
Hendra terkejut ketika pagi hari ia mendapat kabar kalau istri pertamanya di rumah sakit. Bastian tak ingin mempermasalahkan panggilannya beberapa kali di rejek oleh seseorang, ia yakin itu bukan ayahnya yang melakukan melainkan ibu tirinya yang membenci ibunya.
Semalam Bastian mengantarkan Ami pulang ke rumah karena istrinya itu sepertinya tidak enak badan. Meski Ami memaksa untuk tetap tinggal di rumah sakit.
Setelah ada papinya yang menjaga ibunya Bastian kembali ke kantor.
Bastian merebahkan punggungnya di sandaran kursi. keadaan mami membuat hatinya galau. Walaupun bagaimanapun ia tak ingin membuat ibunya kecewa tapi meninggalkan Ami, itu tak akan mungkin di lakukannya. ia di posisi ini, ini adalah bagian dari kerja keras Ami.
" Pak, anda sakit ? " tanya Joni yang datang membawa kopi.
" Tidak Jon, hanya sedikit lelah. sudah kamu bereskan berkas berkas yang saya minta kemarin ? "
" sudah pak, semua ada di meja bapak " ucap Joni.
Semalam Bastian tidak tidur karena ibunya terlihat gelisah. setelah membereskan semua berkas yang harus ditanda tangani. ia meminta Joni agar tak ada yang menganggu istirahatnya.
Malam ini ia harus mempersiapkan lembur untuk kerja tim marketing. Biasanya ada Ami dan Bagas yang bisa diandalkan untuk membuat virtual menarik dalam pemasaran properti perusahaan HWD grup. Sayangnya kedua orang itu sudah mengundurkan diri dan yang pasti ia tak ingin istrinya bekerja sama sahabatnya yang terang terangan ingin menjadi rivalnya.
Bastian terbangun di kamar yang ada di ruang kerjanya dan terkejut ketika melihat seorang perempuan tidur di sebelahnya tanpa menggunakan busana.
" Apa yang kau lakukan disini ? " tanya Bastian melihat tubuhnya juga bertelanjang dada. gadis itu menyeringai.
" Apa bapak tidak ingat betapa ganasnya bapak menjamah saya tadi " ucap Lani sambil memperlihatkan tubuh polosnya. Bastian segera melemparkan pandangan dan melempar selimut pada Lani.
" cepat pakai pakaianmu dan pergi dari ruanganku CEPAT ! " Bastian menyambar kemejanya yang berserak di lantai. ia pergi ke kamar mandi dan memeriksa apakah ada cairan yang keluar dari pusakanya, seperti yang dikatakan gadis OG tadi kalau mereka sudah berhubungan intim. Beruntung, ia tak menemukan sedikitpun cairan di pusakanya.
ia langsung berfirasat kalau ia sudah dijebak Rendra. Bastian mengeram karna Joni tak juga mengangkat telponnya. sudah beberapa kali ia menerima ancaman dari Rendra dan ibunya agar segera mengundurkan diri secara baik baik atau mereka memaksa Bastian mengundurkan diri dengan cara memalukan.
*******
__ADS_1
Kejadian Lani di ruangannya telah berlalu satu minggu, wanita itu juga tak pernah muncul lagi di perusahaan. Joni mengatakan kalau saat itu ia di minta Rendra untuk menemui klien Bastian yang minta ingin bertemu.
Benar, Joni menemui klien itu. karna tak menaruh curiga apapun pada Rendra yang ia lihat sebagai kakak Bastian. ia pergi meninggalkan ruangan Bastian tanpa memberi tahu pada Bastian terlebih dahulu karna Rendra berjanji akan bertanggung jawab pada Bastian jika Joni pergi tanpa seizin Bastian.
" Kenapa kamu ceroboh Jon ? mulai sekarang kamu tak boleh meninggalkan saya tanpa seizin saya " ucap Bastian tegas.
" bukannya bapak dan pak Rendra bersaudara ?" tanya Joni polos. ia tak menyadari percakapan kedua adik kakak itu tak lebih dari basa basi.
" ya..tidak salah, tapi dia lebih buruk dari sekedar musuh " jawab Bastian penuh kekesalan.
Sepertinya tidak ada isu apapun yang berhembus di kantor, semua berjalan seperti biasa. Lani benar benar menghilang dari perusahaan.
Fokus Bastian kini teralihkan dengan aktifitas Ami dikampus milik keluarga Bagas. Ternyata Bagas juga jadi pengajar disana.
