Asisten Special

Asisten Special
Nyonya atau pembantu ?


__ADS_3

Rendra terus memutar otaknya agar Nindi tak terus bertanya kenapa mereka tak bisa tinggal di apartemennya.


Ia memang pernah mengajak istrinya itu berkunjung ke sana sekali saat mereka masih pacaran, tepatnya Luna belum begitu banyak meletakkan barang barangnya.


Semenjak ia intens meminta sekretarisnya itu memuaskan hasratnya. perempuan itu Rendra beri reward yang begitu banyak sampai memenuhi apartemennya.


denting notifikasi membuat suasana begitu mencekam di hati Rendra. ia harus meminta Nindi untuk kembali ke rumah.


[ Sayang. aku punya kabar gembira untukmu. aku sedang hamil ]


Rendra terkejut bukan main dengan pesan yang ia baca. ini sama sekali di luar perkiraannya. Ia merasa sudah bermain aman tapi sesekali memang ia lupa memakai pengaman saat menerkam Luna.


" Sayang, muka kamu kok pucat ? " tanya Nindi mendekati Rendra. Segera ia matikan ponselnya.


" Nggak apa apa, ini ada laporan dari bawahan aku yang mengabarkan kalau ada masalah di lapangan " dusta Rendra, ia seperti dapat ide bagaimana Nindi bisa kembali ke rumah.


" Maaf sayang, kamu harus pulang karena aku harus ke lapangan ada masalah yang harus aku atasi disana. aku antar ya.." Nindi merengut karena tak jadi ke apartemen Rendra tapi ia menuruti juga permintaan suaminya.


Rendra menghela nafas lega. Ia akan mengantar Nindi pulang dan mengatasi Luna. Ide buruk juga saat meminta istrinya itu untuk berhenti melanjutkan profesinya sebagai artis seperti permintaan Dina. Kini, Nindi bak penguntit bagi Rendra yang selalu ingin tahu kemana ia pergi.


Dina memang meminta Nindi mengurangi aktifitasnya karena ia ingin Nindi tidak sibuk dan menantunya bisa hamil secepatnya. Dengan begitu, ia bisa mengejek madunya yang kabarnya Ami semakin sibuk di divisi yang sekarang di pimpinnya. Divisi marketing.


********


Ami memegang test pack dengan tangan bergetar, sudah dua minggu ini haidnya belum datang. Ia mencurigai kalau dirinya sedang hamil.


Tapi satu garis yang ia lihat di permukaan test pack membuatnya kecewa. Ami menghela nafas dan menghembuskan perlahan. Ia keluar dari kamar mandi.


" Gimana hasilnya ? " tanya Bastian yang sejak tadi menunggu di depan pintu kamar mandi.


Ami tak menjawab, hanya gelengan dan isakan kecil yang membuat Bastian mengerti kalau apa yang mereka harapkan belum terjadi. Menjadi orangtua.


" Kenapa nangis sih, belum rezki kita, kalau kita sering berdoa dan berusaha, Insya Allah Tuhan mengabulkan, kamu yang sering bilang begitu " ujar Bastian mendekati istrinya yang tengah menangis di kasur.


" Aku sudah ngecewain kamu kak, dari awal kita menikah. kamu ingin punya anak secepatnya. Ini hampir lima bulan, aku nggak isi isi " ucap Ami di sela tangisnya.


Bastian meraih tubuh Ami dan membantunya duduk. mereka duduk saling berhadapan. laki laki yang sekarang menjabat sebagai direktur utama itu merangkup pipi istrinya, satu tangannya menghapus sisa air mata Ami.


" Ish..kamu ini, udah gede masih aja cengeng. masih pagi kedai es krim belum buka, pegawai mini market masih pada mandi. udah nangisnya " ejek Bastian sambil meraih kepala Ami agar bersandar di dadanya. ucapannya berhasil membuat Ami membelalakan mata.

__ADS_1


" Au !" Bastian menjerit karena pinggangnya dicubit.


" awas kalau sampai nawarin permen kaki lagi " sentak Ami kesal karena setiap nangis ia selalu dibilang anak kecil. Bastian tak menanggapi tapi memajang permen kaki di depan mata istrinya. meski kesal Ami meraih juga permen warna merah itu..


" Katanya ga mau, tu..di **** juga, sini balikin " Bastian mengambil paksa permen yang terlanjur masuk ke mulut Ami.


" Kakak ! balikin nggak." Ami mengejar Bastian yang menjauh darinya, alhasil gara gara permen mereka kejar kejaran kaya adegan film india. cicak cicak di dinding berdecak. Ck...ck...ini udah mau jadi orangtua, kelakuan masih kaya bocah ngerebutin permen. emang iya rebutan permen.


Setelah aksi kejar kejaran selesai dan berakhir dengan morning kiss. Mereka dikejutkan oleh ketukan pintu. Saat ini Mereka berdua sedang berada di rumah Winda karna Winda meminta putranya menginap di rumahnya.


tok tok tok !


Bastian membantu Ami melap bibirnya dengan tisu. pagutan sepuluh menit itu cukup meninggalkan jejak. Ami merasakan bibirnya bengkak.


" Sebentar " teriak Bastian karena pintu terus diketuk makin lama ritmenya makin naik.


Bastian merapikan kemejanya yang sedikit berantakan gara gara morning kiss. Bastian membuka pintu dan melihat wajah masam ibunya yang sejak tadi menunggu di luar.


