Asisten Special

Asisten Special
kamu tak boleh seperti ini , Amira


__ADS_3

" hentikan Amira ! " Bastian mengambil botol minuman keras yang di pegang perempuan yang terlihat sudah sempoyongan itu.


" Apa babe..kau datang ? akhirnya kau menemuiku juga. aku merindukanmu Bastian sayang " ceracau Amira. ia sudah terkulai di bahu Deni.


Deni memapah Amira yang dalam keadaan mabuk. Tadi ia mendapat telpon dari bertender klub yang mengatakan pemilik handphone yang sedang ia pakai tak bisa mengendalikan dirinya.


Kedua lelaki itu memapah Amira masuk mobil Deni. Bastian merasa ada yang menepuk bahunya dan ketika ia menoleh kebelakang.


Bug !


sebuah tinju melayang di pipi Bastian. darah segar menetes di sudut bibirnya, ia terperangah ketika melihat siapa yang meninjunya. Bagas.


" itu untuk si tukang tikung " ucap Bagas sarkas, ia menatap tajam Bastian yang sedang melap darah di sudut bibir.


" apa maksud lu tukang tikung, gue ada salah apa sama lu Gas ? " tanya Bastian berusaha meredam emosinya.


Bastian tertawa sinis.


" Jangan pura pura bego lu "


Bastian mengernyitkan kening, masih bingung kenapa Bagas marah padanya.


" Kenapa kau nikahi Amina, padahal kau tahu dia kekasihku " geram Bagas sambil mencengkram krah kemeja Bastian.


" Apa apaan kalian ! kita ke sini untuk menolong Amira, bukan untuk kalian adu jotos gara gara perempuan ! " hardik Deni yang berhasil menidurkan Amira dalam mobilnya.


Bagas menarik tangannya dari leher Bastian, mereka saling melempar tatapan tajam.


Bagas dan Bastian masuk ke dalam mobil masing masing. Mereka bertiga meluncurkan kendaraan menuju apartemen Amira. Deni merasa prihatin dengan kondisi perempuan yang tidur di jok belakang, sesekali bibir perempuan itu menceracau.


" Babe, jangan tinggalkan aku. aku masih sayang kamu. Maafkan aku karna sudah meninggalkanmu " suara itu terdengar pilu. sepilu pilunya hati Amira, lebih pilu hati Deni. Ya..Deni, laki laki yang hanya bisa menyimpan cintanya dalam diam. rasa yang telah ia miliki saat mereka mengenakan seragam putih abu abu pada perempuan tercantik di kelas mereka.


Amira Damayanti Smith, gadis blasteran Indonesia Swissh. Wajah indonya yang begitu memukau. Tapi rasa tak bisa bermuara pada kata karna perempuan itu sudah punya tambatan hati sendiri, Bastian Bayu Perdana, mereka berdua berasal dari keluarga berlatar pengusaha perusahaan besar.


Deni hanyalah anak dari pengusaha kelas menengah yang menjalankan bisnis manufaktur pengolahan kopi. Dengan kecerdasannya, ia bisa mendapat beasiswa di sekolah elit tempat Amira dan Bastian dan Bagas bersekolah. Mereka berempat bersahabat hingga mereka tamat kuliah.


Kisah cinta Bastian dan Amira sudah menjadi buah bibir satu sekolah, mereka ibarat Romeo dan Juliet gen Z. karna kedua ibu mereka saling membenci.


Bastian begitu bucin pada Amira, ketika Amira memutuskan ikut keluarganya ke luar negri Bastian begitu patah hati. Mereka resmi putus dua tahun lalu setelah tujuh tahun merajut kasih.


Deni menyadari, ia tak mungkin menyaingi Bastian. laki laki berwajah tampan dari keluarga terpandang meski dirinya bisa dibilang rupawan.


Tenang, itulah pembawaan Deni. Ia tak emosional seperti dua temannya, Bagas dan Bastian yang mudah tersulut emosi. ketiga sahabat itu memapah Amira yang sepertinya sudah terlelap ke tempat tidur.


Mereka tercenung di ruang tamu apartemen Amira. Sepupu Amira yang mereka hubungi datang tergopoh.

__ADS_1


" Aduuuh, Rara. kenapa lu kaya gini sih gara gara cowok " jerit Danish, sepupu Amira yang tinggal satu tower dengan Amira, ia melihat saudaranya tertidur dengan kondisi memprihatinkan.


" tu cowok emang katarak kali ya nolak lu yang cantik aduhai begini " cerocos Danish sambil memperbaiki tidur Amira.


Deni dan Bagas memandang Bastian, laki laki tampan itu mengedikkan bahu. Ia mengucek matanya.


Deni menyenggol bahunya.


" Lu harus tanggung jawab Bas " ucap Bastian saat Danish melintasi mereka.


" Siapa yang harus tanggung jawab, Rara hamil ? " tanya Danish terkejut membuat ketiga laki laki rupawan saling pandang.


" Nggak, bukan itu maksudnya. ini masalah lain " jawab Bastian. ia merasakan hpnya bergetar. ada panggilan dari ibunya.


Terdengar suara pilu ibunya.


