Asisten Special

Asisten Special
Saya sangat mencintai Bastian Mi


__ADS_3

Amira mengajak Ami ke kafe tidak jauh dari kantor. Ami hanya terpana dengan lelehan air mata Amira, gadis itu terisak saat menceritakan betapa sakitnya pemandangan yang ia lihat di ruangan Bastian.


" Seharusnya Bastian tahu kalau dulu saya meninggalkannya karna saya pikir konflik keluarga ini tak akan pernah selesai " curhat Amira. Ami kembali menyodorkan tisu. bulir hangat itu masih berjatuhan di pipi gadis berkulit putih itu.


" Saya sadar saya sudah membuat Bastian kecewa, sangat kecewa. seharusnya dia mengerti keadaan saya mi, mami saya dan mami Bastian saling benci. tapi jujur sampai saat ini saya masih mencintainya Mi seperti dia mencintai saya "


Ami meremas dadanya yang tiba tiba terasa berdenyut.


Amira melihat layar hpnya bergetar, ia tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar.


" Ya..mas " Amira menjawab panggilan. Tak lama senyum merekah itu kembali surut.


" dia nyari kamu mi.." Amira menyerahkan hpnya pada Ami. Ami menerimanya ragu.


" Halooo..pak " sapa Ami.


" Kamu dimana dek ? "


deg ! Ami merasakan tubuhnya mengerjap saat otaknya merespon panggilan Bastian untuknya. dek.


" saya ada di kafe sebrang kantor pak "


" Kepala saya pusing, tolong buatkan saya wedang jahe " Ami tercenung sesaat, ia memang sudah jadi istri siri Bastian. Tentu ia punya kewajiban mengurus suaminya. tapi apa laki laki itu tidak mengerti situasi yang mereka hadapi saat ini sangat rumit.


" Ya..pak, nanti saya buatkan " ucap Ami kemudian mematikan panggilan suara itu. wajah Ami terlihat tegang dan menghela nafas panjang.


" Masih ada banyak tugas dari Bastian? " tanya Amira sambil mengambil hpnya yang disodorkan Ami.


Amira mengamati wajah Ami yang tegang. terlihat Ami berkali mengusap wajah.


" kamu sering dimarahi Bastian ya mi ?, dasar tu anak jadi senang bikin hati anak buahnya ketar ketir "


" Bukan dimarahi, tapi digodain " ucap seseorang yang tiba tiba muncul di samping Amira. Deni datang bersama Bagas.


Ami kelagapan, pertanyaan Amira dan jawaban Deni membuatnya di situasi tertuduh sebagai pengkhianat.


" Kalau sama Ami, dia gombal abis " tambah Deni membuat Bagas merubah mimiknya.


" kamu percaya mi ? " tanya Bagas serius, ia memandang Ami lekat. Ami hanya mengangkat bahu.


" please mi, kamu jangan jadi benalu antara kami " ucap Amira dalam nada bercanda, tapi wajah Ami menanggapi serius.


" Serius amat mi, Bastian hanya cinta sama aku " lanjut Amira sambil tergelak sementara Ami tersedak.

__ADS_1


Deni mengangkat panggilan dari Bastian.


" Kerja terus bro.., sini gabung sama kita ada Bagas sama Ami dan Amira "


" Ami sama Bagas ? " tanya Bastian memastikan ia tidak salah dengar.


" Iya Amira juga "


panggilan terputus, Deni mengangkat bahu.


" hebat pesona lu Ra, Bastian langsung melipir kesini " wanita berambut sebahu itu tersenyum manis, Ami melipat bibirnya.


Bagas yang hendak duduk disamping Ami terpaksa mundur karena seseorang terlebih dahulu menarik kursi.


" gue nggak terlambat kan ? " tanya Bastian sambil menoleh pada Ami. Ami tertunduk.


" Nggak terlambat lo ngejar Amira lagi " tanggap Bagas sambil memperhatikan wajah Ami.


