Asisten Special

Asisten Special
Kapan malam pertama ?


__ADS_3

Gerimis mulai meningkahi malam, Amira belum menutup gorden. ia memandang titik titik hujan dari tertimpa cahaya lampu balkon. Setelah makan malam, Deni sibuk membereskan kamar yang akan dia jadikan kamar dan ruang kerjanya.


Amira meminta Deni untuk tinggal di apartemennya karena ia sudah merasa nyaman di situ, apartemen itu merupakan apartemen sewaan karena saat ia kembali tanah air, ia ragu apakah Bastian mau menerimanya kembali. Jika ia tak punya pasangan di tanah air artinya ia harus kembali ke Swiss, entah pikiran dari mana yang membuatnya meminta Deni menikahinya. Setelah menerima kenyataan Bastian sudah menikah. ide absurd itu muncul tiba tiba.


Deni, sahabat yang selalu setia membantunya, mendengarkan semua keluh kesahnya. kenapa tak terpikirkan olehnya tentang kisah cinta sahabatnya itu. Apakah ia sudah melukai hati seorang perempuan lain.


" kok melamun ? mau dibikinkan kopi. teman ngobrol " Amira terkejut ketika orang yang sedang di lamunkannya ada di hadapan.


" Boleh "


Deni berbalik dan berjalan ke arah dapur dan tak lama ia kembali dengan segelas kopi.


" Jadi biro konsultan intetior ? aku bakal bantu nyewain gedung sama beli peralatan kantor " tanya Deni sambil menyeruput kopinya.


" Jadi. nggak usah repot repot mas, nanti aku minta bantuan papa saja untuk modal awalnya " jawab Amira ikut menyeruput kopi. Deni meletakkan kopinya dan melipat tangan di dada.


" Sekarang kamu sudah punya suami Amira, apa kata papamu, kalau kamu masih minta biaya dari mereka, untuk dukung bisnis kamu aku masih sanggup Ra " ujar Deni merasa tak senang dengan jawaban Amira.


" tapi bagaimana dengan adik adikmu mas. mereka masih butuh bantuan kamu " sanggah Amira.


" mereka bakalan ngerti karna sekarang aku sudah punya istri " tapi istri yang belum bisa ku sentuh. sambung Deni dalam hati.


Amira tersenyum sambil meraih tangan Deni yang masih bersidekap.


" Makasih mas atas support kamu selama ini " ucap Amira sambil menggenggam tangan Deni. Deni mengusap kepala Amira.


" Apapun itu, akan ku lakukan Ra agar kamu bahagia, cuma satu yang tak bisa ku lakukan, mengembalikan hati Bastian untukmu "


Amira tercenung, ada sindiran halus dari kalimat itu, ia dianggap belum move on dari Bastian.


" Maaf.." ucap Deni melihat perubahan wajah Amira yang tiba tiba pias.


" Ah..kamu merusak malam romantis kita saja mas, sekarang yang kita bahas soal aku dan kamu bukan mantan " ujar Amira sambil menepuk paha Deni.


Giliran Deni yang tertegun dengan ucapan Amira, apa Amira menganggap pernikahan ini sungguh sungguh ? ia tak tahu sampai kapan jiwa lelakinya bertahan. setiap hari ia diharapkan dengan bibir plum yang manis. Secara agama ia sudah dapat lampu hijau untuk menyesapnya tapi apakah Amira akan mengizinkannya ?


" Sebentar, ada sesuatu di wajah kamu " ucap Deni sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Amira. Nafas yang begitu dekat itu membuat gadis indo itu menutup mata. ia merasakan tangan dingin Deni menyentuh bibirnya. tiba tiba ia membayangkan adegan kissing dalam drama korea.


" ada noda kopi " ucap Deni sambil bergeser, Amira membuka matanya, ada kecewa singgah di hatinya. ini diluar prediksi BMKG.


" Kenapa tutup mata ? " tanya Deni yang membuat Amira langsung berdiri. ia rasa mukanya sudah merah sekarang, malu ketauan pengen di cium.

__ADS_1


" Nggak apa apa " jawab Amira kemudian bergegas ke kamar dan membenamkan kepalanya dalam bantal.


" Kok jadi mesum gini sih " Amira memukul bantal.


" Ra.., kamu nggak pa pa ? " teriak Deni di luar pintu. mendengar suara teduh dan perhatian itu membuat Amira ingin menarik suaminya masuk ke kamarnya dan meminta Deni merasakan degup jantungnya yang tak karuan.


" Nggak pa pa, aku mau tidur " jawaban tak sesuai ekspektasi hati. Amira merutuki dirinya sendiri. kenapa ia jadi ingin malam istimewa itu terjadi. malam pertama.


" Ya..sudah, aku mau lembur malam ini, kalau aku terlambat bangun. tolong di bangunkan, pintu kamarku tidak aku kunci "


" Ya.." tanggap Amira pendek. sekali lagi ia merutuki pemberi tahuan itu. bisa bisa karna saking inginnya, ia tiba tiba ia menyusup kesebelah dan ikut masuk ke balik selimut Deni.


Amira pura pura keluar ambil minum, padahal ia ingin melihat apa yang dilakukan suaminya di kamar sebelah. ternyata pintunya memang tidak di kunci. Amira melihat Deni sedang berkutat dengan laptop dan berkas berkas, dari dulu sahabatnya itu terkenal rajin dan ulet meski tak sehebat Bastian.


