
Tujuh tahun kemudian...
" morning dad " sapa seorang bocah perempuan saat menghampiri meja makan. ia menghampiri sang ayah yang sedang mengoles roti.
" morning sweety. where is your sister ? " tanya sang ayah.
" I am here " jawab seorang bocah lagi. Ia duduk disebelah saudaranya. dengan wajah serupa mereka sulit di bedakan. makanya si ibu selalu membedakan mereka dengan mengikat rambut mereka secara berbeda biat orang orang bisa mengenali mana Rana dan Rania.
" kamu yang ngomong atau aku yang ngomong " bisik bocah perempuan dengan rambut di kuncir pada saudaranya.
" Yah..." panggil gadis kecil dengan rambut di kepang dua.
" Yes Honey..." jawab sang ayah yang perhatiannya teralihkan pada pemandangan di luar jendela. seorang perempuan dewasa tengah memetik bunga.
" aku nggak bisa " ujar si kepang dua. si kuncir merengut. Mereka saling beradu pandang lalu menoleh pada perempuan dewasa di luar jendela
" kamu yang ngomong, ayolah
" kamu yang ngomong "
" kamu "
" kamu "
" ekhm..! mau ngomong apa ? "
" Yah..boleh kita punya alat make up " akhirnya si kuncir yang bicara. Mereka tertunduk saat sorot tajam menghujam mata mereka.
" Sayang, jangan galak galak sama mereka " bujuk sang ayah pada perempuan dewasa yang sedang menata bunga.
" siapa yang galak, aku nggak ngomong apa apa " jawab si perempuan dewasa sambil menoleh pada suaminya.
" itu matamu membuat mereka terintimidasi " perempuan dewasa itu tersenyum.
" Okeeh..kamu atasi mereka, satu minggu ini aku sudah dibuat pusing oleh ulah dua putrimu "
kemudian ia meninggalkan meja makan, tinggal Bastian dengan putri kembarnya. Rana dan Rania.
" Sayang..., kata ibu kalian itu sudah cantik tanpa di poles, belum waktunya kalian punya benda semacam itu oke..are you agree with me "
__ADS_1
" tapi yah, semua teman teman sekelas punya alat make up. mereka sudah tau bagaimana memasang lipstik, bahkan sudah ada yang pandai pasang bulu mata palsu " bantah Rana, gadis dengan rambut di kepang dua.
" kami lips balm saja tak punya, kami diejek ayah. Kata mereka percuma jadi anak orang kaya, beli lip balm aja nggak bisa " giliran Rania yang bicara. Bastian menggaruk tengkuknya. ia tersindir dengan curhatan putrinya, jangankan lip balm. sama mallnya bisa ayah beli tapi masalahnya bundamu akan marah jika ayah belikan.
" Nanti ayah belikan, tapi jangan bilang bilang ibu " bisik Bastian sambil menoleh pada Ami yang sedang membawakan jas untuknya. Kedua putrinya mengacungkan jempol di bawah meja.
" Apa ibu ketinggalan sesuatu " tanya Ami sembari memasangka jas pada suaminya. Bastian mengedipkan mata pada kedua putrinya. Kedua putrinya mengangkat bahu. Mereka bersiap berangkat ke sekolah yang akan diantarkan oleh sopir keluarga.
" Kami berangkat Yah...bu..." si kembar mencium tangan kedua orangtuanya.
" Jangan terlalu memanjakan mereka " bisik Ami saat mengantar Bastian kedepan pintu. ayah si kembar hanya tersenyum.
" Sesekali sayang, jangan cemburu " tanggap Bastian sambil mencubit pipi istrinya.
" Kamu lebih perhatian mereka daripada aku, setiap malam kamu ketiduran sama mereka " rungut Ami.
" Maaf sayang, nanti malam khusus buat kita berdua. Mami mau bawa mereka nginap di rumahnya "
" apa tidak merepotkan mami, anak anakmu suka bertindak ekstrim, buat seisi rumah jungkir balik "
" Omanya malah senang kalau mereka ngacak ngacak rumahnya, itu tandanya ia punya cucu, aku pergi ya. Jangan lupa nanti malam " ucap Bastian sambil mengulurkan tangannya. Ami mencium punggung tangan suaminya.
Joni membuka mendapatkan laporan dari pimpinan anak perusahaan HWD grup kalau ada masalah cukup genting yang dihadapi perusahaan yang terletak cukup jauh dari kota itu
Perusahaan mereka di demo oleh penduduk setempat karena pembebasan lahan menurut mereka tidak adil.
" Apa kita harus kesana pak ? " tanya Joni sambil meletakkan segelas kopi kehadapan Bastian. pimpinan perusahaan itu terlihat berfikir.
