Asisten Special

Asisten Special
Pesona Mahasiswa Baru


__ADS_3

Sore hari, Joni masih sibuk menyiapkan keperluan si bos. Mulai hari ini ia di kontrak ekslusif sebagai asisten pribadi selama 24 jam oleh Bastian. Saat ini tugas Joni jadi bertumpuk, ia yakin rambutnya ga bakalan tumbuh tumbuh kalau si bos belum berdamai dengan istrinya.


" Ini gaya anak muda ter up to date pak " Joni meletakkan paper bag ke atas meja kerja Bastian. Siang tadi ia disuruh belanja pakaian yang bisa di pakai untuk mengikuti perkuliahan.


" Kamu sudah siapkan buku buku yang diperlukan mahasiswa ? "


" Sudah pak, sama tokonya sekalian saya beli " ujar Joni dengan nada kesal. Ia sudah menolak dengan halus permintaan Bastian untuk ikut mendaftar jadi mahasiswa baru. Soalnya kepala plontosnya bakal jadi bulan bulanan ciwi ciwi manis disana. Ia trauma jadi populer dikatain ipin upin tersesat.


" Jangan ngambek Jon, cepet tua kamu marah marah. nanti bonusnya bisa buat beli obat tumbuh rambut " ucap Bastian sambil memeriksa isi paper bag.


" emang udah tua pak udah 35 tahun saya, saya ini lulusan predikat cumlaude pak. masa di suruh kuliah lagi, ah dasar cinta memang bikin otak orang jadi konslet " cerocos Joni sambil menyisir kepala yang tak ada rambutnya.


" Eh...botak, mau nyisir apaan, se biji rambutpun nggak ada disana " tegur Bastian sembari menyentil kepala plontos Joni.


" he..he..he..gaya aja pak, buat cari perhatian "


" itu dia Jon, saya mau cari perhatian. kamu bener cinta memang bikin otak rada konslet. Lama lama saya bisa maag akut kalau istri saya nggak pulang pulang " tutur Bastian bersemangat.


Selesai magrib mereka sudah otewe ke kampus. sebuah kampus swasta yang ada di ibukota. Meski malam, masih terlihat aktifitas mahasiswa yang mengambil kelas malam. Bastian merapikan penampilannya, ia memasang topi pet dan masker saat menyusuri koridor kampus.


" Pak. kita nggak makan dulu " tegur Joni sambil mengusap perutnya.


" kan tadi udah "


" kapan pak ? " tanya Joni sambil menahan bunyi perut yang bersiap konser keroncongan.


" Bukankah tadi dalam mobil kita sudah makan, makan angin maksudnya " Bastian tergelak, Joni merengut. Joni memiringkan jari ke kening. dasar bos sinting.


kuliah akan di mulai tepat jam setengah delapan dan berakhir jam setengah sepuluh.


Bastian mengajak Joni ke kafe. masih ada setengah jam lagi sebelum kuliah di mulai. Ketika Bastian membuka masker dan topinya, semua mata para wanita yang ada di kafe meliriknya dan melemparkan senyum manis mereka.


" Babang tamvan tu.." bisik mereka.


" Tu kan apa saya bilang, bapak bakal jadi biang resah di sini " ungkap Joni dengan mulut masih penuh nasi.


" diem..makan aja yang bener " tegur Bastian sambil membalas senyuman para wanita yang mengagumi wajahnya.


Tak lama satu persatu mahasiswa masuk kelas. Joni memilihkan bangku yang paling nyaman untuk bosnya.

__ADS_1


Ada sekitar 20 mahasiswa dalam kelas. Beberapa mereka seperti baru saling mengenal karena ini baru semester awal.


" Baru masuk ya bang " tegur seorang mahasiswi yang mencari tempat duduk tepat disebelah Bastian. Bastian hanya mengangguk.


" kenalkan saya Siska " mahasiswi itu mengulurkan tangan.


" Joni " Joni yang membalas jabatan tangan itu hingga membuat Siska sewot.


" bukan lu botak ! "


" maaf bos saya alergi sama tangan cewek cewek jadi saya yang akan mewakilinya jika ada yang mau kenalan " ucap Joni riang, ia menarik turunkan kedua alisnya.


Bastian mengulum senyum. soal yang satu ini, asistennya itu memang bisa diandalkan. si Siska keki langsung mencari tempat duduk agak jauhan dari Joni.


Ketua kelas mengabarkan kalau dosen mereka akan terlambat sepuluh menit karna masih berada di klinik kandungan. Bastian menahan gemuruh hatinya, kedua sahabatnya begitu bahagia melihat janin yang bergerak gerak dalam layar monitor sementara dia, untuk cari tahu kabar bayinya saja tak bisa.


Ami masuk dengan terengah engah, peluh menitik di keningnya. tampak ia setengah berlari menuju kelas yang akan diajarnya.


" Selamat malam semua, maaf malam ini saya terlambat karna pemeriksaan kehamilan saya agak lama " ucap Ami sambil mengatur nafasnya.


" Malam bu Ami.." jawab mahasiswa itu kompak. Hanya Bastian dan Joni yang tak membalas sapaan Ami.


