Asisten Special

Asisten Special
Sesakit itukah ?


__ADS_3

Bastian membawa Ami ke pelukannya dan membelai lembut rambut Ami. ia membuka ikatan rambut itu dan mengurainya menjadi tergerai. ia menyampirkan rambut ke telinga Ami.


" Kamu rindu aku seperti aku merindukanmu sayang ? " ucap Bastian setelah mengecup pipi Ami. Ami tak menjawab pertanyaan Bastian. hanya kedua tangannya mempererat pelukan.


" Hmm..? " Bastian mengulang pertanyaannya dalam gumaman. Ami tak menjawab. hanya isakan kecil yang terdengar, kepalanya semakin terbenam di dada Bastian, punggungnya bergetar.


" Kenapa nangis ? " Bastian mengelus punggung itu dan mencium puncak kepala Ami. Ia mengurai pelukan dan meraih dagu Ami.


" Kalau kamu nangis aku jadi ikutan nangis ni..malu kan sama anak kita kalau bapak sama ibunya cengeng " ucap Bastian sambil mengusap air mata Ami dengan ujung jari. begitupun Ami, ia juga menghapus air mata di pipi suaminya.


" Ya..aku rindu kakak, setiap malam aku susah tidur mikirin kakak, Jangan minta aku pergi lagi karna jiwa kakak sudah menyatu dengan jiwaku, jika kakak paksa aku pergi rasanya sakit kak, sangat sakit. aku tak ingin kehilangan kakak " tutur Ami dengan bibir bergetar.


" Sesakit itukah ? " tanya Bastian sambil menatap manik mata Ami. Ami memejamkan mata dan mengangguk. bulir hangat itu kembali menetes di pelupuk matanya.


Bastian merengkuh kepala Ami dan membenamkan lagi di dadanya.


" Tidak akan, aku tak akan melakukan lagi mi..jiwaku juga hampa jika kamu tidak ada disisiku "


Bastian mengurai pelukan dan membuka kaosnya yang basah oleh air mata Ami. seketika tanpa menunggu persetujuan Ami, ia menautkan bibirnya dengan bibir Ami. ********** dengan lembut. ada rasa manis dan asin bercampur saat ia menyesap bibir tipis yang kini ikut memainkan peranannya.


Bastian hati hati membaringkan istrinya, sebenarnya ia juga sudah membaca artikel itu secara tak sengaja mampir di halaman portal berita yang ia baca.


" Pelan pelan ya kak " ingat Ami saat suaminya mulai menyentuh areal sensitifnya. Bastian hanya menjawab dengan anggukan. Ia sudah tak bisa menahan hasrat yang sudah berpuasa selama lima bulan.


" nggak usah malu sayang, aku suamimu, aku suka kalau kamu lebih ekspresif " bisik Bastian saat Ami ragu menyentuh tubuhnya.


Setelah mendengar dukungan suaminya, Ami merasa percaya diri melakukan sesuatu yang didesak nalurinya. Tak ragu beraksi liar pada tubuh suaminya.

__ADS_1


" Ahhhh...sayang " ******* itu lolos juga dari bibir Bastian.


Justru Bastian yang kewalahan menyeimbangi permainan bumil yang secara hormonal lebih menginginkan hubungan suami istri. Ia menyembunyikan rasa perih yang ia rasakan di belakang kepala ketika membentur nakas.


Bastian menyeka keringat di dahi Ami. sama sama mengatur nafas yang tersengal sengal karena sudah lama tak melakukannya. Ia menutupi tubuh mereka dengan selimut, tangannya membelai perut Ami.


" sehat sehat ya nak, maaf papa baru bisa bicara dengan kalian sekarang " ucap Bastian pada perut Ami.


mereka sama sama membersihkan diri di kamar mandi. Bastian mengajak Ami ke dapur untuk memasak makan malam. sudah lama ia tak makan masakan rumahan. sejak Ami pergi dari rumah, ia lebih sering memesan online food atau makan bersama Joni di luar.


semua Art dan sopir yang bekerja di rumahnya diliburkan untuk sementara sampai nyonya rumah pulang. Bastian takut mereka akan jadi pelampiasan kemarahannya karena kesal belum bisa membujuk Ami pulang. cukup Joni yang sudah tahan banting kalau di bentak dengan konsekuensi ia sering dikerjai si botak.


Karena bahan makanan kurang, akhirnya mereka pergi berbelanja di supermarket sekalian membeli kebutuhan bulanan. Ami sudah paham dengan bahan makanan yang di sukai Bastian.


Selesai belanja mereka kembali ke rumah, Ami melihat mobil terparkir di halaman. Ami sangat mengenal mobil itu, mobil itu yang biasa di pakai ibu mertuanya. tiba tiba wajahnya berubah pias.


