
Ami terbangun ketika ia merasakan sentuhan dingin pada pipinya. ia mengerjapkan mata. ia melihat samar samar wajah seorang ibu tersenyum padanya.
" Ami, kamu sudah bangun nak "
Ami mengusap matanya dan menyadari dirinya terbaring bukan ditempat tidurnya. Ami mencium khas rumah sakit.
" bu Winda " ujar Ami saat sudah bisa melihat jelas siapa yang mengajaknya bicara.
" Jangan bangun dulu, kamu masih lemah " cegah Winda saat Ami berusaha duduk.
" Ini pasti gara gara Bastian sering nyuruh kamu lembur " omel Winda sambil mengupaskan buah untuk Ami.
" Bukan bu, ini mungkin saya tinggal dilingkungan yang tidak sehat " bantah Ami membela bosnya yang akhir akhir ini memang menguras tenaga dan pikirannya dan sekarang bertambah menguras perasaannya.
Ami melihat seorang wanita cantik berdiri disamping Winda. berpakaian serba putih.
" Kenalkan ini Nana, calon istri kakakmu Bastian "
Ami menelan ludahnya. rasa perih itu kembali mampir di hatinya, kenapa ini tak berkesudahan Tuhan. kenapa ia harus terjebak dalam rasa yang tak pernah ia minta.
Wanita itu mengulurkan tangannya dan Ami menyambutnya lemah, diam diam ia memindai Nana, tinggi semampai. berkulit putih seperti Amira. sebuah lesung pipit menyembul di pipinya.
" lekas sembuh ya mi " ujar gadis itu lembut.
" Terima kasih kak "
Nana membantu Ami duduk.
" Mami harap kamu bisa membujuk Bastian untuk menikah dengan Nana. dia gadis yang baik untuk Bastian " ujar Winda seraya menyerahkan potongan apel ke tangan Ami. Ami tercekat, ia merasa kerongkongannya pahit untuk bicara.
" saya usahakan bu..mungkin karena kesibukan kantor ia belum mau menikah "
" panggil mami mi...mulai saat ini kamu sudah jadi anak mami " ucap Winda sambil membelai kepala Ami.
Ami menelan haru sekaligus rasa bersalah, apakah Winda masih bersikap sehangat ini saat tahu Bastian justru telah menikahinya, wanita miskin. tidak sepadan dengan Bastian dari kalangan keluarga konglomerat. Terlebih lagi ia hanyalah anak seorang pembantu.
Winda pamit pulang dan meminta Nana untuk menemani Ami sampai adik Ami kembali dari kampus.
" lekas sembuh karna mami butuh bantuanmu untuk mempersiapkan pernikahan Bastian " ucap Bu Winda saat mencium pipi Ami. Ami menggigit bibirnya dan mengangguk.
" terima kasih mi "
Winda keluar ruangan dan tak lama berselang, seorang perempuan dengan blazer warna peach masuk ke ruang rawat inap.
__ADS_1
" Amira .." desis Nana, ia terlihat tak suka dengan kehadiran wanita yang berpenampilan modis itu.
" Hei...maaf aku baru datang sekarang " sapa Amira sambil menyerahkan buket bunga ke tangan Ami.
" makasih kak " ucap Ami, ia melihat Nana bersidekap memandang Amira tajam.
" Oo..jadi kau sengaja pulang untuk mengacaukan pertunanganku dengan Bastian " Amira menoleh dan mendengus.
" Dengar Nana, sampai kapanpun Bastian tidak mau menikahimu karna dia tidak akan mengkhianati Bagas. kita pernah lihat sendirikan bagaimana membuat perjanjian itu "
" Aku dan Bagas sudah putus, aku dengar Bagas sudah punya kekasih baru jadi tak ada lagi yang menghalangiku mendekati Bastian "
" Bastian masih mencintaiku, jadilah mundurlah saat ini karna kau tak akan bisa memilikinya "
" Jangan kepedean Amira, perbuatanmu yang mencampakannya tidak akan dimaafkan Bastian " sinis Nana.
" Aku akan membuat dia jatuh cinta padaku. apapun caranya ! " tekan Nana yang membuat Ami terbatuk.
Ami mengambil hpnya yang berdenting, sebuah pesan masuk dari Bastian.