" Sepertinya kita ada tambahan mahasiswa ya. ? " tanya Ami setelah memperhatikan satu persatu mahasiswanya. ia merasa familiar dengan sosok yang duduk di belakang, bentukan tubuh itu sangat akrab di matanya.


" Maaf bapak dua yang ada di belakang bisa di buka topinya " pinta Ami, mencoba menepis pikiran kalau sosok itu adalah laki laku yang baru saja ia tangisi saat berada di klinik kandungan.


Semua mata menoleh pada Bastian. Ketika topi itu diangkat mata para perempuan yang ada di kelas menjadi berbinar. Mereka serempak mengungkai senyum, Ami justru kaget. Ia menghela nafas dan memijit pelipisnya dan geleng geleng kepala.


Ami yang tadi berdiri kembali ke tempat duduk. Mengatur degup jantungnya tak berdetak tak karuan. Ia harus bersikap profesional pada mahasiswanya.


Ami memulai perkuliahan seperti biasa, kelompok yang ditunjuk untuk presentasi berjalan ke depan kelas. Ami tak bisa fokus dengan pembacaan materi oleh mahasiswanya karena ia merasa kikuk ditatap terus oleh Bastian.


" Maaf malam ini kondisi saya kurang fit, penjelasan tentang materi kita lanjutkan minggu depan, Ketua kelas silahkan dibagikan rangkuman untuk minggu depan " ucap Ami sambil menyeka peluh di keningnya.


Melihat kehadiran suaminya dalam kelas, jantungnya berpacu lebih cepat. ada marah dan rindu yang campur aduk. sepertinya rindu lebih mendominasi hatinya, tapi ego masih berada di puncak logika. Ia belum bisa memaafkan laki laki yang menyuruhnya menyingkir dari kehidupan orang yang sangat ia cintai dan yang paling menyakitkan, laki laki itu meragukan cintanya.


" oke kelas berakhir, kalian boleh pulang tapi dua mahasiswa baru saya bisa tinggal sebentar " titah Ami. satu persatu mahasiswa mulai keluar ruangan.


Ami menunggu semua mahasiswanya sudah keluar, tinggal ia, Bastian dan Joni. setelah mahasiswa itu dirasa sudah menjauh. Ami yang ingin bicara terpaksa menutup mulutnya karena Bastian terlebih dahulu bicara.

__ADS_1


'" Tolong keluar sebentar Jon, saya mau bicara sama istri saya " perintah Bastian yang langsung dilaksanakan Joni.


Beberapa saat mereka saling diam, Bastian merasakan degup jantungnya tak beraturan. ia tak ingin kata kata yang keluar dibalut emosi yang justru menambah buruk kondisi rumah tangganya.


" Kenapa harus masuk kelas saya sih kak, kehadiran kalian buat konsentrasi saya ambyar saat mengajar " akhirnya Ami yang mulai bicara.


" konsentrasi saya saat bekerja lebih ancur ancuran Mi..karna tak tahu bagaimana keadaan anak dan istri saya. Beri saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan " tanggap Bastian dengan wajah sendu.


Pintu berderit, keduanya menoleh ke arah pintu.


" Sori..aku pulang duluan ya kak " ucap Jojo yang melihat kakaknya sudah bersama Bastian.


" Jo...tunggu ! ' teriak Ami, Jojo menoleh lalu melambaikan tangan.


" Pulang ya " bujuk Bastian. Ami menahan ujung pelupuk matanya yang sudah di desak bulir hangat. ia menggeleng.


" Aku mau pulang ke tempat dimana seharusnya saya berada kak, aku hanya Ami yang berasal dari kasta berbeda dengan kalian " ucap Ami sambil mencoba berdiri, ia sedikit meringis karena kedua bayi dalam rahimnya bergerak aktif, mungkin mereka menyadari kehadiran sang ayah.


" Aku antar ya " tawar Bastian yang di jawab Ami dengan gelengan.


" Aku naik ojol saja "


" Kamu nggak kasihan sama bayi kita, Malam malam begini bahaya naik ojol sendirian. pokoknya aku antar kamu pulang ! " sentak Bastian sambil membukakan Ami pintu.


" Joni, kamu pulang naik ojol." perintah Bastian saat bertemu Joni di luar.


" Tapi pak, nanti saya diculik " cicit Joni. Ami tersenyum mendengar itu, Bastian memperhatikan senyum istrinya. tmbah cantik. pujinya dalam hati.


" Penculik nggak selera liat kamu botak ! "


Joni menerima berapa lembar uang kertas merah yang diberikan Bastian. Melihat jumlah bonus malam ini ia tak jadi marah.


Ami tak bisa mengelak dari permintaan Bastian. Ia juga takut terjadi apa apa pada bayinya. ia naik ke mobil Bastian, biasanya ia akan diantar dan dijemput Jojo, adiknya meski sepanjang jalan adiknya itu terus membujuknya untuk pulang ke rumah Bastian.


" Aku mau pulang ke rumahku saja kak " ucap Ami saat Bastian menghidupkan mobil.


" No debat " tambah Ami ketika Bastian ingin bicara. Bastian menghela nafas berat.


" oke..." tanggap Bastian dengan wajah kecewa.

__ADS_1


"


__ADS_2