
Mereka bertiga bekerja hingga larut malam, hal ini dilakukan Bastian untuk mempersiapkan perusahaannya dalam penilaian perusahaan pusat yang di pimpin papinya.
Bastian tahu saudara tirinya selalu ingin menjatuhkannya di depan papi. setiap kali diadakan Rendra selalu mencari kelemahan perusahaan yang ia pimpin.
Dulu ia bekerja di sebuah perusahaan percetakan yang didirikan Bastian bersama teman temannya.
Saat itu papinya selalu memintanya menjalankan perusahaan keluarga yang bergerak di bidang properti. tapi ia menolak.
Bastian memang lulusan arsitek, tapi ia menyukai jurnalistik. Ia juga pernah menjadi wartawan untuk majalah properti.
setelah dua tahun bekerja di luar negri, ia memutuskan untuk kembali ke tanah air dan menerima tawaran sebagai CEO di anak perusahaan papinya menggantikan Rendra yang naik jabatan.
" pak, saya tidur di kamar mbak mbak itu saja ya, saya takut nanti saya ngacak ngacak kamar pak Bastian lagi " cicit Ami ketika Bastian membuka pintu kamarnya.
" Emangnya kalau malam kamu berubah jadi drakula trus ngacak ngacak kamar saya. sudah sana tidur, lagian di dalam nggak ada yang bisa di acak "
Ami menghela nafas ketika Bastian menghidupkan lampu kamar. Nuansa kamar anak kuliah terlihat jelas di ruangan bercat biru itu.
foto klub sepakbola, berbagai karya fotografi terpajang di dinding. Mulai Bastian bayi hingga ia memakai toga.
__ADS_1
" Kalau kamu takut, panggil saja saya di ruang kerja nanti saya akan temani kamu tidur " bisik Bastian sebelum menutup pintu. Ami melihat ada bola kasti di sudut pintu, ingin melempar Bastian yang mulai menggodanya dengan kasti itu.
Tapi Bastian keburu menutup pintu dengan tawa menggema.
" Senang banget anak mami...lagi jatuh cinta ya ? " Bastian kaget ketika ibunya sudah berdiri di depannya.
" Apaan sih mami, sampai Bas bisa buktikan sama papi kalau Bas bisa diandalkan, Bas belum ingin punya hubungan apa apa dengan wanita mi, please mami tolong mengerti keputusan anak mami ini "
Winda menghela nafas, ia hampir menyerah untuk membujuk anaknya untuk segera menikah. anak semata wayang yang menjadi penyelamat pernikahannya dengan pemilik Perusahaan properti terbesar itu.
Bastian merangkul ibunya dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.
Bastian tersenyum, tiba tiba bayangannya saat bertemu Ami dua tahun lalu melintas di kepalanya, melakukan perdebatan perdebatan konyol, mengikuti semua kemauan aneh gadis itu demi mendapatkan diarynya kembali. ending akhirnya dia dikelabui.
" Panjang ceritanya mi, tapi sejak ketemu dia, aku bisa melupakan Amira. Makanya aku bersedia menerima tawaran papi, dia benar mi, aku banyak menyia nyiakan waktuku demi melampiaskan rasa kecewa, toh Amira tak pernah membalas perasaanku "
Winda menepuk bahu anaknya, selama ini hanya dia yang Bas punya. sebagai anak tunggal tentu Bas kesepian. rumah ini terlalu besar untuk mereka berdua.
Meskipun Rendra mencukupi semua kebutuhan materi tapi Winda merasa Bas melewati hari hari yang hampa di rumah mewah ini. meski Hendra bersama mereka, perhatian laki laki itu lebih banyak terbagi untuk Dina dan anak anaknya.
__ADS_1
Sejak Bas jatuh sakit di opname di rumah sakit, Hendra tak sekalipun mengunjungi anaknya. saat itulah Winda menutup hatinya untuk Hendra, ia tak mau bicara sana sekali dengan ayah Bastian itu.
" Gimana kalau dia jadi adik angkatmu Bas " usul Winda tiba tiba. Bas tertegun. kalau dipikir pikir gadis itu memang memberi warna lain dalam hidupnya. ia juga tak punya saudara untuknya berbagi. tak ada salahnya diterima usul mami.
" Dia pasti nggak mau, katanya mami galak "
" masa sih, perasaan mami kalem kalem aja Bas "
" Iya..pas mami lagi kalem orang jadi takut "
" siapa yang takut lihat mami kalem ? "
" Papi..."
Winda langsung terdiam saat Bas bicara soal ayahnya, Winda berdiri dan meninggalkan sofa.
" Mi..." panggil Bastian
" Mami nggak mau bahas papi Bas, mami mau tidur "
__ADS_1