Asisten Special

Asisten Special
Lihat dirimu Ami, kau rakyat Jelata !


__ADS_3

Winda menghempaskan meja dengan kepalan tangan. Ia mengatur nafasnya yang memburu. Meski dari dulu, ia tak pernah mencampuri urusan hati anaknya dan ia juga memandang semua manusia sederajat.


Tapi hasutan madunya terkadang membuatnya hanyut.


[ Kau belum tahu siapa Amina Rahayu kak, dia adalah anak Rahayu Astuti. Bekas pembantu mu ]


[ Apa kata kolegamu nanti kalau tahu anakmu menikah dengan anak pembantu sementara Rendra menikah dengan anak pemilik Brightness grup, pemilik saham terbesar di berbagai perusahaan ]


Winda mematikan ponselnya. Ia meminta pelayan membawakannya obat.


Dari tadi ia menghubungi Bastian, hp putra semata wayangnya itu ternyata tak bisa dihubungi. Rasa kesalnya memuncak saat Nana menelponya sambil menangis.


" Tante, Bastian tadi menghardikku saat tante sudah pulang. Tidak usah ditutupi lagi, Bastian memang punya hubungan spesial dengan perempuan kampungan itu "


Winda melirik jam, hari sudah jam 12 malam. Tidak mungkin menemui Bastian malam malam begini. Winda berbaring di tempat tidur big size itu dengan gelisah.


Ia mendengar pelayan menyambut seseorang di ruang tamu.


" Nyonya sedang di kamar tuan " ucap bi Narsih, pelayan di rumah besar itu. Ia mengambil tas dan jas majikannya dan menyimpannya di meja kerja Hendra.


" Buatkan saya wedang jahe " titah Hendra sambil melonggarkan dasinya. Bi Narsih mengangguk dan berlalu ke dapur.


Hendra masuk ke kamar dan melihat istrinya sudah menutup tubuhnya dengan selimut. Hendra tau istrinya itu belum tidur. Hampir lima belas tahun, ia merasakan ranjang itu terasa dingin. Sejak Dina terus meminta ia menceraikan Winda. Waktu itu Dina mengancam akan bunuh diri, jika Hendra belum juga menceraikan Winda. Ketika istri keduanya itu sudah berada diujung tebing. Hendra ketakutan.


Ia mengiyakan saja kemauan Dina dan memohon agar istrinya itu tidak melompat dan parahnya itu disaksikan Winda. hati Winda hancur seketika, madunya berkata tak sanggup hidup di madu. Tapi sebenarnya dialah yang membuat Winda di madu. hari hari pahit itu sanggup di lalui Winda, meski waktu Hendra lebih sering dihabiskan bersama Dina.


Kakek Bastian yang mempertahankan Winda karena Winda adalah menantu pilihannya. tuan Perdana memberikan peringatan pada semua anggota keluarganya untuk tidak mengusik Winda dan Bastian, cucunya.


Jika mereka berani mengusir Winda maka mereka tak akan dapat harta warisan, tentu semua anak menantu keluarga Perdana takut mendengar ancaman itu.


" Apa yang menganggu pikiranmu, kenapa belum tidur ? " tegur Hendra sambil mengusap lengan istrinya. Winda membalikkan tubuh. Hati Hendra tersenyum, ini pertama kalinya istrinya itu membalikkan tubuh menghadapnya setelah sekian lama.


" Anakmu, pacaran sama asistennya " keluh Winda.


Hendra tak terkejut, ia sudah tahu apa yang di lakukan kedua putranya di luar jam kerja. Ia punya banyak orang suruhan untuk memata matai Bastian dan Rendra. Hal ini ia lakukan untuk menilai siapa diantara mereka yang layak menjadi penggantinya kelak memimpin perusahan HWD grup, perusahaan properti terbesar di negeri ini. Hendra sudah tahu Bastian telah menikahi Ami. Saat Bastian mengantar Ami ke kampungnya, orang suruhannya yang menyamar menjadi pedagang mengabarkan kalau terjadi pernikahan sebelum acara pemakaman ayab Ami.


Hendra percaya anaknya memutuskan sesuatu dengan penuh pertimbangan yang matang, bukan karena emosi sesaat.


Seringkali karyawannya komplain karna ruangan Bastian selalu terkunci dan CCTV ditiadakan. Hendra tak mempermasalahkan karena mereka sudah suami istri.


