Asisten Special

Asisten Special
melawan badai gosip


__ADS_3

Ami berjalan dengan santai menuju ruangan Bastian. Hari ini rayuan apa lagi yang di lancarkan sang bos. Ami merasakan perutnya kembang kempis setiap kali Bastian melancarkan aksinya. maksudnya apa coba ?


ia mulai risih dengan tatapan para karyawan. Ami menyenyumi mereka, ada yang membalas, ada yang acuh, ada yang menatap sinis.


ia mampir di pantry untuk membuat teh.


" Ternyata pak Bastian pacaran sama asisten barunya, mata pak Bas kayanya katarak deh..masa bisa kesemsem sama cewek model gitu, semua wanita yang dibawa ibunya ditolak padahal bodi mereka aduhai, tangannya bak model, ada yang salah dengan otak pak Bas kali. Lidya yang karyawan paling cantik di cueki aja sama pak Bas "


Ami menahan gejolak hatinya, ia menyapa salah satu OB yang telah dikenalnya.


" kemarin gue lihat pak Bas romantis banget sama tu cewek, dasar cewek belagu bukannya senang malah pasang tampak jutek "


Ami menuangkan air panas, hatinya mungkin lebih panas dari air yang ia tuangkan ke teko.


hp Ami berdering, gosip tentang dirinya semakin gencar. ruangan pantry semakin riuh dengan tawa karyawan menertawakan sosok asisten yang nggak pantes mendampingi Bastian. padahal orang yang mereka tertawakan ada didekat mereka.


Ami mengangkat telpon dari Bastian. Ami lebih dulu bicara.


" Jangan coba coba panggil saya sayang lagi, apa lagi honey atau istriku. cukup panggil Ami pak saya bukan siapa siapa bapak " teriak Ami hingga semua karyawan yang ada di pantry mendongak padanya.

__ADS_1


" Kamu marah mi ? saya makin suka kalau kamu marah makin cantik "


hp Ami yang masih abal abal mengeluarkan suara cukup didengar para karyawan yang ada di pantry.


" Bikin kan saya kopi dong, yang manis kaya kamu "


Ami menutup speakernya agar rayuan itu tidak semakin membuat spekulasi kalau ia dukun sakti.


" Ini nggak seperti kalian pikirkan, saya sama pak Bastian itu teman lama, jadi kami biasa bercanda " sentak Ami hingga mereka kabur satu persatu.


Ami meletakkan gelas kopi ke depan bosnya dengan wajah kesal.


" Bapak harus tanggung jawab atas semua kekacauan ini " rutuk Ami sambil menghentakkan kakinya.


" Yaelah..ini pula nambah nambah masalah "


Bastian menyeruput kopinya dengan mengulum senyum lalu menarik senyum itu kembali.


" Kok ini pahit, kan saya bilang tadi bilang kopi manis kaya kamu Mi "

__ADS_1


" Cukup pak cukup, saya tidak tahan dengan rayuan bapak lagi. disini saya mau kerja, mau cari cuan untuk sesuap nasi, untuk nyicil rumah sama bantu adik saya yang masih kuliah, saya nggak mau macam macam apalagi sampai macari bos "


Hening, Ami beranjak ke mejanya memeriksa pekerjaan yang sudah disiapkan Bastian.


Denis menyenggol bahu Bastian yang memperhatikan Ami yang sedang bekerja sambil mengusap matanya.


" Dia nangis Bas " bisik Deni, Bastian tertegun melihat mata Ami yang basah.


" Mereka menghina saya pak, mereka bilang saya nggak pantes jadi pacar bapak, saya jelek bapak ganteng. mereka bilang bapak katarak " Deni yang ingin tertawa dicubit Bastian. Deni membekap mulutnya sendiri.


" Saya nggak pernah nyakiti mereka, kok mereka tega nyakiti saya, ngata ngatain saya, meski penampilan saya cupu, otak saya suhu, boleh di adu pak "


Deni menunjukan jempolnya pada Ami.


" apa perlu mereka saya pecat semua biar kamu senang ? "


Ami yang ingin curhat lagi menoleh pada dua lelaki yang menatapnya simpati. Denis sudah tidak bisa menahan tawanya.


" Nggak gitu juga kali pak ! " geram Ami, ia membentur benturkan kepalanya ke meja.

__ADS_1


" Jangan Mi, tar lu jadi bego "


" O..iya, udah cupu bego lagi, lengkap penderitaan " ujar Ami pada dirinya sendiri. Deni tertawa sampai muncrat.


__ADS_2