Asisten Special

Asisten Special
apa masih mencintainya ?


__ADS_3

Ami mengaduk mie instantnya dengan malas. Berkali kali melih melihat ponsel. Bastian tak mengabarinya akan pulang atau tidak. Ami tertidur di sofa dan terbangun tengah malam Sudah jam 3 dini hari tapi Bastian belum juga pulang. Ami beranjak ke kamar, ketika mencapai pintu. Ia berhenti karna melihat sebuah kardus.


Ami melihat catatan diatas kardus itu bertuliskan, buku buku kak Ami. Ini pasti Jojo yang mengirimkan buku buku itu karna ia minta dikirimkan buku buku


Ami mengeluarkan satu persatu dan menyusunnya di rak yang sudah disiapkan Bastian, ia melihat sebuah notebook tipis berwarna biru. Ami meraih notebook yang telah menjadi sebuah diary itu.


Ami membuka satu persatu halaman dengan berlahan.


Dear Amira, my love.


Hari ini sangat cerah, tapi kau tahu hatiku begitu mendung. Tak ada yang bisa ku perbuat lagi untuk meyakinkanmu bahwa aku sangat mencintaimu.


Aku ingin kau bertahan akan badai yang kita hadapi ini. Aku berharap kau mengubah keputusanmu untuk studimu di luar negri. Aku baru menerima tawaran papi untuk memimpin sebuah perusahaan, meski kecil tapi bisa menjadi tempat aku belajar banyak.


Aku ingin kau menjadi pendampingku. Wanita yang menemaniku hingga tua nanti.


Amira. Wanita berambut legam dan Bermata tajam.


Pulanglah..aku merindukanmu


I love you


Ami menutup diary itu dalam helaan nafas yang sangat dalam. Seluruh rongga dadanya seakan dihimpit jutaan ton benda terberat dibumi. Besi, baja atau apalah nama material yang memiliki massa paling besar di bumi tak sebanding dengan rasa bernama, terluka. berat, sungguh amat berat.


Kata kata Lala kembali muncul dalam benaknya.


' Sentuhan itu tanpa rasa, hanya pelampiasan '


Ami tertidur kembali dan terbangun saat Alarm menjerit jerit. Dengan tergesa Ami mandi dan berkemas untuk bersiap ke kantor. Ia melihat walk in closet milik Bastian, semua wardrobe pakaian kerja milik Bastian tersusun rapi. Ami meraih satu dasi yang tergantung di tempat yang memang disediakan untuk pajangan dasi. Ia tertegun dengan sebuah dasi rasanya ia pernah lihat, tapi dimana ? sudah lah tidak penting juga diingat. Ia meraih stelan blazer yang sudah disiapkan Bastian untuknya, sepertinya semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Bastian.


Ami terkejut ketika melihat layar hp, Winda menelponnya, ada apa gerangan pagi pagi ini menghubunginya.


" Haloo mi, selamat pagi "


" Pagi ! " jawaban pendek dan jutek, Ami menelan ludah. ada aura aura tidak enak bakal keluar dari bibir manis nyonya ini.


" Kamu tau dimana Bastian semalam ? " ini bertanya atau nuduh, Ami menggaruk kepala. Bilang tau, takut urusannya bakal panjang. bilang tidak takut dosa, sudah sering berdusta pada nyonya Hendra itu, bahkan sudah mengkhianatinya.


" Dia semalam di rumah sakit kan, menemani mantan yang berkhianat itu ? Ha ! "


' Tu tau ngapain nanya bun...' batin Ami. ia memutar bola mata malas dan menyentil Hp, pro banget ya mami ini soal omel mengomel.


" Ami..denger sih gitu mi, mereka rame rame nemenin Amira, nggak ada salahnya juga mi, mereka sohiban sejak lama "


" Kamu jangan sok tau ! " bentak Winda membuat Ami harus menjauhkan hp dari telinga.


" Maaf mi "


" Kenapa kamu minta maaf, bukan kamu juga yang salah " Alamaaak, Ami menepuk jidat. Tak terbayang bagaimana seandainya nyonya itu tau kalau Bastian menikah dengannya. Apakah dia bakal dicincang dengan kata kata pedas level himalaya.


" Ya sudah, kamu sekarang dimana ? "


" Di apartemen pak Bastian mi " jawaban jujur nan berbahaya.


" Ups..Canda mi, pagi pagi jangan marah marah mi, Mami pernah dengar lagu BCL, pernah muda "

__ADS_1


" cukup, sampai di kantor. Bilang sama Bastian mami butuh kamu untuk pilih pilih katering, ngerti ! "


" ngerti..."


Ceklek ! Ami membulatkan mulut dan meniup udara sepuasnya..fuiiih berasa baru keluar dari sauna.


Ami sampai di kantor dan terkejut melihat atasannya tengah tertidur di ruang kerjanya.


" Pak ! " Ami mengguncang pelan tubuh atasan sekaligus suaminya itu. Ia merasakan suhu tubuh Bastian panas.


" Ami..kamu sudah datang, kepala saya pusing sekali "


" Bapak demam "


Ami Menghubungi Deni untuk membawa Bastian pulang. Ketika Bastian masuk ke dalam mobil, Winda dan Nana datang. Tentu Bastian akan dibawa ke rumah Winda.


Ami di rumah mewah itu hanya bisa menonton bagaimana perempuan lain merawat suaminya.


