Asisten Special

Asisten Special
Taktik Lani


__ADS_3

Setelah menemani Ami ziarah ke kuburan kedua orang tuanya selama tiga hari, Bastian kembali bekerja seperti biasa. Joni menyambutnya di depan ruangannya.


" Pagi pak " sapa Joni cerah.


" pagi Jon "


" bapak makin gagah dan berkharisma " puji Joni sambil membukakan pintu untuk Bastian.


" itu tulus atau ingin dapat bonus Jon "


" tulus pak, bapak ga liat wajah saya ini jujur " tanggap Joni dengan senyum malu malu.


" Selama tiga hari saya tidak masuk, apa ada masalah Jon ? " tanya Bastian sambil memeriksa berkas berkas di atas meja.


" Alhamdulillah tidak pak, semuanya sesuai instruksi bapak " jawab Joni lugas.


" Tapi hari ini pak Hutomo konfirmasi ingin bertemu bapak "


Bastian tertegun sejenak, ia mempertanyakan dalam hati kenapa ayah mertua kakak tirinya itu selalu ingin bertemu dengannya. Ia agak risih juga karna Nindi terus terusan meminta waktu untuk bertemu dengannya dan saat bertemu ia harus sabar mendengar iparnya itu bercerita perilaku Rendra yang suka main wanita.


Tentu Bastian tak bisa ikut campur urusan rumah tangga kakak tirinya apalagi sejak kecil mereka tak pernah akur.


" baik Jon. Kabarkan saja pada sekretarisnya pertemuan di adakan saat jam makan siang nanti di restoran biasa "


Semua meeting berjalan lancar. Saat Bastian hendak kembali ke ruangannya. ia melihat OG yang kemarin membersihkan ruangannya. Wajah gadis itu terlihat sembab seperti habis menangis. Ia sedikit terisak sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya yang lebam. Awalnya Bastian tak terlalu mengubris sikap Lani. tapi demi melihat lebam di tangan itu, perhatiannya ikut teralihkan pada OG itu.


" Kenapa tangan kamu ? " tanya Bastian antusias. kebetulan Lani sedang berbicara di dekatnya.


" tidak apa apa pak " jawab OG yang terlihat pias itu.


" Apa kamu dapat KDRT dari suamimu ?masalah seperti itu tak bisa di biarkan "


" Ini masalah pribadi saya pak, mungkin saya memaklumi tindakan suami saya yang sering bersikap kasar pada saya, karna dia adalah pecandu narkoba " tutur Lani pilu. Bastian terbawa cerita Lani.


" Ini tak bisa dibiarkan, kamu harus segera lapor polisi dan tinggalkan laki laki bejat seperti itu " tanggap Bastian geram.


" Percuma pak, dia punya banyak anak buah, walau dia ada dalam penjara anak buahnya akan menghajar saya, seluruh tubuh saya akan dipukuli " bantah Lani. tiba tiba Lani membuka pakaiannya dan memperlihatkan lebam lebam di tubuh bagian atasnya, Bastian terkejut dan melihat luka bekas usapan puntung rokok di dada Lani. OG itu tepat berada di CCTV yang ada di ruangan Bastian.

__ADS_1


Bastian menyentuh luka itu. Lani semakin memperdekat jarak. Bastian tersadar atas apa yang dilakukannya.


" maaf " ucap Bastian menjauhkan dirinya dari tubuh Lani.


" Terima kasih pak, sudah beri saya dukungan " ucap Lani tertunduk, dalam hati, ia tersenyum, direktur utama itu masuk perangkapnya.


" Silahkan keluar "


*******


Ami kembali datang ke rumah ibu mertuanya karna mendapatkan telpon dari Dwi. Dengan ketakutan Dwi menceritakan kalau Winda jatuh dari kamar mandi.


Tergopoh Ami turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tapi di depan pintu, ia di hadang Windi dan anak anaknya.


" Mau apa kamu kesini ? bukankah kamu memang menginginkan ibu mertuamu itu sakit ha ! "


" Apa maksud tante, saya tidak punya niat buruk pada mami " jawab Ami tegas, ia juga sudah muak diperlakukan buruk oleh tante Bastian itu.


