Asisten Special

Asisten Special
Rahasia Rendra


__ADS_3

Deru hujan menyamarkan suara dua insan yang tengah bercumbu di sebuah apartemen. Ketika mereka sampai di puncak pelepasan, keduanya terengah engah mengatur nafas yang tadi memburu.


Dering hp mengejutkan mereka yang ingin memulai pagutan bibir lagi. Rendra, laki laki yang telah lihai memuaskan wanitanya di atas ranjang mengeram kesal. Ia meraih hp yang terus berdering di atas nakas.


Tadi ia lupa mematikan hp sebelum memulai pergulatan mereka. Ia merutuki Nindy, calon istrinya yang menghubunginya.


Rendra mengelus bahu perempuan yang sudah menjadi teman ranjangnya, ia tak lain adalah sekretarisnya sendiri. Luna.


" Haloo sayaang " sapanya pada Nindy yang terdengar merajuk. Rendra mencium pucuk kepala Luna.


" Mas kemana aja, acara pernikahan kita tinggal satu hari lagi kok mas sibuk terus "


Luna tersenyum licik. Ia membelai dada atasan yang telah terjebak dalam rayuannya. Ia yang menguatkan Rendra untuk memenuhi keinginan hati Nindy untuk segera dinikahi, karna ia hanya butuh uang dan kepuasan di ranjang yang diberikan Rendra.


" Ya.., sayang maafkan mas. Akhir akhir ini mas sibuk mengurus masalah di kantor. Kamu tau kan Hutomo menarik sahamnya dari perusahaan, jadi mas harus mencari investor baru lagi " jelas Rendra yang disambut ucapan maaf Nindy.


" Maafkan aku sayang, aku sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu berdua denganmu, aku sudah siapkan rencana bulan madu kita "


Rendra terkekeh. Luna semakin liar bermain di atas tubuhnya.


" Kamu sudah siap dengan malam malam panas kita ? "


" Jangan bahas itu aku malu " ucap Nindi manja. Luna menghentikan aktifitasnya, ada gemuruh marah bertiup di hatinya.


Sebenarnya ia ingin tempat yang jelas di hati Rendra. hubungan terlarang itu telah mereka jalankan selama dua tahun, bosnya yang telah menjamah tubuhnya semaunya itu hanya menjanjikan waktu yang tak jelas untuk mengenalkannya sebagai pasangan yang sah.


Rendra menjelaskan kalau ibunya tak mungkin menerima Luna yang berasal dari kalangan orang biasa, bukan dari keluarga konglomerat. ia harus mengikuti kemauan ibunya yang menginginkan Nindi, anak usia belasan yang tergila gila pada Rendra. Terlebih Nindi adalah anak seorang investor ternama.


Dina berfikir karir Rendra akan cemerlang jika disokong oleh kekayaan keluarga mertuanya kelak.


" Hei.., kenapa murung ? " tegur Rendra yang baru saja selesai berbicara dengan calon istrinya di telpon. ia memeluk Luna dari belakang yang tengah mengambil air dalam kulkas.


" Hatiku sakit Ren, melihat kau bermesraan dengan Nindi. apa lagi sampai terfikir kau menidurinya juga nanti " keluh Luna sambil melirik laki laki yang menjadikannya kekasih gelapnya itu sendu.


" Jangan kuatir, ini tak akan lama. gadis labil itu tak akan paham bagaimana memuaskanku seperti yang kau lakukan tadi, sabarlah setelah sebagian hartanya ku miliki aku akan menceraikannya dan menikahimu secara sah " bujuk Rendra sambil meraih dagu Luna. perempuan tiga puluh tahun itu hanya menatap laki laki yang dicintainya itu dengan getir. Janji manis...lagi lagi janji. Sekarang ia merasa menyesal telah masuk ke dalam lingkaran setan itu


Rendra mulai merendahkan wajahnya dan Luna kembali hanyut dalam sensasi ciuman panas Rendra meski hatinya berontak, tak ingin hanya dijadikan budak nafsu atasannya.


*******

__ADS_1


Bastian bersiap menjemput Ami di bandara. ia sudah tak sabar memeluk tubuh mungil itu. satu minggu itu berjalan lama sekali.


disana ia bertemu Amira dan Deni. Mantan kekasihnya itu sedang menunggu kedua orangtuanya yang kembali dari Swiss untuk menagih janji Amira, jika Amira bisa menunjukkan calon suaminya dan menurut orangtuanya baik maka Amira diperbolehkan tinggal di Indonesia tapi kalau tidak, Amira harus kembali ke Swiss dan menikah dengan Joshua si laki laki mesum.


Ketika melihat Ami di area kedatangan, Bastian seakan ia ingin berlari mengejar istrinya itu seperti yang ada di film film India. terlebih sekarang hubungannya dengan Ami sudah direstui papi, sementara untuk maminya mungkin masih butuh waktu.


" Terima kasih pak Bastian mau menjemput kami " ucap Tantri, kepala rombongan. Bastian tersenyum sambil memandang wajah lelah istrinya. wanita itu menjaga jarak dengan Bastian karena tak ingin di gosipkan macam macam seperti yang sudah sudah.


