Asisten Special

Asisten Special
pertemuan yang tak akan terlupa


__ADS_3

Di sisi lain. Amira terus memperhatikan Bastian yang seperti tersenyum sendiri saat ia bertanya tentang Ami.


" Dia itu aneh " ujar Bastian memulai ceritanya.


dua pasang mata kembali berputar di kejadian dua tahun lalu.


Seorang perempuan ketakutan saat sebuah tangan kekar mencengkram lengannya.


" kamu yang kemaren ada ditaman ini, duduk samping saya iya kan ? "


" Iya, kenapa datang datang trus megang megang tangan saya "


" kembalikan diary saya ! " bentak Bastian sambil meraih tubuh Amina yang berusaha menjauh.


" Saya nggak tahu, lepaskan tangan saya atau perkutut kamu saya tendang " ancam Ami, satu tangannya berusaha melepaskan cengkraman tangan Bastian di pergelangan tangannya. ia tampak terburu ingin pergi dari taman.


Namun anehnya beberapa saat kemudian, Bastian merasa satu tangan gadis itu reflek meraih pinggangnya ketika ada seorang bapak bapak menghampiri mereka.


" lihat sendiri kan pak saya sudah punya suami, jadi jangan ngejar ngejar saya lagi " ujar gadis itu pada bapak bapak yang mendekati mereka. Bastian kebingungan karna pelukan gadis itu begitu erat. cengkramannya reflek terlepas


" kamu ngomong apa ? " tanya Bastian kebingungan. Gadis itu yang balik mencengkram tangannya.


" ikuti saja permainan saya kalau kamu mau diarynya balik, kalau nggak mau diarynya saya bakar " bisik Ami penuh penekanan. ia nyengir pada bapak bapak yang semakin mendekati mereka.


Bastian kembali mencengkram lengan gadis aneh yang ia cari.


" Baiklah, apa yang harus saya lakukan " mereka saling berbisik.


" pura pura jadi suami saya biar tua bangka itu pergi " Ami semakin mengunci tubuh Bastian.


" Saya gak percaya mi kalau kamu sudah menikah. laki laki itu tidak ngomong " Ami mengerutkan kening, mantan bosnya yang tergila gila padanya terus memaksanya nikah siri jadi istri keempat.


" ngomong yaang " Ami mencubit pinggang Bastian. laki laki itu kaget dan baru paham ketika Ami menatapnya tajam.

__ADS_1


" Iya dia istri saya, bapak jangan ganggu istri saya lagi atau saya akan lapor polisi "


laki laki tua itu pergi dengan terpaksa.


" Makasih bantuannya " ucap Ami sambil melepaskan pelukannya. tapi Bastian masih mencengkram tangannya.


" mau kemana ? gimana diary saya "


" oo..sori hampir lupa, bagaimana kalau kita makan siang dulu tapi kamu yang traktir ya,diarynya ada di kost an saya " Ami meniup pergelangan tangannya yang dicengkram Bastian.


" Oke..dimana ? "


Ami mematut Bastian sebentar. lalu tersenyum.


" sepertinya kamu orang kaya, bagaimana kalau restoran Mahal "


Bastian tak keberatan dengan permintaan Ami. ia tak ikut makan, gadis itu sepertinya tengah memanfaatkan dirinya. hampir semua menu dia pesan.


" kamu mau ini kembali kan ? " tangan gadis itu menunjukan diary tipis Bastian. ketika Bastian ingin meraih diarynya, tangan itu dengan cekatan melarikannya. satu tangannya memegang matches, yang diletakkan diujung notes birunya. sekali klik diary tipis itu akan terbakar.


" Apa mau kamu ? " Bastian ketakutan dengan kelincahan gadis di depannya memainkan matches meghidup dan mematikan.


" Jadi suami boongan saya selama lima belas hari " ucap Ami pasti, Bastian ternganga. tapi demi mendapatkan catatan hatinya tentang seorang perempuan yang disukainya ia mengiyakan permintaan gadis itu.


" oke..deal " ucap Bastian.


sejak hari itu Bastian harus menunggu gadis itu pulang kerja dan setiap bertemu, mereka akan coz play jadi suami istri dengan panggilan sayang untuk Ami.


" Kamu pasti sayang banget sama perempuan bernama Amira itu, aku jadi sedih saat baca cerita gadis itu pergi keluar negri " bahas Ami saat mereka makan siang bersama.


Bastian tak menanggapi, ia memperhatikan manik mata Ami, entah kenapa sepasang mata itu menarik perhatiannya.


" wit dah malah liatin saya, wajah saya gemesin kan " Ami nyengir.

__ADS_1


" Dia mantan saya " ucap Bastian sambil memendarkan pandangan.


" kenapa putus ? "


" ya seperti kamu baca, dia pergi tanpa memberi alasan "


Hari demi hari terus berjalan, Bastian dengan sabar menemani gadis itu makan siang, menemani gadis itu belanja di pasar, ke toko buku. Tapi anehnya gadis itu tak mau memakai uangnya.


" saya hanya minta waktu kamu, bukan uangmu " begitu ucap gadis itu ketika ia hendak mengeluarkan dompet.


rupanya, gadis itu memanfaatkannya untuk menghindari mantan bos yang ingin mendekatinya. dia mengatakan dalam lina belas hari ia bisa resign sesuai kontrak.


Bastian menjadikan gadis itu tempatnya membagi segala gundahnya. tentang wanita yang meninggalkannya, tentang ibunya yang terus memintanya menikah biar segera punya cucu. Soal ayahnya yang hanya menempatinya di sebuah perusahaan kecil.


Ia membiarkan gadis itu menasehatinya, memintanya menerima keadaan yang tak bisa dilawan. satu hal yang membuat mereka berdebat di hari hari terakhir perjanjian.


" lupakan saja gadis itu, buat apa biarkan hidup digantung cinta yang tak pasti. mungkin ada yang lain yang bisa membuat kamu bahagia "


Bastian menatap Ami tak senang, tapi ucapan gadis itu ads benarnya juga.


" kamu nggak mau kan seumur hidup hanya menanti, sementara disana ia tengah bahagia dengan yang lain "


Bastian mulai meresapi kata kata Ami. Ia mendapat kabar kalau Amira menjalin hubungan dengan pria yang sama sama kuliah dengannya.


Hari terakhir tiba. Mampus ! Diary tipis itu hilang. Ami panik karna ia janji akan mengembalikan diary itu dua jam lagi.


ia sudah mempack semua barang barang yang akan dibawanya pulang kampung. saat Bastian menjemput di depan kost Ami mengatakan ia akan memberikannya di statiun.


otak Ami terus berputar di depan statiun, entah kenapa dia melihat rombangan ibu ibu hamil berjalan di depan statiun.


jadilah ide mengerjai Bastian itu muncul.


"

__ADS_1


__ADS_2