
Bastian mengantarkan Ami pulang sementara ia sendiri kembali ke dalam mobilnya. Ami hanya bisa menatap nanar mobil suaminya yang kembali meninggalkan halaman rumah.
Bastian pergi ke villa milik keluarganya di tepi sebuah bukit. ia ingin menenangkan dirinya disana.
Kepalanya rasanya mau pecah. masalah datang bertubi tubi. biasanya Ami, tempat ia mencurahkan semua kegundahannya. Sekarang istrinya justru membuatnya berada dalam kecurigaan yang membuat hatinya sakit. belum lagi desakan mami membuatnya hidup dalam dilema.
" Pak, jangan minum lagi " cegah Joni ketika Bastian ingin menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas.
" ini lebih.baik kan Jon daripada aku berdiri di tepi jurang dan ku jatuhkan diriku disana. biar semua orang melihat aku mati..ha..ha..ha..mereka semua ingin aku mati termasuk istriku sendiri..." Bastian mulai meracau. Joni yang diajak Bastian ikut dengannya ke villa tak bisa berbuat apa apa, ia menyesal telah memenuhi permintaan bosnya untuk membeli minuman beralkohol.
Ami tak bisa tidur karena terus memikirkan suaminya yang malam ini tidur entah dimana. Ami menghubungi Joni, barangkali asisten Bastian itu tahu dimana bosnya berada.
Panggilan tersambung .
" ya bu Ami.." jawab Joni setelah Ami mengucapkan halo.
" Kamu tahu bapak sekarang ada dimana Jon ? saat dia pergi keadaannya kacau saya kuatir dia kenapa napa Jon "
" Bapak sama saya, kami ada di villa bu. ibu tidak usah kuatir saya akan menjaga bapak " jawab Joni, Ami menghela nafas lega. hatinya yakin Joni tidak berbohong.
Joni pun tidak ingin membuat istri bosnya cemas, ia mengirimkan foto Bastian sedang tertidur di sofa. ia mengambil foto itu setelah menyingkirkan botol botol minuman beralkohol di meja.
Ia beralasan tak bisa VC karna sinyal terlalu sedikit di villa.
********
" Apa ini sayang ? " tanya Rendra ketika Nindi menyerahkan surat dari pengadilan agama.
" Ya..mas, seperti yang kau lihat. kita akan bercerai ! " sentak Nindi. ia menatap tajam suaminya.
" Nin.., jangan seperti ini. kita bisa bicara kan baik baik "
" aku sudah muak dengan kelakuanmu mas, kau punya wanita simpanan dan sekarang dia sedang mengandung anakmu, kau pikir aku perempuan bodoh " Nindi menyingkirkan tangan Rendra yang menyentuh bahunya.
" sudah berapa kali aku bilang, dia bukan siapa siapa di banding dirimu, ayahmu baru menginvestasikan uangnya di perusahaanku. Jangan gegabah Nindi "
__ADS_1
" Tidak masalah, ada mas Bastian yang akan melanjutkannya.." ucap Nindi dengan senyuman. Rendra meradang.
" Oo..jadi gara adikku itu, kau berpaling. kau suka hidup dalam kemewahankan, sebentar lagi dia akan membusuk di Penjara ! " hentak Rendra dengan seringai di bibirnya.
" Jangan macam macam dengan calon suamiku..kau yang akan mendekap disana bajingan ? " teriak Nindi sambil meninggalkan rumah.
********
Bastian terbangun dan menemukan dirinya tidur di sofa. Ia mendapat telpon dari ayahnya untuk tidak ke kantor dulu.
Pelan pelan Joni mulai menceritakan kejadian di kantor dan vidio mesum dirinya dengan Lani telah sampai di tangan anggota Dewan Direksi.
" Ah..**** ! " umpat Bastian sambil melempar botol minuman ke lantai hingga pecah berderai. bunyi denting kaca terdengar menakutkan.
Bastian meminta Joni untuk bersiap siap kembali pulang. Bastian mendapat notifikasi pesan bertubi tubi dari Rendra. kakak tirinya itu menuduhnya telah menghasut Nindi agar minta cerai darinya.
Sementara Rendra yang masih dikuasai marah mendatangi rumah Bastian, ia hanya menemukan Ami dan dua orang Art perempuan. Rendra mengancam Art untuk meninggalkan Ami dan dirinya. ancaman itu membuat Art itu ketakutan.
" mau apa kau ? " tanya Ami ketika melihat gelagat Rendra yang sudah menanggalkan pakaiannya.
" Dian ! Sifa ! " panggil Ami berusaha membuka pintu ruang tamu.
