
Dapur yang dulu menjadi saksi keakraban Ami dan Winda, kini juga juga akan menjadi saksi perubahan sikap nyonya rumah saat Ami jadi menantunya.
" Biarkan Ami yang membersihkan dapur ini Bi, bibi sama rekan bibi ikut saya berbelanja ke supermarket " ujar Winda pada tiga orang Art yang ada di dapur.
Ami terperangah, ia memendarkan pandangan ke sekeliling dapur yang luas itu. dulu dapur ini sangat bersih. kok tiba tiba jadi kotor. Noda makanan di mana mana. Katanya sebelum Ami menginap di rumah mertuanya itu, ada kumpul kumpul keluarga setelah resepsi pernikahan.
Ami menghela nafas, ingin mengeluh tapi takut ibu mertuanya salah sangka.
" Kamu nggak suka, mami minta tolong ? " Ami membulatkan mata, itu pertanyaan atau tuduhan sih. Ami berbalik dan menunjukan senyumnya.
" Ami suka bersih bersih mi " ujar wanita yang kini jadi perbincangan di kantor. Kehidupan Ami yang dulu hanya seorang pegawai biasa kini mendadak menjadi bagian dari keluarga konglomerat itu.
Mereka memuji kisah Ami bak kisah Cinderella dalam dongeng. Mereka tidak tahu saja, sekarang Ami kembali dijadikan upik abu oleh ibu mertuanya padahal jabatan Ami cukup penting di perusahaan.
" Kamu butuh ini kan ? " ujar sebuah suara di Belakang Ami. ketika ia menoleh ia melihat Windi, adik ibu mertuanya sedang membawa alat alat pembersih mulai dari sapu, kain pel, kemoceng dan teman sejawatnya.
" Ups ! sori...sengaja " Arumi dan Della, anak anak Windi menjatuhkan sisa sarapan mereka yang dipenuhi saus ke lantai.
Ami mulai merasa apa yang di takutkan terjadi, keluarga Bastian tidak menerima kehadirannya menjadi bagian dari keluarga Perdana.
Kembali dengan senyum, ia menerima semua alat pembersih itu dari tangan Windi yang diserahkan dengan cara di lempar dan memandang perbuatab mereka dengan senyuman, hati Ami ingin berontak, ia sekarang istri direktur utama perusahaan yang membuat hidup mereka berlimpah harta, bukan budak yang bisa mereka suruh suruh.
" Jangan kira lo bisa hidup enak setelah menikah dengan Bastian ha...kalau lo ingin bebas dari siksaan kami, pergi secepatnya dari Bastian. Masih banyak perempuan ningrat yang mau jadi istrinya, bukan kaya lo dasar anak pembantu " ujar Arumi sarkas.
" dan lo jangan coba coba ngadu sama Bastian " tambah Della sambil mendorong tubuh Ami hingga istri Bastian itu terhuyung.
tiba tiba hp Ami berdering, ia melihat my husband tertera di layar.
" Awas lo ngadu sama Bas " bisik Della dengan menggerakan horizontal jari telunjuk ke leher. Ami menarik nafas dalam dalam sebelum menjawab panggilan dari Bastian. jangan sampai suaranya yang mengandung gemuruh akan ditelaah suaminya yang dari awal sudah tahu Winda tidak menyukai Ami. ujung ujungnya, direktur utama itu akan bertengkar dengan ibunya.
" Ya kak "
" Haloo sayang, apa mami nyuruh kamu ngerjain tugas Art ?" kontak batin suami istri itu begitu kuat hingga Bastian memiliki firasat kuat apa yang sedang dilakukan Ami di rumah.
__ADS_1
" Eng..enggak kok kak, aku cuma bantu bibi masak saja " bohong Ami.
" kamu jangan terlalu patuh sama mami, kamu bisa menolak tegas permintaan mereka kamu punya kuasa sebagai istriku, jangan biarkan mereka menindasmu " ujar Bastian sambil memajang foto wedding ia dan Ami di atas meja kerja.
" Aku hanya ingin membuat mami menyukaiku kak, aku ingin merasakan kembali kasih sayang seorang ibu " ucap Ami berusaha menahan mendung di hatinya.
" Kamu yang sabar ya sayang, kakak yakin mami pasti menyanyangimu seperti yang aku rasakan sekarang " terdengar helaan nafas Bastian, ucapan yang ia sendiri belum yakin itu bisa terjadi.
" Ya..kak, kakak yang semangat kerjanya "
" Ok..Miss you " ucap Bastian sebelum mengahiri panggilan.
' Semangat juga Ami, kamu nggak boleh kalah sama badai ini. kamu karang yang cukup kuat Ami, hempasan ombak tak akan membuat kamu runtuh tapi akan membuat kamu semakin kuat '
Ami selalu mendengungkan afirmasi positif itu dari dalam hatinya, tantangan ini bukan pertama kali terjadi padanya, hinaan sebagai anak pembantu dulu juga pernah ia terima dari keluarga mantan tunangannya. Laki laki yang tak mampu mempertahankan dirinya ditengah penolakan sang keluarga. sudahlah ia hanya masa lalu.
