Asisten Special

Asisten Special
Pembelaan


__ADS_3

" Mas .." panggil Nindi manja. Ia mengusap bahu Bastian. Laki laki itu terlihat gelisah, beberapa kali menghubungi seseorang tapi wajahnya terlihat kecewa karena panggilannya tak kunjung tersambung.


" Kamu lagi nelpon siapa ? " tanya Nindi sambil memperhatikan hp Bastian. laki laki itu segera menyimpan hpnya.


" kamu pulanglah, pekerjaanmu mungkin terbengkalai gara gara ini " ucap Bastian sambil beranjak dari kursinya.


" Aku tidak mau meninggalkan kamu sendiri mas, bisa jadi teman temanmu datang untuk mengacaukan pikiranmu lagi. Istrimu jelas jelas sudah berkhianat dan malah mau mencelakai mertuanya sendiri "


Bastian terdiam, kemarahan yang sudah ia redam seakan dipercik oleh kata kata Nindi. terbayang kembali bagaimana Ami memeluk Bagas dengan erat.


" Pulanglah, aku akan menjaga mami " pinta Bastian agar Nindi meninggalkan rumah sakit. Nindi akhirnya menurut tapi sebelum pergi, ia masih sempat bercerita tentang ancaman Ami pada Winda untuk tak menceritakan kelakuan buruk Ami, tentu maksudnya agar Bastian tak percaya ucapan ibunya jika Winda siuman.


rasanya sulit dipercaya, apa mungkin Ami akan berbuat sejahat itu. tante Windi juga meyakinkannya kalau Ami hanya berpura pura manis didepannya tapi ia sangat garang pada Winda terbukti dengan kejadian Ami menampar Della.


Bastian mengusap wajahnya berkali. ia duduk di samping ibunya yang sedang tertidur dengan slang slang medis memenuhi tubuhnya. Jika melihat kondisi ibunya dan jika memang ini karena perbuatan Ami. ia tak bisa memaafkan Ami.


********


Satu minggu sudah Bastian menemani ibunya di rumah sakit dan hari ini ia akan menghadapi rapat luar biasa dengan pemegang saham dan dewan direksi. ia harus siap menerima kalau kenyataan hari ini, ia akan dianggap sebagai pecundang.


" Bas...." Bastian yang tadi tertunduk mengangkat kepalanya, ia seakan mendengar ibunya bicara.


" Mami...mami..." panggil Bastian. ia melihat ibunya berlahan membuka mata.


" Mami sudah sadar " ujar Bastian sumringah, tak sadar ia meneteskan air mata. satu minggu ia tak pernah beranjak dari sisi ibunya. Melihat kondisi ibunya kritis, raganya seakan tak punya tenaga untuk berjalan. ia merasa menjadi anak durhaka pada ibunya karena selama ini selalu menolak keinginan ibunya.


Bastian memanggil dokter untuk memeriksa ibunya, ia tak berhenti bersyukur ibunya bisa melewati masa kritis.


" Mi..doakan Bas ya.., hari ini Bastian harus menghadapi masalah Bastian " ucap Bastian sambil mengecup punggung tangan ibunya. Winda mencoba tersenyum.


" Ami mana Bas..apa bayi kalian baik baik saja " ucap Winda terbata.


" Bayi ? " tanya Bastian heran.

__ADS_1


" Mami senang sebentar lagi mami punya cucu. Mami sengaja menjatuhkan diri agar bayi kalian selamat, maafkan mami Bas selama ini mami salah menilai Ami, kau beruntung mempersuntingnya, ia wanita yang tulus " ucap Winda sambil membelai kepala anaknya.


" Mami bicara ini karena diancam Ami kan agar mami bicara baik baik tentang dia ? " Bastian jadi teringat ucapan Nindi tentang ancaman Ami pada ibunya.


" Sejak kapan ada yang berani mengancam mami ! "


" sudahlah mami, Ami bukan wanita baik baik, dia sudah buat mami celaka, aku sudah usir dia " ujar Bagas yang membuat Winda terbelalak.


" apa yang kau lakukan Bastian, bukan Ami yang membuat mami seperti ini. tanteku dan anak Hutomolah yang ingin mencelakai mami..cepat cari istrimu ! mami tidak ingin cucu mami kenapa napa "


Bastian terperangah, dari raut wajah ibunya ia yakin apa yang dikatakan ibunya benar. Astaga ! jadi selama ini ia bertindak menuruti emosinya, rasa cemburu yang berlebihan.


Bastian menghela nafas berat, ia jadi menyesali kenapa pagi itu ia tak mau mendengarkan penjelasan Ami dan Bagas.


********


" kenalkan, ini istriku Shirley " ucap Bagas saat mengenalkan istrinya pada Bastian.