" Mereka sudah pergi, Hanya tinggal kau dan aku sekarang Ami..mari bersenang senang denganku " seringai Rendra membuat Ami menjerit ketika Rendra berhasil meraih tubuhnya. Ami meronta hebat.
" lepaskan aku bangsat, aku istri adikmu " teriak Ami. ia melihat tongkat baseball tak jauh darinya.
Ketika Rendra mulai menciumi lehernya, Ami berhasil meraih tongkat itu dan memukulkan ke kepala Rendra.
" Auu !!!! sakit bangsat ! " jerit Rendra seketika melepaskan tangannya di pinggang Ami.
Ami berhasil menemukan kunci cadangan di lemari. ia tergesa membuka pintu dan berlari ke halaman. sebuah mobil mendekati rumahnya. jantung Ami berdegup kencang karena Rendra berhasil menyusulnya, hari masih teramat pagi. langit masih gelap. Ami mengira itu mobil suaminya, ia segera membuka pintu pagar. mobil itu masuk ke halaman.
" Kakak..! " panggil Ami ketika melihat seseorang keluar dari mobil, keadaan yang gelap membuat ia tak melihat wajah laki laki yang turun dari mobil.
" Aku takut kakak..Rendra ingin berbuat jahat padaku " ucap Ami dengan bibir bergetar. Ami memeluk laki laki itu erat, ia menyandarkan kepalanya di bahu laki.laki yang ia pikir itu adalah Bastian, suaminya.
__ADS_1
" Ami tenanglah " ucap orang itu sambil mengurai pelukan. Ami tak mau melepaskan pelukan, seringai Rendra kembali muncul dalam benaknya.
" Apa yang kalian lakukan ! " teriak suara yang sangat di kenal Ami. Ami mengurai pelukan. ia terkejut ketika menyadari kalau yang dipeluknya itu bukan Bastian, melainkan Bagas..
" Brengsek ! " umpat Bastian kemudian masuk kembali ke dalam mobil.
" Bas, turun dulu " pinta Bagas sambil mengedor pintu. Ternyata dalam mobil ada Deni, Amira dan Sherly, istri Bagas. mereka menenangkan Amira yang merasakan perutnya sakit.
" Kakak ! dengar dulu penjelasanku, ini semua tidak seperti kakak pikirkan " ucap Ami dengan memohon. Joni menghentikan mobil ketika melihat istri alasannya itu tertatih mengejar mobil.
" Jalan Joni ! " teriak Bastian sambil memukul jok yang diduduki Joni.
" Pak, apa baiknya kita turun dulu, kita dengarkan penjelasan ibu Ami.."
" Aku bilang jalan ! jalan brengsek ! " Joni terpaksa memajukan mobil lebih cepat hingga Ami terjerembab karna menghindari laju mobil Bastian.
Deni dan Bagas melihat Rendra keluar dari rumah Bastian, kedua sahabat itu langsung menghajar laki laki yang telah membuat sahabat mereka teraniaya, mereka datang pagi pagi itu untuk menemui Bastian setelah dini hari pengakuan seorang office girl yang dilecehkan Bastian viral di media sosial. pengakuan itu di posting tengah malam.
Setelah tenang Ami menceritakan kejadian perihal kedatangan Rendra di pagi pagi buta. tak lupa ia menceritakan perubahan sikap Bastian beberapa minggu terakhir ini.
" Kamu percaya Bastian kan mi ? dia sangat mencintaimu " ujar Deni sambil memberikan Ami minum.
Ami mengangguk. ia memandang satu persatu wajah tamunya dengan cemas. mimik mereka menunjukkan kalau mereka membawa berita buruk.
" Ami..kamu tau kan posisi Bagas begitu diincar Rendra, jadi saat kamu mendengar ini. kami harap kamu tetap berfikiran positif tentang Bastian " tambah Bagas, ia memandag wajah wajah yang ada diruangan itu. mereka semua terlihat frustasi. rasanya tak sanggup melihat reaksi Ami saat mendengar pengakuan Lani.
" ibu...ibu...tidak apa apa ? " dua Art Ami menerobos masuk.
" Kalian dari mana ? pak Susanto mana ? " tanya Ami cemas, ia melihat lebam di pipi kedua Artnya.
" Kami di sekap bu.., pak satpam dipukul hingga pingsan " jawab Dian.
" Kami mengkhawatirkan ibu...karena ibu sedang hamil."
" Hamil ? " ulang keempat tamu Ami dengan nada frustasi. mereka saling pandang, Deni menyandarkan kepalanya ke kursi.
__ADS_1