Asisten Special

Asisten Special
Aku nggak selingkuh !


__ADS_3

Ami kembali dengan secangkir kopi ditangannya, ketika meletakkan kopi di atas meja ia mengembangkan senyum. Meski tersenyum tapi senyum itu mengandung seringai.


Bastian bergerak mundur ketika mata itu menatapnya tajam.


" Silahkan di minum kopinya pak " ucap Ami manis tapi tatapannya tidak. Bastian bingung harus mulai dari mana, niat hati dia yang mau marah karena istrinya itu tiba tiba menghilang dan tak bisa dihubungi. tapi kok jadi dia yang dikesali.


CEO itu duduk bersandar di kursi mengamati asistennya yang sedang berkutat dengan layar komputer.


" Kenapa nggak diminum kopinya pak, nggak saya kasih racun kok " ujar Ami tanpa menoleh, sudut matanya melihat atasannya itu mengangkat, mencium aroma kopi lalu meletakkan lagi, mau bicara tapi ragu.


 " Seharusnya suami selingkuh itu bagusnya dikasih sianida " geram Ami. Entah kenapa, ia tak bisa mengontrol emosinya pagi ini.


" Astaga ! kamu nuduh saya selingkuh ? "


Bastian mendekati meja Ami lalu tersenyum.


" Kemarin saya hanya mengkhawatirkan dia sebagai bawahan saya, jangan cemburu "


" Siapa lagi yang cemburu " bantah Ami, ia terus mengetik sebuah Wall kosong. Dari tadi dinding putih itu dipenuhi oleh kalimat. Bapak nyebeliiiin banget banget..! kemarin nyuekin saya..sakit lo.pak di selingkuhi..dasar playboy cap kadal


" Bapak khawatirkan dia tapi nggak mikirin saya " gumam Ami pelan tapi Bastian bisa mendengarnya dengan baik. Ia mensejajarkan kepalanya dengan kepala asistennya.


" Coba lihat mata saya Mi, semalam saya nggak bisa tidur karna terus nunggu kabar dari Jojo dan saya juga belum makan dari semalam karna mikirin kamu " Bastian meraih dagu Ami, menahannya hingga fokus mereka saling menatap.


Ami menggigit bibirnya, ia mulai tersentuh oleh lingkaran hitam dibawah mata itu.


" Jangan menggoda saya " bisik Bastian hingga Ami tersadar dengan apa yang tangannya lakukan, ia menyentuh pipi Bastian .


Ups ! ia menarik tangannya dan menunduk malu.


" Saya mau terus terang sama mami " ucap Bastian serius, ia mengitari meja Ami dengan tangan di saku celana.


Tiba tiba bayangan Winda pingsan melesat dalam kepala Ami.


" Jangan pak, nanti bu Winda shock " sontak Ami yang tiba tiba sudah berdiri di depan Bastian.


" Cepat atau lambat mami harus tahu kalau kita sudah menikah " ujar Bastian tenang, Ami malah panik.


" Pak, saya takut bu Winda ngamuk. Saya nggak ingin merusak hubungan bapak sama ibu bapak "


" Nanti kita bahas itu, tolong print surat yang saya minta kemarin " titah Bastian saat kembali ke mejanya.


Ami kembali ke layar komputer. pikirannya yang kalut karna memikirkan reaksi Winda membuatnya tidak fokus dengan file yang akan diprint.


" Cepat mi.." perintah Bastian lagi, bersiap untuk meetingnnya pagi ini.


Ami menyerahkan kertas yang keluar dari mesin printer tanpa membaca. Bastian yang menerima membaca kalimat demi kalimat dengan mata membulat.

__ADS_1


" Ami, sudah saya bilang saya nggak selingkuh sayaang, saya bukan playboy cap kadal. ralat, tulis saya ngangenin bukan nyebelin "


Ami menarik kertas itu dan menepuknya ke jidat. Reaksi wanita yang melahirkan suaminya itu bak bom waktu bagi Ami, jika pernikahan mereka terbongkar. alamat ia harus di depak dari kantor dan dari Bastian.


Ami kembali menggigit bibirnya.


" Jangan menggoda saya, kamu tahukan saya ingin "


Cup !


Ami merasakan pipinya basah, bau aroma kopi singgah di hidung.


" Malam ini " bisikan lirih itu membuat bulu kuduk Ami berdiri.


Ami menelan ludahnya.


Ketika Bastian membuka pintu, maminya menyerobot masuk.


" Mami mau bicara sama kamu " ucap Winda dengan wajah tegang.


" Maaf mi, aku ada meeting pagi ini. Nanti malam Bas pulang. sekalian ada hal penting yang mau Bastian bicarakan " Bastian mengambil tangan ibunya dan mencium punggung wanita paruh baya itu.