Ami tidak tahu kalau Hendra sudah memberi tahu rombongan karyawan divisi eksternal itu bahwa Ami adalah istri Bastian.


Rombongan mulai pulang satu persatu, tinggal Ami seorang yang belum beranjak dari bandara. Ia duduk termenung di sebuah kafe yang ada di bandara. Ia membaca notifikasi Bastian yang terdengar marah karena tadi ia menyampaikan akan pulang dengan taksi saja.


[ nurut kata suami Ami, kamu harus pulang dengan saya ]


[ tapi kak, kalau ada yang lapor sama mami kakak bisa kena marah ]


[ udah jangan ngebantah lagi, tunggu saya sebentar lagi. saya ada perlu sama Deni sebentar ]


Setengah jam kemudian Bastian menemui Ami yang tengah menscroll layar hpnya. Bastian melihat bibir mungil itu mengungkai senyum. Ami terkejut karena hpnya direbut Bastian.


" apaan sih, kok senyum senyum kecantol bule disana " ujar Bastian sambil melihat layar hp Ami. sebuah gambar yang membuat hati Bastian ciut. gambar itu adalah sesuatu yang istrinya inginkan selama ini dan ia tak bisa menjanjikan itu.


" Ibu Bagas baik ya kak ? " tanya Ami minta pendapat. Bastian mengangguk lemah. Ia hanya tercenung mendengar cerita Ami saat ibu Bagas mengajaknya jalan jalan di kota London.


Amira datang bersama Deni, wajah Deni terlihat pias.


" Dengar Bas. aku dan Deni akan menikah " ucap Amira tiba tiba yang membuat Bastian tersedak.


Ami menyodorkan air ke depan suaminya. Bastian malah meraih tangan Ami agar mengusap punggungnya.


" Kalian jangan main main soal pernikahan " tanggap Bastian tak senang.


Ami menghentikan tangannya yang menepuk punggung Bastian. Nada tak senang itu mematik api cemburu di hatinya.


" Itu bukan urusan kamu lagi babe..eh Bas, ini urusan aku dan Deni "


Bastian menatap Deni yang terlihat sedang mengatur nafasnya. Ia juga sebenarnya shock dengan permintaan Amira yang tiba tiba.


Saat Amira menyambut orangtuanya tiba tiba saja wanita indo itu mengatakan kalau Deni adalah calon suaminya pada tuan dan nyonya Smith.

__ADS_1


" lu nggak main main kan Den, gue nggak ingin lu berdua saling menyakiti " ucap Bastian tegas.


" gue hanya ingin membuat Amira bahagia, itu saja " balas Deni tenang, meski hatinya ketar ketir juga.


" baik, gue doakan yang terbaik buat kalian " ucap Bagas sambil meraih kunci mobil yang ia letakkan di atas meja. Terlihat sekali ia sangat terburu.


Ami mengekori Bastian, ia menekan dadanya berdenyut perih. Ia melihat tatapan tak senang suaminya saat mendengarkan kabar mengejutkan itu.


Apakah mereka masih saling mencintai ?


Ami tertunduk karena Bastian memarahinya saat ia begitu lamban mengenakan seatbelt. Ami menghubungkan kemarahan itu karena rasa cemburu Bastian pada berita pernikahan Amira. Ia menyembunyikan tangisnya, saat laki laki itu meliriknya, Ami melempar pandangannya ke samping.


" Mau makan dimana dek ? " tanya Bastian setelah lama mereka diam.


" Terserah kakak " jawab Ami yang berusaha menyembunyikan kabut di hatinya, ia masih menoleh ke jendela.


" Kenapa dek, kok lesu gitu..masih capek ? " Ami menoleh sekejap dan menggeleng. Bastian menangkap mata yang berkaca kaca dan setitik bulir sudah mendesak diujung pelupuk mata Ami.


Bastian menepikan mobil. Ia mulai menyadari apa yang terjadi. ia sudah membentak Ami saat istrinya itu memasang seatbelt dengan lambat.


Bastian merengkuh kepala istrinya yang kini benar benar menangis. Ami menepis tangan Bastian, ia berusaha menahan isak karena sakit di dada sudah tak tertahan. Tanya itu sudah berada di ujung bibirnya yang bergetar.


" Maaf sayaang, tadi kakak terburu buru ada meeting yang harus kakak hadiri. Rendra memarahi kakak tadi. Please jangan baperan "


Bastian mencoba meraih bahu Ami tapi Ami menjauhkan badannya.


" Kakak marah kalau Amira menikah dengan orang lain ??!! " sentak Ami dalam mata yang sudah berair.


Astaga ! Bastian terperangah. Ia tak menyangka sikapnya saat mendengar berita pernikahan Amira dan Deni yang tiba tiba itu begitu berpengaruh pada istrinya. Bastian menggaruk tengkuknya dan melihat kebawah.


sabar jun..makku lagi ngambek, bakal puasa sampai masalah cinta ini selesai.


" kita pulang dulu ya, nanti aku masakin yang enak buat istriku tercinta " rayu Bastian sambil menghidupkan mobil kembali. Ami mendengus, ia kembali melempar pandangan ke samping.


" Tapi katanya ada meeting ? "


" Aku batalin, ada meeting yang lebih penting dan ini darurat.."


"

__ADS_1


__ADS_2