Asisten Special

Asisten Special
Menunggumu pulang


__ADS_3

sore itu Bastian pulang lebih awal. Ia mengikuti saja saran Jojo untuk tak menghubungi Ami. namun saran itu sungguh menyiksa, setiap malam ia harus bolak balik ngecek hp, barangkali ada pesan dari Ami. jarinya sudah tak sabaran mencari no kontak my wife dan menekan panggilan.


Ah sial ! sampai kapan harus seperti ini. rutuk Bastian. Ia menepikan mobil di sebuah mini market.


Gerimis mulai berubah menjadi hujan lebat. Bastian sedang asik memilih minuman di lemari pendingin. Tenggorokannya kering karna harus mengisi beberapa meeting. Saat ia menoleh ke luar, dinding kaca memperlihatkan seorang wanita turun dari motornya, ketika wanita itu melepas mantel hujannya, Bastian terbelalak. wanita itu adalah wanita yang tadi dalam pikirannya.


" sore mbak Ami " sapa pegawai mini market ramah. sepertinya Ami sering berbelanja di tempat ini. Bastian mencari sudut agar tak terlihat istrinya. Ia memperhatikan Ami berjalan ke arah kotak kotak susu. tangannya meraih kotak susu ibu hamil. Bastian masih betah bersembunyi ketika Ami sudah selesai dengan belanjaannya.


Di luar hujan masih turun dengan lebat. Bastian kira Ami akan menunggu hujan reda baru beranjak pulang. Tapi dari kaca Ami memasang mantelnya kembali. reflek Bastian melangkahkan kaki keluar.


" Masih hujan dek " cegat Bastian ketika Ami menghidupkan motornya. Ami terkejut melihat sosok yang menahan tangannya untuk memutar gas.


" Kakak ! ngapain disini ? " tanya Ami dengan kening penuh lipatan.


" Mau cari Joni " jawab Bastian asal.


" Bisa tolong lepasin nggak tangannya, aku mau pergi " sarkas Ami.


" Dek..ini masih hujan, kalau kamu sakit, anak kita juga ikutan sakit "


" anak kita ? anak aku ! " sentak Ami. wajah Ami mulai memerah karna kesal.


" oke...anak aku..maksudku anak kamu, bisa nggak egonya diturunin dikit. tunggu hujan reda baru boleh pulang atau mau kakak antar pakai mobil ? " tawar Bastian. ia tahu jawabannya bakal negatif.


" Nggak usah ! " tu kan bener.


Meski sewot, Ami menuruti saja permintaan Bastian untuk menunggu hujan reda di depan mini market. diam diam ia memperhatikan wajah yang selalu di sentuhnya setiap malam. sedikit tirus dari biasanya.


" mau makan Mi, di depan ada mie ayam. hujan hujan begini enak makan mie ayam " tawar Bastisn sambil menunjuk kedai mie Ayam depan mini market. usaha berbaikan sedang digencarkan. Bastian melipat bibirnya saat Ami menjawab dengan gelengan.

__ADS_1


Bastian memindai penampilan Ami, srepertinya ia baru pulang mengajar. mantel hujan yang tadi di pakainya sudah dibuka. Angin dingin berhembus menimpa badan orang orang yang berteduh di depan minimarket. Bastian melihat kemeja yang di kenakan Ami tak bisa menangkal suhu dingin sore itu. berkali kali ia mengusap usap telapak tangannya dan meniupkan udara ke telapak tangan yang memucat.


Bastian menyampirkan jasnya ke badan Ami. Ami tertegun dengan perlakuan manis itu, jujur ia juga tersiksa dengan rasa rindunya pada laki laki yang menjadi ayah janinnya. Tapi rasa sakit atas tuduhan itu masih mengemuka, terlebih luka karena laki laki itu menghinakannya di depan wanita lain.


" aku pulang " ucap Bastian dengan suara berat, ia mengangkat telapak tangannya untuk menghindari hujan. Dari dalam mobil ia menatap istrinya tengah merapatkan jas untuk melawan dinginnya udara.