[ cepat sembuh ❤]
gelenyar itu membuncah di hatinya. dulu bosnya itu memang sering memberikan emoticon love ini untuk candaan. apakah sekarang, tanda hati ini harus ia ambil hati. bapernya sampai ketulang sum sum.
" Maaf mbak mbaknya, jangan ribut disini. kasihan pasiennya butuh istirahat " tegur seorang perawat masuk kedalam ruangan memberikan obat yang harus Ami minum.
" Kakak pulang dulu ya Mi..bilang sama Bastian mbak selalu mencintainya "
Nana berdecih.
" Jangan percaya ucapannya Mi, dulu ia juga sering bilang begitu tapi nyatanya dia ninggalin Bastian " ujar Nana setelah Amira pergi.
" Saya juga minta bantuan kamu Mi, sepertinya kamu sangat dekat dengan Bastian. maaf kalau dulu aku sama Bagas jalan membuat kamu jadi salah paham. kami hanya ingin bicara baik baik soal hubungan kami yang sudah kami akhiri. Saya bilang sama Bagas, saya telah memilih Bastian dan Bagas menerimanya dan dia bilang dia juga telah melamarmu "
Ami tercenung, Amira minta tolong padanya untuk Mendekati Bastian dan sekarang Nana, lalu ia minta tolong siapa meredam harapannya yang telah dibuat melambung oleh Bastian, apalagi ketika mengingat setiap sentuhan Bastian di malam pertama.
Ami menyentuh bibirnya.
" Ami " panggil Nana, Ami masih larut dalam lamunannya.
" Eh..kakak ngomong apa ? "
Ami terkejut saat orang yang dia pikirkan berdiri di depannya.
__ADS_1
" Nggak jadi, orangnya ada disini, jantung saya tak karuan saat Bastian ada di dekat saya " bisik Nana.
" Jo nanti kamu kabari saja saya kalau butuh apa apa, saya mau mengantar ibu saya pulang dulu "
Jojo masuk membawa pakaian Ami.
" bu Nana ! kok bisa ada disini? " seru Jojo terkejut saat melihat Nana yang merupakan dosen dikampusnya.
" Jojo, jadi saudara kamu Ami, kebetulan. Ami adalah adik angkat tunangan saya, Bastian "
Jojo ternganga, Ami menutup mulut Jojo yang ingin berkata.
" diam, jangan bicara apapun soal kakak sama pak Bastian disini " bisik Ami.
" Ami, mami pulang dulu. cepat sembuh ya. O..ya, adik kamu sesekali ajak kerumah. Mami tulus menganggap kalian anak anak mami "
Amina terharu sekaligus takut mendengar ungkapan Winda yang terlihat menyayanginya. bagaimana kalau sampai wanita itu tahu ia telah menikah dengan Bastian. Apakah ia akan berbalik membenci Ami ?.
" Ya mi.."
Nana keluar karna merasa keki karna Bastian tak membalas senyumnya. Winda yang menyadari hal itu menghardik Bastian.
" Bastian ! kamu jangan bersikap dingin sama Nana. dia itu sebentar lagi akan jadi istri kamu ! "
Ami tersedak saat Jojo membantunya minum.
" Mi..jangan teriak teriak, ini rumah sakit " tegur Bastian, Winda tersipu.
" Bagas.." seru Winda riang saat Bagas masuk bersama Deni.
" Eh..tante, pa kabar tan ? " Bagas menyalami Winda.
" Baik, tante pergi dulu. Jaga calon istrimu " ucap Winda yang membuat telinga Bastian panas, sayangnya ia harus berpura pura tidak terjadi apa apa.
" Sehat bro ? " tanya Deni sambil menepuk bahu Bastian. sebuah sindiran yang sangat tepat untuk Bastian. hatinya memang tidak sehat jika ada Bagas.
" gue pergi dulu, nanti gue balik dulu " ucap Bastian yang disambut tatapan sinis Winda.
" Ngapain lagi kesini Bas ?, kamu harus fitting baju sama Nana "
Reflek Ami mengarahkan fokusnya pada Bastian.
" Udah jangan betah ngejomblo bro..sana kejar Nana kejar kejar daku kau ku jitak" ucap Deni yang disambut tawa Bagas. Bastian menyeringai dan meninju perut Deni sebelum mengekori ibunya keluar.
__ADS_1
" Au..brengsek, dia ninju gue beneran " Deni memegang perutnya yang kesakitan.
"