ketakutan Deni. prasangka Bas belok memang sudah jadi trending topik rupanya.
" bukan sama lu bego, sama asisten gue.."
" kalian pacaran ? "
" bukan ! kita sudah suami istri "
Deni menatap Ami heran, Ami mendadahkan tangan. Bastian buru buru meninggalkan ruangan dan Ami juga buru buru menjelaskan mata Deni yang bertanya
" ceritanya panjang pak Deni, tujuh episod, saya pergi dulu, permisi ! "
__ADS_1