" ada ancaman kalau malam ini, kalau mereka tidak bisa bertemu dengan pimpinan perusahaan. mereka akan membakar kantor kita pak " sambung Joni.
" Baiklah, kamu siapkan hal yang kita perlukan nanti Jon " titah Bastian, ia memandangi foto putri kembarnya saat masih bayi.
" my lovely twins " ucapnya.
Bastian dikejutkan oleh kedatangan Dina saat jam makan siang.
" Apa yang telah kau lakukan pada Rendra, apa kau mencuci otaknya hingga ia berani meninggalkanku dan pergi dengan perempuan miskin itu " sentak wanita paruh baya dengan gaya berkelas itu.
" duduklah dulu, mami..boleh aku memanggilmu seperti itu, bagaimanapun kau adalah istri ayahku "
__ADS_1
" terserah kau memanggilmu apa, tidak perlu aku hanya sebentar disini "
Bastian menghampiri ibu tirinya itu.
" Kalau sampai aku dapat bukti kalau kau mempengaruhi anakku, aku akan buat perhitungan denganmu ! " ancam Dina, ia menghentakan kaki dan meninggalkan ruangan Bastian.
Setelah menjalani masa hukumannya, Rendra memilih untuk menyusul Luna yang tinggal di daerah pedesaan. Keputusan itu ditentang keras oleh Dina. ia kembali memaksa anaknya untuk bekerja di perusahaan Hendra, meski tak menduduki jabatan tinggi lagi. ia ingin Rendra kembali menjatuhkan kedudukan Bastian tapi Rendra menolaknya.
" aku hanya ingin hidupku tenang mami, buat aku memiliki semua kelimpahan ini, hatiku tidak tenang. aku ingin hidup tanpa harus membuat orang lain menderita " ucap Rendra saat meninggalkan ibunya.
Bastian memang diberi tahu oleh Rendra dimana ia berada namun ia minta keberadaannya dirahasiakan dari ibunya.
*******
Ami telah siap dengan penampilan terbaiknya. Tadi ia sudah memasak makanan kesukaan Bastian. jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Kedua putri kembarnya sudah berada dirumah nenek mereka. Tapi dari dua jam yang lalu ia menunggu suaminya belum pulang.
Ia menghubungi Joni karena ketika menghubungi Bastian, hp suaminya sepertinya tidak aktif. nomor Jonipun tak bisa dihubungi. Ami mulai gelisah, tidak biasanya suaminya seperti ini. saat berangkat kerja tadi, Bastian sudah berjanji untuk menghabiskan waktu berdua tanpa anak anak.
Amipun tertidur, ia berprasangka mungkin ada proyek penting yang tak bisa ditinggalkan suaminya.
Ketika tengah malam, ia mendapatkan telpon dari salah satu pimpinan divisi di perusahaan Bastian yang mengabarkan kalau mobil yang dikendarai Joni dan Bastian saat hendak menuju anak perusahaan yang terletak di pinggir kota ditemukan di semak semak tapi mobil itu dalam keadaan kosong.
" Ibu Ami, jangan panik. kita harap ibu tetap tenang. kami sudah menghubungi polisi untuk menyelidiki ini "
Ami merasakan seluruh tubuhnya lunglai, sendi sendinya rapuh. Beberapa hari ini ia memang mengkhawatirkan sesuatu tapi ia tak tahu apa yang membuat ia cemas.
" Terima kasih pak, atas informasinya. kalau ada kabar terbaru tentang suami saya tolong hubungi saya " ucap Ami dengan bibir bergetar. ia mengusap air matanya.
Ami menghubungi Winda untuk mengabarkan hal ini, ia meminta Winda untuk menjauhkan anak anak dari berita televisi agar kedua putrinya tidak shock atas Kejadian yang menimpa ayah mereka.
Ami dikejutkan oleh panggilan Rana. gadis itu punya ikatan batin yang kuat dengan ayahnya. setiap terjadi apa apa dengan ayahnya pasti ia yang merasakan lebih dahulu.
" ibu...." isaknya dalam telpon. Ami pura pura tidak tahu.
" kenapa sayang, kenapa menangis.." tanya Ami sedatar mungkin.
" Ibu...aku mimpi ayah...ayah dibawa penjahat "jerit Rana pilu. Ami terduduk, ia berusaha menahan gemuruh hatinya.
" tidak nak, ayah baik baik saja " hibur Ami berusaha setenang mungkin. padahal hatinya berkecamuk, satu persatu pikiran buruk singgah di benaknya. bahkan yang paling buruk. Ia mematikan panggilan Rana.
__ADS_1
" Jangan tinggalkan kami kak ! " jerit Ami.