" Ooh..kirain apa, sudahlah mereka masih muda, biarlah Bastian memilih pasangannya sendiri " Hendra membelai pipi istrinya, biasanya Winda akan menyingkirkan tangan itu tapi kali ini ia membiarkannya.


" Tapi kenapa harus Ami..dia kan hanya..." Winda menghentikan kata katanya karna melihat tatapan tak suka suaminya.


" Ia wanita biasa, wanita miskin " Hendra melanjutkan kata kata Winda dengan nada sinis. Winda tertunduk.


" Ayahku dulu hanya seorang kuli..."


" Maaf " cicit Winda merasa bersalah. Hendra kembali tersenyum, sudah lama mereka tak bicara lama apalagi untuk pillow talk.

__ADS_1


" Aku harus memberi tahumu soal Ami, dia wanita istimewa di kantor terutama bagi Bastian. Anakmu tidak terlalu percaya pada dirinya sendiri. Tapi asistennya itu yang selalu meyakinkan Bastian untuk terus berjuang, apa yang muncul dalam presentasi Bastian, itu 65 persen adalah pemikiran Amina " jelas Hendra


Winda menghela nafas. kenyataan ini sangat sulit ia terima, meski ia tak membenci Ami dan percaya asisten Bastian itu polos dan apa adanya. Tapi ia sudah terlanjur berjanji pada Rena, ibu Nana untuk menjodohkan anak mereka.


" Tapi setidaknya Bas memberikan Nana kesempatan. Seandainya pertunangan itu batal Rena akan meminta suaminya menarik semua sahamnya dari perusahaan kita "


Hendra mengusap pucuk kepala Winda dan menciumnya berlahan.


" Tenanglah, ada menantuku yang sangat lihai melobi investor lain " bujuk Hendra, ia tak sadar sudah keceplosan. Winda membulatkan mata.


" Menantu ? apa Bas sudah menikahinya ? " tanya Winda cemas, Hendra baru menyadari apa yang baru saja ia sampaikan. informasi yang tidak disukai istrinya.


" Senang menggodamu seperti dulu " goda Hendra, Winda memukul bahu suaminya.


" Kau ini..."


*******


Sore tepat jam kantor berakhir, Ami merapikan meja Bastian dan bersiap untuk pulang. Ada kekhawatiran yang besar dalam hatinya jika pulang ke apartemen. Jangan jangan ibu mertuanya juga mengirim mata mata di sana. Setelah Nana mengadu soal mereka satu kamar hotel, Ami merasa setiap langkahnya di curigai.


Bastian masuk dengan terburu. Ia memperhatikan sebuah rekaman CCTV pada Ami. Ami melihat Winda tengah menekan passcode di pintu apartemennya dan pintu tak kunjung terbuka.


" Kakak menukar passcodenya ? " tanya Ami sambil memperhatikan ibu mertuanya yang kesusahan membuka pintu apartemen.


" Aku tau apa yang ada dalam pikiran dua wanita yang kuncintai , Mami takut aku memasukkan wanita dalam apartemen dan kamu takut mami tahu kita sudah menikah "


Ami mengangguk. ia menggigit kukunya, itu salah satu caranya menghilangkan gugup.


" Jangan ! " sergah Ami. Ia memegang tangan Bastian yang hendak beranjak. Bastian membalikkan badan dan memegang bahu Ami, kedua netranya menghujam fokus istrinya.


" Kenapa ? sampai kapan kita akan main kucing kucingan Mi..mau tidak mau mami harus terima kalau kita sudah nikah " keluh Bastian. ia melihat mata itu sudah berkaca kaca sebentar lagi akan turun hujan dan benar saja, bulir hangat itu seketika meleleh.


" aku takut mami kenapa napa kak, aku ini hanya wanita mis..."


" Sssst...sudah jangan dilanjutkan, aku ga punya permen untuk menghiburmu.." Bastian meraih tubuh Ami ke dalam dekapannya.


" Aku bukan anak kecil.." rengek Ami. Bastian tersenyum.


" Nanti malam Amira ulang tahun, mungkin disana ada badut " Bastian terkekeh. Ami mencubit pinggang Bastian.


" Jangan mancing mancing sayang, kita mau pulang" Ami membelalakkan mata dan mengurai pelukan.