Nana sangat telaten merawat Bastian, ia membawa rekan dokternya memeriksa Bastian. Ami hanya bisa menggigit kukunya saat Nana membantu Bastian minum.


" Kamu lihat mi, Nana itu calon istri yang baik, Bastian pasti lama lama bakal luluh " ujar Winda sumringah.


Ami untuk kesekian kalinya harus memaksakan senyum.


" Kok bengong, sini kamu bantuin mami pilih pilih katering "


Terpaksa kali ini ia kembali berada di situasi yang tidak diinginkan.


" Mi..." panggil Bastian, ibu dan menantu rahasia itu menoleh.


Winda menatap anak dan asistennya bergantian.


" Mi..saya mau membahas pekerjaan disini, kalau ada orang lain saya tidak fokus " ucap Bastian memaksa ibu dan Nana meninggalkannya.


" Mas, kamu jangan kerja dulu, kondisi kamu masih lemah " saran Nana seraya meletakkan tangannya dikening Bastian. Ami mengigit bibirnya, ada perasaan tak rela saat suaminya disentuh orang lain.


Setelah tinggal mereka berdua, Ami masih berdiri di dekat pintu.


" Kunci pintunya " titah Bastian membuat Ami ternganga.


" Ngapain pak " ujar Ami dengan suara bisikan.


" Kunci saja "


Ami terpaksa melakukan perintah berbahaya itu.


" Sini, temani saya tidur " Ami berjalan pelan mendekati atasannya, yang terlihat sedang mupeng.


" Pak, please macam macamnya jangan disini " ujar Ami cemas, ia sudah mengerti maksud lirikan itu. Ami mengigit bibirnya, tentu menambah godaan untuk melakukan hal yang iya iya dimata Bastian.


Bastian tersenyum, senang melihat asistennya itu dalam mode panik. Bukan berhenti, ia makin menjadi.


" Gimana kalau kita lanjutkan hal yang tertunda kemarin " ucap Bastian sambil mengusap bibir Ami. Kesalnya Ami sudah di ubun ubun. bisa bisanya bosnya meminta hal yang dia juga ingin di tempat berbahaya.


" Auu ! " jerit Bastian, kepalanya dipukul pakai map.

__ADS_1


" Bapak mau saya di sate bu Winda, jangan macam macam " bisik Ami.


" Kenapa Bas ? " tanya Winda yang mendengar jeritan Bastian kebetulan ia melindungi kamar putranya.


" Nggak apa apa mi, Bas tiba tiba jatuh mau ke kamar mandi " teriak Bastian dengan senyum di kulum.


" Ooo..hati hati " balas Winda kemudian meninggalkan kamar Bastian.


Rumah itu terlalu besar, jadi beberapa langkah meninggalkan kamar Bastian, tak ada seorangpun yang akan tau apa yang terjadi di dalam kamar.


" Pak, sebaiknya saya pulang saja, saya nggak nyaman, bapak sebenarnya mau ngapain sih pakai ngajak saya ikut kesini "


Bastian melipat tangan di dada dan memalingkan wajah. ia mendengus.


" Jadi kamu nggak mau ngerawat suami yang sakit. waktu kamu sakit saya jagain dengan baik " kesal Bastian. Ami menghempas tangannya ke kasur.


" Aduuh bapak, situasinya sekarang beda " Ami ikutan kesal.


" Kita sekarang di kandang macan ! "


" Kamu ngatain mami saya macan "


Ami mengangkat tangannya gaya macan ngamuk. Wajah kesalnya sudah tak karuan.


" lama lama saya terkam juga ni bapak "


" Buruan sayaaang " balas Bastian manja, seketika ia menarik tubuh Ami berbaring di dadanya bersamaan derit handel pintu yang ingin dibuka.


" kok di kunci ? " ujar suara dari luar. Suara Nana.


" Bastian kenapa pintunya dikunci, Nana mau ngasih obat untuk kamu "


Ami berusaha melepaskan diri dari pelukan Bastian tapi laki laki itu mengunci tubuhnya, sebuah kecupan mendarat di bibir Ami.


" Maaf mi, ada rahasia perusahaan yang ga boleh diketahui " ucap Bastian seraya mengurai pelukannya.


Ami merapikan dirinya sebelum membuka pintu, memandang kesal laki laki yang sedang menggaruk tengkuk sambil tersenyum.


Ami membuka pintu dan mempersilahkan Nana masuk.


" Mas obatnya " Nana mengulurkan beberapa butir obat. Bastian menerimanya dengan wajah datar.


Ami pura pura mengetik sesuatu di layar laptop yang masih off. Nana memperhatikan sesaat.


" Kamu masih jalan sama Bagas mi ? " tanya Nana tiba tiba. Ami menggeleng pelan dan melihat Bastian yang sekarang pasang tampang kesal.


" Dia itu laki laki yang baik lo mi, pantas jadi suami kamu, kenapa kalian putus ?' tanya Nana sambil menuangkan minuman untuk Bastian.


" Dia sudah pindah ke lain hati, Bagas orang ga jelas " Bastian yang menjawab.


" O..ya, siapa laki laki yang sudah memikat hati kamu Mi ? mami jadi ingin tahu " tanya Winda yang tiba tiba masuk.


Ami melihat Bastian ingin menjawab, sebuah notifikasi pesan datang secepat kilat.


[ Bapak kalau cerita sekarang, bapak ga bakal saya kasih jatah ! ]

__ADS_1


__ADS_2