Amira mengigit bibirnya, ada kesan tak terkatakan saat laki laki itu menggigit pena dan membolak balikkan berkas.


" kenapa belum tidur ? " tanya Deni saat menyadari kehadiran Amira di depan pintu.


" belum ngantuk, boleh aku masuk ?" jawab Amira sambil melangkah ke dalam kamar.


" Silahkan " Deni tertegun sejenak saat memindai tubuh Amira. ia menelan ludah. tubuh sintal dalam balutan piyama silk itu membuat ada bagian tubuhnya yang berdenyut.


" Si..silahkan " jawab Deni berusaha menahan degup jantungnya yang berpacu. Ketika melihat Amira menutup matanya. ia menggusar rambutnya frustasi, kenapa sih lo harus tidur di sini Ra., gue nggak konsen kerjanya. rutuk Deni dalam hati.


geliat tubuh yang mulai terlelap itu hampir membuat Deni lupa diri. ia tidak fokus lagi dengan layar laptop. Sebenarnya pekerjaan yang ia lakukan itu deadlinenya masih lama karna Bastian sengaja memberikan cuti nikah untuknya.


Tidak melakukan apa apa, justru membuat otaknya aktif beraktifitas, apalagi hatinya terus bertanya. kapan malam pertama ?


Deni beranjak dari meja kerja dan mendekati tempat tidur, ia membuka selimut yang masih terlipat. pelan pelan ia selimuti Amira. jemarinya ingin sekali menyentuh pipi mulus itu, tapi ia menahan jemarinya agar memberi jarak.


Keesokannya, Amira menemukan Deni tidur di sofa. seperti janjinya tadi malam. ia Akan membangunkan Deni.


" Mas...mas..Deni bangun " ucap Amira pelan, ia menepuk lembut bahu Deni. Deni belum bereaksi sama sekali. Amira menepuk lebih keras dan meninggikan suaranya.


" Mas..bangun sudah pagi !" Deni terkesiap dan reflek menarik tangan Amira hingga kepala Amira bersandar di dadanya.


" Oh...maaf " ucap Deni sambil menjauhkan kepala Amira dari dadanya.


" Kenapa mas nggak tidur di kamar, aku bau ya " protes Amira sambil mencium tubuhnya. Deni ikut berdiri dan merasa bersalah dengan pulangnya tidur di sofa. tidur di kamarpun jadi serba salah.


" Kamu wangi kok " Deni ikut mencium bahu Amira. beberapa saat mereka saling bersitatap.

__ADS_1


" Aku mau mandi dulu, buatkan aku kopi ya " ucap Deni sambil menggusar rambut Amira. Amira mengangguk. Saat menyeduh kopi, bibirnya tak berhenti tersenyum..ada sensasi bahagia singgah di hatinya saat hidung bangir itu hampir menyentuh pipinya.


' Kok aku yang kegatelan ya ? ' tanya hati Amira yang dijawabnya sendiri.


' halal kok sama suami sendiri '


********"


Nindi baru saja kembali dari ruang kerja suaminya, ia terlihat shock. Ia bergegas masuk ke ruang Bastian walau sudah di larang asisten Bastian. Karna ada suami istri yang sedang berbincang di dalam.


Saat Nindi masuk, Ami sedang berada di kamar mandi.


" Mas..mas Bastian, tolong aku " Bastian yag sudah duduk di sofa kontan berdiri. Nindi langsung menubruk tubuhnya dan melingkari pinggang Bastian dengan tangannya.


" Kamu kenapa ? " tanya Bastian sambil berusaha menjauhkan tangannya dari tubuh Nindi, Bastian melihat ke arah kamar mandi di ruanganya. Ami kebetulan keluar dari sana. menatap nanar suaminya yang di peluk perempuan lain yang tak lain iparnya sendiri..


" Ada perempuan di ruangan Rendra, mereka terlihat akrab " cicit Nindi masih dalam mode memeluk Bastian.


Tak lama Rendra masuk dan menarik tubuh Nindi yang berada ditubuh Bastian.


" Kamu mau coba coba goda istri saya ya " hentak Rendra yang justru menyalahkan Bastian atas sikap istrinya sendiri.


" Apa istri cupumu itu tak cukup menggoda sampai menggoda istri kakakmu sendiri " hidung Rendra menuding Ami. Bastian perlahan mengepal tangannya. Ami yang melihat kepalan itu terangkat segera ia cegah.


" Jangan kak " bisik Ami. Bastian menurunkan tangannya.


" Silahkan kalian pergi dari ruangan saya, masalah rumah tangga selesaikan di rumah jangan di bawa ke kantor ! " sentak Bastian sambil beranjak ke meja kerjanya.


Rendra menatap tajam Bastian dan Ami, ia menyusul Nindi yang sudah duluan keluar.


" dek.." panggil Bastian saat Ami juga ikut keluar.


" Ya kak.ada apa ?." Bastian tak menjawab. ia menunjuk bibirnya, Ami menggeleng.


" Masalah rumah tangga kita selesaikan di rumah, jangan di bawa ke kantor " ucap Ami mengulangi perkataan Bastian pada Rendra tadi. Bastian merengut.


" Untuk kamu pengecualian.." tanggap Bastian tegas. Ami tetap menggeleng. ia hanya menempel dua jari ke bibir dan meniupkan udara ke arah Bastian dengan dua jari berada di bawah bibir.


" Jonni...! " panggil Ami pada asisten Bastian yang baru masuk.


" titip bapak "

__ADS_1


__ADS_2