
Hendra meletakkan jari telunjuk ke bibir. Bastian terperangah saat Ami pergi mengikuti Edi, aspri ayahnya.
" ikuti saja aturan papi " bisik Hendra menunjuk Winda yang baru masuk ke ruangan Hendra.
" Kamu sudah minta dia resign mas ? " tanya Winda memperhatikan Ami yang pergi bersama asisten Hendra.
" Bisa kamu lihat sendiri Sun, dia sekarang mengemasi barang barangnya di ruang putramu "
Winda menatap putranya yang terlihat kesal.
" Kalaupun bukan Nana yang jadi istrimu, setidaknya carilah seseorang perempuan yang mengerti lingkungan bisnis keluarga kita "
Bastian tak menanggapi, ia menghempaskan bobotnya di sofa, duduk dengan melipat tangan di dada serta melirik pemandangan gedung gedung bertingkat di luar jendela. Perasaan Ami paling paham bagaimana perusahaan ayahnya berjalan. Apa yang Ami lakukan setiap mereka lembur melebihi kemampuannya, sayang dia terlahir dari keluarga tak berada.
" Kamu denger mami ga sih Bas, kamu milih mami atau dia ! " sentak Winda sambil membantu suaminya merapikan jas.
" Milih Amilah mi, masa milih mami..memangnya aku Sang..ku..riang " dengus Bastian yang disambut tawa Hendra. Winda merengut.
Asisten Hendra kembali dan memberikan kabar yang membuat Winda tersenyum bahagia.
" Sudah pak, nona Ami sudah membereskan barang barangnya di ruangan pak Bastian "
" Astaga ! papi ini sudah keterlaluan. Aku ini sudah tiga puluh tahun mami, kenapa semuanya harus diatur atur sama mami, sama siapa aku jatuh cinta itu urusan hatiku bukan urusan bisnis keluarga " Bastian memukul dinding, sekarang hatinya rasanya di jatuhi martil.
" Terima kasih mas " ucap Winda, ia merapikan dasi Hendra, hal yang sudah lama ia tak lakukan.
" Mas..kenapa Hutomo menarik semuanya sahamnya dari perusahaan kita, tadi aku mendapat undangan pertunangan Na... " Dina yang tiba tiba masuk ruangan suaminya tertegun melihat madunya tengah memegang dasi suami mereka.
Suasana tiba tiba menjadi hening dan melambat. Winda menarik tangannya dari dasi Hendra. Ia meraih tasnya dan ingin beranjak pergi tapi Hendra menahan tangannya.
" Tunggu Sun, aku masih ingin bicara. Tunggu di sini, Din..., bisa tunggu aku diruangan Rendra " titah Hendra pada kedua istrinya.
" Bastian, ikut papi ! "
Bastian mengekori papinya menuju ruang meeting. Hendra mempersilahkan anaknya duduk. Sesaat Hendra menarik nafas, memimpin dua keluarga dengan berlimpah harta tak semudah bayangan orang. Wanita selalu ingin hati yang utuh dan tak mau berbagi kasih sementara itu Ia hanya punya satu hati. Sayang ia tak bisa membelah diri seperti amuba.
" Sekarang papi belum bisa cerita, apa yang papi lakukan pada Amina tapi yang pasti istrimu baik baik saja "
Bastian tercengang dengan ucapan papinya, sama sekali tak ada nada keberatan dalam perkataan papinya.
" Papi setuju kalau aku menikahi Amina ? " tanya Bastian penuh harap.
" Kan kamu sendiri yang bilang, kamu itu sudah tiga puluh tahun dan urusan hati ga mau diatur sama orang lain, sekarang ikuti saja aturan papi " ucap Hendra sambil mengusap bahu anaknya. ia merogoh saku dan mengambil ponsel.
" Ben.., sudah sampai mana ? " tanya Hendra pada seseorang dalam hp. Hendra menyerahkan hpnya pada Bastian yang sedang menelungkupkan kepala. Bastian mengambil hp itu dan meletakkan di telinga. Ia menyapa dengan malas. ia kira ibunya yang menelpon.
__ADS_1
" Halooo "
" Halooo kak "
kontan saja Bastian berdiri tegak, mendengarkan suara yang sejak tadi di tunggunya.
" Kamu dimana dek ? " tanya Bastian tergesa.
" Kak, aku sedang di bandara. Papi minta aku jadi perwakilan pertemuan perusahaan properti di Inggris "
Bastian melirik papinya yang sedang tersenyum dan mengacungkan jempol.
" Jam berapa kamu berangkat ? "
" masih dua jam lagi kak pesawatnya delay, aku minta izin ya sama doanya " suaranya Ami mulai berat.
" Jangan nangis ah..disana nggak ada jual permen kaki " sambut Bastian, meski terkekeh tapi mengandung bawang.
" Kamu disini saja, atau nyusul dia ke bandara "
Bastian merogoh sakunya, dan melihat ada kunci mobil yang ia simpan di saku.