" Kamu dimana nak, bisa kamu pulang temani mami "


" Sebentar mi, sekitar lima belas menit lagi aku sampai rumah " tanggap Bastian sambil memeriksa kunci mobilnya.


Bastian pamit pulang, ketika ia menjenguk Amira dalam kamar. Mantan kekasihnya itu terbangun.


" Jangan pergi babe, aku butuh kamu disini " mohon Amira pada Bastian dengan berurai air mata.


Bastian tertegun, kata kata itu. kata kata itu yang juga ia ucapkan pada perempuan yang dulu sangat ia cintai.


" Maaf Ra, aku harus pergi " ucap Bagas tegas. Ia melangkah ke luar dan mencari Deni. Melewati Bagas begitu saja tanpa pamit, Ia sudah tidak respek dengan Bagas yang ingin berduel dengannya. Bukan salahnya jika Ami mencintainya dan ia juga mencintai Amina.


Bastian sampai di rumah dan disambut oleh tante Windi, adik ibunya.


" Bas, tadi mamimu terjatuh di kamar mandi, tapi keadaannya sudah tidak apa apa. hanya sedikit shock. Tadi ada temannya bernama Rina datang kemari sambil marah marah "


Bastian menghela nafas. Ia sudah memperkirakan kalau ibu Nana pasti akan marah jika pertunangan yang sudah direncanakan itu batal.


Rina, ibunya Nana memang teman akrab sedari dulu. Meski satu sekolah ia tak begitu akrab dengan Nana. wanita yang sudah jadi apoteker itu kerap jadi musuh Amira dan sering membeli Amira. oleh karena itu ia dan sahabat yang lain tidak respek dengan Nana.


" Bas, kamu pulang nak " seru ibunya lemah saat Bastian masuk ke kamar ibunya.


" Mi..mami kita ke rumah sakit ya " pinta Bastian pada ibunya. Winda menggeleng, ia hanya mengenggam tangan Bastian sambil satu tangan lagi mengusap rambut putra semata wayangnya.


" Maafkan Bastian mi, maafkan Bas tidak bisa memenuhi keinginan mami, maafkan cinta Bas pada Amina " ucap Bastian lirih


ia sebenarnya tidak tega melihat kondisi ibunya seperti ini tapi ia juga tak bisa memungkiri perasaannya pada Amina. Meski pernikahannya tak terduga tapi ia baru menyadari cinta itu sudah bersemayam di hatinya.


Winda hanya menyenyumi putranya.

__ADS_1


" Mungkin dia sudah jodohmu Bas " Winda membelai puncak kepala Bastian. senyum lega terbit di bibir Bastian tapi tanya itu masih kental di hati.


apakah mami sungguh sungguh menerima Amina jadi menantunya ?


Pagi hari Amina menghubunginya dan Bastian ragu untuk mengangkatnya karna ia tertidur di dekat Winda.


" Angkat Bas, mami sudah tidak apa apa " ujar Winda sambil menyerahkan hp Bastian. di layar tertulis my wife.


Bastian mengangkat panggilan yang telah berdering dua kali.


" Haloo dek "


" Haloo kak, aku sudah sampai. kakak sudah sarapan, jangan telat makan nanti kakak sakit. kerja jangan terlalu larut trus jangan sering minum kopi, kakak punya asam lambung " cerocos Ami yang membuat Bastian tersenyum.


" Kamu tu ya bawelnya juga di bawa bawa sampai ke inggris, siap semua perintah bu bos di jalankan ! "


" Kakak sekarang dimana ? "


" Di rumah mami, rumah kita masih aku rancang " Bastian meletakkan punggung tangannya di kening Winda. terasa panas


" Mami lagi sakit " jelas Bastian sendu.


Tak ada tanggapan, di kamar hotelnya Ami tercenung menatap salju yang berjatuhan. apakah ibu mertuanya sakit karena dirinya ?


" dek..kenapa diem ? aku masih ingin dengar omelan kamu " canda Bastian tapi tak bisa membuat Ami tersenyum.


" Kak, mami sakit pasti gara gara aku, maafkan aku kak " suara Ami terdengar berat


" Jangan aneh aneh deh kamu, mami jatuh di kamar mandi. sudah jangan nyalahin diri sendiri " lerai Bastian berharap Ami tak merasa Sakit ibunya karna pernikahan mereka yang terkuak. padahal seratus persen itulah penyebabnya.


Percakapan itu Bastian lanjutkan di meja makan, sambil vidio call mereka makan bersama.


Windi memperhatikan wanita yag dihubungi Bastian dari kejauhan. Ia sudah dengar cerita perempuan kampung yang membuat Bastian menolak perjodohan yang diatur kakaknya.


Dengan tergesa ia pergi ke kamar Winda.


" Jangan kuatir kak, aku akan berusaha misahin Bastian dengan istri Kampungnya itu. dia pasti punya maksud untuk merebut harta warisan Bastian " hasut Windi.


Winda menggeleng lemah.


" Nggak usah, Bas sangat mencintainya "


Windi mengeram, tapi ia tak membantah permintaan kakaknya. Dalam hati ia tengah menyusun rencana bagaimana Bastian bisa berpisah dengan istrinya.


" Awas saja kalau dia ada disini " geram Windi

__ADS_1


"


__ADS_2