
Peluncuran proyek yang akan dikerjakan Bastian segera dimulai, karena ini adalah Perumahan mewah. butuh persiapan yang sangat matang dalam pengerjaan pemasarannya, keberhasilan virtual Ami saat peluncuran perumahan Bastian membuat Hendra meminta Bastian memindahkan Ami dibagian marketing.
Hendra sudah merekrut ahli IT untuk pengerjaan membuat animasi tiga demensi. yaitu Bagas Hermawan.
sementara untuk design intetior Hendra merekrut ahli interior yaitu wanita yang sangat dikenal Bastian. Amira Damayanti.
" Bagas akan menjadi partner Amina Rahayu sebagai leader marketing kita dan kamu Bastian, Amira akan mendampingi kamu dalam membuat konsep interior " ucap Hendra saat rapat dimulai. Bastian seperti terhenyak dari kursinya ketika Bagas masuk ke ruang meeting dan menyenyumi istrinya.
Begitupun Ami, tubuhnya terasa bergetar saat wajah cantik Amira muncul dari balik pintu. Bagas duduk disamping Ami begitupun Amira duduk disamping Bastian.
" silahkan kalian baca project plan yang ada di meja masing masing dan silahkan kalian diskusikan dengan partner masing masing, baiklah meeting ini saya tutup. silahkan kerahkan kemampuan terbaik kalian " Hendra mengakhiri meeting.
Ami membalas tatapan Bastian saat mereka keluar ruangan.
" pa kabar Mi ? " sapa Bagas ketika mereka berempat akan berpisah di lift gedung. Amina harus naik ke lantai atas bersama Bagas.
" Baik mas " jawab Ami singkat. Saat pintu lift terbuka Bastian melihat Bagas menarik tangan Ami. ia berdecak yang membuat Amira heran.
" Kenapa babe ? "
" Nggak apa apa " jawab Bastian sambil mempergegas jalannya.
Amira mengibas rambutnya saat masuk ruangan Bastian, memperlihatkan pesonanya pada mantan yang pernah ia tinggalkan. Amira melipat bibirnya, meredam rasa kecewa karna dari tadi Bastian tak memberi perhatian padanya.
" Bas..bisa kita bicara hal pribadi dulu sebelum bekerja ?" Amira menahan tangan Bastian, saat laki laki tampan itu ingin meraih map di rak atas. pintu diketuk dari luar dan Amira yang menjawab.
" masuk ! "
Ami masuk dan langsung melihat adegan romantis di depannya. Tangan Bastian sedang memegang tangan Amira, dalam gerakan mengambil map diatas rak. ketika melihat Ami reflek tangan itu terlepas.
" Maaf pak, ada yang mau saya ambil di meja saya " ucap Ami sambil menunduk hormat pada Amira.
" Senang berjumpa dengan kak Amira lagi " ucap Ami sambil mengulurkan tangannya.
" Ya..Ami, saya juga. ternyata kamu teman curhat saya yang juga saya rindukan selain Bastian " sambut Amira cerah. Ami merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya saat melihat Amira melirik Bastian dengan mata genitnya.
" kapan kapan kita cerita lagi ya Mi ? "
" Baik kak, kakak hubungi saja saya, kapan pun saya pasti menyediakan waktu untuk kakak"
Ami melihat Bastian sekilas, ada yang terasa perih dalam hatinya. Sejak mereka kembali dari kampung halaman Ami, belum sekalipun Bastian menghubunginya.
Ah..kenapa aku berharap. Ami meremas dadanya saat berbalik membuka pintu.
__ADS_1
" Ami..tunggu ! " panggil Bastian tiba tiba, Ami menghentikan langkahnya. perih itu seakan sirna saat Bastian memanggilnya. Tapi..
" Mami minta kamu kerumah sehabis pulang kantor, katanya ingin membicarakan pertunangan saya "
deg ! hatinya seakan dihantam palu gada. Ami merasakan sakit luar biasa saat mendengar perkataan Bastian, apakah suaminya itu luluh dengan permintaan ibunya.
Amira terduduk lemas di sofa saat mendengar ucapan Bastian, setelah kembali dari studinya di luar negri. Amira ingin merebut hati Bastian lagi yang pernah begitu tergila gila padanya.
" Ya mas..eh pak " Ami tergugup. ia segera berbalik menuju handel pintu.
" Bas..apa kau ingin membalasku ? " sentak Amira yang masih tertangkap telinga Ami. selanjutnya ia tidak ingin mendengar percakapan mantan kekasih itu.
Ami pergi ke toilet, membasuh wajahnya yag terasa gerah.
" Ya..Tuhan, apa yang terjadi padaku, kenapa rasanya sesakit ini " ucap Ami dalam hati. Mereka baru sampai kemarin tapi Bastian belum menghubunginya. Saat bertemu di kantor Bastian juga tidak bicara apa apa selain seputar pekerjaan.
