
" Apa kamu sering ketemu Bagas ? " tanya Bastian saat menjelang tidur..
" Hanya beberapa kali, dan itu kebetulan kita ada di tempat yang sama " jawab Ami, Hatinya berdebar juga menjawab pertanyaan Bastian yang samar terkesan menuduh kalau ia dan Bagas bertemu secara sengaja.
" Kak.." panggil Ami ketika Bastian sudah memejamkan mata. Bastian membuka matanya dan menoleh.
Bastian mengusir gundah hatinya dan membuang segala prasangka kala menatap bening manik mata Ami.
" Tante Rahmi minta aku menggantikannya mengajar selama dia cuti. ada adik Bagas yang akan melahirkan "
Segala prasangka tadi yang sudah ia singkirkan kembali menyeruak lagi. Sampai saat ini mami belum bisa menerima Ami sebagai menantunya. Bastian mencoba kembali memanggil logikanya agar tak terjebak dalam prasangka.
" Kamu bosan di rumah ? " tanya Bastian lembut, ia meraih kepala istrinya dan menjadikan lengannya sebagai sandaran. sesaat mereka saling menatap. Bastian membelai pipi Ami, ia teringat bagaimana kemarahan Bagas saat mengetahui kalau mereka sudah menikah. Kecantikan Ami sangat natural, tanpa di poles make up pun ada aura yang membuat laki laki ingin menatapnya lebih lama. pantas saja ia selalu merasa khawatir jika Bagas ingin merebutnya kembali.
" Aku hanya ingin punya kegiatan berarti kak " ucap Ami sambil mendekatkan kepalanya di leher Bastian. Ami memejamkan matanya kala Bastian mencium keningnya.
" kalau kamu menyukainya, aku izinkan asal jangan kurangkan waktu kita untuk berdua " Bastian semakin merengkuh kepala Ami. hari ini ia sangat lelah, tidak hanya fisiknya tapi juga hatinya. ia harus menjaga sikapnya pada ibunya yang terus menerornya untuk meninggalkan Ami.
Ketika mereka berdua mulai memejamkan mata. mereka dikejutkan oleh suara panggilan dari hp Bastian, Ami yang meraih hp itu dan melihat siapa yang menelpon Bastian tengah malam begini.
" Nindi " ucap Ami sambil menyerahkan hp ke tangan Bastian tapi Bastian membiarkan hpnya berbunyi sampai panggilan terhenti dan kembali berdering lagi.
" Angkatlah siapa tau penting " ucap Ami sambil menggeser tombol hijau.
" Mas...kondisi mami makin lemah, sekarang aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit " suara Nindi terdengar cemas dari panggilan yang sengaja di loadspeaker Bastian.
Bastian mendekatkan hp ke telinga dan bergegas berdiri.
" Kirim aku alamat rumah sakitnya, nanti aku menyusul ke sana " ujar Bastian sambil membuka piyama dan meraih baju ganti yang diberikan Ami.
" Kamu juga ikut " ucap Bastian setelah mematikan hp. Ami bergegas berganti baju dan mengikuti langkah Bastian menuju garasi mobil.
__ADS_1
Ami merasakan kepalanya pusing, saat Bastian mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. ia menutup mulutnya karena reaksi dari perutnya yang ingin mengeluarkan isinya.
Sesampai di rumah sakit, Ami tidak tahan lagi untuk mengeluarkan isi perutnya yang mendesak ingin keluar dari mulutnya. Ami mencari toilet setelah mereka sampai di IGD.
Ami muntah muntah didalam toilet, hampir semua yang ia makan tadi ia muntahkan kembali. wajahnya menjadi pucat. Ia mengangkat panggilan dari Bastian.
" dimana dek ? " tanya Bastian cemas.
" aku di toilet, perutku mual " jawab Ami parau. ia melap bibirnya dengan tisu.
Bastian segera mencari Ami diiringi tatapan Nindi yang kesal karena ditinggal sendiri bersama Winda yang sedang di periksa dokter.
" Kamu pucat sekali sayang " ucap Bastian cemas saat menemukan Ami di depan toilet.
" mungkin karena terlalu banyak makan makanan pedas di tempat Amira, maag ku kambuh " tanggap Ami mencoba menyimpulkan sendiri kenapa ia muntah muntah. sepulang dari acara pembukaan kantor Amira, perutnya merasa tidak enak.