Sebelum menghadiri rapat luar biasa itu, Bastian mengunjungi kafe milik Bagas. Tadi ia menghubungi Deni dan Deni mengatakan ia sedang ada di kafe Bagas, mau tak mau Bastian harus bertemu dengan sahabat lama yang dulu naksir istrinya itu.


" Kami ingin membantumu Bas, waktu itu kami datang keadaan Ami sedang terancam, kami melihat Rendra keluar dari rumahmu, Ami mengatakan kalau ia akan dijahati Rendra. Ia menyangka mobil yang datang itu mobilmu, ketika ia memelukku ia sangka aku adalah kamu Bas, aku mengerti kamu begitu marah tapi setidaknya beri kesempatan dia untuk bicara "


Bastian menundukkan kepala, ia di dera rasa bersalah atas sikapnya belakangan ini terhadap Ami, istrinya. sungguh, ia sangat arogan.


" Dimana Ami sekarang ? " tanya Bastian dengan mata berkaca kaca.


" Itu yang membuat kami tidak bisa tidur, istrimu tidak terlacak. Bahkan Jojo sudah pergi kekampung, Ami juga tidak ada disana. Hari ini kami akan melanjutkan pencarian, bisa saja Rendra berbuat jahat padanya karna Nindi sudah mengajukan gugatan cerai " ujar Deni cemas.


" Jangan bicara seperti itu ! Ami dan anakku baik baik saja kan " sergah Bastian dengan suara bergetar, ia mengguncang tubuh Deni.


" Tenang Bas, setelah kau melewati sidang dengan dewan direksi. kita akan cari Ami bersama sama " Deni memeluk Bastian, tubuh kekar itu berubah layu, ia menangis di bahu Deni.


Bastian menghadiri rapat luar biasa dengan pemegang saham dan dewan direksi ditemani Deni dan Bagas. bersama kedua sahabatnya itu, ia merasa punya kekuatan untuk membela dirinya nanti.

__ADS_1


Ruang rapat sudah dipenuhi oleh peserta rapat. Rendra tampak berdiri gagah disamping ayahnya. wajahnya tak sabar menunggu kejatuhan Bastian.


moderator mulai membacakan agenda rapat, sebelum memberikan vonis pada Bastian. mereka memberikan Bastian kesempatan untuk mengajukan pembelaan.


" saya di fitnah, kejadian yang kita lihat di vidio itu di luar kesadaran saya, saya sama sekali tidak melecehkan office girl itu. waktu dia datang ke saya dengan banyak lebam lebam di tubuhnya, tanpa saya minta dia memperlihatkan luka di bagian tubuh atasnya " ujar Bastian membela diri.


" semua buktinya sudah jelas, kita bisa lihat hasil rekaman CCTV, Bastian tak bisa mengelak lagi. bicara tanpa bukti sama saja omong kosong " sanggah Rendra. Deni dan Bagas menyorot tajam Rendra yang tersenyum smirk.


" Habis ini kita goreng dia " bisik Bagas pada Deni.


" Jika kamu punya bukti kuat, silahkan tunjukan kepada anggota sidang. kami berikan waktu setengah jam untuk kamu mengajukan bukti bahwa kamu tidak bersalah " Hendra menjeda rapat. Semua peserta sidang meninggalkan ruang pertemuan.


" Sudahlah, kalian tak usah repot repot membelaku, aku sudah siap dengan kenyataan ini, yang sekarang aku pikirkan adalah Ami, aku mengkhawatirkan kondisi dia dan anakku " ucap Bastian pasrah.


" Bas, apapun yang terjadi. kamu tetap sahabat terbaik kami, meski kau kere sekalipun " Deni menepuk bahu Bastian. mereka bertiga saling menggenggam tangan.


Setengah jam berlalu, Bastian kembali menghadapi sidang yang akan mencopot jabatannya sebagai pimpinan tertinggi di HWD grup.


" Saya, tak punya bukti apapun tapi saya hanya menegaskan saya tidak bersalah " ucap Bastian tegar. ia tatap ayahnya penuh makna.


" Maafkan Bastian pi " ucap Bastian sambil menundukkan kepala.


" karna Bastian tak bisa membela dirinya dan demi nama baik perusahaan. dengan ini saya nyatakan mulai hari ini Bastian resmi mundur sebagai direktur utama dan kedudukannya akan digantikan oleh...Ren..."


" Tunggu ! " teriak seseorang dipintu masuk. Semua mata memandang seorang perempuan yang masuk bersama laki laki berkepala plontos.


" Ami..." ujar ketiga sahabat itu kompak


" Saya punya buktinya kalau suami saya tidak bersalah " ucap Ami tegas. Rendra memandang tak percaya akan kehadiran Ami yang berdiri penuh keyakinan.


" Tidak bisa waktu kalian sudah habis " sanggah Rendra penuh kecemasan..


" Ini bukan masalah waktu pak Rendra, ini masalah kebenaran " balas Ami sarkas.

__ADS_1


__ADS_2