Bastian melajukan mobil dengan perasaan tak menentu. sedih, mungkin itu yang mendominasi hatinya. Beberapa hari yang lalu Jojo mengirimkan foto USG janin yang dikandung istrinya. Doanya terkabul, Tuhan menganugrahinya dua buah janin di rahim Ami. anak mereka kembar.


Tapi apa dayanya sekarang. ia sama sekali tak bisa menyentuh janin itu karena ibunya bersikukuh tetap berada di jarak yang pernah ia minta. Meski Ami membelanya di rapat dewan direksi dan jabatannya sebagai direktur utama tak jadi digeser. tapi Bastian tahu Ami sudah menjatuhkan vonis untuk dirinya atas luka yang wanita itu rasakan. belum bisa dimaafkan.


Bastian menghela nafas berat ketika memasuki halaman rumah. Untuk mengusir rasa sepinya, ia sering meminta Deni, Bagas atau Joni tidur di rumahnya. tapi hari ini mereka beralasan macam macam untuk menghindari permintaan Bastian, dua calon bapak itu berkata kalau istri mereka tak bisa ditinggalkan karena ngidamnya minta macam macam tengah malam.


Bastian termenung di bawah guyuran shower.


Ngidam. apa Ami juga mengalaminya ?. Sudah hampir 4 bulan Janin itu tumbuh di perut Ami, hampir setiap saat ia bertanya pada Jojo apakah sang kakak minta sesuatu. tapi Jojo selalu menjawab, kak Ami nggak minta apa apa.


Ami juga bekerja. Joni memberikan jadwal mengajar Ami yang cukup padat bahkan ia sampai mengambil kelas malam, khusus untuk karyawan. Pasti fisik mungil itu amat lelah, berkali kali ia cek saldo pada rekening Ami yang rutin ia kirimkan setiap bulan, jumlahnya tak berkurang satu digitpun. wanita itu memang keras kepala.


Bastian tahu Ami harus membantu kuliah adiknya tapi tak perlu seego itu sampai harus mengabaikan kesehatan janin kembar mereka.


Bastian keluar dari kamar mandi, masih dalam balutan bathrope ia mencari hp dan menghubungi Joni.


" Ya pak bos, siap mengemban tugas " sapa Joni bersemangat.


" daftarkan aku kuliah kelas malam khusus karyawan "


" apa pak bos, kuliah bukannya si bos sudah Master mau kuliah bagaimana lagi ? "


" Jangan banyak tanya, kerjakan besok. saya rasa kamu paham tempatnya dimana, bayar dua kali lipat, ngerti !"

__ADS_1


" ngerti pak bos, tapi apa itu nggak buang buang duit pak bos"


" Joni ! "


" Siap pak bos, laksanakan "


" dasar orang kaya aneh " gumam Joni, bicara sambil menjauhkan mulut dari handphone tapu sepertinya Bastian mendengarnya.


" Joni ! "


" yes papah "


" amit amit gue punya anak kaya lu Jon, besok malam saya sudah bisa masuk kelas ibu Amina Rahayu, ngerti ! " Bastian menutup panggilan dan kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. meraba satu sisi yang kosong.


" kalau dia bertahan, aku akan menyerang " ucap Bastian sembari berdiri. ia memandang titik titik hujan yang menimpa lampu taman. bunga bunga yang di tanam Ami mulai tak terurus.


Satu minggu yang lalu kedua Art yang biasa membantu Ami izin pulang kampung.


" pulanglah dek...aku merindukanmu " ujarnya lirih.


Keesokannya Joni mengabarkan kalau si bos sudah terdaftar sebagai mahasiswa Ami. Dua hari lagi Bastian sudah bisa masuk ke kelas dimana Amina jadi dosennya.


Di tempat lain Jojo tak henti membujuk kakaknya mau pulang ke rumah Bastian.


" kamu ngusir kajak, Kamu nggak seneng kakak tinggal disini, ini kan rumah kakak yang beli " emosi bumil kadang suka tak terkendali.


" Bukan begitu maksudnya kak, hadeuuhh..tu bocah dalam perut kakak pasti butuh bapaknya " Jojo masih berusaha membujuk.


" Bapak yang sudah tega mengusir ibunya " sanggah Ami dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


__ADS_2