Asisten Special

Asisten Special
Buatlah ibumu bahagia


__ADS_3

Ami mengusap bibirnya yang basah dan merapikan penampilannya yang kacau akibat ulah Bastian. Ia jadi ingat tujuannya menemui Bastian, untuk mengembalikan kartu ATM yang is simpan di saku blazer.


Ia pergi ke kamar mandi. merapikan riasan yang berantakan. Ami mengutuk dirinya yang terlihat juga menikmati sentuhan bibir Bastian di bibirnya, memang tak ada dosa untuk mereka lakukan, tapi Ami merasa berdosa pada Winda yang jelas menginginkan menantu yang bukan sepertinya.


Ami terkejut saat ingin keluar dari toilet yang ada di ruangan Bastian, ia melihat Winda sudah duduk di sofa. Ia tampak tengah terlihat sendu.


" Mami sudah tak punya cara lagi untuk memaksamu menikah Bas. Sekali lagi mami ingin kamu menikah dengan Nana, posisi kamu akan kuat di kantor papamu karna ayah Nana adalah salah satu dewan direksi "


Ami mundur ketika satu kalimat itu meluncur di bibir Winda.


" Mami ga suka mendengar gosip kamu dan Amina. cukup dia sebagai asistenmu saja "


Tak lama Winda pergi, Ami keluar dari toilet dan menghels nafas. Betul sekali, ia harus keluar dari dunia mimpi. caranya ia harus bersikap dingin pada laki laki yang sedang duduk bertopang dagu itu.


" Maaf pak, saya harus mengembalikan ini " Ami menyodorkan kartu ATM ke hadapan Bastian, laki laki itu terkejut dan menatap manik mata Ami.


" Ini adalah kewajiban saya sebagai suami kamu Mi " protes Bastian melihat pemberiannya dikembalikan.


" Saya mohon pak, kita harus mengakhiri ini, bapak dengar sendiri kan kalau bu Winda mendengar gosip bapak dan saya saja ia tak sudi. apalagi melihat kenyataan kita sudah nikah. Jangan kecewakan bu Winda " ujar Ami membalas tatapan Bastian, ia berharap Bastian mengerti apa yang dia rasakan.


" Saya sudah menyentuh kamu Mi, saya bertanggung jawab soal itu "


" Pak, saya sudah ikhlaskan apa yang terjadi, yang penting sekarang yang harus bapak lakukan adalah membuat bu Winda bahagia " tegas Ami sambil meletakkan kartu ATM diatas meja Bastian tak mau menerima ATM itu dikembalikan.


Ami keluar dengan perasaan perih, ia mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang hatinya ingin. Memungkiri keinginan hati yang berbenturan dengan logika adalah hal yang begitu menyakitkan tapi tidak ada pilihan lain. Ami memilih kedalam rencananya semula bekerja dengan giat untuk membantu kuliah adiknya dan berusaha melupakan pernikahan tak terduga itu.


*******


" Kenapa lo ? " tanya Deni saat menemani Bagas menghabiskan jam istirahat di kafe. Bagas tak menjawab, ia hanya memutar mutar kartu ATM yang tadi dikembalikan Amina.

__ADS_1


" dia membuat gue semakin suka " ucap Bastian sambil memandang ATMnya.


" Siapa ? " tanya Deni sambil melipat kemejanya. dari arah pintu ia melihat Bastian datang bersama Amira dan Amina berjalan dibelakangnya.


Amina mencari tempat duduk sendiri. Amira mengajak Bastian gabung dengan Deni dan Bagas.


" Yuk..babe " ajak Amira sambil menggandeng tangan Bastian. Laki laki itu menoleh kebelakang, matanya mengekori kemana Ami mencari tempat duduk.


Bastian duduk di sebelah Bagas sementara Amira duduk disebelah Deni. mereka berempat memang bersahabat sejak SMA. Sejak kuliah Bagas sudah berpacaran dengan Nana, sayang hubungan mereka terhalang restu orangtua.


Ketiga laki laki itu sudah saling berjanji jika salah satu mereka menyukai seseorang, maka yang lain tidak boleh merebutnya. konsekuensi itu mereka jalani dengan baik. Makanya saat Bastian dijodohkan dengan Nana, Bastian terus mengelak dari perjodohan itu meski sekarang mereka sepakat mengakhiri hubungan kasih itu.