" ada apa Mi ? " tanya Bastian setelah menutup pintu kamarnya.


" Istri kamu kerja hari ini ? " tanya Winda dengan melihat ke arah pintu.


" Pagi " singkat, padat dan jutek. jawaban Winda yang berhasil membuat Ami menelan ludah.


" Satu minggu ini Ami aku liburkan dulu, kenapa mi ? "


" Baguslah., dia bisa kan bantu bibi belanja ke pasar dan beberes rumah, jangan dikira nikah dengan orang kaya dia bisa ongkang ongkan kaki "


Bastian meradang, ia tak suka dengan ucapan ibunya.


" Mami ngomong apa sih, Ami istri Bas, terserah Bastian menyuruhnya apa, jangan samakan istri Bastian dengan pembantu !" hentak Bastian membuat Winda terkejut.


" Oo..jadi sekarang, kamu sudah berani bentak bentak mami. itu yang diajarkan istrimu agar ngelawan sama mami " balas Winda dengan suara mengandung mendung. Ami menggigit bibirnya, menekan denyut yang menyentak dari ulu hatinya. Kenapa ia yang jadi kambing hitam.


Bastian menghela nafas kasar. ia mengusap wajahnya.


" bukan begitu mi, aku sengaja meliburkan Ami agar dia bisa istirahat karena satu minggu lagi divisi yang ia pimpin akan sibuk " Bastian mulai merendahkan suaranya. Ami menarik tubuh suaminya menjauh dari Winda.


" Nggak usah ribut ribut kak sama mami, aku bisa kok ngerjain semua tugas pembantu, kan aku memang anak pembantu.." bisik Ami yang membuat Bastian terenyuh.

__ADS_1


" Jangan ngomong gitu, kamu sudah jadi nyonya, nyonya Bastian " tanggap Bastian sambil memeluk tubuh Ami. Ami cepat cepat mengurai pelukan Bastian saat Winda mendekat. sepertinya mertuanya itu tidak suka bila Bastian bersikap mesra dengannya. Ami berusaha berfikir positif karena ini wajar efek cemburu seorang ibu apalagi Bastian adalah anak tunggal.


" Aku bisa mi bantu bantu bibi di dapur, aku suka beberes rumah juga, lagian Ami makin suntuk kalau nggak ngapa ngapain " ucap Ami yang membuat Bastian mengernyitkan kening. Ami menunjukan jempolnya dan berkata tanpa suara. ' I'm okey '


" baguslah, mami tunggu di bawah " tanggap Winda dingin.


Ami mengambilkan jas dan tas Bastian dalam kamar dan Bastian mengikutinya.


" Maafkan mami ya dek " ucap Bastian saat Ami membantunya memasangkan dasi. Ami mengungkai senyum.


" nggak apa apa kak, aku jadi ngerasa punya ibu pas mami nyuruh nyuruh aku, aku udah lama nggak ngerasain di suruh suruh, dulu ibu sering minta aku masak, ber.." sebelum Ami menyelesaikan kalimatnya Bastian buru buru memeluk tubuh mungil istrinya.


" udah..jangan nangis lagi, permennya udah habis, kemarin aku belinya cuman satu. nanti aku stok satu gudang " Ami memukul dada Bastian. Bastian semakin mempererat pelukannya.


" I love you " bisik Bastian lirih. Ami mengangkat kepalanya memandang wajah suaminya yang mengungkai senyum. hatinya yang tadi terasa pedih berlahan merasa sejuk dan hangat.


" Aku cinta kamu mi " ucap Bastian sambil mengecup puncak kepala Ami.


" aku juga, aku sayang kakak " balas Ami, ia semakin membenamkan kepalanya di dada Bastian.


denting notifikasi dari dua hp membuat mereka saling melepaskan pelukan.


" Mi..aku harus segera ke kantor " ucap Bastian setelah melihat pesan masuk, ia menyambar jas yang tersampir di kursi. Ami belum menanggapi, pesan masuk di hp menyita perhatiannya.


" Mi..." panggil Bastian sekali lagi, Ami menoleh.


" Ya kak.."


" pesan dari siapa ?" tanya Bastian dengan nada curiga.


" Ini tante Rahmi ngirim foto foto waktu ia ngajak aku jalan jalan di London " jawab Ami sambil memperlihatkan foto foto Ami dengan ibu Bagas yang terlihat sangat akrab dengan Ami.


" Oo.." hanya itu yang diucapkan Bastian, ada segaris perih singgah di hatinya. foto foto itu sangat kontras dengan realita hubungan Ami dan ibunya. saat sesi foto Wedding. ibunya hanya borpose kaku saat berfoto berdua Ami.


" Kak, tante Rahmi ngundang aku ke rumahnya. boleh aku pergi kesana ? " tanya Ami saat mencium punggung tangan Bastian.


Bastian menahan gemuruh di hatinya, bagaimanapun ia akan cemburu jika Ami terlalu dekat dengan keluarga Bagas di tambah hubungannya dengan sahabatnya itu sedang buruk. ada ketakutan muncul di hatinya. jika sikap mami semakin buruk pada Ami bisa jadi Ami akan meninggalkannya dan mencari Bagas dan ibunya. tidak ! itu tidak boleh terjadi. teriak Bastian dalam hati.


" Boleh..hati hati perginya " ucap Bastian setelah berhasil menahan gemuruh hatinya.

__ADS_1


Ami tersenyum dan membantu Bastian membuka pintu kamar.


__ADS_2