Bastian memperbolehkan Ami untuk tinggal di rumah mungilnya. Benar saja, Bastian mulai menyadari kalau ibunya mengirim mata mata untuk menguntitnya. Saat ia tengah menghadiri pesta ulang tahun Amira. Mami menghubunginya dan menanyakan kenapa tidak pulang ke apartemen.


Sebenarnya Ami juga diundang dalam pesta ulang tahun Amira tapi Bastian melarangnya. Bastian tak ingin Ami mendengar kisah cinta ia dan Amira yang akan diungkit teman temannya. istrinya itu pasti akan mendiamkannya lagi dan itu tidak baik untuk junior yang akhir akhir ini suka minta jatah.


Tapi Bastian lupa kalau Amira punya medsos yang terhubung dengan medsos Ami karena mereka berteman di sana.


Malam itu Amira memberikan suapan pertamanya pada Bastian dan teman temannya mendesaknya untuk mengajak Amira berdansa.

__ADS_1


puluhan komen menjejal dinding medsos Amira yang sekarang di pelototi Ami.


Cieee..CLBK...diam diam ya


ini dia real mantan tapi menikah


best couple deh.


 O..jadi ini maksud babang tamvan tak mengajaknya ikut ke pesta Amira, rutuk Ami.


Ia mengirim pesan yang sangat menyentuh.


[ tega kakak menari di atas lukaku ]


Bastian menepuk jidatnya saat membaca pesan istrinya.


[ Bukan begitu kenyataannya sayang, kamu tetap di hatiku ]


[ sayang...sayang..pala lu ] dengan puluhan emot kepala bertanduk bersamaan dikirim vidio ia tengah berdansa dengan Amira.


notifikasi berdenting membuat junior terkulai lemas


[ don't touch me ! ]


Ketika Bastian bersiap pulang, Jojo mengirimkan vidio. dalam rekaman tersebut ia melihat ibunya mendatangi rumah Ami. Bastian mengepalkan tangannya mendengar setiap ucapan maminya yang pasti menyakiti istrinya. wajah pias Ami tak membalas sedikitpun.


" Dengar Ami, anak saya Bastian saya besarkan dengan baik dan sekarang ia sudah menduduki jabatan penting di perusahaan papinya, semua tentang dirinya akan dinilai rekan bisnisnya terutama soal pasangan. saya tidak ingin merendahkan kamu. tapi kamu taukan posisi kamu dan posisi Bastian ? Kalian berdua berbeda "


Bastian melihat anggukan getir Ami. Tak satu bantahan keluar dari bibirnya.


" Jika kamu butuh uang, sebutkan saja nominalnya asal jangan biarkan Bastian terhanyut dalam rasa yang kamu berikan "


Ami menolak sebuah cek yang diberikan Winda.


" Saya akan bersikap profesional Mi " ucap Ami yang merasakan hatinya berdenyut perih.


Bastian memaju motornya menuju rumah dan sesampai di rumah ia mendapati ibunya pulang dari suatu tempat.


Bastian masuk ke rumah dengan wajah kesal. Ia menunggu ibunya di ruang tamu.


" Mami, berhentilah mengatur hidupku. Aku bukan anak kecil lagi ! " hentak Bastian dengan suara bergetar. berkali kali ia menghela nafas kasar.


" Oo..jadi sekarang kamu sudah berani membentak mami, hebat betul perempuan itu mengajarkan putraku kurang ajar " balas Winda tak kalah sinis.


Bastian mengatur nafasnya, juga mengatur emosinya. Sikapnya hanya akan memojokkan Ami di mata ibunya padahal istrinya yang sekarang berbaring dengan air mata itu, esok pasti menyimpan lukanya dalam diam.


" Kenapa mami tak pernah bertanya apa yang membuat Bas bahagia ? dari kecil Bastian selalu mengikuti kemauan mami. sekarang boleh Bas memilih jalan hidup Bas sendiri ?bukankah mami yang mengajarkan Bas tak merendahkan manusia karena harta tapi kenapa mami lakukan itu pada Ami " tutur Bastian dengan memelas. air mata itu luruh juga dari sudut matanya.


Winda tertegun, setelah beranjak dewasa, baru kali ini ia melihat putranya menangis. seberapa istimewa asistennya itu hingga putranya begitu terpikat padanya.

__ADS_1


Bastian mencoba menghubungi Ami dan Ami sudah memblokir nomornya.


Sial !


__ADS_2