" Pak Bastian sama bu Amira sangat serasi ya, kabarnya mereka mantan " Ami mendengar dua karyawan saling berbisik.
Ami keluar dari toilet, ia tak mengenal dua karyawati itu karena ia dan Bastian baru menempati kantor baru, tapi rupanya Bastian pernah bekerja di tempat ini sebelum dia memutuskan pergi keluar negri.
Ami sengaja mendengar bisik bisik dua karyawati itu. mereka membahas asisten Bastian, rupanya mereka tidak mengenal Amina Rahayu.
" kasihan asisten yang kepedean dicem cem saya si bos, nggak taunya si bos cuma main main sama dia " keduanya terkikik. Ami menoleh kearah toilet, dasar mulut tukang gosip umpatnya ketika ia berbalik ia merasa menubruk seseorang.
" sini " ucap orang itu sambil menarik Ami ke pantry.
" kenapa kamu tidak angkat telpon saya, kamu marah sama saya ? " Ami mendongakkan kepala mulai menyadari siapa yang bicara.
" Maaf pak, hp saya ketinggalan di rumah "
Ami menunduk saat Bastian menatap bola matanya.
" Eh..kak ! " sapa seorang OB yang baru masuk. Bastian tidak jadi bicara. ia pura pura membuat kopi.
" pak Bastian kenapa bikin kopi sendiri, kenapa ga minta saya yang bikinkan " tegur OB itu ketika Bastian mengangkat kopi yang sudah jadi ia seduh.
" lagi pengen bikin sendiri " Bastian berlalu keluar dan mendengar dering hp dari saku blazer Ami. ia melihat Ami mengangkatnya. Bastian mendengus kesal.
" Dasar pembohong ! " umpatnya.
" siapa yang bohong pak ? " tanya OB yang masih muda itu. Ami tertunduk. ia tahu Bastian mengumpatinya.
" ini, pabrik kopinya sudah bohong bilang kopinya paling enak "
__ADS_1
" Ke ruangan saya sekarang Amina Rahayu " ucap Bastian setelah memberikan Ami tatapan tajamnya.
" baik pak " cicit Ami.
ia mengekori Bastian, sekarang ia bingung Bagas terus menghubunginya minta makan siang bersama.
Ia tidak bohong, Hpnya memang ketinggalan dirumah. tadi Bagas yang meminjamkan hp untuknya agar rekan kerjanya itu bisa menghubunginya.
Bastian mengunci pintu saat Ami sudah masuk ke ruangannya. Peristiwa malam pertama mereka membuat Bastian ingin selalu menyentuh asistennya itu, benar kata Deni. ia termakan rayuannya sendiri.
Ami terkejut saat Bastian memeluknya dari belakang.
" Kamu marah waktu lihat saya sama Amira ? " bisik Bastian. Ami mencoba mengurai pelukan Bastian. tapi tangan Bastian begitu kuat mengapit pinggangnya.
" Pak...lepaskan saya, nanti ada yang lihat. mereka akan mikir aneh aneh tentang saya " pinta Ami memelas. ia masih berusaha mengurai pelukan Bastian. Tapi Bastian tak mau melepaskannya.
" Kamu sudah jadi istri saya Mi, saya akan bilang sama mami " ucap Bastian sambil mengecup leher Ami.
" Jangan pak ! jangan ! " jerit Ami, sekuat tenaga ia berusaha terlepas dari pelukan Bastian.
" Kenapa ? kamu pikir apa saya main main dengan pernikahan kita. saya akan menjaga kamu seperti janji saya pada ibumu "
Bastian mencoba meraih tubuh Ami lagi, tapi Ami berusaha menjauh.
" Pak, saya mohon jangan membuat bu Winda kecewa " Ami menangkupkan tangan di dada.
Hp Ami berdering dari saku blazernya. Bastian meraih itu dari saku Ami. ia melihat nama Bagas tertera di layar.
" itu hp Bagas. bukan hp saya , dia minta saya pakai " jelas Ami tanpa diminta Bastian.Bastian mengangkat panggilan itu.
" sori Gas, Ami masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan sama gue " Bastian menutup panggilan tanpa menunggu Bagas bicara.
pintu diketuk dari luar, Bagas meminta Ami membuka pintu.
" Siang bu, kak Nana " sapa Ami ketika tahu siapa yang masuk.
Bastian menggaruk tengkuk. saat Nana dipersilahkan duduk Amira masuk.
" Bas sebentar lagi kita akan ke lokasi suplier " ucap Amira tanpa menyadari kekerasan Winda.
" Eh..siapa kamu ngatur ngatur anak saya ! " bentak Winda garang. Amira terkejut dan menoleh ke arah sofa, ia melihat ibu Bagas dan seorang wanita cantik.
" dia sedang ada tamu, CALON ISTRINYA ! " ujar Winda dengan penekanan yang kuat pada kata calon istri.
__ADS_1
Amira menarik tangan Ami keluar ruangan Bastian.