Asisten Special

Asisten Special
Rencana Rendra dan Dina untuk kehancuran Bastian


__ADS_3

" Ini tidak bisa kita biarkan " sentak Dina di depan anaknya Rendra.


" Kita harus bertindak secepatnya mom, lama lama papi lebih percaya Bastian dari aku " keluh Rendra. Ia menghempaskan bobotnya ke sofa ruang tamu rumah ibunya. Nyoya Dina begitu perempuan empat puluh lima tahun itu di panggil para pelayannya. Ia lebih muda dari istri pertama Hendra. Winda.


Kerut di kening Dina berlipat lipat saat Hendra mengatakan kalau Bastian akan menjadi wakil direktur utama di perusahaan HWD Grup. Berarti lebih tinggi dari Rendra yang hanya ditempatkan sebagai Direktur operasional.


" Mama punya rencana bagus Ren, sini !" Dina memberi kode pada Rendra agar mendekatinya. Wanita itu membisikkan sebuah rencana yang mereka pikir bisa menghancurkan Bastian. Rendra tersenyum Smirk, ia tak sabar menghadapi kehancuran saudara tirinya itu.


Ditempat lain, Ami baru pulang dari rumah sakit, ia mulai membersihkan rumah kontrakan kecilnya, Jojo membantunya berbenah.


" Kak, apa kakak ga ngerasa sedih ? sudah punya suami tapi masih hidup sendiri. apa bedanya kakak sebelum menikah sama setelah menikah "


Ami mengangkat bahu. ia memandang nanar keluar pintu, tampak beberapa pasang suami istri sedang memasuki rumah mereka.


" Jo, pernikahan kakak sama pak Bastian hanya sebuah kesalahpahaman. kakak juga ga tau bagaimana kedepannya, yang kakak pikirkan sekarang bagaimana kakak bisa membantu kamu kuliah " ujar Ami sambil merapikan buku buku di rak buku kecil yang ada di ruang tamunya.


" Kak, aku lihat bang Bastian itu baik, selama kakak sakit, ia merawat kakak dengan baik "


Ami tercenung, seketika ia ingat bagaimana wajah Bastian begitu khawatir padanya. Ah..rasa itu, bak sebutir biji bunga. entah angin mana yang membawa hingga jatuh ke hati Ami. hujan harapan membuatnya tumbuh, satu persatu daun daunnya merekah dan sekarang sedang berputik.


" kak ! " panggil Jojo sambil mengibas ngibaskan kemoceng ke wajah Ami. Ami bersin hingga satu buah buku ensiklopedia yang tebal terjatuh ke kaki Ami. Ada sebuah buku kecil keluar dari buku itu.


" ini kan buku diary yang diminta Pak Bastian " gumam Ami sendiri. Ia begitu panik saat menjelang hari H yang disepakatinya bersama Bastian untuk mengembalikan diary itu pada Bastian, karena ia buru buru mengemas barang yang dibawanya pulang kampung, ia lupa dimana ia taruh diary itu setelah membacanya semalaman.


Ami membuka halaman demi halaman curahan hati Bastian saat ditinggalkan Amira. Ami tersenyum miris, melihat dirinya hanyalah seorang pungguk yang tak akan mungkin mendapatkan rembulan.


Mungkin dalam hati kecilnya laki laki itu masih merindukan cinta pertamanya. Ami merasa insecure dengan dirinya yang tak lebih dari pegawai biasa.


Mustahil Bastian menaruh rasa suka. cepat atau lambat pernikahannya dengan Bastian akan berakhir.


" Kak ! " panggil Jojo.


" Ngelamun terus, lapar nih " ujar Jojo sambil mengelus perutnya. Ami memeriksa dompetnya. Ada lima kertas merah tersisa. ia ingat ia sudah membeli rumah KPR. Hingga tabungannya sudah menepis.


" Beli makanan Jo " titah Ami sambil menyerahkan empat lembar kertas merah itu ke tangan adiknya.


" sisanya simpan buat uang saku kamu, kakak baru gajian satu minggu lagi "


" Tunggu kak " Jojo mengeluarkan dompet dari saku celananya dan memperlihatkan dua buah kartu ATM.


" Ini dari bang Bastian dan ini dari bang Bagas katanya untuk keperluan kakak. beruntung kakak punya dua pangeran yang mencintai kakakku tersayang " Jojo memainkan dua kartu di depan mata Ami. reflek Ami meraihnya.


" pinnya tanggal ulang tahun kakak " beritahu Jojo sambil merengut. ia belum sempat memakainya.


" Dengar Jo, jangan memakan yang bukan hak kita "

__ADS_1


" Tapi yang dari bang Bastian itu hak kakak sebagai istrinya"


Ami menatap Jo dengan sudut mata. ia mendengus.


" Sekali lagi Jo, pak Bastian hanya terjebak situasi yang tidak dia inginkan. kamu kira gampang menikah dengan orang kaya. Banyak hal yang akan menyudutkan kita sebagai orang tak berpunya "


Jojo terdiam apa yang disampaikan kakaknya ada benarnya.


" keluarga mereka mengira kita hanya ingin memanfaatkan harta mereka " tambah Ami.


Ami terkesiap ketika Bastian menghubunginya. ia mengangkat telpon.


" Haloo pak "


" ini bukan kantor mi, jangan panggil saya pak, panggil saya Mas, bang Atau Aa..terserah kamulah, atau kamu punya sebutan sayang untuk saya ?"


Ami terdiam. padahal ia ingin segera membunuh harapan itu dalam hati dan pikirannya.


" pak Bastian adalah panggilan sayang saya untuk bapak " ucap Ami sambil melipat bibirnya.


