Asisten Special

Asisten Special
Aku tahu hatimu sayang


__ADS_3

Ami baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. ia harus menjawab puluhan pertanyaan perihal hilangnya suaminya. sampai sampai ia tak bisa menahan emosinya.


" Saya sangat mencintai suami saya, tidak mungkin saya melakukan hal buruk padanya " jerit Ami ketika ia menjawab pertanyaan yang terkesan menuduh ia pelaku di balik hilangnya Bastian.


" Sabar ya..Mi " Deni mengusap punggung Ami. ia dan dua orang pengacara menemani Ami datang memenuhi panggilan polisi.


" Satu sisi aku rapuh mas, aku nggak yakin aku bisa hidup tanpa kak Bastian. satu sisi lagi aku harus kuat karena perusahaan butuh sosok pemimpin yang kuat di masa krisis ini "


Deni merekam saat Ami menangis sesegukan di dalam mobil saat Deni mengantarkannya pulang dan mengirimkan pada Bastian. Laki laki yang sedang memandang lautan lepas itu menghela nafas berat dan menghembuskannya berlahan. perasaannya campur aduk, sebenarnya ia tak tega melihat Ami yang terlihat begitu hancur saat mengetahui dirinya hilang. Tapi ia harus mengambil resiko ini untuk mencari dalang yang telah membuat kekacauan di perusahaannya.


" Maafkan aku sayang " lirih Bastian. ia mengusap mukanya dan memasukkan kembali hp ke dalam saku celananya.


Bastian masuk kembali ke dalam kapal.


" bos, berapa lama lagi kita di sini ? " tanya Joni yang terkapar di tempat tidur karena setiap ada goncangan ombak ia mabuk laut.


Bastian tersenyum dan melemparkan Joni botol soft drink.


" Ga deh bos, apapun saya makan atau minum dia bakal keluar lagi " tolak Joni sambil meletakan botol soft drink ke atas meja.


" ah...cemen lu, gimana lu bisa jadi Pirate gini aja udah KO "


" Berapa bulan Jon ? " tanya Bagas yang tiba tiba sudah ada di samping Joni yang berusaha menstabilkan perutnya.


" Asam !!! kalian berdua " umpat Joni sambil berlari ke luar kapal untuk muntah. Bastian dan Bagas terkekeh.


" Deni sudah pasang kamera tersembunyi di semua tempat tempat tertentu, terutama di rumah Dina "


Bastian menghela nafas. ada rasa kecewa yang berusaha ia sembunyikan. Semua teman temannya menyangka semua kekacauan ini adalah ulah Dina, ibu tirinya dan meragukan perubahan sikap Rendra. bisa jadi itu hanya kedok untuk balas dendam.


Ia masih berharap punya saudara, rasa yang tak pernah ia miliki sedari kecil.


" Rendra mengatakan ia tak ingin lagi bekerja di perusahaan karena ini bukan passionnya " ucap Bastian dengan nada pelan. Bagas menepuk bahu Bastian.


" Semoga saja bukan dia " ujar Bagas yang mengerti kegundahan sahabatnya.


Kapal akhirnya mendarat di sebuah pulau, Joni bisa bernafas lega karena ia akan terhindar dari mabuk laut. Joni hanya bisa ternganga ketika melihat sebuah pondok yang dari luar terlihat kecil tapi ketika masuk ke dalam, isinya Wow..melek teknologi.


Karna Bagas ahli di bidang IT makanya Bastian menyediakan segala fasilitas digital untuk Bagas demi kepentingan perusahaan. berawal dari pengalamannya yang hendak di jatuhkan Rendra saudara tirinya.


Baru baru ini, kompetitornya bermain secara licik. mencuri design design terbaik mereka tanpa terdeteksi bagaimana mereka mencuri.


" Semua CCTV kantor bisa dilihat di sini, sejauh ini tidak ada yang mencurigakan " ujar Bagas memperlihatkan pergerakan rekaman CCTV.

__ADS_1


" gue, hubungi Deni dulu " ucap Bastian sambil mengeluarkan hpnya dan menghubungi Deni.


" Haloo..Den, Rania masih dirumah lu ? "


" Masih..dia dari kemarin minta ngomong sama bapaknya "


" kasih handphonenya sama Rania " titah Bastian, hatinya diliputi rasa bersalah saat akan bicara dengan putrinya. tak seharusnya ia melibatkan bocah itu dalam investigasi yang mengundang bahaya ini karna mereka tidak berhadapan dengan musuh secara langsung dan jika mereka mengetahui kalau putrinya yang telah membantu mereka menemukan musuh. Rania dalam bahaya.