" Mas.." panggil seseorang di belakang Bastian. Laki laki itu mengurai pelukannya dan menoleh kebelakang. Ami dan Bastian menatap Nindi yang menatap mereka dengan tatapan tak suka. ia bersidekap.
" Kamu istirahat dulu ya " Bastian membantu Ami duduk di ruang tunggu. Nindi berdecih dan memalingkan wajahnya dari pemandangan Bastian menyampirkan tubuh Ami dengan jaketnya.
Ketika Bastian pergi ke ruang rawat inap, Nindi mendekati Ami. Ami terkejut dengan kehadiran Nindi dengan wajah masamnya.
" Kamu itu bisa bisanya cari perhatian di saat mertuamu sedang kritis. pantas saja tante tidak suka padamu karna kamu ingin menguasai anaknya " ucap Nindi sinis.
Ami menghela nafas, saat ini kondisi tubuhnya sedang lemah. ia tak ingin berdebat apalagi mereka sedang berada di rumah sakit.
Ami memilih tak menjawab. perutnya kembali mual.
" ada lagi kalimat sampah yang ingin kau sampaikan padaku. Kau tak mengerti situasi yang aku hadapi, jadi jangan sok jadi pahlawan disini " ucap Ami penuh penekanan.
Nindi yang sudah panas dingin melihat perlakuan hangat Bastian pada Ami tak bisa lagi mengontrol lagi emosinya. ia mengangkat tangannya dan hendak melayangkan ke pipi Ami tapi dengan sigap Ami menangkap tangan Nindi dan istri iparnya itu menjerit ketika ia memutar sedikit tangan yang ingin menyakiti pipinya.
__ADS_1
" Lepaskan tanganku ! " jerit Nindi karena merasakan jemarinya perih di genggam erat Ami.
" Aku tidak dengar kata mohon..ulangi " tanggap Ami dengan tersenyum smirk, orang sombong sesekali harus diberi pelajaran bagaimana menghargai orang lain.
" Mohon lepaskan tanganku .." cicit Nindi, Ami akhirnya melepaskan tangan Nindi dan meninggalkan wanita itu. Nindi memeriksa tangannya yang mulus mungkin lecet karena kuku Ami.
" sialan ! " umpatnya ketika melihat kulitnya sedikit tergores.
*******
Rendra sejak tadi menghubungi istrinya tapi panggilannya tak di angkat. Ia memeriksa hp mencari keberadaan Nindi dan ia menemukan posisi Nindi di sebuah rumah sakit. Ia berfirasat kalau istrinya itu sedang menemani ibu tirinya di rumah sakit.
Anak buahnya sering mengabarkan kalau istrinya itu sering mengunjungi Winda. Rendra mengeram dan memanggil anak buahnya untuk menjemput istrinya.
Di rumah sakit, Nindi bersikeras tak mau ikut pulang bersama anak buah Rendra.
" Pulanglah, temui suamimu. disini ada aku dan istriku yang akan menjaga mami " ucap Bastian tegas dan meninggalkan Nindi dan anak buah Rendra.
" Mami tak suka istrimu mas, aku...aku yang akan menggantikan posisi wanita kampung itu " ucap Nindi ketika beberapa langkah Bastian menjauhinya. ucapan itu di dengar Rendra karena saat itu ia sedang bertelpon dengan anak buahnya. seketika Rendra menjadi marah. ia melempar semua barang yang ada di meja kerjanya.
Memang beberapa waktu ini mereka kerap bertengkar dan Nindi selalu meminta cerai darinya. saat itu Nindi memergokinya tengah mengantarkan Luna ke klinik kandungan.
" Akan ku balas kau Bastian !! " teriak Rendra di ruang kerjanya.
******
Dina membaca pesan yang dikirim Bastian pada hp ayahnya. segera ia hapus pesan yang mengabarkan kalau madunya sedang berada di rumah sakit.
Sejak dulu ia tak ingin suaminya memberi perhatian pada Winda sebagai istri pertama.
" ada apa Din ? " tanya Hendra yang tiba tiba terbangun.
__ADS_1
" bukan apa apa, tidurlah " jawab Dina sambil memeluk tubuh suaminya