Sejak pertengkaran mereka sebelum Bagas pergi ke luar negri. Ia tak membuka percakapan apapun dengan sahabatnya itu, meski Joni memintanya membuka kembali komunikasi dengan Bagas.
Hingga ia tak tahu bagaimana perkembangan sahabatnya itu.
Satu hari ia melihat Ami sedang makan siang bersama Bagas di sebuah restoran, memang mereka tidak berdua, ada empat orang yang menyertai mereka. Tapi rasa insecure itu kembali muncul saat melihat Bagas yang terlihat berbeda sekarang, lebih santai. apa karna kesibukannya membuat Ami memilih bercengkrama dengan Bagas dan mungkin saja benih benih perselingkuhan masih. Ah..kenapa ia merasa begitu khawatir. Bastian merutuki diri sendiri.
Selama menjaga ibunya Ami memang agak terabaikan. Bastian harus bolak balik rumah sakit dan kantornya dan hari ini Winda sudah diperbolehkan pulang.
Saat membawa ibunya pulang, Bastian mendapat ancaman.
[ Sebaiknya kau mengundurkan diri sekarang, kalau tidak, berita kau melecehkan office girl itu akan sampai ke meja Dewan ]
Bastian menghempaskan kepalan tangannya ke kemudi. posisinya tersudut sekarang, ia harus mencari Ami dan menceritakan masalah fatal yang menimpanya ini. Jika ia tak bisa menjelaska kejadian yang sebenarnya akan berdampak buruk pada posisinya sebagai direktur dan rumah tangganya kelak, lebih baik ia sendiri memberi tahu Ami. Sebelum Ami tahu dari orang lain.
Saat Ia menjemput Ami di kampus, tak sengaja ia melihat Bagas menolong Ami yang sedang terhuyung. darahnya seketika mendidih.
__ADS_1
" Kak .." panggil Ami yang terkesiap melihat kehadiran suaminya saat Bagas memegang tangannya.
" Naiklah ! " ucap Bastian ketus sambil membuka pintu mobil.
Mereka tak bicara apapun di dalam mobil. Bastian mencoba mengurangi gemuruh cemburu di dalam dadanya.
" Apa Bagas sering bersikap seperti itu padamu ? " tanya Bastian sarkas. Ia lupa tujuannya menjemput Ami. ingi berbagi masalah, justru yang ia lihat menambah beban perasaannya.
" Maaf kak, tadi aku terpeleset dan kebetulan Bagas ada disitu "
" O..ya, kebetulan, kebetulan dan banyak sekali pertemuan kalian yang kebetulan terjadi, apa kamu sudah bosan dengan aku " Bastian semakin meradang, akhir akhir ini pikirannya sedang kacau.
Ia harus bisa menutupi kesalahan Rendra demi nama baik ayahnya tapi di sisi lain, ia tengah di tikam dari belakang.
" Kenapa kamu tak lagi menemui mami, usahamu terlalu singkat untuk mengambil hati mami "
" Bukan begitu kak, minggu ini aku harus membantu tante Rahmi untuk acara keluarga mereka "
Ami terkejut ketika Bastian menghempaskan tangannya ke atas dashboard dekat Ami.
" kenapa kamu seolah olah lebih mementingkan Bagas dan keluarganya, saat dirumah kau tak pernah menanyakan apa yang sedang aku pikirkan Mi, kau seperti menikmati duniamu sendiri ! " hentak Bastian begitu keras hingga Ami harus menutup telinganya.
Bastian meminggirkan mobil. Ia menghela nafas panjang dan mengusap mukanya dengan telapak tangan. ia baru mendapat kabar kalau bank yang menjadi biasa jadi relasi perusahaan HWD tak mwgaprove pinjaman modal lagi untuk HWD grup.
Ami mencoba menahan isaknya, baru kali ini ia mendapat perlakuan kasar dari suaminya. ia tahu kalau Bastian melihat usahanya terlalu lemah untuk mendekati ibu mertuanya. tapi rasanya ia tak punya daya lagi agar Winda mau mengakui dirinya sebagai menantunya, sebelumnya ada Nana dan sekarang ada Nindi yang ingin menyingkirkannya.
*******
potongan potongan vidio Bastian bersama Lani telah sampai di hp Hendra. laki laki tengah baya itu juga tengah menahan sesak hatinya. ia juga tak menyangka kedua putranya adalah laki laki bejat. Beberapa Dewan telah menghubunginya perihal vidio itu.
__ADS_1
" persiapkan rapat dewan direksi secepatnya " ucap Rendra pada asistenya. ia menghela nafas panjang.