" ayaaah..." panggil Rania. Bastian ingin menangis mendengar suara putri kecilnya.


" Yes..dear, are you okay. are you nerveous ? kamu gugup sayang "


" No ! because I like adventure dad, Rania suka berpetualang " jawab gadis kecil itu ceria. Deni menggaruk tengkuknya. putri sahabatnya ini seperti tak punya rasa takut akan dunia orang dewasa yang penuh bahaya.


" Dengarkan ayah, kamu ikut om Deni ke kantor. Nanti temani ibumu di ruangan ayah. See the suspicious employee atau sesuatu yang mencurigakan..tell to me, sekarang kasih hpnya sama om Deni " Rania menyerahkan hp Deni kembali.


" Den, bawa Rania ke kantor gue. bilang sama Ami kalau Rania ingin menemaninya di kantor "


" Siap bos ! "


******"


Ami kembali dari ruang meeting, Siska asistennya mengatakan ada Rania di dalam ruangan.


" Aku mau temani ibu. aku tau ibu pasti sedih karena ayah tidak ada." Ami mengembangkan tangannya agar Rania berlari ke arahnya dan Rania memang melakukannya.


" Ibu sayang sama ayah ?"


" Tentu, ibu rindu ayah nak, kamu jangan cemas ya..kita doakan moga ayah baik baik saja " ucap Ami dengan suara bergetar.


Bastian yang mendengar percakapan ibu dan anak itu melalui kamera tersembunyi yang telah dipasang Deni. Ia tak dapat menahan bulir hangat itu jatuh. ia juga rindu memeluk istrinya.


" aku tahu hatimu sayang. sayangmu itu tulus untukku "


Ami membiarkan Rania menemaninya bekerja. gadis itu sibuk memperhatikan ruangan Bastian. Seorang OB mengantarkan makan siang Ami. tak ada yang mencurigakan. pemuda usia 23 tahun itu dengan sopan meletakkan makan siang Ami.


" Terima kasih..siapa namamu ?" tanya Ami saat OB itu hendak pergi.


" Tito bu.." jawab pemuda itu.


" bang Tito, kamu keren " puji Rania sambil membuka kotak makan siangnya.


" terima kasih dek " ucap Tito.

__ADS_1


" Kakak bisa tebak no yang saya sebut " Rania menyebut beberapa angka dan Tito berhasil menyebutkan angka itu.


" Nia.., jangan ganggu bang Tito. dia mau bekerja " tegur Ami ketika Rania ingin melontarkan pertanyaan lagi.


" maaf ya Tito..silahkan bekerja lagi "


" tidak apa apa bu " tanggap pemuda itu sopan.


Rania mengetik sebuah pesan pada Deni melalui ponselnya dan pesan itu berlanjut sampai di hp Bastian.Tak lama Bastian menghubungi Deni.


" Den, tolong awasi Tito, cari tahu latar belakangnya di berkas karyawan "


" kenapa lu curigai dia pelakunya ? " tanya Bagas memutarkan rekaman CCTV yang di minta Bastian.


" mereka harus tahu kalau gue punya putri yang cerdas " ucap Bastian sumringah.


" Sekarang kita pancing mereka keluar " lanjut Bastian sambil memperhatikan rekaman CCTV.


" keren Rania.." puji Bagas saat mengerti maksud Bastian saat ia menyusun susunan rekaman kegiatan Tito di kantor. pemuda itu selalu melihat ke arah komputer saat karyawannya membuka password komputer mereka.


" Den.., minta Ami menyiapkan design terbaru yang gue simpan di bungkus permen karet dalam laci meja kerja gue. minta Rania yang mengambilkannya.


Deni mengirimkan pesan pada Rania dan gadis itu dengan sigap mengerjakan perintah ayahnya.


Deni mengetuk pintu ruangan Bastian.


" Masuk ! " perintah Ami dari dalam. Deni dan Rania saling tatap.


" ada apa mas Deni ? " tanya Ami memperhatikan Deni yang terlihat bingung harus bicara apa.


" kamu punya permen karet ? "


" permen karet ?" ulang Ami.


Kedua sahabatnya yang menonton aksi kikuk Deni menepuk jidat.


" Dasar amatir ! " umpat Bastian dan Bagas.


" aku punya om, tapi ini punya papa " Rania menyerahkan sebungkus permen karet ke tangan Deni sambil mengedipkan mata.


" Kata ayah..misi kita jangan ketahuan sama ibu..." bisik Rania.


" Kok bisik bisik, lama lama sikap kalian mencurigakan " ujar Ami penuh selidik. Deni cengengesan.

__ADS_1


" nggak ini karena ingin hilangin stress aja, kerja sambil makan permen karet "


__ADS_2