Asisten Special

Asisten Special
pertahanannya cukup kuat


__ADS_3

Bastian mengaduk bubur ayam dengan malas, setelah mengantarkan Ami pulang ke rumah mungil itu, ia memilih tidur di rumah ibunya. Weekend ini ia memilih menghabiskan waktu bersama ibunya, lebih tepatnya ia ingin berbagi gundah dengan ibunya.


Hari ini ia biarkan saja Joni libur seharian karna besok, ia harus memikirkan bagaimana cara agar Ami luluh dengan permintaan maafnya. Ia sangat mengerti Ami, seorang perempuan pekerja keras dan selalu punya semangat untuk menaklukan setiap kesulitannya. Ia bukan orang yang suka memanfaatkan keadaan.


Dulu, ia sering menyodorkan platinum cardnya untuk membayar belanjaan Ami yang tak seberapa itu. Tapi dengan tegas wanita itu menolaknya, setelah mereka menikahpun Ami tak pernah terpengaruh untuk menjadi wanita sosialita yang sebenarnya dia bisa duduk manis bersama istri istri pengusaha lainnya sambil memamerkan kekayaan suami.


" Harta bukan untuk kita banggakan kak, tapi amanah yang harus kita pergunakan sebaik baiknya, Tuhan memberikan kelebihan supaya kita lebih peka dengan kekurangan orang orang di sekitar kita. Ada harta yang lebih berharga dari materi kak, yaitu hati dan pikiran kita. Aku bangga dengan posisi kakak sebagai direktur utama bukan karena begitu banyak uang yang kakak hasilkan tapi karna kakak telah membuat ribuan orang bekerja dibawah kepemimpinan kakak. untuk itu bekerjalah dengan baik agar pekerja kakak juga mendapatkan kehidupan yang baik, Aku sayang kakak melebihi rasa sayangku terhadap diriku sendiri "


Kata kata itu, kata kata yang menyemangati ia berangkat ke kantor. kata kata yang membuat ia paham kenapa papi menempati dia sebagai pimpinan di anak perusahaan paling kecil di bawah naungan HWD grup. bahkan ia harus ikut bekerja bersama kuli kuli bangunan agar ia bisa mengajarkan mereka menjaga kualitas sebuah bangunan.


Dengan merasakan apa yang pegawainya rasakan. setiap kebijakan yang ia ambil tentu akan mempertimbangkan dampak baik dan buruknya pada ribuan buruh itu.


" Kenapa belum di makan buburnya, kok dari tadi hanya duduk terus ? " tegur Winda yang menghampiri meja makan.


Bastian mengangkat kepalanya dan tersenyum.


" Lagi nggak selera mi, mami sudah sarapan ? sini temani Bas makan "


" Sudah, makanlah biar mami temani "


Bastian mengangguk dan mulai menyendok bubur itu ke mulutnya, makanan itu berhasil lolos kekerongkongannya tapi rasanya entah kemana mana. bukan buburnya yang salah tapi ini karena hatinya yang sedang gundah. apapun yang ia makan semuanya akan terasa hambar.


" Kalau ingin menangis, ya nangis aja Bas, di depan mami kamu nggak perlu bersikap baik baik saja. ada kalanya kesedihan itu harus ditunjukan dengan air mata dan itu tak akan menjadikanmu sebagai laki laki yang rapuh " Winda mengusap bahu anaknya. Sebagai seorang ibu ia tahu apa yang anaknya rasakan meski laki laki itu pandai menyembunyikan kesedihannya.


" Mi..." panggil Bastian, suaranya mulai bergetar. Ia menarik nafas berkali kali. gemuruh itu semakin membuncah di hatinya. Ia menunjukan vidio yang dikirimkan Jojo, vidio saat Ami melakukan USG. ia memang sering meminta Jojo mengabarinya bagaimana keadaan Ami dan kehamilannya. Meski kedua janin itu belum dilahirkan kedunia, ia merasa ada ikatan batin yang tak bisa digambar dengan kata kata antara ia dan benih yang ia tanam dalam rahim Ami.