" Tunggu aku, bilang sama kernetnya jangan berangkat dulu, ada yang mau bilang cepat pulang cepat kembali " ujar Bastian sambil masuk ke mobil.
Bastian sampai di Bandara Sutta dan langsung mencari istrinya yang sedang berbincang dengan seorang ibu.
" Tante ? mau berangkat juga ? "
" Bastian, apa kabar ? sudah lama kamu tidak main ke rumah. kalian semua sudah jadi orang super sibuk " ucap ibu itu sambil menepuk bahu Bastian. Ibu itu adalah ibu Bagas, bu Rahmi.
Bastian melihat Ami yang begitu akrab dengan ibu Bagas, Andai mami bisa menerima Ami seperti itu. Pikir Bastian.
" nggak nyangka kamu nikah duluan Bastian, kok tante nggak dapet undangan resepsinya. udah lupain tante nih " todong Rahmi yang membuat Bastian gelagapan. Jangan kan tante, ibu sendiri nggak tau anaknya sudah nikah, batin Bastian.
" belum tante, nikahnya mendadak karena ayah Ami ingin lihat kami menikah sebelum ia meninggal " jawab Bastian apa adanya. Ia melirik Ami yang berdiri di sampingnya. Istrinya itu melipat tangan di dada, seperti kedinginan.
" Nanti undangan resepsinya menyusul, sebentar tante aku mau bicara sama Ami dulu "
" O..ya silahkan "
Bastian mengajak Ami ke tempat yang agak lengang dari lalu lalang orang.
" Disana jangan lari larian, kemana mana pegang tangan mbak Tantri, takut kamu hilang " nasehat Bastian di sambut bibir manyun Ami.
" Ish..kakak ni, emangnya aku anak kecil, gini gini aku pernah juga lo kak pergi keluar negri pertukaran pemuda waktu kuliah " sungut Ami tak terima dikatakan tak tau dunia luar negri.
__ADS_1
Bastian tercengang. Ia sama sekali tak pernah mengulik masa lalu Ami. Sepertinya ia harus cari tahu bagaimana Ami dulu semenjak ditinggal ibunya.
" pakai ini, di sana sedang musim dingin " Bastian mengikat kan hoodie ke leher Ami "
Ami seperti menunggu sesuatu.
".Kak ! " panggilnya. Bastian menyipitkan mata. Tak mengerti maksud mata Ami yang seperti bicara sesuatu.
" Ekhm..! " Ami mendehem, tapi Bastian belum juga peka. Ami menunjuk orang orang yang melakukan salam perpisahan.
" Apa sih.., uang jajannya kurang ? "
" Ah..kakak ni ga paham paham..ga mau pe...luk aku seperti mereka " tunjuk Ami pada sepasang kekasih yang sedang berpelukan. Ami menutup mukanya yang merona karna malu.
" tapi jangan ditampar lagi ya , ini masih sakit " Bastian menarik tubuh Ami yang hanya setinggi dagunya. ia mengungkungnya erat. Ami membenamkan kepalanya di dada Bastian
" Maaf " cicit Ami merasa bersalah karena telah menampar pipi Bastian, ia rasa.cukup keras.
" Masih sakit ? "
" Hu..uh " Bastian mengangguk. Ami mengurai pelukan dan menengadahkan wajahnya. Ia menarik leher Bastian agar menunduk hingga ia bisa mengusap pipi suaminya yang agak berjambang itu. Ah..biasa aja, ga merah, lebay nih anak pikir Ami. Tapi.
Cup !
kecupan lembut singgah di pipi Bastian, Ami tersenyum bersama pipinya yang bersemu merah.
" aku akan merindukan kakak " bisiknya. seketika hati Bastian menghangat. darahnya berdesir mendengar ucapan Ami. ia juga tak mengerti sejak kapan ia begitu bucin pada istrinya itu.
" aku juga, cepat pulang. kasihan jun.." Ami mencubit pinggang Bastian. Bastian mengaduh.
" Ish..sabar napa "
Panggilan untuk penumpang pesawat yang ditumpangi Ami mulai menggema di speaker bandara. Ami melambaikan tangannya dan berjalan mengikuti pegawai papinya yang mengenalnya, mereka menunduk hormat pada Bastian.
Seketika bayangan dua tahun lalu melintas dalam pikiran Bastian. perempuan itu menyembulkan kepala dari jendela kereta melambaikan tangan dan mencebik padanya..
" Awas ya kalau kita ketemu lagi aku akan balas dendam..." teriak Bastian kala itu.
" Ya...selama itu kau akan merindukanku..' balasnya.
Bastian merasa itulah hari dimana dia telah jatuh cinta lagi...
Bastian mengangkat hpnya yang berdering. dari Deni.
" Bas.., bisa kamu kesini, Amira mabuk berat "
__ADS_1