
Bastian membawa Ami ke apartemennya, memintanya Ami untuk menyusun barang belanjaan yang tadi mereka beli. Ami mencoba menyamankan dirinya. tapi tetap Saja bayangan Winda menari dalam pikirannya.
" Pak apa kita nggak akan digerebek hansip disini, kita kan nggak punya buku nikah " tanya Ami setelah selesai menyusun isi kulkas. Bastian baru saja selesai mandi.
Bastian tak menjawab tapi mengusar kepala Ami dengan handuk ditangannya.
" disini nggak ada hansip Ami, sudah mandi sana habis itu buatkan makan malam buat saya " Bastian mendorong tubuh Ami masuk kamar.
Ami menutup matanya ketika aroma maskulin tubuh yang baru mandi itu menguar ke udara. ia sungguh tergoda.
" Nggak sekarang, nanti. " bisik Bastian syahdu, mesti lelah otak mode onya nyala.
Ami tiba tiba terbayang sesuatu. Ia menarik tangan Bastian keluar kamar.
" Pak antarkan saya pulang !" pinta Ami sambil mencari tasnya.
" Pulang kemana ? "
" ke rumah sayalah pak, bukan ke atas pohon '
Bastian memakai baju kaus yang tadi tak sempat dipakainya saat Ami menariknya keluar kamar.
" Pak..Ayo.." desak Ami yang sudah berdiri di pintu.
Bastian berlagak cuek, ia.mengambil air dalam kulkas dan membawanya ke depan tv.
" Kamu mau pulang kemana ? " tanya Bastian santai. ia duduk di sofa yang ada didepan tv sambil menyalakan benda segi empat pipih itu.
Ami merebut remote ditangan Bastian dan menekan tombol off.
" Bapak kok ngeselin banget sih jadi orang, saya takut pak..takut tiba tiba bu Winda grebek kita berduaan disini "
Bastian hanya senyum senyum, entah kenapa ia merasa betah melihat wajah mode ngamuk Ami dan menambah bumbu godaan lagi.
" Ah..kamu ini, mami saya bukan satpol pp, kalau ketauan pun nggak masalah kita juga sudah nikah ini "
kesal Ami nyampai ke ubun ubun lihat bosnya ini tidak mengerti ketakutannya, bayangan bu Winda jika sampai tahu pernikahannya dengan Bastian yang telah bertunangan dengan anak salah seorang dewan direksi pemegang saham terbesar di perusahaan papi Bastian, nyonya itu pasti bagai disambar petir jika melihat anaknya kawin dengan anak pembantu.
" pak Bastian bisa ngomong baik baik sama bu Winda tapi bu Windanya yang nggak bakal terima Ahh.. " Ami memukul dada Bastian tapi Bastian menangkap tangan Ami dan meraih tubuh Ami ke pangkuannya.
Ami merasakan degup jantungnya ritmenya naik, apalagi saat punggungnya menyentuh dada Bastian, ia juga bisa merasakan ritme irama jantung Bastian juga tak beraturan.
__ADS_1
Ami merasakan pucuk kepalanya dibelai.
" Kamu tenang saja, mami nggak akan kesini " ucap Bastian sambil mengecup ubun ubun kepala Ami. Ami merasakan degup jantungnya melambat ketika tangan Bastian mengelus bahunya.
" Kamu mau pulang kemana hmm ? saya adalah rumah kamu untuk pulang "
Meleleh...meleleh..guys..Ami merasakan hatinya meleleh dan menghangat. orang yang dulu hanya dia imajinasikan, pangeran berkuda putih datang mengulurkan tangan agar kamu ikut dalam petualangannya. kini menangkup pipinya dengan kedua telapak tangannya.
Ami merasakan tubuhnya seperti kaku, pesona dua bola mata yang menatapnya dengan binar bahagia. Ia membiarkan Bastian menurunkan kepalanya hingga kepangkal paha atasannya itu. laki laki itu berlahan menunduk, beberapa tetes air dari rambut Bagas mengenai mukanya.
ada dua sisi yang bertentangan dalam diri Ami satu menerima dan satu sisi lagi berontak ingin lepas dari pagutan bibir yang membuai itu.
Tangan Ami memukul sofa saat Bastian memperdalam ciumannya.
sial ! ia malah membalasnya dengan membuka akses lebih dalam.
adegan hangat diatas sofa itu berhenti saat bel berbunyi. Bastian bangkit dari tubuh Ami. beranjak mendekati pintu. ketika ia melihat celah pintu, ia menoleh pada Ami.