" Mami doakan semoga kedua cucu mami sehat nak, maafkan mami ...karna mami kalian jadi seperti ini "


" Dia nggak mau anak anak Bas merasakan kerja keras ayahnya, semua yang Bas berikan dia tolak mi. bahkan saat hamil begini. ia harus kerja siang malam untuk persiapan melahirkan, ayah anak anak itu masih ada mi, Bas masih hidup " Bastian tak sanggup lagi menahan air mata yang selalu ia bendung ketika melihat Ami.


Kemarin Ami memperbolehkan ia menyentuh perut yang mulai membesar itu. merasakan gerakan gerakan kecil bayi kembarnya tapi tak lebih dari lima menit. Perlahan bulir hangat itu mulai membasahi pipinya.


Winda meraih kepala anaknya dan menyandarkan di bahunya. sesekali ia mengecup puncak kepala Bastian.


" Sedang apa ? apa papi boleh gabung ? " sebuah suara membuat ibu dan anak itu menoleh kebelakang. tampak Hendra dengan stelan olahraga mendekati meja makan. Bastian mengusap air matanya dan melanjutkan makan.


" Joging dimana pi ? " tanya Bastian memindai ayahnya yang terlihat bugar pagi itu. sejak Winda koma karna ulah iparnya dan Nindi, ia lebih sering mengunjungi istri pertamanya itu. Windi dan kedua anaknya tengah diproses hukum karna banyak perbuatan kriminal yang telah mereka lakukan bersama pacar Windi.


" keliling aja, tadi di temani Jojo, adik iparmu, tadi papi nggak sengaja bertemu dia saat joging. trus dia ngajak mampir kerumah Ami, dia nitip ini buatmu sayang " ucap Hendra sambil menyerahkan paper bag didepan istrinya.

__ADS_1


" Trus papi ngomong apa sama Ami, papi berhasil bujuk dia pulang, Aminya mau ?, kalau papi yang ngomong, dia pasti nggak bakal nolak " berondong Bastian saat Hendra menyebut nama istrinya.


" Nggak, papi nggak bujuk dia. percuma, kata Jojo semakin dibujuk ia semakin menghindar, jadi biarkan saja dia dengan hatinya dulu. Biarkan dia pulihkan luka yang sudah kamu torehkan di hatinya, kamu belum seberapa di banding papi, bertahun tahun papi berjuang untuk dimaafkan oleh mamimu, papi nggak nyerah, ya kan Sun " Winda mengulum senyum. Hendra ikut duduk di samping putranya. membantu Winda mengeluarkan isi paper bag. ada beberapa buah tupperware dalam paper bag.


" Ini tumis kangkung kesukaan kamu, makan mumpung masih hangat " kata Hendra sambil meletakan sebuah tupperware berisi sayur kesukaannya itu di depan Bastian.


" katanya meski sibuk jangan lupa jaga kesehatan "


" Dia bilang gitu pi ? " tanya Bastian antusias, ia masih berharap Ami masih mengkhawatirkannya.


" Dia nggak ngomong pakai kata tapi pakai mata. papi tahu dia khawatir sama suaminya tapi ya itu, wanita kadang sulit dimengerti "


Bastian buru buru menghabiskan makannya, ia jadi punya ide bagaimana membujuk Ami pulang.


" Aku pulang dulu pi..mi.." ucap Bastian setelah menyudahi makannya. ia menyambar tisu dan melap bibirnya. Bastian menghubungi Joni yang baru saja bangun tidur.


" Jon..ke rumahku sekarang " titah Bastian setelah panggilan tersambung.


" Tapi bos.." tanggap Joni, laki laki berkepala plontos itu memukul kasur karena panggilan langsung mati.


" Dasar bos sinting, seenak udelnya kalau ngasih perintah " Joni bangkit dari tempat tidur dan bergegas mandi. terlambat sedikit, ia pasti kena gas.


" perasaan pas ngasih perintah baek baek aja " ucap Joni sambil memeriksa Kepala Bastian.