" Oo..mau pura pura bersandiwara ya " timpal Arumi.


PLAK !!!


sebuah tamparan mendarat di pipi Della yang menghujam Ami dengan cacian. Ami menahan tangan Della yang ingin membalas.


" Della ! " teriak Windi mendekati anaknya yang memegang kedua pipinya.


" kamu kira, saya lemah ha ! jangan kira saya akan diam dengan perlakuan kalian. Kalianlah sebenarnya yang membuat mami sakit, kalian tak pernah memberikannya obat, kue yang beri dibuat khusus untuk penderita diabetes " tegas Ami. nafasnya menderu, sebelum ia dan Bastian pergi, Ami mendapatkan kiriman paket dari Dwi, isinya adalah obat obatan yang biasa di konsumsi Winda.


Ia langsung mengirim pada Jo yang kebetulan kuliah di jurusan Farmasi. Jo menyampaikan kalau obat obatan itu kebanyakan vitamin dan obat tidur.


" Kenapa mami ? " tanya seseorang yang datang tiba tiba. ia adalah Nindi yang datang tergopoh karna ketika ia menghubungi Winda, Art yang menjawab mengabarkan Kalian ibu Bastian itu jatuh di kamar mandi.


Ketiga orang itu yang berdiri di depan pintu mempersilahkan Nindi masuk, tidak seperti Ami yang dihadang masuk.


Ami hanya terpaku di depan pintu, ia lihat ibu mertuanya yang duduk di kursi roda begitu hangat menyambut Nindi.


Ami berbalik, kembali melangkah menuju mobil dan meminta sopir mengantarkannya ke suatu tempat.

__ADS_1


Taman. tempat biasa ia kunjungi kala ia gundah. Tempat dimana ia bertemu Bastian untuk pertama kalinya. suara anak anak yang berlarian dan tawa mereka sedikit meredakan perih hatinya..


" eh..kak Ami, kita ketemu lagi " sapa seorang perempuan. Ami membalas senyum perempuan itu.


" Sherly, kebetulan sekali, mari duduk " Ami menggeser duduknya..


" Bagas mana ? " tanya Ami melihat sekililing.


" dia aku suruh cari mangga warna pink " jawab perempuan bernama Sherly, ternyata dia adalah istri Bagas.


" Kamu hamil ? " tanya Ami antusias. Sherly mengangguk.


" Ya kak, baru empat minggu, o..ya kak Amira kabarnya juga sedang hamil "


Ami terdiam, ia mengelus perut datarnya. ia sangat berharap refreshing yang mereka lakukan di kampung Ami membuat benih Bastian bisa tumbuh di rahimnya. ia melupakan sejenak apa yang terjadi di rumah ibu mertuanya.


Ami tak tahu kalau Windi melaporkan perihal Della yang mendapat tamparan keras Ami pada Bastian, sebelum Bastian menemui tuan Hutomo.


*******


Bastian mempersilahkan tuan Hutomo duduk.


" Maaf Bas, saya menganggu waktumu " ujar Hutomo saat sudah duduk.


" Tidak apa apa om " tanggap Bastian santun.


" Saya langsung saja pada Persoalannya Bas, Nindi ingin bercerai dengan Rendra. Nindi sudah tahu kalau suaminya sudah punya anak dengan perempuan lain " ujar Hutomo dengan wajah mengeras. Bastian tertegun.


" Dia menyukai kamu Bas, om harap kamu bisa mempertimbangkan Nindi. ia juga sudah dekat dengan ibumu "


Bastian menghela nafas, saat ia di kampung Ami. mamanya juga membahas hal ini. makanya ia tak mau mematikan saja ponselnya agar tak menganggu bulan madunya dengan Ami.


" Bagaimana Bas.., istrimu mungkin akan mengerti keadaanmu. Saat kamu menikahi Nindi, saya akan memberikan modal cukup besar agar HWD grup semakin berkembang.


Bastian membaca pesan yang baru masuk. kembali orang dengan nomor kemarin, mengirimkan foto foto Ami sedang tertawa bersama Bagas di taman. ia menghela nafas panjang.


[ Dia memang lihai bermain di belakangmu ]

__ADS_1


__ADS_2