" siapa yang buat lo semakin suka " tanya Deni, sebenarnya ia sudah tahu siapa yang dimaksud Bagas, tapi sengaja untuk memancing reaksi CEO di depannya.


" Amina bro..gila, gue nggak bisa tidak tidur semalaman karna mikirin tu cewek, gue kira gue baik baik saja setelah kami putus, serius gue penasaran sama dia " urai Bastian dengan penuh ekspresi.


Awalnya Bastian bersikap biasa saja. Ia meneguk segelas kopi pahit yang ia pesan.


" Bukannya itu Hans ? " tanya Amira meminta persetujuan. ketiganya mengangguk.


" Saingan lu berat Gas, Dia itu CEO perusahaan otomotif, kantongnya tebal " bisik Amira yang didengar empat sahabat itu.


" Ami bukan seperti itu " bantah Bastian tiba tiba. Ketiga sahabatnya menatap Bastian heran, bagaimana Bastian yakin kalau Ami tidak suka memanfaatkan orang lain.


" lu kenal amat sama Amina, padahal dia baru beberapa bulan ini jadi asisten lu Bas "


" Gue udah kenal Ami dua tahun lalu " Ujar Bastian sambil menoleh ke arah istrinya yang terlihat tersenyum kepada laki laki yang tadi menghampiri Ami. entah kenapa ia tak suka itu.


" Hanya sekedar kenal ? " tanya Amira yang menyimpan kecemasan, sebenarnya ia selalu memperhatikan cara Bastian melihat Ami. ada binar yang berbeda ketika wanita sederhana itu ada didekat Bastian.

__ADS_1


" bukan sekedar kenal lagi, sudah suami istri " sambar Deni disambut mata bulat Bagas. ia tertawa terbahak ketika Bagas dan Amira mendelik padanya. Bastian menatap tajam Deni, mata itu berkata, ' jangan bikin heboh sekarang '


" lu jangan khianati gue Bas, dulu waktu gue jalan sama Nana dan Nana bilang dia menerima perjodohannya sama lu, gue terima tapi kalau lu berani rebut Ami dari gue, lu harus terima konsekuensi kesepakatan kita " ujar Bagas dengan tenang tapi dengan ujung kalimat penuh penekanan.


Deni menelan ludah, sebenarnya itu sudah terjadi, tapi belum muncul saja dipermukaan.


" Jangan kuatir Gas. gue akan lelehkan hati Bastian kembali " timpal Amira penuh percaya diri. Deni hanya tersenyum miring, wanita disampingnya, entah apa yang dilakukannya jika tahu Bastian telah menikahi gadis sederhana itu.


Mereka kembali ke kantor masing masing,


" coba kasih pendapat, mungkin nggak cewek yang tampangnya lugu itu akan one stand night with the bos ? "


Perkataan Amira berhasil membuat Bastian tersedak.


" jaga perkataan kamu Ra, Ami gadis baik baik !" sentak Bastian sarkas memubuat mantan kekasihnya itu bungkam. ia pamit ke toilet.


Bagas tertegun, ia mencermati setiap sikap Bastian saat Ami dipojokkan.


Ketika mereka menoleh, Ia melihat Ami sudah beranjak dari mejanya berjalan sendiri.


" gue susul Ami ' ucap Bagas buru buru. Bastian yang reflek ingin ikut berdiri ditahan Deni.


" sabar, akan ada waktu yang tepat untuk memberi tahu semua orang kalau Ami sudah jadi istri lu "


Bastian mengeram sendiri, ia memukul meja dan mengusap mukanya frustasi.


" dia nggak ingin gue nyakiti mami dan lu mesti ngerasain bingungnya gue sekarang, Mama nggak ingin gosip gue sama Ami jadi kenyataan "


" Mama ingin gue nikah sama Nana secepatnya "

__ADS_1


Amira yang baru sampai mendengar jelas apa yang diucapkan Bastian. ia merasakan lututnya goyah, mungkinkah gadis sombong itu yang akan mendapatkan hidup Bastian ?


__ADS_2