" Kamu sakit mi ?muka kamu pucat sekali " reflek Bastian menoleh pada wanita disampingnya, ia meraih dagu Ami dan membolak balik wajah Ami.


" Apaan sih babe " Amira menepuk tangan Bastian.


" Kepala saya pusing, saya mau pulang dulu " Ami berdiri dan Bagas meraih tubuhnya yang terhuyung. Bastian mengepal tinjunya di bawah meja.


" siap bos " ucap Deni sambil berdiri.


" Ke rumah mami den, mami lagi nunggu dia " ucap Bastian sebelum Deni meninggalkan meja.


setelah Ami dan Deni pergi. Bastian melihat mata mantan dan sahabatnya bertanya kenapa Ami dibawa kerumahnya.


" Mami sudah menganggap Ami seperti anaknya sendiri "


Bastian juga permisi pulang saat Bagas pamit karena ada pekerjaan yang menunggunya di kantor.


Bastian juga kembali ke kantor, ketika ia menelpon Deni dan menanyakan apakah mereka sampai di rumah. Deni mengabarkan kalau ia sekarang ada di UGD rumah sakit karena di perjalanan Ami muntah muntah.


Bastian menyusul ke rumah sakit.


" Kena Demam Berdarah " jelas Deni saat Bastian sampai di UGD rumah sakit.


" pantas..gue udah curiga, panasnya naik turun "


Deni mengajak Bastian keluar ruangan UGD.

__ADS_1


" ada yang nggak gue tahu Bas ? lu pasti menyembunyikan sesuatu dari gue " todong Deni saat mereka sudah berada dirumah sakit.


Bastian menunduk dan mengusap wajahnya. ia tahu Deni pasti curiga dengan sikapnya pada Amina. ia tak bisa berbohong pada Deni yang sudah ia anggap kakak angkatnya.


" gue sama Ami sudah nikah "


Bak mendengar suara petir, Deni terdiam.


" Mami tahu ? " Bastian menggeleng. ia menceritakan bagaimana ia dan Ami menikah secara mendadak. Ami sudah minta ia cepat pergi dari rumahnya tapi entah kenapa ia malah mau menikahi Ami.


" Bagaimana bisa Bas, lu nikah tanpa restu mami "


Bastian tak menjawab, ia mengangkat panggilan dari Jojo.


" Kak Ami mana bang ? dari tadi panggilan saya ga diangkat " tanya Jojo cemas.


" Ami sedang dirumah sakit Jo, kena DBD, tolong bawakan baju Ami kesini Jo "


" Ya bang, kunci kontrakannya ada sama saya "


Bastian meminta Deni merahasiakan dulu pernikahannya dengan Ami karna jika maminya tahu. ia pasti sangat kecewa pada Bastian.


" gimana lo ngatasi cinta yang bersegi segi ini, lu pasti sudah dianggap pengkhianat oleh Bagas "


" Ami adalah jawaban dari rasa bersalah gue selama ini Den, dia anak perempuan yang gue rampas ibunya. saat dia menunggu ibunya dirumah sakit, gue malah membawa ibunya pada kematian, selama gue belum menemukan anak bibi Rahayu hidup gue belum tenang, sekarang hati gue sudah tenang karena gue bisa tepati janji gue akan menjaga Ami pada bibi Rahayu "


ketika mereka kembali ke UGD. ternyata Bagas sudah berada disana.


" Keluarga nona Amina Astuti ! " panggil Suster saat membawa Ami keruang rawat inap.


" Ya saya sus.." jawab Bastian yang kebetulan berada di samping Ami.


" saya calon suaminya " ucap Bagas saat Bastian sudah berada di dekat Ami terbaring.


" Tolong di tebus obatnya dulu pak "


Bastian meninju dinding.


" Brengsek ! " umpat Bastian. Deni menepuk bahu Bastian.


" Ini ga mudah bro, lu harus menghadapi orang orang yang ga menginginkan pernikahan lu sama Ami, tapi bagaimanapun gue akan dukung lu "


"

__ADS_1


__ADS_2