Tiga jam Ami berhasil membersihkan dapur yang cukup luas itu. diam diam ada anak seorang Art yang membantunya.
Ami kembali ke kamar, ia berendam dalam air hangat dalam bathup. Mencoba menenangkan pikiran dan hatinya yang terasa perih. Apa salahnya hingga diperlakukan tak manusiawi seperti ini oleh ibu mertuanya sendiri.
Ami mengerjapkan mata saat ia merasa ada yang menyentuh bibirnya.
" Kak.." panggilnya ketika menyadari siapa yang menyentuh bibirnya.
" Kok bangun, aku belum puas liatin kamu tidur " ucap Bastian sambil mendorong pelan tubuh Ami yang berusaha duduk, Ami kembali rebah di kasur. Bastian ikut berbaring di samping Ami.
" Nanti malam kita balik ke apartemen " ucap Bastian sambil melonggarkan dasinya.
" Tapi kita minta izin dulu sama mami kak " sanggah Ami, ia ingat Winda meminta mereka untuk tinggal selama satu minggu di rumah mewah itu.
" Jangan bilang, kamu merasa nyaman di sini ya, kamu bukan ibu peri yang bisa nutupi kelakuan mereka pada istriku. aku yang jadi suami kamu ingin kamu itu jadi ratu, masa mereka mau jadiin kamu babu "
Ami menggigit bibirnya, hatinya yang tadi perih seakan ditiup angin sepoi sepoi. sejuk.
__ADS_1
" Kak.." panggil Ami saat Bastian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Bastian menoleh.
" Jangan bertengkar dengan mami ya, pasti sulit bagi mami menerima aku jadi menantu.."
Bastian mengangguk, ia memejamkan mata. ada luka batin yang selama ini ia simpan untuk wanita yang melahirkannya itu, peristiwa saat usianya masih delapan tahun. seorang wanita bertubuh ringkih melindungi tubuhnya dari amukan mami, mami yang selalu dirindukannya setiap saat . Hanya karena ia memainkan alat kecantikan seharga puluhan juta itu milik wanita itu.
tubuh bibi Rahayu, ibu Ami. Tubuh itu penuh luka lecutan rotan karena melindunginya. ucapan yang Ami sampaikan adalah ucapan yang sering disampaikan pengasuh yang rela berkorban nyawa untuknya.
" Jangan bertengkar dengan mami ya..." kata kata terakhir sang pengasuh sebelum menutup mata.
Bastian membiarkan air mata itu luruh di bawah shower, kejadian saat sepuluh tahun lalu kembali berputar dalam pikirannya saat Ami mengatakan kalimat yang sering di sampaikan bibi Rahayu.
*******"
Amira baru saja pulang dari belanja bulanan, ia sudah terbiasa melakukan berdua Deni. itu saat hubungan mereka masih sebatas sahabat. Sekarang mereka sudah menjadi suami istri, kenapa Amira merasa canggung ketika Deni membayarkan semua belanjaannya yang begitu.banyak.
" Aku sekarang suami, jadi semua yang kanu butuhkan adalah kewajibanku untuk memenuhinya " ujar pria itu saat mengeluarkan dompet.
" Tapi Den..eh..mas " sanggah Amira. Deni menyingkirkan tangan Amira saat memberikan debit Card pada kasir. pelayan supermarket menerima kartu Deni sambil senyum senyum.
" Istrinya cantik mas, bule ya.." puji pelayan supermarket saat memberikan belanjaan Amira. Deni hanya menanggapi dengan senyuman.
Mereka kembali ke apartemen. Deni membantu Amira menyusun belanjaan di lemari es dan tempat penyimpan stok makanan yang ada di dapur.
Sesekali mereka saling bersitatap dan melempar senyum. ada gelenyar aneh yang Amira rasakan ketika melihat Deni memasak, laki laki itu sangat trampil memotong bahan makanan.
" Sup.. sudah jadi, makan yuk " ucap Deni sambil meletakkan semangkok sup keatas meja. aromanya begitu harum.
" Widihhh..enak nih, kamu pintar masak ya mas. aku merasa beruntung punya suami seperti ka..mu "
Amira tertegun dengan ucapannya, ia melihat Deni memandangnya lekat.
" Makan dulu Ra, aku mau berbenah kamar sebelah " ucap Deni sambil menggusar rambut Amira. wanita itu berwajah indo itu menelan ludah, tiba tiba keinginan untuk merubah kesepakatan itu muncul di benaknya. kesepakatan menikah hanya untuk sebuah alasan agar Amira tidak kembali ke Swiss bukan untuk saling mencintai.
__ADS_1
' Aku ingin menikah sungguh sungguh Den ' ucap Amira dalam hati.