" Mami ! " ucapnya singkat tapi cukup membuat Ami yang sedang melap bibirnya, panik. persis pasangan mesum mau digerebek massa. padahal yang datang hanya satu orang, tapi kekuatannya melebihi penduduk sekampung.
Bastian hendak meraih handel pintu. Mata Ami terbelalak saat Bastian ingin membuka pintu, tapi menahannya dan melihat sekilas pada Ami. begitu beberapa kali. laki laki itu seperti ingin mengerjainya.
Bel terus berbunyi. Ami kebingungan mencari tempat bersembunyi. semua tempat sudah ia perhitungkan beberapa persen tingkat bakal ketahuannya.
Samar samar ia dengar suara Winda sedang berbincang dengan ibunya.
Hatinya berdenyut perih saat ia dengar suara Winda memohon pada anak semata wayangnya.
" Bas, mami sudah ingin menimang cucu, apa lagi yang kamu tunggu. sampai kapan pun mami tidak setuju kamu sama Amira "
" Iya Bas ngerti maunya mami, tapi mami harus sabar. Bas juga lagi OTW kesana "
Winda yang sedang terpekur, mendongakkan kepalanya menatap anaknya tajam.
" Jangan bilang kalau kamu sudah nikah sama Ami ! "
Ami yang mendengar kalimat sarkas itu terperanjat. Bagaimana nyonya itu bisa tahu fakta mereka sudah menikah.
Bastian menggaruk tengkuknya, jelas semua tindakannya sudah ia perhitungkan manajemen resikonya termasuk menikahi asistennya. Andai Ami tahu kalau, keputusannya bukan serampangan.
" Tenanglah mi, semua akan indah pada waktunya. Mami mau makan apa ? nanti Bas buatkan "
__ADS_1
" Nggak mami mau pulang aja " ujar Winda sambil memperbaiki dandanannya.
" ya mami hati hati, jangan ngebut.."
Ami menarik nafas lega, ia seperti berada dalam suasana yang dirasakan aktor film ketika dikejar Zombie, padahal nyonya Winda cantik aduhai. teganya pikirannya menyamakan wanita itu dengan zombie.
" Mami sudah pulang " ucap Bastian saat masuk kamar.
" Akhirnya..." ujar Ami menarik nafas lega.
Ami langsung merebahkan diri ke kasur empuk Bastian dengan gaya merentangkan kedua tangannya. tentu yang melihat itu terpancing.
" Kamu nggak mandi, nggak sholat ? "
" Ntar lagi, lagi nggak. saya mens "
" Yahh...nggak jadi " Bastian ikut merebahkan diri disamping Ami.
" apanya nggak jadi ?" tanya Ami polos. mode onnya kehabisan batrai, padahal baru dicas di sofa.
Bastian menyentil hidung Ami. Ingin rasanya mengunyah pipi squishy itu.
" Bukan apa apa, mandi sana. kemarin saya minta Jojo temani saya beli kebutuhan rumahan kamu. semuanya ada dalam lemari "
" sampai dalam dalaman ? "
sambil bertopang dagu, Bastian mengangguk. mode on istrinya itu benar benar lagi off karna hanya tanggapan Ohh..yang ia dapat. sepertinya baru berjalan 60 persen.
Semenit Ami menikmati bahu mereka beradu, detik kemudian wajah Winda bagai Alarm dalam kepalanya.
mode on Complete.
" Pak, bagaimana bapak bisa setenang ini, padahal diluar sana sedang grasak grusuk menanyakan maunya hati bapak apa, taunya bapak gituan sama saya. HWD grup akan meledak !" ujar Ami sambil berusaha duduk tapi tangan Bastian menarik tubuh Ami agar berbaring lagi. pas jatuh di dada Bastian.
" Jantung saya yang mau meledak mi, kamu nggak dengar detaknya lebih cepat itu karna...kamu " telapak tangan Bastian mengelus sudut pipi Ami.
Blush !
bunga bunga berterbangan di ruang hati Ami.
" Stop ! bapak sudah cukup membuat saya terbuai, melambungkan saya tinggi tinggi dan saya takut terhempas ke bumi, kalau ini mimpi saya takut bangun, kalau nggak bangun bangun artinya saya mati..nggak nggak pak, KPR saya belum lunas, Jojo pasti mengutuk saya " cerocos Ami setelah berhasil keluar dari pelukan Bastian.
__ADS_1
Tawa Bastian meledak seketika.