" Terserah kamu mi, o..ya, saya nitip kartu ATM sama Jojo. kamu bisa pakai itu untuk keperluan kamu "


" Pak, jangan berlebihan. saya nggak pantas menerimanya "


" Mi..kamu itu is.." Bastian berhenti bicara, Ami mendengar suara Winda dan suara Nana.


Keesokannya Ami bekerja seperti biasa, ia tak satu ruangan lagi dengan Bastian. Gedung yang Ami tempat sekarang memiliki 20 lantai.


Bastian berada dua lantai dibawah ruangan Ami. Hampir saja ia terlambat karena kelelahan membersihkan rumah.


Ketika ia masuk lift, ia melihat Amira dan Bastian sudah duluan masuk.


" Kamu sudah sehat mi ? " sapa Amira sambil meletakan tangannya di bahu Bastian. Ami melihat ujung jari itu menyentuh pipi Bastian, Ami menundukkan kepala takut Amira melihat rasa tak senangnya.


" Sudah kak " ujar Ami sambil menunjukan senyumnya walau sebenarnya hatinya sedang perih.


" Babe.., kata Ami kamu tidak suka Nana, berarti aku masih utuh di hati kamu, Deni bilang sejak aku pergi kamu belum punya hubungan dengan siapapun "


Ami menoleh sebentar pada sepasang mantan kekasih itu, ia memalingkan muka saat Amira berbisik ditelinga Bastian.


" Aku masih mencintaimu mas Basku sayang " meski berbisik. Ami bisa mendengar kalimat itu dengan jelas, ia juga melihat tatapan bersalah Bastian padanya.


Ami meremas ujung blazernya. lift berdenting, tanda nomor lantai tujuan telah sampai.


" Kami duluan mi " ucap Amira pada Ami, Bastian bergegas keluar dan Amira kesusahan mengejarnya.

__ADS_1


Setelah keluar dari lift, Ami pergi ke toilet membasuh mukanya yang terasa gerah.


" Ada apa dengan aku ini, kenapa rasanya sakit sekali " Ami meremas dadanya.


" Tidak tidak, aku tidak boleh macam macam, aku harus kembali ke dunia nyata, meski laki laki itu telah merenggut hal yang paling berharga dalam hidupku " ucap Ami dalam hati saat melihat dirinya dalam cermin.


Bagas memimpin rapat divisi mereka. ia memiliki IT mempersiapkan konsep digital yang telah dirancang Ami. ia melihat Ami terlihat sedang tidak fokus bekerja. berkali kali Ami terlambat menjawab pertanyaan rekan rekannya.


Bagas memaklumi karna ia pikir kondisi fisik Ami belum pulih makanya tidak konsentrasi.


" masih sakit ? " tanya Bagas saat jam istirahat. Ami menggeleng, ia mengeluarkan kartu ATM dalam tasnya.


" maaf aku ga bisa menerimanya mas " ucap Ami sambil menyodorkan kartu ATM kehadapan Bagas.


" Mi.., aku serius sama kamu. Dulu kamu sering cerita kalau kamu sering kekurangan uang, ini tanda aku peduli pada kamu bukan ingin menghilang mi "


" Mas Bagas pikirkan baik baik tentang aku, aku ini perempuan kampung, kami hanya orang miskin yang tak pantas bersanding dengan kalian " sentak Ami dengan mata berkaca kaca.


" Mi, aku sayang kamu tulus. aku tidak peduli kamu miskin atau kaya, aku hanya peduli kamu dan hatimu " ucap Bagas penuh penekanan.


sebuah deheman membuat kedua pasang mata itu menoleh. Mereka melihat Bastian bersandar di dinding dengan tangan bersidekap di dada.


" ke ruangan aku sekarang mi " titahnya seraya berbalik. Ami mengikuti Bastian ke luar ruangan dan ikut masuk lift. Ia memang akan menemui Bastian untuk mengembalikan ATM yang Bastian berikan pada Jojo.


Dalam Lift Bastian berusaha meraih tangan Ami tapi Ami reflek menjauhkan tangannya.


" pak di situ ada CCTV " tunjuk Ami pada langit langit lift.


" Saya ga mau, orang orang disini berfikir macam macam tentang saya " ungkap Ami dengan nada kesal.


Bastian tak membantah. setelah tujuan mereka sampai. Bastian membiarkan Ami terlebih dahulu masuk keruangannya.


Ami mendengar pintu di kunci.


ia bersikap waspada, tak ingin Bastian memeluknya dari belakang lagi. meski hatinya ingin.


" Kamu marah sama saya mi ? saya tak pernah menanggapi keinginan Amira, dia hanya masa lalu saya " ujar Bastian yang seketika bisa meraih pinggang Ami.


Ami berusaha melepaskan diri tapi Bastian semakin menarik tubuh istrinya agar lebih menempel di dadanya.


" Saya marah sama diri saya sendiri pak, kenapa saya harus menyimpan rasa itu untuk pak Bastian, sejak lama. saat kita akan berpisah hati saya sedih karna saya pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi " bulir air itu pecah di mata Ami.


" Jangan bicara lagi, saya ingin melepas rindu " ujar Bastian sambil menyentuh bibir Ami. tangan Bastian menyingkirkan tangan Ami yang hendak menutup bibirnya.


Ami tak bisa menahan gejolak hatinya, ia selalu merindukan sentuhan malam pertama itu. cukup lama bibir mereka berpagut saling melepas rindu.

__ADS_1


sampai Ami harus mendorong tubuh Bastian karena ia hampir kehabisan nafas.


" cukup pak, jangan bawa saya kembali ke alam mimpi " jerit Ami dengan bibir bergetar.


__ADS_2