" Mami boleh minta bantuan Ami hari ini, Nana butuh orang untuk mempersiapkan pertunangan kalian "


Bastian menghentikan langkahnya meraih gagang pintu. Ia menoleh pada ibunya, Wajahnya mengeras namun tak berucap apapun.


Bastian tak menanggapi, ia melangkah lebar keluar pintu.


Ami merasa kerongkongannya tercekat, kemarin ia punya prasangka saja sudah membuat hatinya sangat sakit, apalagi jika ia sampai melihat Bastian bersanding dengan wanita lain, sungguh hatinya tak rela.


" Ayo mi, nanti kamu pilihkan dekorasi yang bagus untuk pertunangan Bastian dan Nana " ajak Winda, Ami hanya mengangguk sambil mengungkai senyum. Terpaksa.


Winda mengajak Ami ke sebuah Wedding Organizer, sebelumnya mereka menjemput Nana di kampus.


" Dekorasi pakai bunga lili ini baguskan Mi ?" tanya Winda saat pegawai WO memperlihatkan dekorasi acara pertunangan. Ami mengangguk, sekali lagi terpaksa tersenyum.


" Bagus bu, yang pakai mawar putih juga bagus " ucap Ami seiring hatinya serasa ditikam belati saat melihat senyum bahagia Nana.


" Ami.., ah kamu ini sudah berapa kali mami bilang jangan panggil bu lagi, panggil mami, Bastian sudah menganggap kamu kaya adiknya sendiri "


Ami menelan ludah, apakah hanya sebatas itu Winda memperbolehkan rasa di hati Bastian untuknya. hanya adik angkat.


Ami membantu Nana memilih gaun yang cantik untuk dikenakan di hari pertunangan.


" Kamu cantik sayang, Bastian itu sebenarnya suka sama kamu tapi pura pura cuek " puji Winda saat Nana keluar dari kamar ganti.


Ami mencari tempat agar bisa meredakan nafasnya yang sesak. Begini ya hidup berpura pura baik baik saja di depan semua orang. Padahal hati hancur lebur.

__ADS_1


Muna banget dirinya, sangat mudah bilang Saya ikhlaskan bapak demi kebahagiaan bu Winda. Ikhlas itu mudah diucapkan tapi sulit dilakukan Ami, apalagi ini urusan hati.


Hati suka nuntut lebih


" Kamu ga pa pa Mi, muka kamu pucat " Ami terkejut melihat Nana sudah berdiri didepannya.


" Nggak apa apa, capek aja " bohong Ami.


Saat mengantarkan Ami balik ke kantor, Ami harus tabah mendengarkan nasehat Winda pada Nana saat ia menjadi istri Bastian nanti.


Seringkali ditingkahi tawa renyah calon ibu mertua dan menantu itu ketika bicara soal kebiasaan Bastian.


dan Ami. harus ikut tersenyum, nyengir padahal kerongkongannya sangat pahit.


" Kamu harus bisa bujuk Bastian ya Mi, jangan sampai pertunangan ini batal mami akan malu sama teman teman mami jika itu terjadi " bisik Winda setelah mereka salam cupika cupiki.


Ami harus mengangguk dan berkata seriang mungkin.


" Ya..mi, Ami usahakan "


Usaha untuk menghancurkan hati sendiri.


Ami terkejut ketika ada yang menepuk bahunya.


" Masuk !" titahnya sambil menunjuk pintu mobil.


" Tapi saya masih ada kerjaan sama mas Bagas pak " protes Ami. tapi laki laki itu tak peduli. ia membuka pintu mobil dan memaksa Ami masuk.


" Nanti virtual saja, atau kirim saja lewat email, kamu ikut saya temui klien "


Ami tak protes lagi. Ia hanya jadi pendengar yang baik ketika dua sahabat itu berdebat dalam hp.


" Bro.., gue nggak bisa kerja virtual sama Ami. dia harus ada dekat gue, kadang kita bisa ngerti satu sama lain untuk membuat design animasi ini hanya dengan saling tatap " protes Bagas saat diberi tahu kalau Ami tak bisa menemuinya untuk satu dan lain hal.


" Modus "


" lama lama gue lihat, dia bukan asisten lagi tapi udah lu jadiin istri. gue colek dikit lu marah "


" Emang "


" Trus, Amira apa kabar ? masih di hati lu kan, kemarin lu khawatir banget takut doi koit ciee..lu gengsi aja kan bilang masih cinta "


Ami mendengus. Memalingkan wajah saat Bastian menoleh padanya.


Ceklek ! panggilan terputus.


" Sumpah Mi, aku nggak selingkuh " Bastian mengangkat dua jari membentuk huruf V.

__ADS_1


__ADS_2