" Hubungi Ami bilang kalau suaminya panas tinggi, meriang, muntah muntah, apalah gejala penyakit yang membuat orang khawatir " perintah Bastian pada Joni, asistennya itu malah garuk garuk kepala.


" cerpeten botak ! "


" pak bukannya bohong itu dosa ya ? " tanya Joni yang langsung dapat lemparan bantal.


" Gimana bapak saya racun saja biar nggak keliatan akting, katanya boleh libur ini kasih kerjaan yang ibaratnya nyeburin diri ke neraka " geram Joni padahal hari ini ia mau main kerumah cem cemannya pas si bos bilang boleh libur.


"Joni !!!!!! "


" Oke.." Joni mengambil hp disaku celana dan menghubungi nomor istri bosnya.


" Walaikum salam bu Ami, ini pak Bastian, entah kenapa pagi ini kulitnya jadi merah merah, bintil bintil ada nanahnya, mungkin ini kena azab suami durhaka " ujar Joni santai, Bastian mengeram dan memukul kasur.


" Becanda bu..pak Bastian demam tinggi, dia manggil nama ibu terus.., apa perlu dia saya suntik mati biar ibu senang, dendam terbalas.

__ADS_1


" dasar asisten kurang asam " rutuk Bastian. Tak lama Joni diam mendengarkan Ami bicara, tentu saja Bastian tidak tahu apa yang dibicarakan karna ia lupa minta panggilan diloadspeaker.


" Apa katanya ? " tanya Bastian setelah panggilan berakhir. Joni terlihat berpikir, Bastian menerka kalau anak buahnya itu mau mengerjainya lagi.


" Dia mau kesini.." jawab Joni lugas, Bastian kontan berdiri. Ia menatap Joni minta Joni menjawab dengan jujur.


" Tapi boong " Joni tertawa lepas.


" serius pak, dia mau kesini " jawab Joni jujur tapi Bastian terlanjur sering kena prank dari asistennya soal kedatangan Ami sudah tak percaya lagi ucapan Joni. bisa bisa ia mati


berharap, istrinya itu mau pulang setelah ia usir dengan cara yang kasar.


Bastian mengambil beberapa botol soft drink dan camilan. Ia duduk di depan sofa, tangannya gabut menekan channel tv yang sebenarnya tak mau di tontonnya. Ia menghentikan gerakan jarinya menukar channel tv saat ada satu statiun tv menyiarkan bagaimana merawat bayi. ia minum dengan brutal dan melemar kulit kacang sembarangan.


Bastian mengabaikan Joni yang melangkah keluar rumah. Ia samar samar mendengar Joni bercakap cakap dengan seseorang seperti suara Ami, ah barangkali halusinasi. Bastian menepis kalau suara yang ia dengar adalah suara Ami.


" Joni..! kamu bohongi saya, katanya pak Bastian sakit, sakit kok bisa nyantai nonton tv " jerit Ami ketika melihat suami yang Kabarnya sakit sedang asik nonton tv sambil makan sukro akrobatik.


Bastian merasa itu hanya halusinasi, menoleh sebentar lalu kembali melihat ke arah tv sambil mengambil botol minuman dengan kaki dan tiba tiba tertawa sendiri.


" Percuma saya kesini ! " hentak Ami. ia balik ke arah pintu. Joni menahannya.


" Jangan balik bu, pak Bastian memang sakit.." pinta Joni, ia kemudian berbisik


" Sakit jiwa...."


Bastian mulai menyadari kalau ia sedang tidak berhalusinasi, ia menoleh pada istrinya yang sedang di tahan Joni di pintu.


' Astaga ! botak ! lu ngerjain gue lagi ' jerit Bastian dalam hati.


Bastian tiba tiba memejamkan mata dan


BRUG !!!!


" Boss..!!!!" jerit Joni dan berlari ke arah Bastian yang ambruk.


" Kakak ! kakak bangun kak..bangun kak.." jerit Ami.


" Jon...kepalanya berdarah "

__ADS_1


__ADS_2