" Ya..mami udah kasih kabar " tanggap Bastian santai, Ami mengigit bibirnya. ada rasa bersalah dan takut menghampiri hatinya. selama mertuanya sakit. tak sekalipun ia menjenguk. Saat itu ia merasa ia sudah tak diinginkan oleh keluarga perdana. meski begitu ia selalu memantau keadaan Winda melalui Dwi, Arti di rumah Winda.


Ami merasa risih ketika Bastian mengapit pinggangnya saat berjalan. biasanya saat diposisi ini, Winda akan menatapnya tajam.


" udah lama pi, mi.." sapa Bastian saat menemukan kedua orangtuanya sedang duduk santai di ruang keluarga. Ami memendarkan pandangan ke seluruh ruangan. tempat ini tadi masih berantakan, Ami berencana membersihkan selesai belanja. Ami tidak tahu kalau tadi Bastian meminta bantuan ibunya untuk membawa Art ke rumahnya untuk bersih bersih. Ia tak ingin istrinya yang tengah hamil itu melakukannya nanti.


" sudah dari tadi " jawab Hendra yang terlihat terkejut karena ketahuan sedang bersandar di bahu Winda saat nonton tv.


Ami bergegas menyalami mertuanya. tangannya berubah dingin saat bersalaman dengan Winda. Ami terkejut saat Winda memeluk tubuhnya.


" Kamu baik baik saja kan sayang, cucu cucu mami juga sehatkan ? " tanya Winda penuh haru. Ami merasakan matanya berkaca kaca mendengar ucapan Winda, hampir satu tahun ia menikah dengan Bastian. hidupnya penuh dengan rasa takut terhadap ibu mertuanya itu. ia tahu diri, dirinya di mata Winda hanyalah anak seorang pembantu, tak sepadan dengan Bastian anak konglomerat.

__ADS_1


" Baik mi, mereka sehat " jawab Ami sambil menahan air matanya.


" Mami sama papi makan malam disini kan ? aku mau masak yang enak enak buat papi dan mami " ucap Ami sambil membantu suaminya mengangkat barang belanjaan.


" Sini mami bantu masak " tanggap Winda, ikut membantu Bastian mengangkat barang belanjaan.


Sore itu Ami merasa dejavu saat melakukan masak bersama dengan ibu mertuanya. ia ingat pertama kali terjadi keakraban antara ia dan ibu suaminya itu. Tanpa beban ia bisa mengajak Winda bercanda saat awal awal bekerja sebagai asisten Bastian.


Winda terbahak saat Ami menceritakan bagaimana takutnya Bastian saat dokter ingin menjahit lukanya.


" Dari dulu ia tak mau berurusan sama dokter, waktu disunat dulu. dia marah marah sama dokter yang nyunatin, bilang ini mah bukan rasa di gigit semut tapi rasa digigit singa " ujar Winda tergelak. Ami tersenyum. rasa hangat itu menjalar ke hatinya. ia teringat akan ibunya selalu bercerita hal lucu saat mereka masak bersama.


*******


" Mami, tolong keluarkan aku dari sini " cicit Rendra saat ibunya mengunjunginya di lapas. tampak Dina menatap tajam anaknya.


" Ini karena kamu terlalu ceroboh, bermain api dengan karyawan karyawanmu akhirnya kamu sendiri yang terbakar. satu lagi informasi yang mami dapatkan. ternyata yang membocorkan rencana kita adalah Luna, bekas sekretarismu itu. Mami akan buat perhitungan dengannya " geram Dina, ia mengepal tangannya dan menghempaskannya ke meja.


" Mami...mami jangan apa apakan Luna, jangan sakiti anak dan istriku " sergah Rendra yang membuat Dina membulatkan matanya.


" Ooh..jadi kamu rela dia berbuat seperti ini, dia yang membuat kamu membusuk di penjara. Mami akan tetap buat perhitungan dengannya " ujar Dina sambil beranak dari kursi. ia tak memperdulikan teriakan Rendra yang memintanya menjauhi Luna.


Rendra digiring kembali ke dalam.sel. laki laki itu terlihat resah karena memikirkan keadaan wanita yang sangat ia cintai itu. ia tak seberani Bastian menikahi wanita berstrata rendah dari keluarga Perdana yang terkenal sebagai konglomerat ternama.


ibunya yang punya status sosialita terpandang tak ingin namanya jatuh karena anaknya menikahi seorang wanita miskin. Rendra terpaksa mengikuti kemauan ibunya walau batinnya sebenarnya tersiksa.


Ia berdoa semoga Bastian atau ayahnya mau mengunjunginya agar ada yang mau menyelamatkan Luna dan bayinya dari amukan Dina.

__ADS_1


__ADS_2